
Bab 103
Mika bersama suami dan mama mertuanya menunggu di luar kamar bersalin sampai kak Intan di pindahkan ke ruang rawat inap.
Kini kak Intan sudah pindah di ruang VVIP atas intruksi Mika kepada staffnya.
Kak Intan sedang tertidur pulas karena lelah setelah melahirkan. Disana Mika, Devon dan juga mama mertuanya menemani Intan dalam kamarnya.
Mika melihat jam yang terpasang pada dinding RS, waktu menunjukan pukul 04.00 WIB. Suami kaka ipar dan papa mertuanya pun belum datang juga.
Rasa ngantuk yang menyerang mereka bertiga membuat mereka bertiga terlelap dalam tidurnya.
Tepat pukul 06.00 papa mertua Mika datang dengan membawa tentengan plastik di tanggannya yaitu 4 bungkus nasi uduk.
Krek..."Assalamualaikum" ucap Papa Devon.
"Wa'alaikumsalam pa" ucap Mika.
Mika mempersilakan papa mertuanya duduk di sofa tunggu dan membangunkan suaminya yang masih tertidur.
"Mas bangun ...mas...bangun..." ucap Mika.
Devon merasa terusik dengan suara berisik Mika dan akhirnya terbangun dari tidurnya, perlahan membuka matanya. Devon melihat papanya tepat di sofa hadapannya.
"Papa..." ucap Devon.
Devon lalu menanyakan kenapa papanya baru sampai padahal mama bilang sudah dalam perjalanan ke RS.Diamond dari malam itu.
Papa Devon menjelaskan kalau saat mau balik ke RS. Diamond, Aki Dahlan menelepon meminta tolong untuk mengantar pulang dirinya dan nini karena di ponpes sedang terjadi kekacauan.
"Kekacauan apa pa?" tanya Devon
Lalu papa menjelaskan kembali kalau keluarga santri yang mengalami kecelakaan mengamuk di ponpes bahkan merusak bagian kaca - kaca Ponpes, alasan mereka tidak terima anak mereka mendapat musibah kecelakaan yang seharusnya dapat di hindari kalau pihak ponpes melarang mereka keluar dari lingkungan ponpes.
"Memang kejadiannya bagaimana pa bisa sampai terjadi kecelakaan itu?" tanya Devon dengan kepo.
Devon merasa ada sesuatu yang tidak beres sehingga ingin mengetahui cerita sebenarnya.
Sang papa mulai menceritakan kalau awal mula kejadian. Santri yang menjadi korban kecelakaan itu bernama Indro anak orang terpandang di jakarta, dia baru 1 bulan mondok di ponpes aki Dahlan.
Anak berusia 13 tahun, kelakuannya luar biasa sulit di atur, arogan dan suka membuat keributan di kamarnya.
Puncaknya kemarin dia habis mengambil uang teman - temannya saat di aula ponpes. Kelakuannya di ketahui melalui CCTV yang terpasang. Saat di introgasi anak itu mengelak dan mengamuk.
Akhirnya di ambil sikap tegas dalam menegakkan ketidak jujuran. Namun anak itu semakin nekat, dirinya kabur dari ponpes pada malam hari.
Kepergian dirinya yang diam - diam tidak ada yang mengetahuinya, hingga saat tengah malam teman sekamarnya melapor kepada penjaga ponpes bahwa Indro tidak ada di kamar.
__ADS_1
Seluruh santri mencari keberadaannya di lingkungan ponpes tetapi nihil, sampai datanglah mobil patroli polisi ke ponpes Aki Dahlan yang memberitahu kalau ada anak santri tertabrak truk pasir.
"Terus keadaannya bagaimana dengan anak itu pa?" tanya Devon.
"Kaki kiri anak itu patah dan tangan kirinya harus di aputasi karena hancur tergiling roda belakang truk.
"Kenapa bisa sampai tertabrak pa?" tanya Devon.
"Anak itu dikejar warga kampung karna di pergoki hampir membawa lari sepeda motor milik anak pak RT desa sebelah dari ponpes aki Dahlan.
"Astagfirullah" ucap Devon.
Lalu papa melanjutkan ceritanya setelah terhenti sesaat ketika Devon beristigfar.
Papa di minta aki Dahlan untuk membantu di cari kan pengacara guna untuk mendamaikan dengan keluarga korban.Tetapi sungguh di luar dugaan. Orang tua anak itu berserta saudara dan membawa beberapa orang berbadan besar untuk merusak ponpes milik aki Dahlan dan orang tua korban juga sudah mengajukan tuntutan terhadap ponpes aki Dahlan.
"Sekarang aki ada diman?" tanya Devon.
"Sudah pulang ke rumahnya, setelah pengacara keluarga kita menjamin kepada pihak kepolisian" ucap papa.
Baik Devon dan papanya bingung dalam langkah selanjutnya. Walaupun mereka sudah menyerahkan kasus ini kepada pihak pengacaranya tetapi kasus ini sangat sulit di hadapi.
Mika yang tidak sengaja mendengar pembicaraan suami dan papanya. Mika mendekati suaminya dan memberi masukannya.
"Dimana anak itu di rawat pa?" tanya Mika.
Mendengar jawaban papa mertuanya, Mika memberikan masukan kepada papa Devon. Mika menyarankan agar meminta rekam medis dari RS. X mengenai anak itu sebagai bahan pembelaan bahwa aputasi yang di lakukan sudah sesuai prosedur.
Setelah itu kita akan melakukan mediasi melaui bantuan pihak berwajib dan tim pengacara secara keluargaan.
Mika juga menawarkan untuk pemberian pemasangan tangan buatan gratis untuk anak itu di RS.Diamond miliknya.
Mika juga memberitahu papa mertuanya bahwa memiliki kenalan seorang perwira polisi di Bandung dan dirinya akan meminta tolong dalam menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan.
"Siapa sayang? Kenal dimana?" ucap Devon.
Terlihat sekali Devon cemburu saat Mika mengucapkan mengenal seorang perwira polisi.
Mika tidak ingin ada kesalah paham lagi dalam rumah tangganya segera menjelaskan bahwa perwira polisi itu adalah adik dari bu Leni.
Mika memanggilnya dengan sebutan Om karna Mika sudah di anggap sebagai keponakannya sendiri.Mika menjelaskan bahwa om nya itu sekarang menjabat sebagai kapolda jabar.
Setelah mendengar penjelasan dari istrinya Devon baru paham.
"Mas, aku telepon bu Leni dulu ya" ucap Mika.
Devon pun menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Lalu Mika menelepon bu Leni yang tak lain adalah ibu angkat yang selama ini membesarkan dengan kasih sayang layaknya ibu kandung kepada anaknya.
Ketika telepon tersambung, Mika menjelaskan kepada bu Leni permasalahan yang di hadapi aki Dahlan.
Kebetulan bu Leni sempat dikenalkan saat akad nikah Devon dan Mika kemarin. Bu Leni sempat kaget dan turut prihatin akan musibah yang sedang di hadapi aki Dahlan.
Bu Leni tau betul bagaimana sikap aki Dahlan dan istri serta anaknya yang begitu santun dan berilmu agama baik terlihat sikapnya saat bertemu saat acara pernikahan Mika anaknya.
Mika meminta tolong kepada bu Leni sebagai perantara kepada adik bu Leni yang periwira polisi itu.
Mika meminta tolong Om nya mau membantu sebagai penengah dalam penyelesaian pihak keluarga korban dengan aki Dahlan ini.
Bu Leni yang sudah paham maksud dari anaknya. Dirinya mengiyakan permintaan Mika dan berjanji akan segera menghubungi adiknya.
"Untuk pelaku yang menabrak anak itu sendiri bagaimana pa?" tanya Devon.
Papa menjelaskan kalau pelaku sudah di tahan di polres Cibadak karena kejadian di dekat wilayah polres Cibadak.
Obrolan mereka bertiga akhirnya berbuah jalan keluar yang baik, semoga dalam penyelesaiannya kedepannya akan lancar dan baik juga.
Papa Devon segera menghubungi mamangnya yang tak lain adalah aki Dahlan untuk memberitahu rencana Islah.
Setelah selesai menghubungi mamangnya, papa Devon kembali menelepon pihak pengacara yang menangani kasus aki Dahlan ini. Papa memberitahu rencana Islah, untuk waktu dan tempat akan menunggu kabar selanjutnya.
Mama Devon yang sudah terbangun dari tidurnya bingung melihat suaminya sibuk menelepon.
"Pa ada apa?" tanya mama Devon.
"Tidak ada apa - apa ma" jawab papa.
Lalu papa Devon mengalihkan istrinya untuk mengajak sarapan bersama dengan nasi uduk yang di bawanya.
Papa sengaja tidak memberitahu istinya saat ini bukan ingin menyembunyikan kasus ini, tetapi merasa nanti saja bila sudah ada kabar baik dari hasil Islah baru di beritahunya.
Kini mereka berempat makan nasi uduk bersama, bunyi suara perut mereka sudah saling bersautan sebelum di isi nasi uduk.
Sedangkan kak Intan masih pulas tertidur di bednya bersama bayi ganteng di sebelah dirinya.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππππ
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author abal - abal ini, agar lebih semangat up nyaππππ
Tolong tinggalkan jejak Like dan komen dibawah iniππππ
__ADS_1