
Satella menguap.
Malam hari disebuah penginapan berlantai tiga. Menepuk-nepuk kain selimut lalu bantalnya sebelum ia meniduri kasurnya. Meminum air putihnya, lalu duduk disisi ranjang.
Membaca selembar kertas.
Selembar kertas yang isinya seperti surat. Surat dengan stempel resmi kementerian sihir. Tentu Satella tak boleh sembarang membocorkan apa yang menjadi tugasnya. Matanya terlihat sangat berat. Menjatuhkan tubuhnya kebelakang, terlentang diatas kasur penginapan. Wajahnya mengeluh atas apa yang ada.
"Tidak seenak dirumah." Gumam Satella.
Melihat ke atap, matanya kian rapat dan lelah. Seperti lampu yang sisa sedikit watt saja nyala lampu nya. Perlahan tertidur. Mulanya semua gelap terhalang pelipis mata, lalu suara sekitar ikut meredup sampai tidak ada suara angin atau jangkrik yang se hening apapun terdengar.
Besoknya.
Bangun-bangun suasana sekitar menjadi bising. Seperti beberapa orang berdiskusi dilorong didekat pintu kamarnya. Mata menatap ke atap kamar, punggungnya masih merasa malas untuk diangkat.
"Huh ... ada apa sih?" Keluh Satella.
Perlahan merenggangkan tubuh supaya tidak kaku setelah bangun tidur. Setelah puas, Satella terbangun dengan lunglai.
"Eh, sisa setengah?" Satella melihat kearah gelas yang berisi air putih.
Gelasnya ditutup oleh penutup diatasnya.
Satella meminumnya sampai habis tidak tersisa.
"Bangun tidur suka haus." Gumam Satella. Kemudian terpejam sejenak lalu melakukan pernapasan supaya kepala terasa ringan. Menarik satu napas panjang yang rileks sebelum sepenuhnya berdiri.
Berjalan ke meja cermin, kemudian menyisir rambut peraknya yang acak-acakan karena bangun tidur. Membuat pola kecil ikatan pada rambutnya, sebagian besar helai rambutnya dibiarkan terurai saja. Satella memasang ikat rambutnya dengan bentuk kupu-kupu hitam.
"Sudah...." Satella tersenyum lega.
Menatap wajahnya di cermin yang bling-bling. Satella masih memakai piyama tipis berwarna pink. Kalau sedang memakai gaun biasanya itu berwarna hitam.
Berjalan menuju pintu keluar.
Pintu terbuka....
"Ada apa sih, rame-rame?" Satella menoleh ke kanan dan kiri.
Tak lama kemudian datanglah satu orang kesatria berzirah. Kesatria berzirah itu membuka helm besinya sehingga wajahnya kelihatan. Ia memiliki warna rambut pirang dan setinggi 180cm. Saat kesatria zirah tersebut bertatap dengan Satella, satella hanya setinggi hidungnya.
"Permisi." Sapa kesatria.
"Iya, ada apa?" Sahut Satella.
"Apa kamu orangnya?" Tanya sang kesatria zirah.
"Orangnya, apa ya? Maaf tapi aku tidak mengerti." Balas Satella.
"Penyihir dari kementerian sihir." Bisik kesatria.
"Ah, iya, aku orangnya." Satella pun cengengesan.
"Aku adalah seorang yang diberikan tugas menjadi penjaga mu," kata kesatria zirah.
"Penjagaku? Untuk apa aku butuh penjaga?" Tanya Satella, heran.
"Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya." Jawab kesatria.
"Ya sudah, aku mau sarapan dulu," ucap Satella.
"Boleh aku ikut?" Tanya kesatria penjaga.
"Boleh saja." Satella langsung pergi ketempat kafetaria penginapan.
Satella POV.
Baru dua bulan mengikuti masa pendidikan di institut sihir diriku langsung dapat kelas akselerasi. Jurusan sihir es memang sangat mudah bagiku. Pertama aku adalah seorang snow elves yang secara alamiah memang cocok dengan es. Afinitas sihirku sangatlah tinggi.
Selain masuk kelas akselerasi, aku mendapat promosi. Aku langsung masuk pasukan elite penunggang Griffin. Salah satu syarat untuk menerima promosi ku adalah menyelesaikan main quest ini.
Tugas yang aku jalani ini adalah persyaratan untuk dapat promosi menuju pasukan elit penunggang Griffin tersebut.
Aku berada di kota Ustgard. Kota perbatasan yang dekat dengan kerajaan demi-human. Kerajaan mereka dulunya adalah kota-kota milik kerajaan manusia. Para kaum manusia hewan itu berhasil dalam melakukan pemberontakan.
Penginapan yang aku tempati ini berada di distrik Border. Aku agak heran, kenapa aku yang personil pelatihan institut kementerian sihir ini langsung ditunjuk tuk menjalankan misi ini. Misi yang kujalani adalah misi mengatasi pembunuhan berantai dikota ini.
Kota Ustgard sering jadi medan pertempuran antara manusia dan demi-human.
Werewolf diduga menjadi oknum bayaran untuk memberikan teror dikota ini.
Semalam seorang penduduk desa terbunuh. Luka cabik membuatnya hampir terbelah dua. Bahkan ada seorang yang tak sengaja melihat untaian usus korban. Oh no, serius deh. Betapa oon diriku sampai ngebayangin disaat sedang makan.
__ADS_1
Pengen muntah deh.
Pokoknya udah direncanakan bisa tinggal dipenginapan ini. Karena ada werewolf nya, jika tidak maka aku harus berpindah ketempat yang sedang diincar werewolf. Begitulah prosedur kerja yang ditentukan kementerian sihir. Bekerja sebagai penyihir kementerian sihir, diriku diberikan perbekalan yang mumpuni untuk tugas ini.
Aku diberikan ramuan dari gudang kementrian sihir.
Ramuan ilegal yang dilarang kini diizinkan untukku. Keren aja sih, menjadi orang penting dan dapat surat ijin tuk menggunakan ramuan sihir ilegal. Walaupun hanya untuk tugas saja sih. Aku mempunyai tiga botol ramuan. Yang satu untuk memulihkan seorang yang sedang sekarat, satunya adalah racun. Yang satunya adalah ramuan untuk membuat orang jadi tidak dapat berbicara juga menjadi linglung.
Cloud potion lebih tepatnya. Teknik untuk merubah cairan menjadi asap.
Aku juga memiliki sebuah magic scroll yang efek sihirnya dapat membuat seorang jadi tidak dapat berbicara dalam durasi satu hari.
Selain itu, aku mendapat ijin menggunakan cairan semacam veritaserum. Aku memiliki empat veritaserum untuk kupakai, aku harus mengembalikannya lagi ke gudang sihir kementrian kalau ada item yang tak habis kupakai. Itu prosedurnya, banyak peraturan.
Waktunya menginvestigasi kondisi lapangan kerja.
POV end....
.
.
"Jadi, seberapa kuat kamu?" Tanya Satella, kepada penjaganya.
"Aku seorang imperial knight yang biasa. Tapi aku juga cukup kuat loh." Jawabnya.
"Kukira kamu dari kesatuan elite royal guard atau semacamnya itu?" Ucap Satella.
"...." Penjaga tidak berkomentar.
[Satella : Jangankan dia, aku saja masih seorang mage rookie di kementerian sihir.] 😅
"Ngomong-ngomong biarkanlah diriku memperkenalkan nama. Namaku Reiner, salam kenal ya penyihir kementerian sihir yang bernama Satella." Kesatria berzirah memperkenalkan dirinya.
"Ngomong-ngomong dengan apa kamu menghadapi werewolf, hei Reiner?" Tanya Satella.
"Aku pandai menggunakan perisai. Aku akan menahan serangannya dengan perisai ku. Ditempat seperti lorong yang lebih sempit lebih bagus, karena akan membatasi gerakan werewolf yang lincah dan cepat." Reiner menikmati minuman dari cawan beling.
"Jumlah penghuni penginapan tiga lantai ini sangat banyak. Aku jadi susah menemukan werewolf yang bersembunyi diantara para penghuni." Satella membuka pembicaraan tentang kasus. Satella sudah sampai pada makanan pencuci mulut.
"Tentu sulit, ada 38 penghuni. Jumlahnya sudah dikurangi seorang penghuni yang tewas semalam loh." Reiner memberikan tanggapan.
"Baiklah sekarang aku mau bikin surat laporan. Kamu pasang mata, pasang telinga ya!" Perintah Satella.
Satella duduk dikursi kayu, sambil berkaca. Punggungnya yang kurus menonjolkan tulang belikat karena memakai gaun tanpa lengan yang memamerkan pundak putihnya.
Setelah mandi ia mengenakan gaun hitam yang banyak corak bunganya.
"Begini lebih nyaman, aku harap petunjuk tentang identitas mereka mudah ketemu nanti." Curhat Satella, berjalan keranjang.
Kemudian Satella menjatuhkan diri dikasur. Satella pun membaca buku hiburan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan misinya.
Tujuh jam berlalu.
Masih duduk di sisi ranjang.
Satella mengalami gabut hingga muncul suara ketukan pintu.
Satella menuju kearah pintunya.
Saat pintu dibuka, penjaga yang barusan memberitahukan sesuatu kepada Satella.
"Semua penghuni mansion harus berkumpul." Kata penjaganya.
Mau tidak mau Satella mengikuti perkataan penjaga. Satella menuju ruang makan yang menjadi ruang dikumpulkannya penghuni oleh pemilik penginapan. Sambil jalan dilorong penginapan, sesekali ia menoleh kearah penjaganya itu.
"Hei ... Reiner." Seru Satella.
"Ada apa penyihir?" Tanya Reiner.
Satella mendesis dengan mulutnya ditutup oleh ujung telunjuk sebagai gestur menyuruh tutup mulut.
"Jangan beritahu siapapun kalau ternyata aku ini penyihir." Satella memberi peringatan.
"Maaf Satella." Balas Reiner dengan ekspresi cemas.
"Panggil Stella saja." Satella.
"Tolong malam ini jangan tidur!" Satella memberi perintahnya.
"Kenapa?" Tanya Reiner.
"Mengantisipasi munculnya sosok werewolf. Paginya kamu bisa tidur dengan tenang." Jawab Satella.
__ADS_1
Tindakan pertama.
Satella menyarankan Reiner untuk berjaga dimalam pertama.
Mereka bergegas.
Ruang makan.
Diruang makan sudah ada hadir beberapa orang. Mereka adalah penghuni penginapan berjumlah empat puluh delapan. Meja yang panjang dengan seorang dengan penampilan mewah ada dikursi sorotan. Kursi paling atas tengah, adalah sang pemilik penginapan.
Setelah pemilik penginapan yakin bahwa semua telah berkumpul, ia memberi isyarat.
"Baik, kita mulai sekarang!" Kata pemilik penginapan.
Tiga pintu yang menghubungkan ruang makan dengan ruang lain segera ditutup. Tiap pintu dijaga seorang bersenjata api jenis bolt action rifle dari western. Sebelum pintu ketiga ditutup datanglah tiga orang. Satu pria berbadan besar dengan postur diatas dua meter. Kemudian seorang polisi militer.
Yang menjadi sorotan Satella itu adalah satu orang lainnya. Adalah seseorang yang pernah dikenalnya.
"Pangeran keempat?" Satella pun bergumam tanpa sadar.
Pangeran keempat memiliki postur jangkung. Postur tinggi layaknya pemuda ras Eropa pada umumnya. Rambutnya panjang seperti kepang Perancis. Meski tatanan rambutnya seperti itu, sama sekali tak memberi kesan feminim atau seorang yang berpenampilan silang. Gaya rambut pangeran keempat tetap memberi kesan wajah yang tampan dan juga rupawan. Tingginya 187cm, meski begitu ia hanya setinggi bahu sang pengawal yang datang bersamanya.
Pangeran biasanya memakai jas tuxedo hitam dipadukan dengan kemeja putih dan dasi bergaris.
"Ahem."
Pemilik penginapan berdeham.
"Sebelum mulai, perkenalkan ini adalah inspektur polisi militer.
"Namanya inspektur Jay." Pemilik penginapan memperkenalkan kru polisi militer.
"Salam kenal, para penghuni." Sapa inspektur.
Inspektur Jay memiliki wajah yang ditafsir seperti berusia 37 tahun dengan kumis yang khas. Posturnya sedikit dibawah pangeran keempat.
"Yang pasti kalian kenal adalah pangeran keempat." Ujar pemilik penginapan.
"Selamat sore semuanya." Sapa pangeran.
"Yang berperawakan raksasa itu adalah kepala kesatria yang telah dipercaya oleh pangeran keempat." Kata pemilik penginapan.
"Nama saya Alex, biasanya dijuluki Iron axe. Saya kepala kesatria yang dipercaya untuk mengawal sang pangeran keempat dalam pemilu." Tukas pengawal.
Satella POV.
Diruang makan dikumpulkan para penghuni. Ada 48 orang penghuni penginapan. Sisanya adalah sang pemilik penginapan, sang pangeran keempat, kepala kesatria, inspektur polisi dan anak buahnya. Intinya semua yang ada disini sedang ada didalam proses penyelidikan. Yang tinggal disini sejak kemaren malam otomatis menjadi terduga nya.
Siapa yang kabur dari penyelidikan akan dianggap sebagai buronan.
Begitulah intinya.
POV end.
Satella terbiasa dengan pola tidur idealnya.
Terpejam dan terlelap dengan singkatnya.
Suara deru napas terdengar. Ada dengkuran yang sangat pelan dan nyaris tak terdengar. Dari suara napasnya, seolah ia merasa lelah
Tau-tau ada suara kayu yang dipukul keras. Suaranya terdengar dan membangunkan Satella. Ia masih mengucek matanya tuk meningkatkan kesadaran. Ketika mencoba membuka mata.
Penglihatan sedikit buram.
Seperti ada suatu bayangan yang besar mendekat.
Tau-tau matanya terkena cipratan. Mengucek matanya, mata Satella seperti terkena noda merah air.
Perutnya terasa panas.
Mencoba bangun, tersungkur lagi kebelakang.
Suara raungan terdengar dari arah sampingnya.
Perut Satella terasa semakin panas.
Selain panas, perlahan mulai terasa perih.
Tubuhnya susah digerakan dan ia mulai kehilangan tenaga.
Penglihatan semakin buram. Kala Satella berusaha berteriak minta pertolongan, suaranya tak sanggup keluar. Hanya meneteskan aliran enzimnya dari sela pipinya yang mengalir terus menerus. Lalu ia tak sanggup sadarkan diri lagi.
Kesadaran hilang.
__ADS_1
~Bersambung~