
Point of view.
Tiga hari setelah Satella berselisih dengan instruktur muda yang baru saja pertama mengajar pada kelas ekstra ini. Akhirnya instruktur itu memperkenalkan diri untuk yang pertama kalinya. Yang dilakukan Satella adalah duduk manis dan menatap kedepan. Karena enggan menatap instruktur yang baginya menyebalkan, Satella lebih fokus menatap kearah papan tulisnya.
POV end...
"Akhirnya si tampan mengajar kembali." Gumam Emili.
Satella mendesis kesal.
Suara ketukan meja..
"Apa kabar semuanya, saya akan mengajar dikelas ini." Instruktur membuka kelas materi.
Satella tak sedikitpun mencari gara-gara, tetapi siswa cowo lah pembuat masalahnya kali ini.
"Jadi pengajar kok mudah sekali tersinggung." Kritik siswa cowok.
"Mau jadi pengajar itu jangan temperamen." Siswa cowo pun bergantian mengkritik.
Sekilas senyum tipis hadir dibibir Satella. Hanya puas sesaat sebelum berganti menjadi rasa simpati.
"Baru kaya gitu aja udah keluar kelas." Sindir siswa cowok lain.
"Sudah kalian cukup!" Lalu siswi cewek membela.
Beberapa siswi cewe memberikan pembelaan. Emili sampai berdiri untuk memberi argumen miliknya.
"Kalian tolong hargai pengajarnya dong!" Protes Emili pada seluruh siswa cowo yang mengkritisi.
Satella memandang jijik apa yang diperbuat Emili. Satella mendesis sambil sedikit mengatai Emili yang terlalu fanatik seperti cewe lain.
"Eh cewe bucin, cepat duduk dasar bucin!" Omel Satella.
Emili sedikit tersentak, kemudian melotot emosi kearah Satella.
Satella tidak membiarkan Emili bertingkah seperti itu kepadanya. Satella memakai afinitas hipnosis untuk memberi sugesti padanya.
"Lihat aku, kamu berani!" Satella melotot kearah Emili.
"Diam kamu!" Betapa bucin Emili telah membuatnya berani untuk menentang Satella.
Emili menatap tajam kearah Satella hingga terkena dampak hipnosis miliknya Satella.
Hipnosis tertanam kedalam alam persepsi Emili.
Satella melakukan gestur tampar kepada Emili tanpa mengenainya sama sekali. Dalam persepsi Emili, pipinya terkena tamparan Satella. Emili merasa perih pada pipinya hingga air matanya keluar. Rasa sakitnya adalah ilusi tapi pedihnya tak tertahan sampai Emili kapok. Kekuatan ilusi Satella memberikan rasa pedih di pipi Emili sehingga nyalinya ciut. Rasa sakit dirasakan Emili setara ditampar laki-laki bertangan kekar selama tujuh kali.
"Perih." Keluh Emili memegangi pipinya, air mata berlinang.
"Duduk kubilang!" Satella dengan marah memelototi Emili.
"Iya." Emili sangat tunduk dengan sorot mata ciut.
Emili duduk manis.
Seolah minim pengalaman dalam mengajar, instruktur muda hanya mampu diam dengan perasaan tertekan.
Satu demi satu hujatan diberikan siswa laki-laki dikelas. Sementara siswi perempuan terus membela instruktur muda itu. Ini membuat kebijaksanaan Satella jadi menjerit untuk menjadi penengah.
"SEMUA DIAM!" Tegas Satella, nada teriakan terdengar.
Suara gaduh masih belum juga berakhir.
"Semua diam, atau kelas akan dipenuhi salju!" Ancam Satella.
Satella memberikan sugesti pada seluruh kelas.
"Aku bilang aku akan membuat kelasnya dipenuhi salju loh!"
Hipnosis diberikan..
"Kalian lihat salju mulai jatuh!"
Seluruh orang yang berada dalam kelas, terpengaruh sihir ilusi yang diberikan Satella. Semua melihat saljunya berjatuhan dikelas ini. Didalam perspektif Satella tak ada salju sedikitpun. Ini hanyalah sihir ilusi yang mempengaruhi indera siapapun kecuali Satella.
"DIAM YA, ANAK-ANAK!" Satella memberi gestur seolah ia seorang guru sihir.
"Apa-apaan ini!" Protes satu siswa laki-laki yang berbadan besar.
"Baik aku marah! Aku bekukan pintunya ya." Satella memberikan sugesti lagi.
Dalam penglihatan semua orang, pintunya membeku. Secara nyata pintunya tidak membeku, tadi itu hanyalah sihir ilusi milik Satella.
Merasa terancam, beberapa siswa laki-laki memukuli siswa barusan karena berani menentang otoritas Satella. Akhirnya siswa tadi kapok, setelahnya tak ada lagi yang berani menentang Satella.
"Oke bagus, aku suka anak-anak penurut." Satella bernada sedikit mengolok-olok teman-teman.
"Dengarkan aku ya!" Pinta Satella.
"Disini aku mau mengikuti kelas dengan tertib. Tolong kalian bantu supaya aku bisa melewati kelas ini dengan lancar." Ujar Satella.
"Iya buk, em maksud saya baiklah Stella." Kata siswa cowo, ia sedikit salah tingkah akibat rasa takut.
__ADS_1
Rasa takut sudah terukir dihati murid-murid dikelas ini. Satella sangat mudah mengancam semua dengan ancaman pembekuan.
"Membeku itu rasanya tidak enak loh." Satella terkikik, merasakan sensasi kepuasan akibat membuly.
"Karena kalian penurut maka aku akan menghilangkan saljunya loh." Kata Satella.
Saljunya hilang dari perspektif murid-murid. Ilusinya dibatalkan oleh Satella, gemuruh rasa lega menggema dikelas ini. Instruktur sedikit tersenyum atas bantuan Satella, dia jadi merasa gak enak karena sebelumnya memandang Satella dengan buruk.
"Aku terkesan." Bisik instruktur.
Kuping elves Satella berkedut tak sengaja menangkap suara bisikan instruktur muda tadi.
Satella menyeringai dengan raut kebanggaan yang tengil.
"Bisa dimulai kelasnya!" Seru Satella.
Instruktur masih terpukau atas tindakan Satella. Melihat hal itu membuat Satella memberikan sarkasme pada kata-katanya itu.
"Apa materinya sudah dimulai?" Satella bernada sarkastik.
"Anda ini sepertinya tidak mood menjalankan kelas ini?" Satella membalikkan lagi kata-kata yang pernah ia terima sebelumnya.
Karena instruktur masih terdiam seolah beku, Satella berdeham.
"Ahem!"
"Ahem!"
"Ahem!"
"Aku ini gak mau dibilang tidak memperhatikan saat guru sedang berbicara ya! Tapi gurunya malah tidak berbicara ya." Satella terus melempar kata-kata sarkastik.
Hingga saat ini suasana kelasnya menjadi hening.
Instruktur muda tudak merasa dipermalukan siapapun, kali ini merasa malu pada nilai diri yang terkandung dalam dirinya.
"Maaf sepertinya saya tidak enak badan." Instruktur muda kembali meninggalkan kelasnya.
Lagi-lagi Satella memberikan nada sarkastik.
"Jangan pergi hei tunggu, kemana dulu rasa tanggung jawabnya!"
Satella mengambil napas berat.
"Ternyata Violetta benar, kejadian yang sama akan terjadi sekali lagi." Satella memejamkan matanya itu membentuk mimik tak habis pikir.
Skip...
Satella berjalan dilorong dengan perasaan bersalah. Jelas-jelas ia memberi pembelaan pada sosok pemateri amatiran itu, tapi gagal mendapat alur yang normal.
Jam kosong sebelumnya ia pergi menuju ruang kebutuhan. Pada kesempatan kali ini Satella pergi menuju kafetaria sekolah. Tetapi sebelum Satella sampai ditempat tujuan, ia menemukan suatu hal.
"Eh, itu!" Satella terkejut, sambil menampakan wajah bengong nya yang imut.
Yang Satella lihat itu adalah sosok instruktur muda yang tadi mogok mengajar itu. Satella melihat ia sedang terduduk dikursi pinggiran lorong sekolah. Lorong sebelum belokan menuju kafetaria sekolah.
Satella tersenyum tipis seolah ia menahan perasaan lucu. Baginya lumayan lucu tuk melihat sosok laki-laki yang umumnya punya kekuatan, tetapi malah kelihatan lebih lemah dari cewe.
Senyum tipisnya meluap menjadi tertawa kecil tak tertahan tapi itu masih minim suara. Ia menutupi bibirnya dengan ujung jari lentik seraya berbisik pada diri sendiri.
"Bucin kaya Emili juga para cewe dikelas melihat orang hanya dari covernya saja. Lihat tuh berapa pecund*ng nya idola kalian para cewek-cewek." Bisik Satella pada dirinya sendiri, tertawa kecil.
Sebenarnya Satella jijik melihat laki-laki gampang depresi hanya karena hal kecil. Disisi lain Satella merasa simpati pada sosok itu.
Satella puas menertawakan dalam hatinya, sekarang melangkah.
Satella mendekati..
"Kenapa sih kamu sampai mogok mengajar dikelas ku?" Ucap Satella.
Instruktur itu kaget karena tau-tau seseorang berbicara padanya.
"Kamu!" Instruktur muda tadi terkejut.
"Sejujurnya aku malahan senang kamu mogok." Kata Satella yang mengukir senyum dipenuhi rasa tawanya yang ditahan.
"APA!" Instruktur itu kesal.
"Habisnya kamu sekelas merasa kejenuhan, akibat jam ekstra dari third semester ini." Kata Satella.
"Begitu." Balasnya, datar.
"Namamu, beritahu aku namamu!" Pinta Satella.
"Namaku?" Instruktur muda itu masihlah sebal kepada Satella.
"Sudah dua kali pertemuan tetapi kamu belum memberitahu siapa namamu." Kata Satella.
"Dua kali pertemuan katamu?" Instruktur fokus menatap Satella.
"Tidak sekalipun aku menggelar pertemuan yang sukses." instruktur muda itu, sambil ia menggelengkan kepalanya.
"Maaf." Kata Satella.
__ADS_1
"Kamu mudah menyerah, baru aja begitu tapi kamu kabur dari kelas." Komentar Satella.
"....." Instruktur muda itu hanya menatap tanpa sepatah katapun.
"Maaf juga karena aku gak panggil kamu pak atau sebagainya, karena aku tahu usia kita hanya terpaut sedikit." Kata Satella.
"Hei, cepat siapa namamu!" Tagih Satella, dengan gestur gregetan.
"Namaku Ernest."
Instruktur telah memperkenalkan dirinya sebagai Ernest.
"Oke pak Ernest." Canda Satella sambil terkikik.
Setelah tawanya usai Satella pun menarik candaannya.
"Maksudku, salam kenal Ernest." Satella dengan gestur bersahabat.
"Sama-sama." Singkat Ernest.
"Sat.. Tella.. sat.. apa?" Ernest sulit dalam mengeja namanya Satella.
"Sulit mengeja nama ku?" Gumam Satella, dengan raut jengkel.
"Itu nama pemberian ibuku loh, main-main dengan itu maka aku jadinya sebal!" Protes Satella.
Satella mengoreksi.
"Satella!"
"Aku juga biasa dipanggil Stella."
"Kalau tidak salah Stella itu adalah nama rasi bintang." Ucap Ernest.
"Tepat." Sahut Satella.
"SEBENTAR YA!" Omel Satella yang memberi mimik wajah marah.
"Kenapa marah?" Tanya Ernest.
"Habisnya aku udah belain kamu barusan, tapi kamu malah mogok mengajar. Kelakuan mogok kamu barusan bikin aku merasa kurang dihargai!" Satella mengomel.
"Kalau begitu maafkan aku." Kata Ernest, dengan datarnya.
"Kalau begitu mari kita kembali kedalam kelas!" Pinta Satella.
"Aku akan mengisi kelas lagi pada pertemuan berikut." Kata Ernest.
"Bodo amat lah Ernest!" Satella memberi nada jengkel.
Sejenak Satella memanyunkan bibirnya, melipat tangan sambil membelakangi posisi Ernest.
"Kenapa mogok?" Tanya Satella, ia semakin gregetan.
"Aku merasa tidak bisa apa-apa." Jawab Ernest.
"Permisi?" Satella bingung.
"Kenapa?" Satella mengangkat tangannya, menunggu penjelasan.
"Sebenarnya aku sudah dapat memprediksi kalau aku nantinya gagal dalam melaksanakan tugas mengajar ini." Kata Ernest.
"Kenapa Ernest, apakah kamu itu peramal?" Tanya Satella, sambil memejamkan sebelah matanya.
"Aku bukan peramal." Jawabnya.
"Ah.. aku tahu!" Seru Satella.
"...." Ernest menyimak.
"Kamu itu kurang percaya diri." Satella menebak.
"Mungkin." Sahut Ernest, datar.
"Padahal kata cewek-cewek dari kelasku, mereka bilang kamu itu tampan loh Ernest." Kata Satella, dengan mimik bengong khas yang imut darinya.
"Begitu." Wajah Ernest memerah.
"Laki-laki kok mukanya merah, jangan-jangan dia bencong lagi." Sindir Satella dengan nada yang berbisik pelan.
"Tolong berikan aku kesempatan sampai pertemuan berikutnya." Ernest bicara dengan cepatnya.
"Sesungguhnya aku belum merasa siap, kemaren ataupun sekarang diriku belum siap." Ujar Ernest.
"Oh jadi itu masalahnya." Gumam Satella.
"Tapi pertemuan berikutnya kamu jangan mogok lagi, nanti aku bisa disalahkan cewek satu kelas loh." Satella memberi dukungan.
"Ayo kamu bisa!" Ujar Satella.
Hubungan baik antara Satella dan instruktur Ernest pun membaik.
~bersambung~
__ADS_1