
Author note.
Violetta baru saja menginterogasi paksa murid yang terlibat dalam motif tindak kejahatan yang menyalahgunakan love potion. Khasiat ramuan kejujuran sukses membuat orang yang diinterogasi jadi mengakui semua yang terlibat. Setelah informasi yang didapat, Violetta akan berencana menangkap jaringan sindikat.
Malam ini Violetta ingin menikmati dulu pementasan drama dan musiknya.
Catatan : ini adalah cerita sampingan yang tidak mempengaruhi alur. bagi yang tidak suka dengan unsur slice of life, boleh di skip untuk part yang ini.
______________________________________________
Ruang perjamuan.
Satella duduk dimeja panjang yang persis meja makan pada umumnya. Meja makan yang berjejer dengan panjang lima meter. Lalu disebelah ada lagi meja yang lain dan begitu seterusnya. Sementara kursinya itu kursi perorangan dengan sedikit bantalan empuk dipunggungnya.
"Sabar ya ... Minerva." Ucap Satella sambil mengusap lembut punggung Minerva agar ia mereda tensinya.
Violetta orang pertama yang telah memancing tensi darah Minerva. Melihat keusilan Violetta yang tak biasa, Isyana jadi gatal jiwa toxic dirinya. Jiwa toxic Isyana seakan menggelitik sehingga ia gatal ingin mengeluarkan kata-kata mutiara.
Iya benar, kata-kata mutiara ala Isyana.
"Sekalian aja peluk dan cium dia dasar kalian cewe belok." Isyana memberikan ledekan pertamanya.
Violetta terkekeh.
"Strike ... akhirnya aku dengerin sekali lagi, kata-kata mutiara dari Isyana." Komen Violetta menahan tawa yang menggelitik perutnya.
"Kamu kangen ya ... sama kata-kata mutiara aku." Isyana cengar-cengir.
"Asem!" Batin Satella.
Satella duduk berhadapan dengan Violetta. Sementara Minerva duduk disebelah kanan Satella, Iota ada disebelah kiri Satella. Isyana duduk disamping kiri Iota dan dewi Eris dengan avatar manusianya duduk disamping Violetta. Anehnya tak satupun orang yang mencurigai penyamaran dewi Eris selama ini.
Suasana hening sejenak.
Suara terompet jazz semakin intens terdengar disesi persiapan. Aslinya pentas belum dimulai, tetapi para pemusiknya mulai latihan. Pemusik yang mengiringi pentas dramanya adalah aliran musik jazz. Pemusik terdiri dari trompet, clarinet, piano, biola, saxophone, gitar, gitar bass.
Dan lainnya.
Dibanding dengan beberapa menit lalu, kini suara instrumen musik semakin intens. Seting layar masih berlanjut. Sepertinya para seniman drama sedang persiapan diruangan yang lain dengan naskahnya.
Violetta terhening sejenak seperti memikirkan sesuatu. Mungkin itu bukan apa yang sedang pikirkan sekarang, tapi hal-hal yang terjadi dimasa lalunya. Setelah Violetta menampakkan raut wajah suram, iapun mulai memegang cangkir.
Cangkirnya yang berisi minuman keras baru dipegang.
"Letta mikir apa sih?" Tanya Iota, berbisik kepada Satella.
"Gak tau ... kenapa emang?" Tanya Satella.
"Melamun deh." Bisik Iota sambil menunjuk-nunjuk kearah Violetta dengan telunjuk mungilnya tanpa Violetta sadari.
"Nanti aku selidiki." Bisik Satella.
Karena bisikan Iota, Satella pun semakin penasaran. Kini Satella berfokus memandang Violetta.
Violetta mulai mengangkat cangkir miliknya. Memejamkan matanya, menarik napas panjang dan mulai meminumnya perlahan. Setiap ia meneguk, seolah kesuraman yang nampak diwajahnya pun mereda. Ketegangan digaris wajahnya jadi melonggar, dan napas beratnya berbalik menjadi amat melegakan.
Melihat Violetta, Satella menjadi bertambah simpati.
[Satella : ingatan buruk apa yang disembunyikan olehnya.] š
Untuk saat ini suara instrumen alat musiknya menjadi lebih intens lagi. Violetta masih hanyut dalam satu lamunan dalam. Sementara yang lainnya asik dengan kudapan juga musik gladi resik nya. Yang berada dicangkir Satella adalah minuman berwarna hijau dengan es batu danĀ buah melon yang dipotong secara kecil-kecil. Minuman dingin yang diminum Satella tidak beralkohol.
Suara musik amat intens.
Tiba-tiba Minerva iseng mencubit lengan atas Satella.
"...." Satella pun menoleh kearah Minerva.
"Kamu ngeliatin mata sayu terus deh?" Tanya Minerva, dengan nada yang pelan.
"Habisnya dia ngelamun terus dari tadi. Apa Vio sedang ada pikiran?" Satella berbisik.
"Biarin ... dia lagi pengen sendiri." Bisik Minerva.
"...." Satella tersenyum tipis saat mengingat momen saat bersama dengan Violetta.
"Sebenarnya, aku merasa punya hutang budi ... karena aku sudah ditolong Violetta dari penjajah gunung. Mereka udah nekat buat memakai love potion yang ilegal. Kalau gak ada mata sayu, terjajah sudah diriku terpengaruh ramuan cinta yang palsu." Bisik Minerva.
__ADS_1
Satella terkekeh mendengar nada bisikan Minerva.
"Gitu-gitu ... Vio itu orangnya baik tau." Bisik Satella, terdengar tulus.
Melihat Satella sedang asik dengan Minerva, seorang datang mengusik.
"Kalian ngomongin aku ya?" Omel Isyana.
"Ihh ... geer banget." Balas Minerva.
Isyana pun membuang mukanya kearah kiri. Yang dilihatnya adalah iota yang rakus melahap kudapan. Suaranya saat makan seperti napas anak kecil yang lucu. Sementara itu Isyana jadi bete karena tidak dapat teman mengobrol.
Di pintu masuk ruang perjamuan terlihat sekelompok orang masuk ruangan. Suara gladi resik musik segera berhenti. Satella menoleh kearah panggung, ia melihat kalau panggungnya telah dipersiapkan. Sekelompok orang itu memakai pakaian kostum ala pentas drama.
Troli demi troli berdatangan tuk mengisi ulang kudapan ataupun minuman pesta. Piring pipih yang besar diletakkan dimeja panjang sajian. Diatasnya tersaji potongan kecil melon segar, dingin, manis.
"Lihatlah ... itu Vio nambah lagi minuman kerasnya." Bisik Satella, mengadu kepada Minerva.
"Biarin aja ... mungkin lagi banyak pikiran." Balas Minerva, berbisik.
Satella memakai garpu untuk menikmati melon segar.
"Lezatnya...." Seru Satella, sambil melahap banyak melon potong.
Sekarang instrumen musik pun terdengar lagi. Instrumen musik kembali berjalan api masih relatif santai. Inilah pertunjukan teater musik yang sesungguhnya telah dimulai. Mungkin teatrikal musik adalah unsur pembuka didalam teater dramanya. Meski banyak orang-orang mengobrol, mereka sangat menikmati suara musiknya.
Instrumen musik relatif santai.
Sepuluh menit kemudian.
Lagu opening teater drama pun dimainkan. Pemeran utamanya memasuki panggung ditemani sekelompok penari. Pembukanya cukup berkesan, inilah kualitas pertunjukan teater drama lokal.
Teater drama dimulai.
"Dilihat dari bentuk kostumnya, judulnya ... Romeo and Juliet aku yakin benar!" Seru Satella yang menonton dengan serius.
Beberapa karakter sampingan pun naik panggung diawal. Hanya ada adegan perselisihan antara para pelayan. Keduanya itu pelayan dariĀ tuan yang saling bermusuhan satu sama lainnya. Diiringi instrumen musik yang pelan dan jarang, lebih didominasi suara narator dan juga dialog antar tokohnya. Lima menit berlalu, penonton menikmati acara dan juga hidangannya dimeja.
Adegan barusan diakhiri pangeran Escalus dari Verona turun tangan. Menyatakan bahwa pelanggaran perdamaian lebih lanjut lagi akan dihukum mati.
Satu scene berakhir, pemeran yang tadi turun panggung. Panggung pun berganti tirai background karena adegan terjadi ditempat lainnya lagi.
Scene berganti. Instrumen musik masih relatif santai, lambat, pelan.
Scene berikutnya masih adegan membosankan. Itulah yang berada didalam pikiran Satella.
"Membosankan." Keluh Satella.
Awalnya memang banyak adegan sepele. Berbeda ketika ada dalam adegan akhir menjelang klimaks.
Adegan berikutnya yaitu Benvolio berbicara kepada sepupunya yaitu Romeo. Intinya adalah, ini tentang depresi Romeo karena cinta yang tidak terbalas terhadap gadis yang bernama Rosaline. Rosaline adalah salah satu keponakan dari Capulet.
"Kenapa sih nama orang dicerita drama ini aneh-aneh." Komentar Satella.
Instrumen musiknya seolah-olah memberi kesan sedih. Suara tokoh dalam pentas drama terdengar lantang. Biasanya Satella berada diposisi tengah diruang makan ini. Karena murid tingkat satu dan dua sudah diliburkan makannya bisa duduk didepan. Karena menonton teater drama dari posisi ini, Satella dapat menonton dengan jelasnya.
Instrumen musik berganti, alur ceritanya maju. Pesta dansa yang diadakan Capulet berlangsung.
Scene ini memiliki alur yang naik tingkat ketegangannya.
Romeo menyelinap di acara pesta dansa itu, dengan niat nya ingin bertemu Rosaline. Namun, Romeo malah bertemu Juliet dan ia jatuh cinta kepadanya. Romeo kepergok oleh sepupu laki-laki Juliet yang bernama Tybalt. Ia marah karena Romeo menyelinap ke acara pesta dansa keluarganya. Disini terjadi pertempuran penuh aksi yang tak disenangi siswi cewe tapi disenangi siswa cowok. Pertandingan beradu pedang sedang seru-serunya lalu ayahnya Juliet datang. Padahal kala itu Romeo kalah dan hampir saja terbunuh. Ayahnya Juliet melarang Tybalt untuk melakukan itu. Ayah Juliet tidak ingin menumpahkan darah dirumahnya.
Instrumen musik telah di seting sedemikian romantis.
Inilah yang disebut adegan balkon. Romeo dan Juliet berdua, mereka berdansa dan bermesraan.
Adegan saat mereka berpisah telah memberi efek romance suspense kepada para penonton. Semua yang menonton merasa ketegangan dari kerinduan. Semua kecuali Satella.
Satella menyendokkan potongan melon segar. Dikunyah dengan mimiknya yang imut serta suara 'em-em' yang imut. Kemudian menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat kearah orang-orang.
"Mereka ini lebay ya ... cuma juga teater drama." Gumam Satella.
"Adegannya manis tau." Minerva memprotes pernyataan datar dari Satella.
"Uhuhu ... so sweet." Seru Isyana.
Ekspresi Isyana membuat Satella alergi hingga menjulurkan lidah merasa enek.
__ADS_1
Remaja terutama perempuan yang telah puber, pada umumnya punya rasa ingin tahu akan sensasi cinta. Lain cerita untuk Satella yang tak penasaran akan sensasinya cinta.
Sebagai gadis berdarah elves yang kental dan berdarah manusia yang encer Satella punya karakteristik dominan. Pada usia segini Satella sudah puber secara fisik tetapi ia belum puber secara mentalnya.
Instrumen diganti dengan musik memberikan kesan rindu yang terdalam. Latar pun telah diganti.
Baik masing-masing pihak sedang merasa kerinduan mendalam.
Ketika element romance suspense dirasakan penonton. Scene yang membuat ketegangan mereda pun terjadi. Scene selanjutnya adalahĀ yang biasa disebut anti-klimaks.
Juliet berdiri di depan jendela kamarnya merasakan kerinduan. Juliet melamun menatap kearah luar.
Pada scene ini Romeo menyelinap melalui halaman belakang rumah Capulet. Akhirnya Romeo bertemu Juliet lagi sekarang. Hal ini Romeo lakukan hanya untuk mendengar Juliet bersumpah cinta kepadanya. Hanya saja Romeo dan Juliet anak dari dua keluarga bangsawan yang saling bermusuhan. Romeo telah membuat Juliet berniat menikah dengannya sekarang.
Pada scene ini semua terasa indah dimata penonton. Tidakkah para penonton mengira semuanya akan tetap berjalan indah.
Tidak sebelum plot twist datang.
Keduanya menikah beberapa hari setelahnya.
Tybalt masih belum bisa menerima Romeo sebagai besan. Mercutio jadi tersinggung atas penghinaan Tybalt terhadap Romeo. Mercutio terluka parah dalam pertempuran dengan Tybalt. Berduka sedih, didera rasa bersalah Romeo bertarung dengan Tybalt. Romeo membunuh Tybalt.
Romeo dihukum raja dengan cara diasingkan.
Juliet sedih. Ayahnya salah dalam menafsirkan kesedihan Juliet dan menikahkannya dengan seorang putra bangsawan lain. Setiap Juliet menolak, ayahnya memungkiri. Permintaan Juliet untuk menunda pernikahan pun ditolak ibunya.
Juliet meminta bantuan, ia pun mendapatkan sebuah ramuan yang membuatnya koma selama dua hari tetapi tidak mati. Utusan dikirim untuk menceritakan kepada Romeo supaya nanti bisa bergabung saat Juliet terbangun dari komanya.
Naas utusan tak pernah mencapai Romeo. Romeo mendapat kabar bahwa Juliet mati. Romeo segera mengunjungi Juliet dan meratapi Juliet yang terbaring. Paris yang meratapi Juliet pun mempercayai bahwa Romeo telah merusaknya.
Terjadi final fight dalam teater ini. Romeo berpedang melawan Paris. Paris pun terbunuh dalam adegan pertempuran itu.
Romeo percaya bahwa Juliet telah mati. Romeo membeli racun dari apotik dan meminumnya didepan pembaringan Juliet yang koma.
Juliet bangun ia melihat Romeo nya telah mati. Juliet yang bersedih pun bunuh diri dengan belati.
"Ending!"
Instrumen musiknya dimainkan sesedih mungkin.
Sebagian penonton merasakan sensasi sad end.
Satella menikmati minuman yang segar tiap seruputan.
Menoleh kearah Minerva tampak menangis lebay. Menoleh kearah Violetta yang memakai sapu tangan untuk membuang ingus yang ada akibat bersedih.
"Wajah datar Vio ... bisa bersedih juga." Pikir Satella.
"Sedih ya." Kata Isyana.
"Semua karena ramuan pura-pura mati bikinan Vio." Balas Satella.
"Eh ... Loh kok bisa." Satella jadi terbengong sendiri.
"Jadi semuanya jadi bad ending gara-gara ramuan t*lol buatannya Vio?" Satella menahan tawa.
"Jadi semuanya kacau gara-gara ramuan pura-pura mati?" Satella menahan gejolak tawanya.
"Ku ku ku ... kikikik lucunya lucu." Satella terkikik tak karuan.
Alih-alih sedih dan ingin nangis karena menonton drama tragedi cinta. Satella malah terkikik tanpa henti, tawanya semakin keras.
"Eh?" Isyana dan Minerva jadi menoleh kearah Satella, mereka kebingungan.
"Hu hu hu ... ahaha ramuan konyol." Tawa Satella kian pecah.
Beberapa penonton memandang kearah Satella.
"Kenapa dia tertawa, padahal ini cerita sedih. Ini bukan cerita yang punya unsur komedi kan?" Semua orang yang memperhatikan Satella kian bingung.
Instruktur Ernest kaget setelah menyadari itu Satella.
"Itukan gadis itu?" Gumam Ernest.
Ernest mengusap keningnya.
"Aku baru tahu kalau drama yang endingnya sedih, sangat lucu bagi gadis itu?" Ernest bertanya-tanya.
__ADS_1
Satella meninggalkan ruangan ini sambil terus cekikikan mirip sosok kuntilanak.
~be continue~