
Semua melupakan ku..
"Tolong aku.. dewi Eris, ada yang pingsan disini."
Masih gelap gulita.
Semua kenangan yang aku bentuk dengan orang terdekat, semuanya hilang begitu saja..
"Ambilkan aku minyak angin."
"Iya.. goddess."
Semua kenangan yang aku bentuk, kembali lagi ke nol..
"Sadarlah siapapun kamu!"
Suara dewi Eris.
Bahkan goddess tidak ingat dengan aku, siapa aku, aku sudah mengenal mereka tapi, mereka tak kenal aku.
Suara napas ku sendiri.
"Ha.. ah." Satella tersadar.
Membuka mata, yang dilihatnya sekarang ada banyak orang.
[Satella : semuanya sudah kumpul disini. Tapi, cara mereka menatap seperti mereka tak kenal aku.] 😞
"Kamu sudah sadar?" Dewi Eris dengan senyumnya yang manis.
Hanya suara melenguh singkat dibibirnya Satella.
Satella menatap semua orang yang ada diruangan itu satu per satu.
Menatap Iota, dibalas mimik sebal yang cemberut sambil menolak pinggang kearah Satella. Kemudian mengalihkan lagi pandangannya.
Menatap Violetta tapi dia terlihat acuhnya.
"Apa?" Kata Violetta dengan raut wajah minim ekspresi. Hanya dua detik menatap Satella sebelum ia membuang muka.
Lalu Satella menatap Minerva dan dibalasnya dengan tatapan jutek. Wajah galak dan cueknya memberi penegasan bahwa dia agak kurang suka pada Satella. Tidak benci tapi juga tidak suka, dengan kata lain pernyataan sedikit suka dari cewe stundere yang galak ala Minerva.
"Kenapa? Adakah yang mau kamu sampaikan! Huh." Minerva dengan juteknya, melipat tangan, pasang wajah cemberut.
"Kenapa galak banget?" Satella dengan wajah sendunya menatap kearah Minerva.
"Apa galak! Kamu bilang aku ini galak? Huh.. gak sopan!" Minerva memarahi Satella.
"Maaf." Satella menatap Minerva dengan wajah sendu.
"Jangan lihat aku! Jangan lihat aku dengan wajah seperti itu." Minerva tidak memberi penerimaan pada Satella, membalas dingin.
"Maukah kamu berteman dengan aku?" Tanya Satella.
"Berteman? Biar ku pikir-pikir dulu, ya." Minerva melipat tangan sambil membuang muka, wajahnya yang terpejam agak cemberut.
"Minerva.. kamu orang baik, kamu teman yang paling ideal, segala hal yang istimewa ada dalam dirimu. Siapapun ingin punya teman yang seperti kamu." Pernyataan tulus dikeluarkan Satella.
"...." Minerva diam.
Minerva menampakkan ekspresi stundere klasik. Senyuman tipis terukir dibibirnya, pipinya merah. Mimik wajahnya sudah jelas kalau Minerva merasa gembira, tetapi hatinya masih gengsi. Sekalinya Minerva merasa gembira ria atas pernyataan tulus Satella, tapi yang keluar dari mulutnya adalah.
"Minerva." Ucap Satella, lirih.
"Jangan berteman denganku." Balas Minerva, membuang muka walau hatinya tersanjung, tapi egonya itu malu, gak berani membalasnya.
"Em.. ya." Satella terdiam dengan mata yang basah mengkilap.
"Jangan nangis!" Omelan Minerva yang membelakanginya.
Kemudian Satella menoleh kearah Isyana, balasannya adalah senyum sinis dan menyeringai. Dilihat dari tindak-tanduknya Isyana ini seperti mau berkomentar bagai netizen.
"Katakan.. kalian mau berteman dengan aku lagi?" Tanya Satella, menoleh kearah Isyana.
"Lagi?" Ucap Isyana dengan mimik bingung, ia memiringkan kepalanya dengan sorot mata menyipit.
"Kita ini bisa jadi akrab dan kompak loh.. percayalah." Satella mengulang perkataannya.
Isyana menghela napas. Menaruh telunjuk didagu, diam sebentar dan menimbang, iris matanya condong kearah kiri lalu ke kanan.
Maju dua langkah kemudian ia melipat tangannya dan menatap kearah Satella.
__ADS_1
[Note : disini semua lagi berdiri kecuali Satella dan dewi Eris.]
"Teman? Ya.. begitu." Gumam Isyana.
Membaca arah pikiran Isyana yang mudah ditebak, Minerva yang bar hatinya sedikit bergeser menjadi sedikit simpati memotong Isyana.
"Isyana.. stop!" Potong Minerva.
"...." Isyana masih melipat tangan sedikit menoleh kearah Minerva.
"Bilang mau atau tidak, kalau gak mau tinggal bilang tidak! Aku gak mau ya dengar kamu bicara toxic, apalagi ke orang lain yang kita itu belum begitu kenal." Omel Minerva.
"Tidak... Aku harus bilang." Isyana ngelawan ucapan Minerva.
Isyana menatap kearah Satella, kemudian mengangkat telunjuk seperti gestur akan menceramahi.
"Dengar!" Seru Isyana.
"...." Satella menatap Isyana.
"Kamu bilang kita akan menjadi teman akrab? Teman kompak? Begitu.. ya. Sekarang coba pikir, apakah kamu punya keberanian untuk menemui teman-teman kelasmu? Teman yang kamu udah bekukan, apakah kamu orangnya bertanggungjawab untuk meminta maaf kepada mereka!" Isyana mengkritik Satella, membuatnya menjadi bungkam. Karena tidak menjawab, Isyana menekan lagi.
"Ayo jawab!" Sentak Isyana.
[Satella : tapikan kamu gak pernah semarah ini deh sebelumnya.] 😞
"Aku gak berani, habisnya nanti mereka pasti." Kata-kata Satella berhenti disini.
"Tuh kan!" Isyana bernada sinis.
Isyana menatap sinis.
"Gimana kami bisa percaya kamu kalau minta maaf aja gak mampu! Aku gak seneng sama orang yang tidak mau mengakui kesalahannya, NGERTI GAK!" Isyana melotot dan seolah bola matanya jadi besar.
"Yasudah." Satella bernada lesu.
Violetta melakukan gestur seperti mengendus sesuatu..
"Aku mau tau." Kata Violetta.
"Huh?" Satella fokus pada Violetta.
"Apa ini? Kamu sepertinya marah denganku, padahal sebelumnya." Sejenak Satella mengingat momen bersama Violetta di loop kedua dan berakhir dengan kenyataan yang terpukul karena loop ketiga.
"JANGAN DEKATI TEMANKU! YA." Violetta marah.
Satella mengenal Violetta sebagai sosok yang jarang marah, tetapi sekarang pertama kalinya Satella melihatnya marah sampai begini. Sementara Minerva yang awalnya paling tidak bisa menerima sosok Satella, kini sedikit simpati.
"Violetta.. kenapa kamu? Memang kenapa dengan Satella." Minerva berbanding terbalik, malah pasang badan menghalangi Violetta agar tatapan marahnya tidak sampai mengarah pada Satella.
"Jelaskan?" Pinta Minerva.
"Aku mencium aroma sihir gelap disekitar tubuhnya." Ujar Violetta, menunjuk kearah Satella.
"Sihir gelap!" Minerva tersentak kaget.
"Apa? Katamu." Satella pelan.
"Sihir gelap apa yang kamu pakai?" Violetta kembali bicara.
"Tapi aku tidak tahu? apa yang kamu maksud." Bantah Satella.
"Bau miasma." Ucap Violetta.
"Bau, apa?" Satella bingung.
Satella masih bingung, semua yang berada disini termakan ucapannya Violetta dan agak marah.
"SUDAH KUDUGA!" Minerva emosi.
"....." Satella ketakutan melihat ekspresi marah Minerva.
"Sejak awal aku merasa curiga tentang kenapa wajah Satella bisa sangat mirip dengan, kau tahu.. PANGERAN KEGELAPAN!" Minerva berbalik menjadi antipati kepada Satella, Minerva jijik padanya.
"Pangeran kegelapan kembali lagi? Bahaya sekali." Komentar Isyana.
"Kalian?" Satella lirih, matanya terlihat agak basah hanya kilatan kecil air mata yang tak sampai mengalir ke pipi.
"Hentikan itu!" Protes dewi Eris.
Semua diam sejenak.
__ADS_1
"Kalian gak punya buktikan kalau Satella adalah inkarnasi pangeran kegelapan." Tegas dewi Eris, yang memberi pembelaan pada Satella.
Minerva menjawab..
"Pertama, wajah Satella itu mirip dengan pangeran kegelapan. Yang kedua, Violetta mencium aroma miasma wicth dari tubuh Satella. Sudah jelas kan.. kalau dua hal itu dihubungkan maka cocok." Jawab Minerva, membuat komplit total penolakan pada Satella.
"Pangeran kegelapan, Bellatrix itu spesialis sihir petir dan api, Satella sihir es, beda kan." Bela dewi Eris.
"Iya mungkin sihir ketiga pangeran kegelapan adalah ice, gak mungkin dalam waktu selama itu dia tidak mempelajari hal baru." Ujar Isyana.
"AKU BUKAN BELLATRIX!" Umpat Satella, sangat sakit hati.
"Kalian bikin aku sakit hati! Tapi segalanya gak harus seperti ini juga kan?" Satella meluap.
"Maaf aku emosi." Ucap Satella kini mulai berdiri.
"Aku gak diterima disini jadi aku segera pergi. Kalau mau mencaci ataupun menghina silahkan saja, akan tetapi! Tolong jangan bilang kalau aku itu inkarnasi Bellatrix, argumen itu sangat tabu, kalian paham gak? Akan sesulit apa aku nanti kalau banyak orang ikutan berfikir seperti itu."
Satella pun bisa mengomel, setelah puas meluapkan isi kepalanya lalu Satella menghela napas dan pergi dengan gestur sakit hati.
"Kalian!" Seru dewi Eris.
Semua diam.
"Kalian gak harus seperti itu juga kan.. lagi pula kalian belum begitu mengenal gadis rambut silver itu kan." Ujar dewi Eris, menceramahi.
Satella meninggalkan ruangan..
Lorong sekolah.
Satella berjalan di lorong dengan wajah sendu. Sesekali mengusap pipinya yang basah dengan lengan bajunya. Berjalan entah kemana. Pilihan yang dituju Satella adalah.
Ruang perpustakaan..
Skip..
Ruang perpustakaan.
Satella mengambil duduk diposisi meja yang biasa dia ambil ketika membaca. Dibanding loop waktu kedua, sekarang ini adalah loop terburuk menurutnya. Setelah ia merasakan nyaman karena punya teman yang serasi dengannya. Kemudian setelah loop ketiga jadi dimusuhi teman yang terlanjur mengambil tempat dihatinya itu.
Duduk manis, membuka buku pelajaran sihir tentang dasar ilmu dark magic.
"Miasma wicth?" Gumam Satella.
"Apa itu?" Satella terpejam pusing.
Sedang diam dan mencari, tau-tau seorang datang dan bersuara..
"Miasma wicth adalah bau yang tercium kalau seseorang berurusan dengan ilmu gelap."
Satella menoleh ke orang yang tadi bicara itu.
"Aku adalah kepala perpustakaan, namaku Freud."
Dia memperkenalkan diri sebagai kepala perpustakaan yang bernama Freud. Satella fokus menatap untuk mendengarkan, dengan wajah diam.
"Aku senang ada murid punya rasa ingin tahu yang tinggi lalu pergi ke perpustakaan tuk menggali ilmu." Kata kepala perpustakaan.
"Em." Satella dengan senyum tipis minimalis.
"Ada lagi yang ingin kamu cari tahu?" Tanya kepala perpustakaan.
"Ah.. ada." Seru Satella, perubahan ekspresi tergambar pada wajahnya kini sedikit lega.
"Kalau tidak salah dengar berarti miasma itu adalah aroma dari sihir gelap, ya. Seseorang mengeluarkan aroma miasma setelah ia memakai sihir gelap kan." Satella bilang.
"Semakin gelap semakin pekat bau miasma. Maksudku sihir gelap itu bervariasi, ada sihir gelap tingkat rendah. Sihir gelap tingkat rendah biasanya kurang berbahaya, kalau ditangan mage yang baik sihir dark tingkat rendah membawa manfaat lebih banyak. Sementara sihir dark tingkat atas biasanya membutuhkan pengorbanan, seperti sihir yang merampas esensi hidup mahluk ataupun merampas nyawanya itu."
Satella menyimaknya.
"Oh.. begitu, selama ini aku tidak terlalu banyak membaca." Satella bergumam, bernada lirih.
"Semakin tinggi sihir gelap yang digunakan, maka semakin pekat baunya. Satu lagi, semakin tinggi tingkatan sihir gelap maka makin jahat persyaratan untuk dapat menggunakannya."
"Tapi, kalau orang itu tidak pakai sihir gelap sama sekali tetapi ada aroma miasma yang pekat yang tercium dari tubuhnya, alasannya apa?" Tanya Satella.
"Mudah saja." Kepala perpustakaan akan mengangkat tangan, bersiap menjelaskan.
Loop waktu Ketiga cukup berat rasanya. Satella mendapat sebuah penolakan dari teman yang dulu akrab dengannya. Sementara ia mencari tahu penyebabnya, kini diterangkan kepala perpustakaan.
~bersambung~
__ADS_1