Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
saatnya libur


__ADS_3

Dua hari setelah Satella melapor tentang keluhannya pada kepala sekolah, kelas diliburkan selama seminggu. Maka kejenuhan bisa diredakan untuk saat ini.


Ruang kebutuhan.


Satella menjadi orang terakhir didalam kelompok yang datang keruang ini. Disini sudah semua anggota kelompok yang kumpul.


"Hai semua." Tegur sapa Satella, berjalan menuju titik temu paling tengah diruang ini.


Violetta hanya menoleh dua detik sebelum kembali fokus menatap kearah buku bacaan. Minerva pun balas menyapa kearah Satella.


"Selamat pagi." Sambut Minerva, dengan penuh senyuman.


Entah apa yang terjadi, Isyana memegang botol potion.


"Violetta aku mau mengujinya!" Isyana menarik-narik lengan baju Violetta yang lagi asik sendiri.


"Ya." Sahut Violetta, ia menghela napas berat karena keasyikannya telah dirusak.


Tanpa aba-aba, Isyana meneguk ramuan dalam botol potion.


Tanpa menunggu dicerna oleh lambung, itu langsung bereaksi.


Isyana menjatuhkan botol ramuan dikarpet. Karpetnya cukup tebal untuk mencegah botol ramuannya pecah berkeping-keping.


Tau-tau Isyana terjatuh dilantai dengan tubuh seperti mati.


"Kamu minum racun?" Satella pun terlihat panik.


"Periksa denyut nadinya!" Minerva kian resah.


Hanya Violetta satu-satunya orang yang raut wajahnya tenang, malah Violetta tersenyum lebar. Little Iota acuh tak acuh saja mengemil.


"Tenang saja, semua aman." Ujar Violetta, ia tertawa tanpa suara.


Dengan tega, Violetta membiarkan Isyana tergeletak dikarpet padahal tubuh kurusnya itu sangat dekat dengan kaki Violetta.


Semula Violetta memeriksa wajah teman-temannya. Karena semakin gelisah, Violetta menjelaskan.


"Ramuan ini fungsinya itu buat pura-pura mati." Ujar Violetta.


"Eh... Aku ketipu telak loh." Ucap Satella, melongo.


Sementara Minerva tertawa ria sampai perutnya keram.


"Huhuhu.. gak kuat, perutku jadi keram." Keluh Minerva.


Sementara komentar Iota malah asal-asalan.


"Padahal aku sudah berharap si jenong ini mati beneran, kurangin satu kek orang yang ngeselin kaya begini." Komentar Iota.


Satella dan Minerva serempak menjawab.


"Jangan.. hei." Satella dan minerva secara berbarengan.


"Kompak banget." Ucap Iota.


"Pengen diapain ya anak kecil ini, nyebelin banget!" Omel Minerva.


"Sama aku juga, ucapannya yang barusan nyebelin banget." Satella menolak pinggang.


"Jangan marah kalian, main ular tanggal yuk!" Ajak Iota.


"Dih.. biar gak dimarahi bujuknya pakai permainan ular tangga." Kata Satella.


"Anak kecil yang bandel seperti begini, enaknya dikelitiki saja!" Minerva menyeringai.


"Wah iya." Satella cengar-cengir.


Satella berlari kecil kearah Iota berniat menerjangnya. Saat dua tangganya akan menangkapnya, terjadi perlawanan. Satella dapat mengetik beberapa saat, terjadi selama lima detik hingga Iota pun meronta karena kegelian, tak kuat menggelinjang akhirnya Iota pun memakai cara yang barbar.


Mendorong Satella dengan tangan mungilnya.


Sebenarnya tangan mungil Iota memiliki tenaga lebih kuat dari Satella. kekuatan fisik Satella itu lemah gemulai, sampai-sampai lengannya Iota yang kecil cebol mengalahkannya.


Tapi ini berbeda.


Iota mendorong Satella dengan kekuatan sihir element anginnya.


Satella terhempas terbang jauh kebelakang. Mendarat setelah ia jungkir balik dilantai biru yang sangat tebal itu.


Terbaring masih terpejam lalu ia membuka mata. Atapnya warna cokelat dengan corak serat kayu nampak indah. Lampu gantung dekorasi yang indah dengan bola kristal yang mengkonsumsi mana.


Terbaring dilantai menatap atas, Satella berkedip-kedip cepat.


Satella mulai bangkit dalam posisi duduk. Satella menatap kedepan, yaitu meja kumpul dititik paling tengah ruangan. Satella terduduk sambil mengusap belakang kepala.


"Aduh jedug." Seru Satella yang mengusapi belakang kepalanya sambil cengar-cengir.


Sementara itu Iota menatap balik kearah Satella, memberikan gestur mengolok-olok kearah Satella.

__ADS_1


"Rasakan ya!" Iota mengolok-olok Satella.


"Aduh.. sakitnya, hei.. bocah kecil kamu jahat ya." Seru Satella.


"Rasain." Iota terus meledek.


Satella melangkah kembali kearah meja tengah itu.


Satella memandang Minerva dan memberi pesan via telepati.


"Minerva tolong pegangi kedua tangannya." Satella mengirimkan telepati kearah Minerva. Minerva dapat mendengar tetapi yang lain tidak bisa, Violetta mencuri sinyal telepati karena ia memiliki build paranormal sejati.


Minerva memandang Satella lalu memberi gestur acungan jempol disertai mengangkat alisnya.


Satella melangkah kearah meja tengah.


Baik Minerva dan Satella saling cengar-cengir dengan niat jahil.


Dengan cekatan tangan perkasa Minerva menangkap lengan kecil miliknya Iota. Dikunci lah kedua pergerakan tangannya, Iota pun menjerit meronta-ronta. Satella menyeringai, ia langsung berlari kearah little Iota untuk menjahili.


"Aku tidak takut." Seru Satella, cekikikan puas seraya menggelitik perutnya Iota.


"Rasakan ini bocah kecil." Satella mengusili Iota habis-habisan.


"Kya... Lepas, huhuhu geli ah geli." Little Iota menggelinjang secara tak karuan dibuatnya.


"Lepas atau akan ku hempaskan kamu Tella, dasar Tella kamu kaya kelomang darat." Iota kegelian.


"Kitik.. kitik." Satella tak memberi ampun.


"Hua.. kya.. geli uh geli. Dasar Tella kaya kelomang darat, dasar Tella kelomang darat! Hentikan dasar rambut bihun, hentikan hua.. ha." Meronta, Iota menderita akibat kegelian.


Beberapa saat kemudian.


"Kya.. aa.. aaa.. geli uh, lepas gak tahan lagi nih. Huhuhu.. aku bisa mengompol berhenti hu.. lepas." Semakin meronta-ronta.


Minerva masih perkasa dalam mengunci rapat tangan Iota yang mungil. Satella semakin menggila dalam menggelitik. Lalu dewi Eris mencoba menghentikan mereka.


"Jangan sampai dia pipis disini, bakalan repot." Protes dewi Eris.


"Yah.. bocor yah.. bocor." Iota pun menjerit kecil.


"Minerva lepas ah.. lepasin aku Minerva!" Iota meronta.


"Seni ku tumpahkan ke paha kamu juga ya Minerva!" Ancam Iota.


"Ih.. jijik!" Minerva melepaskan tangannya Iota.


"Aduh sakit." Keluh singkat Satella.


Kemudian dengan luapan emosi memuncak, Iota menampar pantat Satella sekuat tenaga.


Plak..


"Ouch.. pantatku." Jerit Satella.


Iota berlari keluar ruangan sambil merapatkan pahanya. Wajah Iota terlihat mengejan menahan sensasi ingin pipisnya. Secepat kilat berlari menuju toilet terdekat diluar ruang kebutuhan tentunya.


"Kenapa sih semua orang selalu aja terobsesi tuk menampar pantatku ini? Bisa-bisa pantatku membesar nantinya, jadi kaya pantat mamah muda yang seksi." Gerutu Satella.


Minerva terbahak-bahak.


"Bokong Satella emang sempurna bentuknya." Minerva ngakak.


"Tertawakan saja terus!" Satella memanyunkan bibirnya.


"Bocil lagi barbar banget hari ini, perutku aja disikutnya, agak mual sedikit." Keluh Minerva sambil ia menyingkap pakaian hingga itu terbuka sebatas pusar.


Satella tercengang melihat perut atletis Minerva.


[Satella : cewek kok roti sobek.] 😅


"Ya ampun.. ada otot diperutnya perempuan." Satella agak takjub campur kaget, sedikit jeritan.


"Mau teh?" Tanya dewi Eris.


"Gak ah, masih pagi." Kata Satella.


"Aku malah mau sarapan." Jawab Minerva yang menggendutkan pipinya yang manis hingga terisi angin, membentuk raut cemberut.


"Ngomong-ngomong dimanakah Violetta?" Tanya Satella, heran.


"Tiba-tiba hilang?" Minerva pun bingung, menoleh kegala sudut ruangan tapi gak menemukannya.


Beberapa detik kemudian.


"Itu dia!" Seru dewi Eris, nunjuk kearah pintu masuk.


"Eh?" Satella dan minerva kaget berbarengan.

__ADS_1


Violetta membawa kotak bekal dibungkus rapi. Kotak bekalnya berjumlah enam kotak dengan minuman dalam kotak karton. Bekalnya didalam kotak makan berbahan kayu, itu biasa disebut bento wooden lunch.


Diletakan dimeja oleh Violetta.


"Ku bawakan sarapan pagi untuk semuanya." Kata Violetta.


"Eh?" Minerva menoleh kearah Satella yang secara bersamaan menatapnya. Satella dan Minerva saling tatap dalam bengong.


"Aku tahu!" Satella menjentikan jemarinya.


"Kamu pasti meramalkan ini Vio!" Seru Satella.


"Yap." Jawab Violetta dengan raut wajah yang sangat datar.


Satella dikagetkan karena tau-tau suara datang dari belakang.


"Ya ampun.. ya ampun.. aku gak dianggap manusia, aku juga kan pengen makanan manusia." Seru Theodore yang sudah ada dalam wujud avatar manusianya.


"Kya.. kaget! Kamu kapan muncul tau-tau udah ada aja." Satella agak sedikit kaget.


"Maaf master." Theodore tertawa tanpa suara, menutupi bibirnya dengan ujung jari.


"Ayo.. makan ayo makan." Satella cuekin Theodore dan berfokus sarapan pagi.


"Ya.. ampun ya ampun, dicuekin." Theodore mengusap keningnya.


"Hei.. Stella, kasian Theodore." Seru dewi Eris, terkekeh.


"Iya deh, tunggu." Seru Satella agak cemberut.


Satella merogoh sakunya terus mengeluarkan beberapa uang koin silver. Satella memberikan uang kepada Theodore untuk sarapan.


"Beli apa aja yang kamu mau, ini uangnya." Satella memberikan koin silver kepada Theodore.


"Tapi aku mau makan bareng masterku." Protes Theodore.


"Dih.. gak mau." Balas Satella, jutek.


Dewi Eris terkekeh.


"Bisa-bisa Theodore diajak makan bareng siswi-siswi lain loh Stella." Canda dewi Eris.


"Bodo amat ya." Sahut Satella.


"Yasudah, aku pergi dulu master." Theodore pamit pergi.


Sebelum Theodore pergi Violetta memotong.


"Ras elves tak mengenal perasaan romantis seperti itu. Mereka baru mengalami pubertas mental diusia seratus tahun loh." Kata Violetta.


"Secara jasmani mereka sudah mengalami pubertas jadinya bisa dibuahi, tapinya secara mental mereka belum pubertas." Violetta tertawa tanpa suara.


"Stella masih seperti anak-anak pra-remaja kah." Seru Minerva.


"Biasanya sensasi cinta ras elves remaja itu persis dengan apa yang biasa kita sebut, cinta monyet." Komentar Violetta, tertawa tanpa suara, matanya terpejam puas.


"Jadi kisah remaja Stella bakalan seperti cinta masa anak-anak." Minerva terbahak-bahak puas.


"BERISIK!" Satella tersindir.


Theodore tersenyum lega.


"Oke deh.. aku tunggu seratus tahun lagi, ras Phoenix itu kan memiliki keabadian." Seru Theodore dengan raut wajah lega.


Tapi yang diucapkan Violetta itu sungguh memberikan Savage pada pikirannya Theodore.


"Dua tahun lagi Stella bertemu loh dengan cinta monyetnya, dia itu bukan kamu." Tawa puas Violetta.


"Dasar cewe paranormal aneh!" Theodore meninggalkan ruangan dengan perasaan jengkel.


Minerva terkekeh melihat Satella melahap menu sarapan dengan lahapnya. Menu sarapan mereka adalah kentang goreng sebagai sumber karbohidrat, sosis sapi sebagai lauk juga omelet egg yang ditaburi saus merah kental gurih.


"Ayo kita makan." Seru Minerva, mulai membuka kotak bekalnya.


Durasi dari efek ramuan yang telah diminum Isyana telah habis.


Mendengar kata-kata itu Isyana bangkit dari efek mati suri nya. Dengan semangat Isyana minta berpartisipasi diacara sarapan.


"Makan?"


"Aku ikut!"


Isyana bangkit dengan hebohnya.


"Loh.. teman-teman, liat tuh ada zombie." Canda Satella, cekikikan.


Semua menertawakan Isyana.


"Ayo kemari." Sambut dewi Eris, mengajak Isyana bergabung.

__ADS_1


Pagi hari dengan suasana hangat berlangsung tentram..


~bersambung~


__ADS_2