
Sebuah lingkaran sihir.
Itu adalah lingkaran sihir yang berasal dari portal scroll. Muncul seorang wanita remaja bersama dengan seorang anak gadis belia.
"Kok aku diculik kak?" Ucap Starla kecil dengan nada lucunya.
"Ini alun-alun ibu kota, apa kamu belum pernah kesini?" Margareth mengusap rambut perak Starla.
"Oh ... aku kira mau diculik." Ucap Starla kecil.
"Astaga lucunya ... udah gede kamu bakal kaya gimana sih." Margareth merasa gemas pada Starla kecil.
"Kak, ayo jalan!" Starla kecil pun menarik tangan Margareth.
"Kak, siapa sih orang yang taruh pedang disitu?" Starla menunjuk ornamen pedang batu.
Yang terlihat adalah sebuah batu karang yang ditancap pedang.
"Oh, itu namanya justice sword." Jawab Margareth.
"Kalau aku ketemu orang yang menaruh pedang disitu pokoknya Stalla akan mengomel." Ucapnya.
"Kenapa dik?" Tanya Margareth.
"Habisnya ditaruh sembarangan. Kalau dimainin anak-anak, bahaya loh." Jawab Starla kecil.
Margareth terkekeh.
Tau-tau merpati hitam muncul dihadapan Starla kecil.
"Eh, ada merpati." Seru Starla kecil yang berniat menangkapnya.
Ketika Starla kecil mencoba untuk menangkap merpati kecil maka sesuatu terjadi. Merpati hitam pun berubah menjadi gadis remaja.
"Dor...." Seru Satella dengan niat mengagetkan.
"Kya.... set*n!" Jerit Starla kecil.
"Ku ... ku ... ku, uwahahaha lucu." Satella terkikik atas keusilannya.
"KAKAK INI NYEBELIN!" Starla mengomel karena dikejutkan.
"Starla itu persis sepertiku, kami berdua orangnya kagetan." Satella terkekeh, menampakkan ekspresi gembira setelah mengatakannya.
Satella memeluk Starla kecil.
"Aku senang bisa melihatmu lagi." Satella remaja mendekap tubuh mungilnya Starla kecil.
Satella tersedu-sedu.
"Akak, kenapa menangis?" Tanya Starla kecil yang polos.
"Kak, jangan nangis kak!" Starla membujuk Satella yang memeluk dirinya tanpa henti.
Tapi tangis Satella remaja terus berlarut-larut.
"Kok aku bikin kakak ini nangis?" Starla kecil heran.
Beberapa saat kemudian.
"Sudah cukup, jam pasirnya akan segera habis. Ayo kita antar Starla kecil pulang." Begitulah ucap Satella.
Akhirnya Satella dan Margareth mengantar Starla kecil pulang ke mansion charlotte yang berada di ibu kota.
Skip....
Sesampainya di mansion keluarga charlotte.
"Ini bukan rumah aku deh kakak." Kata Starla.
Satella dan Margareth terkekeh.
"Kalau gak percaya tanya aja sama penjaganya." Balas Satella.
"Wah, aku baru tahu ayah punya banyak rumah." Kata Starla kecil dengan nada imutnya.
Satella dan Margareth remaja pun secara berbarengan berkata.
"Lucunya...." Seru Satella dan juga Margareth.
"Kok kamu gak bareng sama kakak kembar mu?" Tanya Satella.
Sebenarnya Satella tahu jawaban sebenarnya. Starla harusnya balik bertanya 'kakak ini tau dari mana kalau aku kembar?' seperti itulah seharusnya. Tapi karena logikanya Starla kecil masih belum tumbuh, Starla tidak memikirkan hal itu.
"Kak Stella marah lagi, jadinya aku tidak diajak main deh." Jawabnya.
Raut wajah Starla kecil dikala itu sangat menggemaskan.
Satella memberikan kotak berisi sebuah cincin kepada Starla kecil. Benda itu adalah item sihir yang diberikan Diana. Satella memakai itemnya sebelum ini sehingga item tersebut berisi kenangan Satella.
"Apa ini, kak?" Tanya Starla.
"Berikan benda ini kepada kakak kembar mu ya. Setelah kamu beri benda ini, mungkin kalian akan segera berbaikan. Kamu harus memberikan ini setelah saudari kembar mu berusia 19 tahun ya." Satella mewanti-wanti.
"Kenapa harus begitu kak, lama banget kalau nunggu sampe gitu?" Tanya Starla kecil.
__ADS_1
"Udah deh nurut aja, kalau nurut kakak kembar mu bakal seneng denganmu!" Ujar Satella.
"Iya kak." Jawab Starla kecil.
Kemudian Margareth mengetuk gerbang pagar mansion. Penjaga segera datang.
"Permisi pak." Seru Margareth.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjaga.
"Saya kesini mengantarkan putri ketiga tuan Eduard charlotte." Ujar Margareth sambil menuntun sosok Starla kecil kedalam.
Skip....
Satella dan Margareth kini berada diluar gerbang pagar mansion.
"Selamat tinggal Starla." Salam perpisahan dari Satella dengan ekspresi sendunya.
Satella mengaktifkan jam pasir sehingga sihirnya memulangkan mereka ke waktu asli. Jam pasir, memiliki durasi maximal tiga jam.
Lingkaran sihir menelan Satella bersama Margareth. Saat mereka berdua pulang, terjadi dampak singularitas yang menimpa alam ingatan Satella.
Skip....
.
.
Butterfly efek. 🦋
Pada route awal, Satella menjalani hidup tanpa adik kembarnya. Lalu setelah Satella menyelamatkan adik kembarnya dengan jam pasir, alur cerita sedikit berubah.
Beberapa hari setelah tragedi.
Starla kecil sedang diam dikamar. Datanglah ayahnya, kala itu Starla tinggal di mansion ibu kota.
"Ayah...." Seru Starla, melihat sang ayah datang.
"Maaf nak, ayah jarang pulang dan menemanimu." Sang ayah memeluk Starla kecil dan diangkat ke atas. Digendong mesra sang putri yang berusia belia itu.
"Stalla sayang ayah." Seru Starla.
Tuan Eduard charlotte mengecup kening putrinya.
"Ayah...." Seru Starla.
"Apa nak?" Sahut ayahnya.
"Dimana ibu, dimana kak Stella?" Tanya Starla kecil.
"Kakak kembar mu baru saja tiba semalam." Jawab ayahnya.
"Ayo kita kesana." Sang ayah pun menggendong putri enam tahun kesayangannya.
Tuan Eduard menurunkan Starla didepan pintu.
Pintu dibuka.
"Temui kakak kembar mu!" Ujar ayahnya.
Starla kecil segera memasuki pintu kamar itu.
Yang dilihatnya adalah sosok kakak kembarnya yang sedang melamun disisi ranjang. Satella kecil duduk dengan tubuh melingkar seperti anak-anak yang bersedih. Kedua tangan memeluk lututnya, wajah Satella terlihat menunduk muram.
"Kakak...." Seru Starla.
Spontan Satella kecil yang duduk di sisi ranjangnya sambil menunduk muram, langsung menoleh kearah adik kembarnya.
"Stalla...." Balas Satella kecil, lirih.
"Kak, aku kangen kak." Starla kecil menghampiri kakaknya dengan raut wajah yang ceria.
Satella kecil hanya terdiam seperti patung. Tetapi Starla kecil langsung memeluknya erat penuh kasih.
"Kenapa sedih kak?" Tanya Starla.
"Pas aku pulang semuannya sudah." Satella tak mampu menghentikan kata-katanya.
"Jangan bilang kakak sedih karena dikiranya aku ikang, kan." Starla dengan aksen centilnya.
"Waktu itu kamu ada dimana, dik?" Tanya Satella, rautnya sedih.
"Waktu itu aku diculik sebentar." Starla tersenyum riang.
"Apa?" Satella nengok.
"Diculik dua kakak cantik, terus diantar pulang kesini." Kata Starla.
"Em, kak Stella kangen ya...." Starla tersenyum bandel.
"Waktu aku pulang, waktu pulang." Satella bernada lirih, kata-katanya terhenti tiba-tiba.
"Kamu bicara apa sih kak?" Tanya Starla.
"Waktu aku pulang, ibu sudah meninggal." Ucap Satella, sendu.
__ADS_1
"Apa kak?" Starla memanyunkan bibirnya.
Skip....
Putri kembar pun bersedih kala itu. Singularitas waktu terjadi. Sekarang mereka hidup bersama. Sebelumnya Satella hidup tanpa adik kembarnya. Ketika Satella dan Starla tumbuh bersama, munculah aura rivalitas diantara mereka berdua.
Meanwhile.
Di suatu tempat seorang raja sedang berjalan. Raja dikawal langsung oleh salah satu dari kesembilan jendral dikerajaan. Jendral yang menemani raja adalah kakeknya Satella. Ialah tuan Sebastian Charlotte, jendral paling dipercaya raja Abraham IX.
"Sebenarnya untuk apa paduka raja membawa saya ke desa kumuh ini?" Tanya Sebastian.
"Saya ingin menitipkan amanah kepada orang yang saya percaya." Jawab raja.
"Apa itu?" Tanya Sebastian.
Mereka berbicara sambil berjalan setelah tadi turun dari kereta naga kerajaan. Kereta naga ala keluarga kerajaan yang lebih mewah dari kereta naga kebangsawanan.
"Sebagai raja, aku memiliki enam keturunan." Tukas raja.
"...." Sebastian menoleh, menyimak.
"Itu adalah yang resmi, lalu tanpa kuduga aku juga punya anak yang terlahir dari selir kerajaan." Tukas raja Abraham.
"Begitu...." Sebastian sekilas agak menahan tawa.
Pikirnya tak sopan menertawakan seorang raja, makanya sekuatnya menahan perasaan tawa. Yang terlintas dalam alam pikiran Sebastian adalah anak raja terlahir dari permaisuri yang berbeda-beda. Menjadikan rajanya adalah sosok raja Harem klasik.
"Aku ingin kau mengadopsi anak perempuan dari selir ku." Kata sang raja, mereka memasuki suatu panti asuhan yang ada di desa.
"Permintaan anda adalah tugas untukku." Sahut Sebastian dengan gestur hormat apa kesatria.
"Putri dari selir ku usianya enam tahun, sebaya dengan si kembar bukan." Mereka pun memasuki ruangan panti asuhan di desa itu.
"Selamat datang paduka raja."
Sambutan sederhana dari suster bersama pengelola panti asuhan sederhana ini.
"Seperti biasa aku kesini untuk berdonasi." Tukas sang raja.
"Terimakasih, raja...." Pengelola memberi gestur berlutut.
"Dimana Historia?" Tanya raja.
"Tolong panggil Historia, suster." Pengelola menyuruh susternya.
"Baik." Susternya pergi ke suatu ruangan.
Skip....
Beberapa saat kemudian suster datang dengan anak perempuan berusia enam tahun. Anak kecil pemalu itu bersembunyi di balik tubuh susternya.
"Jangan malu Historia, ayahmu datang." Sambut sang raja.
Anak kecil pemalu itu menatap kepada yang menyambutnya itu. Historia kecil sekarang pun tahu kalau yang dilihatnya itu ayahnya. Tetapi ia tidak tahu kalau ayah kandungnya itu seorang raja.
"Ayah...." Putri kecil itu segera memeluk ayahnya.
Setelah kejadian itu Historia pun dibawa kepada keluarga Charlotte.
Skip....
Kereta naga kebangsawanan pun sampai di mansion Charlotte yang berada di ibu kota. Sebastian pun membawa putri kecil rambut hitam masuk kedalam mansion. Setelah datang, Sebastian disambut oleh kedua cucunya yang pagi sibuk bermain bersama. Historia kecil terlihat malu-malu terhadap Satella dan Starla yang asing baginya.
"Siapa itu yang bersama kakek, kak?" Tanya Starla kecil, menarik-narik lengan baju Satella.
"Eh, ada teman baru." Ucap Satella.
Historia kecil hanya bersembunyi dibelakang Sebastian. Sementara Sebastian terus mendekati kedua cucunya. Ditatap Satella dan Starla membuat Historia kecil jadi malu.
"Siapa namamu?" Tanya Satella.
"Akak ... dia pemalu kaya aku tuh." Komentar Starla kecil.
"Mulai sekarang Historia adalah saudari angkat kalian." Sebastian memperkenalkan Historia.
"Dik Stalla, ayo bawa dia kemari!" Satella menyuruh adik kembarnya.
Starla melangkah kearah Historia tetapi ia semakin malu. Starla pun memegang tangan Historia terus menariknya kearah kakaknya.
"Ayo duduk!" Pinta Satella bernada ramah. Menepuk lantainya sebagai gestur mempersilahkan duduk.
Historia kecil pun menoleh kearah Starla dengan wajah malu-malu. Kemudian Starla membalas dengan.
"Cepat duduk!" Pinta Starla dengan wajah jutek, juga menolak pinggang.
Historia ketakutan kepada Starla, kemudian memilih menurut saja.
"Aku Stella, adikku namanya Stalla." Satella menyambut Historia.
"Kami ini temanmu Historia." Seru Starla, sangat ramah.
"Hus ... bukan, saudari angkat loh!" Satella mengoreksi adiknya.
"Eh, iya." Starla cengar-cengir.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Historia pun menjadi bagian dari putri kembar yang disebut magic twin. Historia tumbuh bersama Satella dan Starla.
~bersambung~