Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
time-loop end


__ADS_3

Akhirnya Satella berjumpa lagi dengan pertempurannya melawan Snape di loop waktu ketiga. Setelah melakukan tiga kali time-loop nya Satella tidak mau kalah lagi kali ini.


Pertemuan tiga lawan dua terjadi dengan Minerva dan Violetta ada di pihak Satella.


"Bagus! Gunakan slash attack, itu pilihan tepat Stella." Seru Violetta.


Akan tetapi pergerakan apa yang diprediksi oleh mata ketiga milik Violetta itu.


"Phoenix serang!" Seru Satella.


Phoenix yang seukuran elang itu melesat kearah Snape, cakarnya mengeras. Cakar tajam Phoenix menyayat Snape, menghasilkan serangan slash. Dari gestur Snape menunjukkan kalau serangannya Phoenix cukup pedas. Snape pun berada diposisi knock down.


"SIAL!" Umpat Snape.


"Serang mereka." Snape menyuruh doppelganger Bellatrix menyerang.


"Stella.. buat ice wall!" Seru Violetta setelah memprediksi lawannya akan memakai sihir api.


"Baik." Sahut Satella.


Satella menunggu saat sihir api dilesatkan lawannya.


Ice Wall !!


Tembok es dibuatnya..


"Good Stella." Seru Violetta.


"CUKUP SUDAH!" Suara kemarahan Snape.


"Datanglah.. ular balisik."


Ular balisik di suatu lorong sedang menuju kesini atas panggilan sang tuan, yaitu Snape. Itu butuh waktu sebentar sampai ular balisik tiba.


Sementara Isyana dan little Iota sedang menyiram cure potion nya kepada orang yang beku. Disiram ramuannya otomatis es mencair. Karena jumlah potion nya terbatas orang yang disembuhkan hanyalah ahli penyembuhan. Orang yang disembuhkan dengan cure potion meniadakan efek hipotermia yang ringan, makanya itu berguna.


Mereka bertiga masih berlindung dibalik dinding es. Beberapa saat kemudian datanglah ular balisik.


"Phoenix nullify again stone curse." Violetta bilang.


"Hmm.. jadi begitu, Phoenix kebal terhadap ular balisik." Ucap Satella dengan senyum kemenangan.


"Serang dia Phoenix!"


Setelah Satella memakai mantra perintah, Phoenix melesat cepat kearah ular balisik. Phoenix itu terbangnya sangat tinggi sehingga tidak terlihat oleh ular balisik.


Satella dan dua orang lainnya tak berani menatap mata ular balisik yang berkekuatan kutukan batu.


Phoenix menukik kebawah lalu mencakar mata balisik. Ular itu dibuat buta matanya oleh burung Phoenix, mahluk sihir myth.


"Peliharaan mu membuat buta peliharaan ku, kamu akan segera membayar ini!" Snape kesal.


"Dengar teman-teman." Seru Satella.


"....." Semua nengok, disini mereka sedang menyimak.


"Aku harus mencabut gigi ular itu hidup-hidup." Tegas Satella.


"Hah.. untuk apa? Bukankah lebih mudah saat ularnya mati." Balas Minerva, agak heran.


"Aku harus mendapatkan taring ketika ularnya masih hidup. Itu supaya giginya bertuah." Satella bilang.


"Tuah?" Minerva heran.


"Aku butuh taringnya ular balisik sebagai material membuat deadly blade." Jawab Satella.


[Satella : Bellatrix memberitahuku cara pembuatan equipment kuno.]


"Tapi sebelumnya." Potong Satella.


"Violetta.. apa kita bisa membunuh doppelganger itu?" Tanya Satella.


"Aku punya cara." Potong Minerva.


"Katakan!" Satella menoleh.

__ADS_1


"Aku punya skill untuk menjerat kakinya, dia tak bisa kabur atau menghindari serangan." Minerva bilang.


"Baiklah ayo!" Seru Satella.


Mereka bertiga memutari dinding dari es yang lebarnya tujuh meter, lalu menuju Snape. Minerva juga Satella menuju kearah siluet hitam.


Berlari sekencangnya...


Bellatrix menembaki dengan sihir apinya. Ini tombak api yang runcing didepan, bentuknya seperti segitiga selebar 25 derajat sudutnya. Sihir tombak apinya diblokir frost shield.


Tombak api itu adalah sihir tingkat dua, masih bisa ditahan oleh sihir tingkat satu. Itu karena api lemah dengan es. Uap panas yang berasal dari api dan es yang bertabrakan akhirnya menghalangi pandangan doppelganger Bellatrix. Membuat Minerva lebih mudah untuk move lebih dekat lagi, memotong jarak.


Setelah dekat..


Quagmire !!


Minerva menyulap lantainya jadi lumpur. Bukan lumpur biasa tapi lumpur hisap yang menjerat kaki doppelganger itu dengan kuatnya. Karena siluet hitam kena disable Satella langsung bereaksi cekatan.


"Sekarang giliran ku!" Ujar Satella,


Dengan jarak yang masih dekat tapi berada dibelakang Minerva. Satella menghunuskan pedang mistiknya kearah depan, bersiap menyerang.


Telekinesis !!


Satella menerbangkan pedangnya kearah siluet hitam. Karena kaki dijerat lumpur maka pedang yang terbang kearahnya tak terelakkan.


Griffin sword yang berproperti element white magic memberikan luka fatal. Siluet hitam dikalahkan dalam satu kali serangan saja.


Pada loop kedua, berada posisi mau pingsan Satella melihat Minerva mengalahkan Snape dengan sekali pukul saja. Satella ingat itu, berniat menyerahkan Snape pada Minerva.


"Serang pakai fisik! pasti mempan." Seru Satella.


"Oke." Sahut Minerva.


"Tolong kamu ambil cincin yang dipakai Rika, itu adalah horcrux, tolong simpan itu." Pinta Satella.


"Akan kulakukan." Balas Minerva.


Mereka pun berpencar.


Tapi Satella punya cara untuk mengcounter nya..


Satella berlari dari sudut kanan menuju ular balisik. Ular balisik mengecap dengan indera deteksi panasnya, ular balisik menoleh kearah Satella. Satella tahu kalau semprotan bisa korosif segera dikeluarkan. Sadar akan dibidik, Satella menggunakan Telekinetik untuk membuat meja melayang. Mejanya menghalangi lintasan semburan bisa korosif ular balisik. Indera ular balisik tidak melihat sebuah meja melayang sebagai ancaman. Karena menurut indera pengecap termal nya meja bukan mahluk hidup dan tidak memilih suhu tubuh mahluk hidup.


Sambil membuat meja melayang Satella terus berlari. Satella terus menggeser meja perlahan untuk menjaga agar jalur lintasan serang ular balisik ditutup rapat. Hingga beberapa saat kemudian bisa ular menyemprot kena meja. Mejanya berubah menjadi bubur kayu.


"Mengerikan." Pikir Satella.


Hingga posisi sudah sangat dekat Satella memakai kursi melayang untuk dilempar keatah kepala ular balisik. Lemparan sukses memberi waktu untuk Satella.


Satella kini sangat dekat.


Telekinesis !!


Lagi-lagi Satella mengandalkan telekinesis. Memaksa kepala ular balisik untuk mengarah ke posisi depan bawah. dengan begitu arah semburan bisa korosif mengarah ketitik tidak ada korban jiwa agar lebih aman. Kepala ular terbuka tanpa akan melukai Satella yang menghunuskan pedang mistiknya.


Satella mengambil ancang-ancang untuk menebas. Meski tangannya lemah gemulai tapi pedang mistik miliknya sangat tajam terhadap monster dan mahluk myth. Satella mulai mengincar daging disela taringnya. Kepala ular balisik itu mematung karena dikunci oleh tenaga pysche sihir telekinesis.


Bash !!


Satu tebasan saja pedang mistik mencabut gigi taring balisik telak. Taringnya jatuh kelantai, Satella berniat memperoleh taring lagi.


"Aku tidak percaya, aku dengan tangan lemah gemulai berhasil melakukan ini." Gumam Satella.


Satella mengambil ancang-ancang untuk menebas.


Kemudian Satella berhasil dapat tujuh taring balisik. Ada senjata rahasia yang cetak blue print nya tersimpan diruang bawah tanah rumah Bellatrix. Satella berniat membuat pedang itu. Meski sudah punya Griffin sword tetapi Satella masih butuh pedang lainnya lagi.


Karena Satella fokus pada kepala ularnya dia tidak menyadari kalau ekornya bergerak. Satella dililit jeratan ekor ular, Satella memakai telekinesis untuk melepaskan diri dari jerat ekor ular. Telekinesis dialihkan ke ekor ular akibatnya kepala ular tidak terkekang bisa bergerak leluasa. Satella capat menyadari bahwa kepala balisik mengarah kearahnya, dengan sigap Satella berlari menjauhi ular itu.


Ular balisik mencaplok Satella tapi sedikit meleset. Satella terpeleset dilantai setelah kepala ular balisik melewati dirinya. Meringis sakit.


"Ouch sakit."


Dalam posisi terlentang dilantai, Satella menghunus pedang kearah ular balisik. Ular itu menolehkan kepalanya kearah Satella, ketika itu juga Satella melesatkan pedangnya kearah ular balisik terkena telak. Mengenai kepala dan menembus rangka tengkorak dari ular balisik.

__ADS_1


Satella hanya terbaring dilantai merasa panas biasa ular balisik merasuki tubuhnya.


"Apa aku akan mati lagi!" Satella dengan sendunya.


Minerva yang sudah mengalahkan Snape dalam satu kali giliran pun berlari kearah Satella. Begitu juga dengan Violetta si paranormal.


"Oh no.. Satella kena poison." Seru Violetta. Saat Violetta mengatakan jadi seperti seolah gak bahaya.


Violetta jadi terlalu santuy karena mata sayu dan suara minim gairah yang serasi dengan wajah minim ekspresinya itu.


"Jangan mati!" Seru Minerva.


Satella terbaring sambil dirinya dikerumuni Minerva dan Violetta. Terbaring dengan air mata yang mengalir, iya sedih karena sudah beberapa kali gagal didalam siklus pengulangan waktu.


Phoenix pun mendarat disamping tuanya. Tiba-tiba matanya berair menetes dibahu Satella yang kena goresan taring ular balisik berbisa. Bisa yang sangat mematikan kalau dibanding dengan segala ular.


Violetta dengan third eyes nya menyadari sesuatu.


"Aku tidak percaya! Racunnya telah hilang." Kata Violetta.


"Apa katamu?" Minerva terkejut dengan pernyataan Violetta tadi.


"Phoenix meniadakan racunnya." Jawab Violetta.


"Racunnya hilang tapi Satella udah kehilangan banyak tenaga, dia bisa saja koma akibat kelelahan darah mengalir lambat ke otak. Cepatlah bawa ke unit rumah sakit sekolah!" Seru Violetta.


Dengan kagetnya..


"Baiklah." Jerit Minerva dengan keadaan kaget.


"Tunggu! Aku akan pungut taring ularnya, karena Satella ingin ini." Minerva melangkah tapi Violetta memperingati.


Disini third eyes Violetta kembali bereaksi.


"Tunggu! Pakai wadah atau tangan kamu ke gores, taringnya setajam silet." Seru Violetta memperingati.


"Baiklah." Sahut Minerva.


Material rare didapatkan...


Setelah semua taring balisik yang rontok itu dipungut Minerva lalu Minerva kembali menuju Satella.


Minerva kembali menggendong Satella. Gendong ala pengantin, gendongan yang pertama dalam putaran waktu yang terakhir ini.


Kesadaran Satella samar-samar antara bisa merasa, hampir tidak merasakan apa-apa.


Secara bersamaan...


Dalam penglihatan gelapnya itu Satella merasa kalau tubuhnya digendong. Gendongannya sedikit kasar, punggungnya terasa encok karena cara gendong sembarangan.


Satella dibawah ke unit rumah sakit sekolah.


Tidak ada korban jiwa dalam loop terakhir. Hanya saja sebagian besar terkena penyakit demam dan juga semacamnya itu. Tidak ada apapun yang diketahui setelah itu hanya Satella yang mencapai hari kelima.


Bukan hanya itu...


Korban penyerangan oleh siluet hitam, tidak ada yang mati hanya dibuat pingsan dan luka dalam karena tersengat lightning saja.


Untuk Snape, dibuat retak tulang tengkorak oleh Minerva hingga dirawat dirumah sakit setempat. Snape akan ditahan nantinya.


Pagi hari...


Ruang kebutuhan.


Semua nampak duduk disofa yang terletak paling tengah diruangan tersebut. Duduk bersama dengan nampan yang jadi alasnya poci teh hangat, cangkir teh beruap panas.


Semua disana kecuali Satella.


"Benarkah yang kamu ceritakan?" Kata dewi Eris.


"Benar." Sahut Minerva.


"Lantas apa selanjutnya?" Tanggap dewi Eris.


"Menjenguk.. aku gak sebar nunggu dia terbangun." Jawab Minerva.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2