Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
prinsip Isyana


__ADS_3

Kamar asrama.


Satella terbaring dikasur dengan posisi tengkurap, sebab pantatnya masih sakit setelah ia menerima hukuman tampar pantat. Satella tengkurap diatas ranjang sambil meringis dan merintih kesakitan.


"Isyana.. awas kamu aku balas ya nanti." Satella tersedu-sedu, tentu begitu sebab pantatnya pasti biru akibat puluhan kali ditampar sekuat tenaga.


"Hu.. hu.. hu.. pantat aku sakit hu.. sakitnya." Rintihan Satella sambil terisak-isak nyerinya.


Satella hanya tengkurap diatas ranjang menahan sakitnya.


"Hidup emang keras ya." Satella bergumam dengan perasaan kesal.


Tak lama Satella tengkurap diatas ranjang, ketukan pintu terdengar dikuping lancip Satella.


"Hei.. Tella hei.. Tella ini aku Yota." Seru Iota sambil mengetuk pintu terus-menerus.


"Masuklah!" Sahut Satella.


"Perih.. duh.. perih du~du~du duh.. perihnya.. pedes banget sensasi dari syaraf perasa dipantat ku." Rintihan Satella, tengkurap tanpa daya.


"Pintunya dikunci dong dasar Tella rambut bihun!" Iota mengomel saat beberapa kali gagal membuka pintu kamar Satella.


"Aku lupa, sebentar kubuka." Sahut Satella.


Alih-alih bangkit dari ranjangnya untuk membuka pintu kamarnya, Satella mengunakan telekinesis. Telekinesis digunakan untuk menerbangkan kuncinya dari meja rias menuju lubang pintu. Setelah masuk ke lubang pintu dan kunci digerakan hingga berbunyi.


Cklek...


"Sudah terbuka!" Seru Satella yang bernada terisak-isak. Saat Satella bersuara itu seperti nada suaranya putus-putus layaknya gadis yang sedang dijajah oleh laki-lakinya.


"Kubuka pintunya!" Iota masuk kedalam kamar Satella.


"Hu.. malas-malasan!" Protes Iota sambil memanyunkan bibirnya.


"Aku gak malas-malasan tapi aku sedang sakit." Jawab Satella.


"Alasan!" Kata Iota bernada ketus, memalingkan wajah dan melipat tangannya.


"Berdiri saja aku menderita." Keluh Satella dengan nada frustasi karena menghadapi keras kepalanya Iota.


"Apa-apaan itu?" Iota menunjuk kearah Satella.


"Apa lagi Iota!" Satella kesel.


"Kamu tiduran tengkurap dengan perutmu diganjal bantal guling?" Tanya Iota mengangkat bahunya.


"Supaya gak sakit." Balas Satella.


"Memang apa yang sakit?" Iota bertanya dengan wajah masam teramat imutnya.


"Pantatku sakit, aku habis terkena hukuman. Pantatku di spanking kemarin, mungkin biru." Satella masih terbaring tengkurap sambil merintih kesakitan memar biru.


Tau-tau Iota naik keranjangnya Satella untuk memperhatikan.


"Apa pantatmu di spanking?" Ucap Iota, bengong.


Tau-tau secara random little Iota mempraktikkan.


"Ah.. hah, maksudmu seperti ini!" Dengan cerobohnya Iota meniru ucapan Satella sebagai tindakan


Plak...


Ditampar pantatnya.


"Kya... Sakit!" Jerit Satella.


Tau-tau Iota menampar lagi pantat Satella yang jelas mengalami luka memar biru. Membuka luka lama yang belum pulih, Satella dibuatnya menggelinjang merasa nyeri.


"Hu.. hu.. hu.. sakitnya!" Merintih panjang, Satella tidak mengira Iota bakalan bertenaga tamparannya.


"Siapa yang suruh kamu tampar pantat ku, ini sakit hu.. hu.. hu." Satella terisak-isak nahan sakit.


"Maaf gak sengaja." Iota dengan ekspresi sangat polos seolah tak berdosa sedikitpun atas tindakan yang baru saja ia perbuat.


"Tolong bawakan obat penghilang rasa sakit!" Pinta Satella yang masih terisak-isak sakit dikasurnya.


"Obat dimana?" sempat-sempat bertanya balik dengan wajah Iota terlihat polosnya, nadanya terlalu datar untuk menganiaya seorang didepannya itu.


Semakin Iota bertele-tele semakin tersiksanya Satella.


"Astaga.. demi dewi Eris! Kamu ambilkan obat pereda nyerinya diruang UKS sekolah, Iota cebol!" Satella sudah sangat kesakitan gara-gara tanpa dosa Iota main menampar pantat Satella yang semenjak awal sudah memar.


"Jangan ngatain aku cebol atau ku tampar lagi pantatmu!" Iota malah menggertak kesal.


"Kya... Tidak.. hu.. hu.. tidak hu.. jangan lagi!" Satella terisak-isak meladeni Iota yang sukses sekali menambah penderitaan Satella.


"Kumohon cepat ambilkan hu.. hu.. sakit hu.. hu.. plis." Satella masih terisak-isak sendu.


Bahkan Iota dapat melihat basah pipinya Satella karena air matanya mengalir jatuh didagunya.


"Huf.. cengeng Tella cengeng!" Seru Iota, sukses menambah citarasa sakitnya memar birunya Satella.

__ADS_1


"Iya-iya kuambil, tunggu sini Tella, jangan nangis huek." Iota berakhir dengan menjulurkan lidahnya pada Satella bernada mengolok-olok.


"Demi dewi Eris bunuh saja aku!" Satella terisak-isak lagi.


Memanyunkan bibirnya Iota pun segera pergi mencari obat pereda nyeri untuk Satella.


Lorong sekolah.


Akhirnya Iota keluar asrama putri dan melewati lorong sekolah untuk menuju ruang UKS.


Ternyata saat ingin pergi keruang UKS, Iota bertemu dengan Isyana dengan raut wajah tengilnya.


"Eh.. si tengil!" Sapa Iota dengan wajah yang manyun seraya lidah sekecil lidah kucing dijulurkan.


"Eh.. ada miss Lolita yang cebol!" Isyana menyapa balik.


"Apa katamu, kamu ngatain aku sebagai cebol ya, DASAR TENGIL!" Iota melotot kearah Isyana.


"Iya emang! Kamu kan anaknya cebol." Kata Isyana dengan raut wajahnya yang sengaja dibuat sangatlah jelek sebagai mimik mengolok-olok.


"MAKAN!" Dengan kesal Iota pun menginjak kakinya Isyana sekuat tenaganya.


"Kya.. ha.. ha.. ampun, hu.. hu.. hu.. sakit sakit. Aku dianiaya Lolita." Isyana meringis sakit.


"Dasar jenong tengil ngeselin huek!" Iota menjulurkan lidahnya seraya memberi gestur sebal.


"Damai hehe.. ampun." Isyana terkekeh dihadapan mimik marah yang imut dari Iota.


"Sahna kesini mau ngapain!" Iota menatap dengan wajah masam.


"Jangan marah-marah, hehe.. aku disuruh Minerva ambil obat pereda nyeri. Soalnya ibu tiri galak kita lagi pms, jangan cari masalah dulu deh sama ibu tiri galak." Kata Isyana terkekeh sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.


"Neruva.. si ibu tiri galak kita lagi pms, gak ada hal yang lebih serem daripada ibu tiri Neruva yang lagi pms." Sahut Iota terkekeh dengan ekspresi polosnya yang imut.


"Adik imouto imutku sini peluk bawang putih, bawang putih takut sama ibu tiri yang galak." Isyana cengar-cengir ngeledek Minerva dibelakangnya.


"Hu.. aku bilangin Neruva kalau Sahna udah mengolok-oloknya!" Ancam Iota dengan mimik tengil menjulurkan lidah kucingnya.


"Tidak.. ampun." Spontan Isyana jejeritan kecil.


"Eh Iota kecil, gimana kalau kita tukeran tugas." Usul Isyana.


"Eh?" Iota menggaruk atas kepala dengan telunjukku.


"Kamu antar obat pereda pms ke Minerva, aku antar obat pereda nyerinya ke Satella." Usul Isyana.


"...." Iota bengong dengan mimik polosnya yang lucu dan imut.


"Ya sudahlah." Jawab Iota dengan ekspresi wajah ala imouto.


"Yes." Bisik Isyana dalam hati.


"Tapi ingat!" Isyana mengangkat telunjuknya.


"Ingat apa Sahna?" Iota bengong.


"Ih lucunya imouto ku kalau lagi bengong, wajah bengong yang amat super imut." Bisik Isyana terkekeh.


"Tentang yang terjadi pada Satella tolong jangan cerita siapapun oke!" Pinta Isyana.


[Isyana : kalau semua tahu kalau diriku biang kerok yang mencelakai Satella, Minerva bakal memarahiku secara habis-habisan.] 😬


"Maksudmu sakit pantat yang Tella alami itu?" Tanya Iota.


"Iya itu, tolong ya Iota." Karena lagi bersemangat Isyana menciumi pipi Iota dengan gemasnya.


"Uuh.. bau Saliva!" Keluh Iota.


"Tapi kenapa gak boleh bilang?" Tanya Iota bengong.


"Soalnya dia sakit karena aku." Gumam Isyana.


"Eh.. emangnya Tella kamu apakan Sahna bandel!" Iota marah sambil menolak pinggang.


"Itu hanya kecelakaan, aku akan bertanggung jawab sampai luka Satella sembuh." Isyana sedikit meluapkan ekspresi kagetnya.


"Yasudah kalau Tella sembuh ajak keruang kumpul rahasia lagi." Kata Iota dengan ekspresi polosnya.


"Dah." Isyana pun masuk duluan kedalam ruang UKS.


Skip...


Isyana membawa sekotak pereda nyeri. Berada didepan pintu masuk blok asrama Satella, disana seorang kepala asrama sedang menyapu karpetnya. Isyana pun melangkah kepada kepala asrama, semacam karyawan sekolah sihir perannya.


"Permisi ibu." Sapa Isyana.


"Ada yang bisa ku bantu?" Tanya kepala asrama.


"Aku dari asrama blok lainnya aku ingin berkunjung." Isyana bilang.


"Siapa yang ingin dikunjungi?" Ibu kepala asrama bertanya.

__ADS_1


"Satella." Jawab Isyana.


"Mau diantar?" Tanya ibu Kepala asrama.


"Tentu saja karena aku juga tidak tahu dimana kamarnya." Balasan Isyana yang cengar-cengir.


"Ayo ikut ibu."


Mereka masuki pintu masuk blok asrama. Sampai di satu pintu lalu kepala asrama mempersilahkan.


"Ibu harus beres-beres di tiga blok asrama putri yang ibu urus sebagai kepala asrama. Disini kamar Satella, ibu permisi dulu ya nak cantik." Ibu kepala asrama pun hendak pamit meninggalkan istana didepan pintu.


"Makasih banyak ibu." Seru Isyana tersenyum sejenak.


Isyana mengetuk pintu kamar.


"Satella ini aku, aku Isyana." Seru Isyana sambil mengetuk pintunya.


Ceklek...


Suara pintu terbuka secara otomatis seolah Isyana menyebut password pintu instan. Tapi nyatanya Satella memakai telekinesis menggerakkan kunci yang sejak awal tergantung.


"Satella aku masuk." Seru Isyana, membuka pintu kamarnya.


Kamar asrama.


Melangkahkan kakinya kini Isyana berada disamping kanan ranjang Satella. Penghuni kamar sedang tengkurap dengan perut diganjal bantal seraya meringis kesakitan.


"MAU APA KAMU!" Omel Satella.


"Aku bawa obat." Isyana terkekeh diatas penderitaan yang dialami Satella.


"Mana obatnya!" Pinta Satella.


"Duduk dulu!" Balas Isyana.


Posisinya lutut menginjak ranjang Satella setengah berdiri. Dibilang duduk kurang tepat karena pantat tidak menyentuh alas kasur. Lebih tepatnya ia disebut berlutut diatas kasur bersiap meminum obat.


"Ini air putih dan obatnya." Isyana merasa bertanggung jawab atas tindakannya, ia membantu Satella.


Glek.. glek..


Diminum dengan dahaga.


"Biar ku taruh gelasnya." Isyana membantu.


Gelas kaca ditaruh kembali efek obatnya tidak instan melainkan membutuhkan proses.


"Isyana awas ya!" Sentak Satella dengan kesalnya.


"Kenapa sayang ku." Canda Isyana terkekeh atas keusilannya kemarin.


"Sayang kepalamu jenong!" Satella mengumpat kesal.


"Jangan marah-marah nanti rasa nyerinya kambuh loh." Kata Isyana.


"Fuh."


Satella mengatur napasnya.


"Kemarin itu cuma akal-akalan mu saja kan Isyana!" Satella kesal.


Isyana terkekeh saja.


"GAK LUCU!" Satella geram.


"Aku akan bertanggung jawab kok Satella." Kata Isyana.


"Bertanggung jawab?" Tanya Satella bernada bingung.


"Aku akan mengurus mu sampai kamu sembuh." Isyana bilang.


"Maksudmu kamu akan menjadi pelayan ku sampai luka memarku sembuh?" Tanya Satella.


"Demi mempertanggungjawabkan perbuatan ku, aku rasa iya. Akan kulakukan itu, aku pelayan mu." Isyana mengatakan tanpa ragu.


"Kamu bisa pegang ucapan mu itu Isyana?" Tanya Satella.


"Iya aku bisa." Jawabnya.


"Katakan bahwa kamu pelayanan milikku!" Satella minta.


"Iya benar.. aku pelayanmu Stella." Ucap Isyana.


"Janji adalah janji!" Tegas Satella sambil menyodorkan kelingkingnya kepada Isyana.


"Iya aku janji!" Tegas Isyana.


Akhirnya mereka salaman dengan kelingking ketika membuat sebuah janji yang akan ditepati.


Isyana itu punya prinsip yang bagus yaitu selalu mau mempertanggung jawabkan segala perbuatan..

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2