
Satella tersadar..
"Eh?"
Mendengar suara itu, Violetta pun menoleh kearah cewe rambut silver yaitu Satella. Terbangun tau-tau menampakkan mimik yang heran. Satella bergumam dengan nada setengah berbisik.
"Ya.. ampun, pantesan aja kamu meminta aku pindah ke sofa yang panjang. Ternyata ini alasannya! Kamu mau bobo siang, tapi butuh senderan paha yah dasar nakal! Pengen aku sentil kamu, tapi gak teganya aku." Bisik Satella.
"Hahaha." Violetta ketawa kecil dengan durasi singkat.
"Eh? Loh... Violetta." Satella kaget.
Karena Violetta orangnya jarang ketawa, disisi lain dia itu Kuudere banget. Sekalinya ketawa, Satella merasa aneh dan ujung-ujungnya Satella dibikin kaget.
"Kenapa? Gak pernah ngelihat aku yang cantik ini ketawa." Violetta menatap Satella dengan mata sayu dan mimik minim ekspresi.
"Ya.. walau lebih cantik dari aku, wajah minim ekspresi kamu kalah imut denganku." Gumam Satella.
"Kemana dewi Eris?" Tanya Satella.
"Lagi jalan-jalan." Jawab Violetta.
"Seenaknya aja ninggalin." Keluh Satella, matanya terpejam dengan kerutan dikening pertanda sedang merasa sebal.
"Kamu nyenyak tidurnya?" Tanya Violetta.
"Aku bukan tidur loh." Kata Satella, mengoreksi.
"Clairvoyance kah?" Ucap Violetta.
"Psikometri." Jawab Satella.
"Psikometri, ngomong-ngomong berapa afinitas Esper mu?" Tanya Violetta.
"Sembilan." Satella dengan mimik membanggakan diri sendiri.
"Excellent! Kalau aku sepuluh." Violetta bilang.
"Oh.. guru." Satella memberi rasa apresiasi, menganggap Violetta sebagai senior di bidang Esper.
"Apa yang kamu lihat dengan skill psikometri?" Tanya Violetta.
"Gak menemukan hal penting sih tetapi, aku tahu kalau hari ketiga bakalan ada orang melepaskan semacam ular balisik kelorong akademi. Tapi aku gak tahu siapa pelakunya." Ujar Satella.
"Tapi." Satella mengangkat tangan sementara Violetta menyimaknya dengan cermat.
"Mereka atau siapapun itu pastinya berkeliaran disekitar sini! Walau.. belum pasti, yang mana orangnya." Satella mengayunkan tangannya dengan enerjik. Atas dugaan Satella maka Violetta menanggapi dengan.
"Kita cari tahu saja." Violetta.
"Caranya?" Satella.
"Jadi begini." Violetta mengangkat telunjuknya.
"Kalau kita pakai telepati, kita bisa membaca pikiran orang lain. Inilah trik buat menyadap pikiran orang, alih-alih memakai telepati untuk komunikasi tanpa bersuara, kita memakai untuk membaca pikiran orang lain. Caranya! Kita jangan komunikasi, kita gak ngirim pesan apapun via telepati, tapi kita diam sampai orang itu memikirkan apa saja dalam hati pasti terbaca oleh kita." Violetta menjelaskan.
"Loh.. aku baru tahu telepati bisa dipakai untuk itu?" Satella sedikit heran dengan cerdasnya Violetta.
"Pertanyaannya! Apakah kamu bisa telepati?" Tanya Violetta.
"Em.. bisa." Satella mengangguk.
"Tapi." Violetta menatap dengan kedutan alis ketika Satella berkata tapi, langsung negatif thinking.
"Gimana cara pindahin kepalanya litle Iota?" Satella menampakkan wajah bermasalah.
"Oh.. itu, kukira apa." Violetta pun bernapas lega.
"Bisa telekinesis?" Tanya Violetta, Satella mengangguk.
"Bisa dong."
"Angkat aja si loli itu!" Usul Violetta sambil nunjuk kearah Iota, seakan Violetta punya balas dendam yang belum dibalas atas keusilan Iota. Ditampakkan oleh kerutan alis pada saat Violetta menatap cewe kecil itu.
__ADS_1
"Ba.. ba.. ba.. baiklah." Atas mimik Violetta, Satella sedikit terkejut.
"Jangan keganggu ya.. tidur yang nyenyak anak baik." Satella sambil mengecup kening Iota.
Telekinesis !!
Iota diterbangkan secara perlahan tanpa membuat tubuh mungilnya terguncang sedikit pun. Melayang di langit-langit, diturunkan hati-hati. Violetta melempar mantel hitam kearah Satella tepat sebelum tubuh super mungil Iota didaratkan.
"Pakai untuk sandaran kepala loli bandel itu." Kata Violetta.
"Apa ini milikmu? Indahnya." Ucap Satella.
"Tadi aku mengeluarkan dari magic bag milikku." Balas Violetta.
Satella melipat mantel hitam lalu ditaruh diujung sofa yang akan jadi sandaran kepala. Tubuh mungil itu didaratkan disofa. Siul~ siul suara napasnya yang imut menandakan masih lelapnya Iota tertidur.
"Udah jam setengah dua belas nih." Violetta sedang berdiri nunjukin gestur tidak sabarnya.
"Maaf.. ya, i~~iya ayo." Satella pun berlari kecil kearah Violetta sampai dengkulnya menabrak meja.
Brukk...
"Sakitnya." Satella jalan cepat.
Mereka berdua meninggalkan ruangan..
Skip..
Lorong sekolah.
Adalah setengah jam sebelum jam makan siang. Karena nantinya para murid akan berkumpul diruangan perjamuan. Kini Satella dituntun berjalan bersama Violetta, mereka kian akrab karena punya kesamaan. Afinitas sihir Esper yang tinggi itu jadi persamaan diantara mereka berdua itu. Karena persamaan itu berbuah keakraban.
"Nah coba kamu arahkan telepati kepada orang yang disana itu, kamu jangan bicara dalam hati karena ketahuan nanti. Kamu baca yang dipikirkannya, kalau kita giat tuk mencari maka kecil kemungkinan kita mampu menemukan penjahat yang kamu maksud." Kata Violetta.
"Kok kecil kemungkinan?" Satella menjadi kurang pede.
"Iya kalau kamu rajin maka akan besar peluangnya! Disini aku cuma kasih tutorial aja ke kamu, ya." Itu jawaban Violetta dengan wajah nan minim ekspresi.
Satella pun melangkahkan kearah murid yang dimaksud Violetta itu tetapi ditahan.
"Apa?"
"Jangan terlalu dekat! Nanti orang yang kamu intai bisa curiga jadinya gagal total." Seru Violetta dengan nada setengah berbisik.
"Ya.. maaf." Gumam Satella dengan wajah cemberut yang lekuknya membuat lucu.
"Amatir." Violetta menghardik.
"...." Satella menekuk wajahnya seperti anak kecil yang lucu.
Yang Satella lihat adalah sesosok murid cewe berambut ikal cokelat sedang duduk. Sendirian dikursi panjang yang ada di lorong sekolah.
Telepati !!
Telepati pembaca pikiran sudah diaktifkan. Sebenarnya ini tidaklah etis, tetapi demi mencari serigala yang bersembunyi diantara para biri-biri maka hal seperti ini halal.
"Ya.. ampun bakat sihirku sungguh menyedihkan. Lulus dengan bakat rendah, apa yang harus kukatakan kepada orang tuaku di kampung halaman nantinya? Sebab mereka sampai menggunakan uang yang dikumpulkan selama sepuluh tahun agar aku sekolah di akademi sihir. Apa yang terjadi kalau aku gagal bekerja di kementerian sihir."
Satella merasa bersalah karena iya memasuki privasi orang lain.
Telepati pembaca pikiran diputus oleh Satella sendiri..
"Ya.. ampun ya.. ampun. Jahatnya diriku" Batin Satella, berjongkok sambil menaruh sepasang tangan diatas kepalanya.
"Eh.. Kamu kenapa? Ayo cepetan berdiri!" Seru Violetta.
"Aku merasa jahat." Satella menoleh kearah Violetta.
"Ya.. ampun! Kamu sensitif banget orangnya, ya." Sahut Violetta.
"Jadi dia atau bukan? Orangnya." Violetta bertanya. Sementara itu Satella geleng-geleng kepala.
"Gitu, ya. Oke kita cari lagi." Violetta menepuk-nepuk punggung Satella.
__ADS_1
Kini Satella ngikutin kemanapun Violetta berjalan. Satella belum terbiasa dengan metode ini hingga gampang terbawa perasaan. Rasa empati sangat tinggi dihatinya.
Menjelang makan siang, koridor sekolah cenderung sepi. Sebagian besar murid mengikuti pelajaran tambahan untuk mempersiapkan kemantapan teknik sihir untuk mengikuti ujian. Baik ujian praktik sore nanti ataupun besoknya.
Skip..
Orang kedua yang ditarget Satella adalah siswa laki-laki berambut hitam belah tengah. Sama seperti orang pertama, dia duduk dikursi panjang sisi lorong sekolah. Satella memulai telepati pembaca pikiran pada percobaan yang kedua.
Telepati !!
"Kenapa.. orang dari keluarga yang terpandang itu selalu dijodohkan dengan orang kaya raya. Lavender ku.. jadi milik orang lain, sejak dulu ditahun pertama sampai menjelang kelulusan, sudah banyak waktu kita jalani bersama. Kenapa kita harus berpisah setelah sekian lamanya oh lavender." Siswa laki-laki nampak murung. Disini Satella langsung paham kalau lagi-lagi bukan dalang yang ditemukannya.
Telepati berakhir...
"Duh.. kasihan."
Mengakhiri sesi pencarian. Satella geleng-geleng kepala dengan yang dialami subjek telepati tadi. Itulah reaksi Satella sekalipun Satella itu belum pernah ngerasain percintaan tapi dia sok tahu aja bilang kasihan seolah mengolok-olok.
"Hasilnya?" Tanya Violetta.
"Bukan itu, ayo cari lagi." Satella berjalan duluan, mencari mangsa untuk dijadikan subjek telepati pembaca pikiran.
Menyusuri lorong demi lorong dan yang nampak hanya kesunyian dikarenakan murid-murid berada diruang kelas. Kelas sudah berakhir setengah jam yang lalu, tetapi ruang untuk pelajaran tambahan untuk yang mau pemantapan teknik sihir pastilah penuh. Mata bulat besar Satella nan lucu tidak menemukan siapapun, tapi third eye Violetta merasakan kepekaan atas hawa kehadiran. Violetta memberitahu.
"Di kafetaria." Kata Violetta.
"Apa?" Satella balik bada seraya menatap Violetta.
"Aku merasakan hawa keberadaan seseorang! Sepertinya siswa atau semacamnya." Ujar Violetta.
"O~~oke iya ayo." Satella agak kaget tapi nurut aja.
Merekapun pergi ke kafetaria.
Berbeda dengan ruang perjamuan yang digunakan sebagai tempat makan para murid dan guru yang dinikmati cuma-cuma. Kafetaria didalam kastel akademi sifatnya swalayan. Misalnya menyediakan makanan atau minuman diluar jam makan. Kalau makan sesuai jadwal belum cukup, atau sekedar kumpul dan ngopi serta ngemil maka ini tempat yang disediakan untuk itu.
Sesampainya mereka berdua disana, hanya ada seorang murid saja sedang menikmati kopi. Karena mayoritas murid sedang mempersiapkan diri untuk ujian praktik yang berjalan selama satu minggu ini. Karena ada banyak mata pelajaran sihir yang dipraktikkan di ujian sekolah sihir.
"Jack?" Gumam Satella.
"Kenapa? Apa kamu mengenalnya Satella." Tanya Violetta.
"Tidak.. bukan apa-apa. Gak penting juga." Sahut Satella.
"Ayo pergi." Seru Satella.
"No Stella! Kita periksa dia." Violetta menahan Satella.
"Dia teman kelasku, belum tentu juga dia melakukan itu gak, gak mungkin." Kata Satella.
"Belum tentu! Ayo periksa, jangan lewatkan satu petunjuk pun. Kalau seandainya dia terlibat gimana?" Violetta memaksa Satella untuk memeriksa apa Jack terlibat atau tidak dalam hadirnya ular balisik bersama siluet hitam.
"Baiklah."
Satella berdiri menatap Jack dari kejauhan. Jack membelakanginya Satella posisi duduknya, dia santai meminum kopi dan merenungkan sesuatu. Satella mulai melakukan telepati pembaca pikiran.
Telepati !!
"****** kau Geoffrey! Gara-gara murid d*ngu itu membekukan satu kelas. jadinya kamu gagal buat lebih dekat dengan Emili. Sekarang aku lancar merebutnya darimu yang. Setiap hari aku bisa menjenguknya dan pedekate. Terimakasih banyak untuk keb*dohan Satella." Itulah sesuatu yang Jack pikirkan.
Telepati berakhir..
Satu hal yang Satella tahu adalah teman kelasnya itu tidak terlibat dalam hadirnya ular balisik serta siluet hitam. Tapi satu hal yang dipikirkan Satella adalah dipenuhi perasaan benci.
[Satella : aku gak percaya kamu kok bisa bilang akulah si b*doh itu. Iya aku membekukan sekelas! Aku kan tidak sengaja. Padahal loop waktu pertama kita bepergian bareng ke kota. Aku baru tahu, separah itukah kamu menilaiku, kesalnya.] 😖
"Kamu memandangku seburuk itu Jack? Aku membekukan satu kelas kan tidak disengaja!" Gumam Satella dengan raut kebencian.
Menatap sorot mata Satella, Violetta paham bahwa Satella sedang murka sekali. Mata ketiga Violetta membaca ada rasa ingin menyakiti yang Basar dari raut wajah Satella.
"Tahan Satella." Pinta Violetta.
"Aku tak pernah sesakit ini!" Satella dengan perasaan ingin menghajar seseorang.
__ADS_1
~bersambung~