Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
perlindungan ibu


__ADS_3

Satella sedang duduk diatas karpet begitupun dengan Starla. Disana Satella sedang memberikan makan kelincinya dengan wortel. Tetapi kelincinya tidak mau memakan wortelnya. Logika anak-anak yang dimiliki Satella tidak menyadari bahwa kelincinya itu karnivora. Setahu Satella, semua kelinci suka dengan wortel, titik.


"Ayo makan!" Satella cemberut, kelincinya tidak mau memakan sayuran, karena ia itu karnivora.


"Mungkin dia gak suka wortel kak." Kata Starla.


Mungkin Starla benar, tapi Starla hanya sampai pada logika bahwa sayuran itu tidak enak. Dua putri kembar, tak satupun yang paham bahwa karnivora hanya pemakan daging. Satella pun menyerah.


"Kelinci itu pemakan wortel tau. Mungkin kelincinya lagi gak nafsu makan aja." Kata Satella, berdalih.


Starla berkomentar dengan.


"Nanti juga dimakan kak kalau kelincinya sudah lapar." Begitu pikirnya.


"Kamu benar." Balas Satella.


"Pinjam kak." Seru Starla.


Starla mengambil kelincinya lalu membelai lembut bulu kelincinya. Manusia yang melakukan ini akan digigitnya, dikunyah. Berhubung kelincinya dielus oleh snow elves makanya auto jinaklah dia.


"Kenapa anak di desa takut kepada kelinci salju, mereka itu kan lucu." Pikir Satella.


"Masa sih kak?" Starla kaget.


"Benar, mereka bilang ini kelinci karnivora." Kata Satella.


"Kak makan yuk." Ajak Starla.


"Iya nih, aku belum makan sejak bangun tidur." Tukas Satella.


"Kamu suruh mbaknya membawa makanan." Pinta Satella.


Karena perannya sebagai kakak kembar, Satella selalu memerintah adik kembarnya. Dengan mudah, Starla selalu menuruti kakaknya. Padahal kalau yang menyuruh itu adalah kakak Diana, Starla selalu geleng-geleng kepala alias nolak.


Skip....


Starla berjalan ke dapur.


"Kelinci, karnivora...." Gumam Starla yang teringat cerita kakaknya saat masih di desa.


"Karnivora itu apa?" Pikir Starla.


Tiba-tiba Starla menabrak mbak pelayan rumah.


"Aduh." Starla kaget.


"Kenapa dik, mau apa kesini?" Tanya mbaknya.


"Mbak tau tidak, karnivora itu apa?" Tanya Starla.


"Oh, itu, mereka hanya memakan daging dan tidak suka sayuran." Jawabnya.


"Mbak bawakan aku dan kak Stella makan pagi dong." Pinta Starla.


"Mau makan sayur?" Tanya mbak pelayan rumah.


"No, aku mau daging." Kata Starla.


"Sayur sehat loh." Bujuk mbaknya.


"Aku ini karnivora!" Jawab Starla, bersikeras ingin daging.


"Baiklah." Jawab mbaknya.


Skip....


Satella dan Starla bersiap makan dikamarnya. Makanan terletak di nampan yang diletakkan diatas karpet. Satella dan Starla baru saja akan menyantap makanannya.


"Ayo makan!"


Seru Satella dan Starla, bersamaan.


Tau-tau kelincinya melahap piring Satella dan Starla yang berisikan daging sapi. Steak daging sapinya  ludes dimakan oleh kelinci winter.


"Makanannya!" Satella merengek.


Sementara itu Starla hampir saja pengen nangis.


"Kelincinya karnivora." Bisik Starla kepada kakaknya.


"Kita pergi ke dapur lagi aja!" Seru Satella.


"Iya, ayo kak." Sahut Starla.


Skip....


Satella dan Starla pun menyantap makanan di meja makan. Setelah selesai, mereka pun meninggalkan ruang makan dan segera kembali.


Ditengah jalan.


"Kya ... aduh sakit...." Menjerit.


"Ada apa kak?" Sahut Starla.


"Gak tau." Balas Satella.


Satella pun berlari kearah sumber suara. Ternyata suara jeritan itu berasal dari kamar mereka berdua. Bukan hanya itu, disana ada mbak pelayan kamar dan ibunya. Ibunya sedang melakukan sihir air untuk menyembuhkan pelayan rumah.

__ADS_1


Mbak pelayan rumah itu kakinya berdarah. Ibunya lagi memangku kelinci, di mulut kelinci ada darah.


"Kenapa ibu?" Tanya Starla.


"Eh?" Satella mendapatkan firasat buruknya.


"Siapa yang telah memungut kelinci ini!" Ibunya terlihat marah.


"Itu kelinci punya kakak, lucu kan." Itulah yang dikatakan oleh Starla dengan nada dan mimik polosnya.


"Benarkah itu Satella!" Ibunya pun terlihat marah.


"Iya, ibu." Satella terkekeh.


"Kelinci salju itu kan binatang sihir yang menyerang manusia loh nak. Kenapa kamu bawa pulang kelinci saljunya!" Ibunya marah.


"Mereka jinak kok." Bantah Satella.


"Jinak udel mu! Jinak itu untukmu yang seorang snow elves, terhadap manusia mereka agresif loh nan." Kata ibunya.


"Aku gak tau loh, kalau kelincinya benci manusia." Satella hanya bisa cengengesan saja.


Skip....


Lagi-lagi Satella sedang bersama ibunya. Satella dibuat menungging lagi, tengkurap diatas paha ibunya. Ibunya mengambil ancang-ancang, Satella sudah sangat menungging.


Plak....


Pantatnya ditampar.


"Ibu, sakit...." Keluh Satella.


"Jangan lagi bawa kelinci salju itu kerumah ya. Kalau sampai kamu membawa kelinci salju lagi, ibumu akan memukul pantatmu lagi ya!" Omel Ibunya.


Plak....


"Kya ... sakit, ampun ibu. Stella gak akan melakukan hal itu lagi, ampun ibu." Satella menjerit ketakutan.


Melihat anaknya yang terpejam dengan wajah ketakutan. Ibunya berhenti menghukum Satella, ibu memeluk Satella sangat erat juga sangat hangatnya.


"Maafkan ibu nak." Ucap sang ibu penuh kasih.


"Stella janji buk, Stella gak akan bandel lagi." Ucapnya lirih.


Sang ibu tersenyum lalu mengusap kepala anaknya dengan lembut.


"Makanya jangan bandel, jadilah kamu anak yang baik." Kini ibunya menasihati dengan lembut.


"Iya ibu...." Balas Satella.


Skip....


wanita pirang membawa putrinya yang juga pirang. Wanita itu dan nyonya Shiela datang kehadapan si kembar sambil membawa seorang putri kecil yang seumuran dengan Satella dan Starla.


"Tebak siapa yang datang...." Seru nyonya Shiela, kehadapan kedua putrinya.


"Hai, hai...." Sapa putri pirang.


"Itu, sepupu Margareth...." Sambut Satella, dengan ekspresi gembira.


Kamar.


Mereka bertiga bermain bersama. Terlihat duduk diatas karpet lalu memainkan puzzle. Puzzle nya itu bukan terbuat dari kertas, untuk memainkannya harus digeser dan sekeping puzzle akan dipasang saat permainan sudah berhasil.


[Author : kalau pernah main game resident evil 4, kira-kira seperti itu bentuk puzzle ini.]


"Kak Stella...." Seru Starla.


"Apa dik Stalla?" Sahut Satella.


"Kakak janji loh, jangan marah lagi sama aku." Ucap Starla kecil.


"Gak kok." Jawab Satella, acuh.


"Emang kalian habis musuhan?" Margareth mencampuri.


"Habisnya aku kesel, punya adik kembar t*lol banget." Omel Satella.


"Hush ... jangan kasar sama adik kembar sendiri. Nanti kalau kamu seperti itu, suatu saat kamu akan kehilangan adik kembar mu loh." Margareth kecil menasihati.


Sementara dengan juteknya Satella kecil hanya menanggapi dengan.


"O, aja kan y." Balas Satella kecil sungguh jutek dan kesal.


"Suatu saat nanti kamu bakalan menyadari, betapa berharganya saudari kembar mu itu loh, sepupu Stella." Ujar Margareth kecil.


Satella kecil memberi gestur yang mengolok-olok Margareth.


Skip....


Sore harinya mereka sedang ada dihalaman belakang. Mereka lagi menyusun manusia salju dan juga istana salju yang kecil.


"Jadi deh, istana saljunya." Seru Margareth kecil, bernada riang.


"Kak, hei kak." Starla memberikan gestur berbisik.


"Apa?" Balas Satella.

__ADS_1


"Kita jahili sepupu Margareth yuk." Bisik Starla, sambil nahan tawa.


Satella terkekeh.


"Ayo." Jawab Satella.


Satella dan Starla sedang berdiri dibelakang Margareth. Tak lama kemudian Satella dan Starla pun langsung memasukkan butir salju kedalam mantel musim dinginnya Margareth melalui sela tudung.


"Kya...." Margareth kecil menjerit karena rasa ngilu karena es.


Skip....


Point of view.


Sebulan telah berlalu begitu saja. Sekarang sudah musim spring dan butiran salju sudah lama mencair. Disaat musim salju, Satella pernah merasa sangat nakal. Ia keluyuran keatas bukit yang ada dibelakang rumahnya. Memanfaatkan buff manusia super yang ia milikinya selama winter masih berlangsung.


Satella tercengang melihat wujud kunang-kunang. Kunang-kunang tersebut tidak biasa, warnanya itu biru agak putih. Kunang-kunang warnanya hampir seperti salju tapi sedikit kebiruan, biru muda. Untuk pertama kalinya Satella merasakan kebangkitan kekuatan sihirnya.


Ternyata kebangkitan kekuatan sihirnya bukan karena Satella mempelajari sihir sejak usia dini. Elemental spirit berelement ice umumnya menyukai snow elves.


Satella berjalan pulang. Elemental spirit menempel ditubuh Satella, membuntuti Satella. Wujud setitik elemental spirit berotasi kelilingi tubuhnya Satella kecil.


POV end....


Istana raja pamvire.


Seorang raja pamvire duduk manis dikursi tahta. Depannya seorang sedang berlutut, lutut menyentuh lantai dan kepalanya menunduk sangat tunduk. Dan sosok tersebut adalah seorang snow elves yang bergender laki-laki dan rambutnya berwarna silver, cukup panjang.


"Apa benar bahwa keponakanmu adalah gadis snow elves kembar dengan rambut silver?" Sang raja bertanya kepada elves itu.


"Iya, paduka raja pamvire." Jawab elves tersebut.


"Bisa bantu aku mendapatkan dua anak kembar itu?" Tanya raja.


"Bisa, tapi untuk apa?" Tanya elves.


"Peramal ku percaya bahwa dua keponakan kembar mu lah yang sanggup mengalahkan generasi pedang suci." Jawab raja pamvire.


"Oh, begitu, iya aku bisa bantu." Jawab elves itu.


"Apa yang membuatmu bersedia mengkhianati kakak kandungmu sendiri, huh?" Tanya raja pamvire.


"Uang, berikan aku banyak uang." Jawab elves itu.


"Hah ... uang, untuk apa uang yang banyak?" Tanya raja pamvire.


"Aku ingin membangun dinasti ku sendiri, bagaimanapun caranya itu." Jawab elves.


"Baiklah, kita sepakat!" Seru raja pamvire.


Skip....


Tragedi dimulai disini.


Satella baru saja pulang main lalu mendapati ibunya terbaring dalam keadaan sekarat. Satella berupaya menghampiri ibunya.


"Ibu kenapa, ibu kenapa, ibu kenapa, ibu kenapa?" Seru Satella, lirih.


"Cepat lari!" Suara ibunya sangat lemah.


"Dimana Starla?" Satella hampir menangis.


"Cepat lari." Ibunya hampir saja kehilangan suaranya.


"Siapa yang melakukan ini buk?" Satella hampir menangis.


"Cepat lari!" Ibunya semakin sulit mengeluarkan suaranya.


"Tolong ibu ayah ibu sedang sakit, dimanakah kamu ayah?" Satella mulai menangis tersedu-sedu.


"Cepat lari...." Ibunya Satella telah menghembuskan napas terakhir.


"Ibu, jangan mati ibu...." Satella pun menjerit histeris, dipenuhi dengan perasaan sendu.


"Ibu aku janji gak akan bandel lagi." Satella menangis tersedu-sedu.


Air mata sudah banyak mengalir, seseorang datang.


"Jadi, ini yang satunya." Munculah suara seorang tak dikenal.


Satella menoleh kearah suara itu. Yang dilihatnya adalah sosok yang wajahnya putih seperti bedak ala gotik. Bibirnya berwarna merah scarlett yang sangat seram lalu ia menyeringai. Hampir semua gigi adalah taring, taringnya runcing.


"Ikutlah denganku kalau ingin selamat!" Ancam pamvire itu.


"Jangan mendekat!" Sentak Satella.


Tapi pamvire berusaha menangkap Satella. Entah bagaimana muncul wujud roh ibunya yang memeluk Satella dari belakang, didekap erat penuh kehangatan. Tubuh Satella membeku, yang beku hanyalah kulitnya saja, seolah-olah ini bukan kutukan beku melainkan sebuah perlindungan sihir es. Seolah yang membungkus Satella adalah zirah beku bukannya kutukan beku.


"Apa-apaan ini?" Pamvire kesal.


Pamvire pun menyentuh Satella dengan tangan kanannya. Seketika tangan raja pamvire membeku.


Bukan hanya itu....


Tangan yang membeku langsung pecah seperti butiran salju. Hal itu membuat pamvir menjadi takut.


"Aku tidak bisa membawa anak yang satu ini." Ujar raja pamvire.

__ADS_1


Seperti cinta ibu yang membuat seorang anak selamat dari bahaya. Tidak peduli seberapa kuatnya itu, cinta sang ibu adalah perlindungan magis yang paling kuat.


~bersambung~


__ADS_2