
Satella sampai pasang badan untuk melindungi Starla. Bola es raksasa menabrak kejalan lalu meledak. Ledakannya sangat besar karena tergolong sihir tingkat tinggi. Efek ledakannya membawa muatan destruktif berupa batu besar yang berasal dari pecahan es raksasa.
Pecahan bola es raksasa sebesar lemari pun melesat kearah Satella. Untuk melindungi diri Satella pun menyulap dinding es sebagai sihir defensif. Pecahan es raksasa yang berkecepatan tinggi ditahan oleh dinding es nya. Satella menumpuk dinding es sebanyak empat baris.
Zona pertahanan cukup tebal.
Ice wall !!
Dinding es pecah dan pecahannya menghantam Satella. Pecahan dari dinding es tak terlalu kuat energi kinetik nya tapi itu rasanya seperti ditimpuk batu sebesar genggaman tangan. Hanya saja Satella resist terhadap element ice karena ras Satella adalah snow elves makanya punya resist terhadap magic ice.
"Kya...." Jerit Satella.
Satella melindungi kepala dengan kedua tangannya itu. Ada banyak pecahan batu es yang menghantam tubuh Satella. Sebesar genggaman tangan, walau batunya tak terlalu kencang menghantam kearahnya.
"Aduh." Satella merasa sakit.
"Apa itu sakit?" Tanya Starla yang merasa khawatir.
"Sedikit sakit." Ujar Satella.
Satu sihir mahadahsyat meledak dijalanan yang untungnya sepi dan jarang kendaraan kuno melintas disana. Banyak pecahan es kristal sangat besar. Merusak jalan hingga muncul retakan parah, retakannya sangat tidak enak dilihat. Bahkan kakinya orang dewasa bisa saja masuk dan tersangkut didalamnya.
Pecahan kristal es besar itu tadinya berhamburan kemana-mana. Daya eksplosif nya sangat tinggi seperti bom nitrogen. Saking tingginya itu sampai membuat pecahan kristal menabrak apapun dengan sangat keras dan kencang. Menabrak atap rumah, menabrak dinding rumah sampai rusak parah. Yang terdekat adalah rumah yang sembilan puluh meter jaraknya dari radius ledak. Rumah terdekat itu separuhnya hancur. Pondasi batu kerasnya dan rangka kayu kuatnya hancur dan menyisakan separuh bangunan.
Satella pun masih bernapas cepat karena efek shock. Efek suara dari ledakan dan efek ketika muatan ledakannya menghantam dinding sihir es sungguh membuat Satella merasa shock. Matanya terdiam iris nya bergetar bibir menganga.
Satella mengusap dadanya.
"Jantungku...." Seru Satella sambil mengelus dadanya.
Satella memperhatikan keadaan sekitar. Sekilas nampak kaget saat melihat efek destruktif dari sihir tingkat tinggi tersebut.
"Ya ampun ... banyak yang rusak." Tercengang Satella melihat jalan menjadi rusak dan banyak rumah yang temboknya bolong ataupun setengah runtuh.
Keterkejutan Satella diinterupsi Starla.
"Lihat!" Seru Starla, ia menunjuk kearah atas.
Yang ditunjuk Starla adalah sosok pamannya sendiri yang melayang dengan flying magic.
Pamannya tertawa.
"Dasar keponakan durhaka.
"Rasakan hukuman karena kamu telah membuat Starla jadi anak pembangkang!" Paman memberi deklarasi tempur.
Sambil melayang diudara paman melakukan sihir yang kuat kepada Satella. Kali ini ada tiga elemental spirit warna hijau yang berotasi disekitar tubuhnya. Itu seperti bola cahaya atau mirip bintang hijau dilangit antariksa yang dilihatnya dengan teropong bintang. Warna dari elemental spiritnya menegaskan kalau sihir yang akan ia gunakan adalah sihir element bumi.
Gravitation field !!
Sang paman elves menyulap area disekitar Satella menjadi gravitasi super berat. Seolah tanah yang diajaknya menghisap tubuhnya kebawah. Tidak kuat menghadapi gaya tariknya, Satella pun terjatuh dalam posisi setengah berdiri dan lututnya menyentuh tanah. Ketika lututnya menyentuh tanah, terasa seperti lututnya dilindas bangunan yang runtuh. Detik demi detik lututnya mulai retak sedikit pada akhirnya Satella terjatuh dengan posisi tengkurap diarea gravitasi.
Penderitaan masih berlanjut saat Satella terlentang dibawah. Sihir element bumi tingkat tinggi punya efek yang berbahaya. Sihir bumi seperti ini mencegah Satella untuk memakai sihir dan memakai item. Terkena damage setiap detiknya.
Starla dan Violetta merasakan hal yang sama. Tetapi mereka mampu lolos dengan wujud transfigurasi masing-masing. Violetta dan Starla hanya terperangkap beberapa detik dan tubuhnya sudah luka berat. Mereka lolos dari area yang telah ditarget oleh sihir area berelement bumi tersebut.
Sementara Satella masih terkena dampak sihir bumi, tubuh Satella dihisap bumi.
"Kya ... sakit. Dadaku sesak, susah napas." Bahkan Jeritannya saja tersendat oleh daya hisap bumi.
Satella menderita.
Dadanya tergencet, merasa sesak didada juga ngilu. Tulang rusuknya mulai retak, organnya seperti akan memuntahkan darah. Ia tersedak organ dalamnya sendiri. Seperti sensasi muntah darah orang yang terkena luka benturan pada organ dalam paru-parunya.
"Uhuk-uhuk ... uhuk. Sakit ini sakit, sakit...." Merintih dan mulutnya tersumbat, bernapas pun kesulitan.
Sudah banyak kerusakan diterima Satella karena sihir element bumi tersebut. Paru-paru terluka parah hingga terus tersedak. Ia tersedak darah. Rusuknya terasa pun sakit.
__ADS_1
Starla dan yang tak ingin Satella terluka segera menembaki paman elves nya dengan sihir tombak api bertubi-tubi. Hal ini sukses untuk menggagalkan sihir bumi paman, penderitaan Satella pun berakhir walau sudah terlanjur luka parah.
Violetta mengincar paman elves dengan cara Menabraknya dengan sihir transfigurasi. Paman elves tertabrak kabut hitamnya Violeta yang melesat cepat. Semula sedang menghindari tombak api Starla dengan manuver flying magic nya. Terkena tabrak kabut hitam lalu terhempas dan jatuh kebawah.
Untuk beberapa saat paman diam sejenak, kesakitan. Hanya tiga detik waktu yang diperlukan agar bisa bergerak kembali. Dengan flying magic ia bermanuver menuju ke posisi Satella. Satella masih tidak berdaya. Pamannya sudah terlebih dulu tiba diposisi Satella.
"Jangan sakiti saudari kembarku!" Starla melesat secepat mungkin kearahnya Satella. Memaksa flying magic nya tuk melesat maksimal.
Paman elves membalikkan posisi Satella jadi terlentang. Menaruh belatinya dileher Satella, paman memberi gertakan pada Starla.
"Jangan melawan!" Gertak paman.
"Jangan lakukan!" Langkah Starla terhenti disini.
Paman elves menempelkan ujung belati didada kiri Satella. Memberi gertakan akan menikam jantung Satella. Starla shock, hanya diam membatu tanpa daya dan upaya.
Sementara Theodore dan minerva baru tiba disana.
Tanpa basa-basi lagi Theodore segera melesatkan tombak api kearah ras elves yang menodongkan belati kepada tuannya. Akan tetapi dapat digagalkan dengan mudahnya.
Perisai es menahan tombak api Theodore.
"Jangan gegabah!" Ancam paman elves.
Theodore mendesis kesal, tak bisa melakukan apa-apa.
"Aku akan membunuhnya!" Ancam paman elves sambil menodongkan ujung belati dijantung Satella.
"Jangan lakukan!" Seru Starla.
"Aku bisa berubah pikiran kalau dirimu kembali bekerja kepadaku Starla!" Paman memberi sebuah tuntutan.
"Baiklah paman." Seru Starla yang bernada resah, sangat terpaksa.
Starla melangkah kearah paman dengan pasrah. Akhirnya paman mencengkeram kuat pergelangan tangannya Starla dengan kasar sehingga ia kesakitan.
"Aduh sakit ... sakit paman." Keluh Starla.
Kesadarannya terombang-ambing saat melihat adik kembarnya yang dibawa pergi. Matanya melihat lingkaran sihir dari skill teleport dengan samar-samar. Bibirnya pun ingin memanggil tapi tak mampu.
"Jangan pergi!" Itulah kata-kata tak terucap oleh Satella. Suara Satella hanya terealisasi dalam hati saja. Matanya berlinang sendu.
Pandangan semakin samar, secara perlahan semakin gelap. Terakhir hanyalah suara yang terdengar.
"Master...." Seru Theodore.
"Jangan, hentikan ... hentikan itu Ia luka dalam. Mengangkatnya tidak boleh dengan cara sembarangan!" Itu perkataan yang diteriakkan oleh Minerva.
Suara berakhir.
Skip...
Ruang inap sekolah.
Satella terbaring disana dengan selang infus.
"Apa anda baik-baik saja, teman master?" Tanya Theodore.
"Tidak apa-apa." Jawab Violetta.
"Apa yang terjadi?" Tanya Minerva.
"Pamannya Satella muncul, kami kewalahan. Paman Satella adalah lawan yang sangat kuat." Violetta terlihat kelelahan wajahnya.
Bahkan wajah cantiknya menjadi mengkilap oleh keringat. Debu pun mengotori wajah cantiknya.
"Kalian sampe kalah. Lawan kalian pasti sangat kuat." Komen Minerva.
__ADS_1
"Ia memakai sihir element bumi. Sihirnya itu diatas tingkat empat. Butuh kemampuan memanggil elemental spirit untuk itu." Ujar Violetta, sangat lunglai.
Dilihat dari betapa lesu matanya, betapa lunglai napasnya, Violetta sangat kelelahan. Sesekali Violetta terbatuk, batuknya sangat berat seolah itu adalah luka dalam.
Tidak lama melintas dokter rumah sakit sekolah.
"Dilihat dari suara batuknya, kamu menderita rusak organ dalam." Kata dokter pada Violetta.
"Permisi?" Minerva dengan nada galaknya.
"Itu semua benar." Ucap Violetta.
"Rusak ... apa?" Minerva kaget.
"Luka dalam, paru-paruku pasti sedikit berdarah." Ujar Violetta.
"Baru dengar." Minerva bingung.
"Tubuhku tengkurap saat terkena sihir gravitasi kuat. Rasanya seperti tubuhku tertindih oleh reruntuhan bangunan yang sangat berat. Dada terasa sesak tak bisa bernapas lalu paru-paru di press layaknya daging kornet." Komentar Violetta.
"Eh ... Eh?" Minerva melongo.
"Pasti ngilu." Tanpa sadar Minerva memegangi bagian bawah dari gundukan kembarnya.
"Sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata." Ujar Violetta.
"Untungnya gak pecah." Minerva terkekeh, dibalas tatapan muram wajah Violetta.
"Mau coba!" Violetta menodong tangannya dengan gestur ingin meremas kuat-kuat.
"Gak makasih, ini untuk calon pendamping hidupku." Minerva melangkah mundur sambil ia cengar-cengir. Melindungi benda pribadinya dengan dua tangan.
"Sakit tau!" Omel Violetta yang tak senang dengan candaan Minerva.
Skip...
Empat hari.
Empat hari telah berlalu semenjak kekalahan itu. Satella pun mulai membuka matanya. Yang pertama dilihat adalah suster yang sedang menyeka tubuh lengketnya. Satella melihat tangannya dipegang agak terangkat lalu dilap kain hangat.
"Sudah bangun, nyonya kecil." Susternya menyapa.
Satella hanya berdeham, wajah Satella masih lunglai.
"Mau aku kabari temanmu nyonya kecil?" Tanya suster sekolah.
"Aku masih pengen tidur lagi ya suster." Jawab Satella.
"Yasudah, besok lagi saja deh." Susternya ramah.
Ini adalah suster yang pertama kali dilihat Satella saat ia koma karena kena dampak racun balisik. Racun balisik telah dinetralkan oleh tuah Phoenix, tetapi dampak lemas nya tubuh masih berlaku. Saat ini pun Satella masih harus menanggung luka-luka lagi akibat bertarung.
Skip...
Dua hari kemudian.
Dua hari kemudian Satella mulai mengabari teman-temannya.
Satella terbaring sendiri disana. Temannya belum ada yang datang menjenguk saat Satella telah sadar. Satella hanya melamun menatap langit-langit kamar inap. Melamun dengan dipenuhi rasa tak berdaya.
"Banyak yang tak bisa dilakukan didunia ini walau punya banyak kekuatan sekalipun. Hanya saja kesempatan selalu ada, aku terus berusaha." Pikir Satella.
"Tapi."
Satella terdiam beberapa saat.
"Pasti sulit deh."
__ADS_1
Satella masih dalam pemulihan sambil menunggu dijenguk oleh teman-temannya.
~bersambung~