
Hampir satu jam Satella diruang interogasi. Ini adalah penyidik yang kedua yang mengorek keterangan dari Satella. Penyidik kedua pakai cara yang melecehkan, terlebih lawannya adalah lawan gender.
"Sudah kubilang, aku hanya ingin menyelamatkan kamu dari penyidik lain yang lebih kejam." Penyidik itu bilang, sambil mempersiapkan satu kalung pengekang leher. Kalung itu akan merenggut kebebasan rongga leher Satella dalam bernapas.
"Itu lagi?" Gumam Satella dengan nada benci.
Satella meronta-ronta saat akan dipasangkan choker. Itu memancing penyidik menampar wajah Satella dengan sangat keras. Pipi Satella memerah setelahnya, air matanya mengalir karena efek perih pada kelopak mata bukan karena ingin menangis. Akhirnya kalung leher perbudakan sukses dipasang secara paksa dileher mulus Satella.
"Sakit." Keluh Satella.
Penyidik menyeringai menatap kearah Satella. Mengelus lembut pipinya yang memerah sambil berkata demikian.
"Sakit.. kah? Apa ini sakit? Lihat merahnya.. sangat indah kan luka merah ini." Penyidik muda sedikit memberi olok-olokan. Ia menaruh ujung jemarinya mengelap secara lembut pipi Satella yang memerah akibat tamparan.
"Napas ku sangat berat, tolong lepas ini." Pinta Satella.
"Tidak! Sebelum kamu mengakui kesalahanmu." Tegas penyidik.
"No.. no.. no.. aku tidak, bukan aku pelakunya." Bantah Satella.
"Keras kepala." Gumam penyidik.
"Hentikan ini, kamu membuatku merasa seperti anjing peliharaan. Melukai harga diriku sebagai putri bangsawan, aku bukan budak yang layak dipasang kalung perbudakan dileher!" Protes Satella.
Penyidik muda menatap kearah Satella dengan penuh makna. Itu tatapan dengan satu maksud.
Napas Satella kian berat, bersuara terlalu banyak membuat kalung dilehernya memaksa banyak udara mengering dari saluran napasnya.
"Aku suka deru napas beratmu itu yang amat berat, bersuara yang banyak agar napas mu lebih berat lagi! Hibur aku sampai puas nyonya kecilku." Kata penyidik muda.
"...." Satella hanya mampu melotot kearahnya, karena otot lehernya menderita kelelahan.
"Berapa usiamu?" Tanya penyidik muda itu.
"...." Satella cuek.
Penyidik bertanya hal yang sama tetapi selalu diacuhkan. Setelah Satella cuek untuk keempat kalinya, penyidik mengambil tindakan agar Satella mau menjawabnya.
Plak...
"Jangan acuhkan aku!" Penyidik muda terlihat marah. Setelah dia menampar lagi pipi Satella.
"...." Dengan teguh nya Satella mengacuhkan penyidik lagi.
Plak..
Tamparan yang kedua jauh lebih bertenaga lagi..
"Jawab aku." Penyidik semakin main kasar lagi.
"...." Kali ketiga Satella mengacuhkan penyidik, berdiam cuek dengan satu tatapan yang nanar.
"Baiklah kalau begitu!" Penyidik muda geram.
Penyidik memegang kalung leher perbudakan, diaturnya agar lebih kuat jeratannya. Memaksa leher Satella menghirup lebih berat lagi. Tenaga ekstra dikeluarkan oleh otot lehernya demi tetap bernapas.
"....." Bahkan Satella masih saja bersikeras cuek. Setelah keempat kalinya tak menjawab, penyidik membiarkan level lebih ekstrim jeratan kalung menyiksa lehernya.
Beberapa menit kemudian.
"Leherku terasa nyeri, tolong lepas kalung ini. Kepalaku pusing karena terbatasnya oksigen, lepas kubilang!" Dengan nada lemas Satella berupaya memberi protes keras kearah sang penyidik muda yang agak tega itu.
"Ya.. ampun, lihat ini! Lehermu jadi sangat memerah sekali. Lehermu dipenuhi urat, menandakan sangat intens siksaan pada lehermu, lihat otot lehermu kelelahan! Bukankah semua ini membuatku terhibur dan sangat bergairah, kalau aku seorang raja maka akan ku paksa kamu tuk menikah denganku." Kata penyidik muda tersebut.
"Hentikan.. uhuk.. uhuk.. itu." Satella terbatuk memuntahkan cairan enzim akibat sesak napas dan disiksa pada bagian rongga lehernya.
__ADS_1
"Huh.. kenapa nyonya? Mau aku lepaskan?" Tanya penyidik.
"...." Satella mengangguk pasrah.
"Beritahu aku SATELLA! berapa usiamu?" Tanya penyidik sambil mencekik Satella karena kesal.
Tangan Satella terikat kebelakang tidak mampu memberi perlawanan pada penyidik. Wajahnya memerah karena cekikan pelan itu bertahan lama. Tiba-tiba penyidik melepas cekikan pelannya pada leher Satella hingga timbul suara sesak yang dihasilkan dari leher Satella. Suara tersebut adalah suara yang persis seperti penderita asma kronis yang sedang mencari inhaler semprot.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.. hentikan." Satella terbatuk-batuk tanpa henti.
"Astaga wajahnya memerah sekali lehernya sangat berurat, itu karena disiksa kalung perbudakan. Aku menyukai ini." Penyidik tertawa.
"Kamu menyiksaku!" Ucap Satella dengan menatap sinis.
Akhirnya penyidik melonggarkan kalung perbudakan dileher Satella. Memberi ruang bagus Satella untuk bernapas kembali. Perlahan merah darah diwajah Satella mereda.
"Katakan, berapa usiamu atau aku akan mengencangkan pengekang kalung ini lagi!" Ancam penyidik.
"Usiaku 18 tahun." Jawab Satella seraya terbatuk-batuk.
"Kalau begitu kita serasi, usiaku 22 tahun. Kita bisa jadi pasangan yang dominan versus submisive." Kata penyidik muda, menyeringai penuh aura kemenangan.
"Apa... kamu!" Satella tak sanggup menuntaskan kata-katanya karena harus terbatuk-batuk akibat rongga leher yang disakiti.
"Aku bisa kok menghadirkan orang palsu sebagai penggantimu supaya kamu gak dipenjara. Asalkan saja kamu ku nikahi." Penyidik muda itu tertawa puas akan kata-katanya.
Tapi Satella membalas meludahi penyidik muda itu. Berujung pada Satella ditampar lagi olehnya.
Plak...
Satella memejamkan matanya saat menahan sakit. Memejamkan mata karena kelopak mata nyeri karena dampak tamparan keras. Penyidik kembali mengintimidasi dengan.
"Lihat itu, dia mengalirkan air mata basah di pipi. Manisnya... Aku suka tangis imut mu." Penyidik kembali mengolok-olok.
"Hentikan semua ini!" Suara Satella tampak lirih.
"Em." Satella mengangguk sambil terpejam. Menahan nyeri rongga leher yang amat pegal dan linu juga menahan memar merah di pipinya akibat tamparan keras berkali-kali.
"Naik keatas meja! Sayang ku si nyonya kecil imut." Pinta penyidik yang perangainya kurang baik.
"...." Satella menatap penyidik muda dengan mimik bertanya-tanya.
"Kamu bingung sayang?" Penyidik muda menyentuh lembut lehernya Satella yang memerah. Sentuhannya mengalir atas kebawah berputar membelai memar merah leher itu.
"Kalau kamu nurut akan aku buka kalung leher itu." Ujar penyidik.
"Kalau bantah, akan aku buat jadi lebih kencang lagi!" Ancamannya.
Satella yang sudah tidak tahan menahan jeratan dilehernya yang membuat linu lehernya, mutusin menurut saja. Mengangguk lalu menaiki meja interogasi. Setelah berdiri diatas meja, penyidik muda memberi keresahan tambahan.
"Merangkak seperti kuda!" Pinta penyidik muda itu.
"Apa?" Satella menatap risih.
"Mau ku kencangkan?" Ancam penyidik.
Karena tangan terikat kebelakang alhasil Satella bukanya merangkak seperti kuda, tapi lebih cocoknya disebut menungging. Seperti orang yang akan dihukum cambuk pantat.
"Anak baik.. anak baik." Bernada dengan kalimat melecehkan, sosok penyidik mengelus rambut Satella seperti hewan peliharaan berbulu.
Akhirnya penyidik melepas kalung perbudakan dileher Satella. Setelah dilepas nampak warna merah yang membekas akibat kalung pengikat yang menjerat amat keras seperti rantai yang melecet kan kulit.
"Leganya." Ujar Satella menghirup udara segar sebanyak yang dia bisa.
"Udara segar." Batin Satella.
__ADS_1
"Apa kamu senang sayang?" Kata penyidik muda.
"Jangan panggil aku seperti itu penyidik b1adab!" Sentak Satella.
Plak...
Penyidik muda menampar pantat Satella amat keras. Ditambah posisi Satella adalah menungging maka sensasi rasa sakitnya sangat pedih.
"Sakit!" Keluh Satella, menjerit.
"Mulai sekarang interogasi baru dimulai." Ujar penyidik tertawa sangat jahat.
Skip..
Kemudian penyidik akan bertanya sesuai prosedur. Satella yang tidak bersalah terus membantah bahwa dirinya tak bersalah, tidak lakukan apapun yang dituduhkan padanya.
Plak..
Untuk sekian kali pantat Satella ditampar dengan keras. Mungkin menyebabkan memar merah nan pedas membakar karena sudah banyak tamparan. Dua puluh kali lebih tamparan pantat itu. Saat ini simpul tali pengikat yang mengikat dada Satella telah dibuka sehingga bernapas telah dibebaskan.
"Sakit.. ini sakit! Perihnya, terasa pedas." Keluh Satella.
"Baiklah aku akan lepaskan kamu untuk sekarang. Sayangnya karena tidak mengakui maka prosedurnya berlanjut ke penahanan sel." Ujar penyidik muda itu.
"Apa ditahan? Ini gila." Satella menggerutu.
"Habisnya tidak mau mengakui." Penyidik meninggalkan ruangan. Membuka pintu ruang interogasi kemudian berbalik menatap wajah sayu Satella yang lelah dan frustasi.
"Oh iya, namaku Nick, yang tadi tolong jangan diambil hati karena hanya prosedur." Ucap penyidik.
Satella mencoba duduk tetapi baru sedetik sudah merasa sakit amat parah dipantat nya. Satella hanya mampu berdiri dengan tangannya menyender dimeja, penuh rasa kelelahan akibat ulah instrumen penyiksaan yang dialaminya tadi.
Setidaknya kini bisa bernapas lebih lega lagi, menghela napas dengan bebasnya.
"Seumur hidup aku tidak pernah diperlakukan begini." Batin Satella dengan mata sayu nan sendu.
Terdiam meratapi yang dialaminya mengingat sejak kecil dirinya tidak pernah mendapat perlakuan seperti barusan. Matanya sangat lelah tapi beberapa saat lagi pasti ada orang yang datang, Satella yakni itu.
"Sepertinya aku tidak bisa tidur terlentang, pantatku sakit banget." Satella dengan wajah teraniaya.
Tak lama kemudian tiga petugas mendatanginya.
"Saudari Satella, tolong ikut dengan kami! Dan tolong menurut." Pinta petugas polisi militer. Dikawalnya Satella menuju blok penahanan.
Kemudian..
Satella memasuki block penahanan digiring petugas. Setiap kamarnya adalah jeruji, parahnya ini adalah ruang sel tahanan yang dihuni oleh mayoritas kriminal laki-laki. Sejak awal Satella disoraki oleh cacian merendahkan. Cacian penghuni sel lainnya adalah jenis pelecehan terhadap lawan gender. Contohnya bersiul, gerakan mengecup udara, juga gerakan gestur merendahkan gender wanita merajalela.
Pintu sel dibuka, Satella masuk kedalam ruang jeruji kotor, sempit tanpa cahaya. Kasurnya dari kayu tanpa bantalan empuk. WC nya pun menyatu dengan kamar tahanan. Parahnya suara-suara melecehkan muncul dari sel tetangga.
"Semoga betah!" Kata-kata terakhir petugas polisi kerajaan sebelum meninggalkan Satella di sel jeruji.
"Hei nyonya.. aku sedang asiknya membayangkan meraba-raba tubuh molek mu." Muncul suara bising diruang tahanan sebelah.
"Hei nyonya.. aku ingin memasukan yang hangat-hangat kedalam mulut lembut mu." Suara dari tahanan lainya yang ada diruang sel sebelah.
"Berisik!" Menutup kedua kuping lancipnya. Satella mendesis karena ketidaknyamanan itu.
"Hei nyonya.. buka lebar-lebar paha mu.. akan kami buat kamu berdarah malam ini. Sakitnya sebentar, nanti pastinya enak." Suara-suara gaduh mengganggu ketenangan Satella dan merendahkannya sebagai wanita.
"Ngomong apa sih! Aku sama sekali gak paham dengan kata-kata yang mereka ucapkan!" Umpat Satella menutupi telinga lancipnya dengan kedua tangan mungilnya.
[Note : gadis seperti Satella tidak pernah diajari pengetahuan yang berkaitan tentang reproduksi yang manusia lakukan. Terutama Satella adalah putri bangsawan, biasanya dijodohkan dengan sesama anak bangsawan. Dengan tabu akan hal seperti mengajarkan reproduksi ataupun hal berbau pornografi itu membuatnya suksesnya perjodohan antar anak keluarga bangsawan.]
"Akan ku gunakan sihir agar kalian diam!" Gumam Satella.
__ADS_1
~bersambung~