
Forum masih berlangsung.
Suasana yang dihadiri oleh para peserta forum kian gaduh. Ada beberapa orang berspekulasi, ada banyak pendapat yang berasal dari banyak kepala. Meski begitu tidak seorang pun yang berpendapat.
Sesekali pemilik tempat memberi usulan untuk mengakhiri forum karena kejelasan sudah terkuak.
Tidak demikian bagi pangeran keempat.
"Pemilik tempat, pemilik tempat!" Pangeran memanggil.
Ditengah kebisingan para peserta forum yang mengobrol satu sama lainnya, pemilik tempat melangkah menuju kursi pangeran keempat.
Pemilik tempat berlutut.
"Iya, pangeran?" Sahut pemilik.
"Tolong suguhkan minuman yang terbaik dan menu pencuci mulut untuk para peserta forum. Biarlah aku yang membayar semua menu spesial di tempatmu ini." Kata sang pangeran, tanpa keraguan.
"Baiklah," Jawab pemilik.
"Perhatian! Forum akan berlanjut, mohon semua menunggu untuk hidangan gratis." Kata sang pemilik.
Mendengar kata gratis, para peserta forum bersorak gembira.
Skip....
Dua orang berseragam butler dan seorang berseragam maid adalah pekerja penginapan. Ketiga orang pekerja membawa troli pengangkut sajian ala restoran. Diatasnya ada beberapa botol dan banyak cangkir gelas kaca bening. Ada juga sajian berupa makanan pencuci mulut.
Para pekerja penginapan mulai menyajikan sajian spesial mereka. Peserta forum pun terlihat enjoy tanpa sedikitpun rasa bosan. Itu karena sajian yang amat spesial.
Pemilik tempat berjalan kearah pangeran. Pemilik tempat berdiri disamping pangeran yang duduk. Pangeran berbisik pada pemilik tempatnya. Pemilik tempat seolah memberi anggukan tanda setuju.
Pemilik tempat bergegas kembali ke tempatnya.
Pemilik tempat menepuk tangan disaat meminta perhatian.
"Mohon perhatiannya!" Pemilik tempat mulai bersuara.
Suara berisik orang-orang yang mengobrol, mulai hening.
"Bisakah kita mulai forumnya? Iya, kalian bisa mengikuti forum sambil bersantai dan menikmati sajian." Pemilik tempat kembali memimpin jalannya forum.
Suara bisik-bisik masih terdengar, tapi kali ini sedikit hening kalau dibanding sebelum pemilik tempat membuka forum.
"Sekarang kita sampai pada sebuah kesimpulan! Pelaku penembakan keliru menuduh seseorang sebagai werewolf. Dengan ini penembak terbukti tidak bersalah, dan adakah seorang yang keberatan dengan putusan? Kalau ada mohon buka suara, sekarang!" Ujar sang pemilik.
Awalnya suara masih dipenuhi bisik-bisik. Tetapi mulai muncul orang-orang dengan argumen.
"Saya keberatan!" Seorang segera mengangkat tangannya.
"Bisa tolong memperkenalkan diri dulu!" Tegas inspektur.
"Nama saya Reagal, saya sungguh memprotes putusan ini!" Seorang memberi protes keras.
"Berisik kamu, dasar pengacau!" Umpat Roger.
"Diam lah dasar werewolf!" Balas Reagal, dengan nada yang tak kalah geramnya. Beberapa warga yang terprovokasi memberi nada yang menghujat keras.
"Pembunuh!"
Beberapa orang meneriaki sang pengguna senjata api itu.
"Tolong tenang!" Tegas inspektur, memukul meja beberapa ketukan.
Suasana berangsur tenang.
"Bisa tolong berikan argumen mu!" Inspektur mempersilahkan.
Reagal hendak berdiri dari kursi, tetapi diam ditempat. Reagal mulai memberikan argumentasi miliknya.
"Aku tidak bisa membuktikan dia werewolf atau bukan. Karena kita tidak memiliki kemampuan yang seperti itu, ditambah mereka itu cerdas dalam menyembunyikan kedoknya. Tapi tindakannya yang main hakim sendiri, apakah tidak meresahkan? Tembak sana, tembak sini, apakah kalian tidak merasa diresahkan?" Reagal selesai dalam memberi argumentasi.
Sang penentang melihat seluruh wajah orang di forum. Seolah ia mengharapkan kegaduhan terjadi.
Suara berisik orang-orang yang berbincang kian terdengar.
"Permisi, inspektur Jay." Seorang peserta forum mengangkat tangan.
"Silahkan." Balas inspektur.
"Nama saya Gustav, saya berniat memberi suara yang sama dengan Reagal ini. Jadi begini. Sekalipun bukan werewolf, tapi membunuh orang seenaknya adalah tindakan meresahkan. Bahkan diluar sana, banyak pembunuh lepas dari jerat hukum. Jangan alih-alih berfokus mencari kedok werewolf, tapi kita mengabaikan pembunuh." Itulah argumentasi tambahan.
"Kalian semua bodoh!" Umpat Roger dipenuhi kekesalan.
"Harap diam!" Tegas inspektur Jay.
"Diam kau, dasar pembunuh!" Beberapa peserta forum memberi hujatan penuh kebencian kepada sosok pesakitan.
__ADS_1
"Hentikan!" Roger berteriak.
Suasana masih forum gaduh.
"Aku bisa membantu kalian untuk menghadapi werewolf!" Seru Roger.
"Bagaimana bisa, kamu berkata seperti itu? Belum apa-apa saja dirimu sudah asal bunuh seperti koboi tembak!" Umpat beberapa peserta forum.
Penghuni silih berganti memberi kekesalannya. Rasa frustasi para penghuni dilampiaskan pada sang pesakitan. Pada dasarnya mereka tertekan, karena sudah ada dalam bayang-bayang werewolf.
Sampai seseorang mengangkat tangannya.
"Saya ingin memberi usulan!" Seru seorang peserta forum.
"Silahkan perkenalkan namamu!" Tegas inspektur Jay.
"Nama saya Arsene, saya memberi usulan untuk ini. Saya mengajukan sistem voting untuk menentukan seorang adalah werewolf ataukah tidak." Itulah usulan Arsene.
Suara mulai bising, orang-orang berbincang tentang usulan yang diberikan Arsene.
"Tapi aku bukan werewolf!" Seru Roger.
Perbincangan semakin naik tensi ketegangannya. Setelah tersedia sistem voting, seolah ketenangan hadir diantara para penghuni.
Inspektur Jay mengetuk mejanya beberapa ketukan. Inspektur pun berdeham sebelum memberikan pendapatnya.
"Sejujurnya, saya tidak memiliki pengetahuan untuk membedakan seorang adalah werewolf ataukah bukan." Ujar inspektur Jay.
Seseorang mengangkat tangannya.
"Nama saya Vincent. Saya setuju dengan usulan inspektur Jay. Saya menyarankan untuk menunda persekusi terhadap terdakwa ini." Itulah usulan lain yang datang.
Beberapa suara yang tanpa ijin tiba-tiba disuarakan. Walau belum memperkenalkan diri, bukankah suaranya adalah ilegal kalau itu berdasarkan peraturan di forum.
"Dasar teman pembunuh!" Seru seseorang.
"Apakah kamu werewolf!" Suara peserta yang tidak memberitahu namanya, datang silih berganti.
"Saya hanya memberi usulan! Nada protes disuarakan Vincent.
Suasana forum semakin rusuh.
Pangeran geleng-geleng kepala.
"Semua harap tenang!" Inspektur berusaha mengatur tensi didalam forumnya.
"Iya benar." Yang lain mendukung.
Forum berjalan semakin kacau.
Akhirnya pemungutan suara pun terjadi.
Skip....
Kini orang-orang sedang berdiri mengerubungi seorang yang ada didepan algojo. Matanya ditutup, tangan diborgol. Algojo membidik senapan bolt action rifle kearah kepalanya. Akhirnya hasil voting memutuskan Roger sebagai sosok yang bersalah. Hasil voting peserta forum menghasilkan satu putusan bahwa Roger adalah werewolf.
Dor....
Letupan senjata api terdengar keras. Peserta eksekusi mati, darahnya pun berceceran kelantai. Seolah warga penginapan diselimuti rasa tenang.
Inspektur Jay memerintahkan anak buahnya untuk mengurusi mayat korban vote tersebut. Waktu mulai berlanjut, waktu maju menjadi jam makan malam. Setelah sesi makan malam, Satella menemui Climbt.
Kamar.
"Kita akan bertukar kamar. Kamar lamamu, sudah dibenarkan pintu kayu nya. Tapi isinya semerawut sekali, akibat daya rusak sihirmu. Supaya kamu nyaman, gunakanlah kamarku." Itulah perkataan Climbt.
"Baik, kita bertukar kamar." Ucap Satella, menyetujuinya.
"Apa kamu tahu yang terjadi dari forum?" Tanya Climbt.
"Tahu." Jawabnya.
"Bagus." Ucap Climbt, seolah ada perasaan lega.
"Ngomong-ngomong, ada cara tuk mengungkap kedok werewolf?" Satella bertanya pada sosok seer.
"Setiap malam aku menerawang. Ketika seorang itu adalah werewolf maka aku akan tahu besoknya."
Itulah jawaban Climbt.
"Siapa yang akan kamu terawang malam ini?" Tanya Satella.
"Well, ada banyak perusuh di forum tadi. Aku bingung siapa yang harus dicurigai." Balas Climbt.
"Setelah penembak dihukum mati, kamu tahu tidak identitasnya. Apa kamu tahu, Roger itu werewolf atau bukan?" Tanya Satella.
"Roger bukan werewolf. Begitu punĀ orang yang tewas karena ditembak Roger. Mereka berdua yang, tewas di hari ini bukan werewolf." Climbt menjelaskan.
__ADS_1
"Begitu." Gumam Satella.
"Ada cara mengidentifikasi tubuh seorang sebagai werewolf setelah mereka mati." Jawab Climbt.
"Bagaimana?" Tatap Satella.
"Cara yang sama dengan menguji golongan darah! Aku sudah ambil sampel darah Roger, hasilnya ia bukanlah werewolf." Jawab Climbt.
"Kalau begitu, kita adalah tes darah saja! Dengan begitu kita bisa tahu siapa saja yang jadi werewolf nya." Satella memberi usulan.
"Itu keliru! Darah werewolf hidup dengan darah manusia tidak bisa dibedakan. Darah mereka berubah setelah mereka mati, kalau hidup tidak bisa." Jawab Climbt.
Satella bernapas berat. Wajahnya Satella menampakkan sedikit aura frustasi. Bagaimana juga Satella ditugaskan untuk mengungkapkan kedok werewolf. Satella adalah agen dari kementerian sihir yang bekerja secara rahasia.
"Sudah memutuskan siapa yang dicurigai?" Tanya Satella.
"Masih bingung." Balas Climbt.
Satella meninggalkan ruangan.
Kamar.
Akhirnya mereka berpisah. Satella memutuskan untuk segera tidur. Meskipun punya kekuatan restart, Satella takut mati. Satella sungguh takut sensasi panas dan sakit saat perutnya dicabik werewolf dikala tidur. Barangkali sesuatu terurai keluar dari perutnya yang dicabik meski tak sempat ia lihat.
Kegelisahan Satella tentang rasa takutnya. Paranoid Satella yang membayangkan werewolf datang ketika ia tidur disetiap malamnya.
Satella sungguh tidak bisa tidur dikarenakan teror yang berhasil mengacaukan pikirannya.
Satella duduk disisi ranjang sambil memegang segelas air. Meminum sebuah pil. Yang diminumnya itu sebutir obat kantuk. Maka sensasi kantuk dan ingin tidur pun segera datang. Satella merebahkan tubuh untuk segera tidur.
Satella tertidur....
Tik, tok, tik, tok.
Sangat hening sehingga suara jam setinggi setengah lemari memberi suara detak jarum jam yang jelas. Bahkan suara angin sekecil apapun dapat terdengar. Entah kenapa suasananya sungguh hening. Akan membuat siapapun yang begadang merasakan sensasi adrenalin dari ketakutan maksimal.
Satella terbangun.
"Pengen pipis." Keluh Satella.
Gadis mungil itu bangkit, berposisi duduk disisi ranjang.
Menarik napas panjang.
"Baru jam dua." Keluh Satella, ia terlihat frustasi.
Rasa ingin pipis, membuat Satella beranjak menuju pintu.
Matanya masih rapat, itu setelah terbuka.
Pemandangan kurang maksimal.
Satella membuka pintu.
Pinta terbuka. Satella menguap, matanya terpejam. Ia menggaruk rambut yang semakin berantakan sambil menunduk. Perlahan arah pandangan naik keatas, kedepan.
Kala ia menatap kedepan, yang ia lihat adalah.
"Werewolf?" Ceracau Satella.
Roar....
Werewolf membuka rahangnya, memamerkan taringnya. Suara raungan nya sangat keras sampai mengejutkan Satella. Jantungnya sangat shock atas raungan juga penampakan seram mendadak.
Satella reflek menjerit.
Kala Satella reflek karena kaget, jeritannya seirama dengan nada raungan werewolf. Werewolf pun mencabik Satella diperut. Satella tergeletak dilantai, sensasi panas diperut pun terasa.
Perutnya panas, sangat panas.
Perutnya mulai perih, lalu semakin perih. Seiring berjalannya waktu, perihnya makin tajam.
Werewolf menatap Satella dengan moncongnya yang dekat dengan wajah Satella. Werewolf meraung didepan mata Satella, liurnya yang menjijikkan mengotori wajah imut dan cantiknya Satella.
"Kya...."
Menjerit.
Bukan terbangun dimeja makan seperti save point sebelumnya.
Satella terbangun dikasur. Satella langsung menyadari.
"Eh? Cuma mimpi." Batin Satella.
Satella terbangun dari mimpi buruknya.
~Bersambung~
__ADS_1