Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 32


Mika kecewa sekali, dirinya menangis sekencang - kencangnya.


Mika merasa sesak atas ucapan laki - laki yang selama ini di sayanginya.


Dadanya bagai di timpah batu besar yang membuat nafasnya tersengal - sengal.


Mika yang tidak bisa mengendalikan emosinya kembali tidak sadarkan diri.


Devon yang melihat Mika kembali tidak sadarkan diri segera mendekat kepada istrinya.


Devon merasa bersalah pada istrinya.


Dalam hati Devon yang takut terjadi apa - apa dengan janin Mika, segera memanggil dokter kandungan yang tadi memeriksa Mika.


Sedangkan sang mama Devon menangis di peluk suaminya, hati seorang ibu sakit ketika putera kesayangannya meragukan anaknya sendiri.


Sang calon nenek percaya dan yakin sekali kalau anak yang di kandung Mika adalah cucunya.


Papa Devon yang melihat istrinya bergitu terpukul atas semua masalah yang terjadi segera menghubungi anak perempuannya yang tak lain adalah seorang dokter psikiater.


Tut...tut... nada sambungan telepon Papa Devon kepada kaka Devon yaitu Intan.


Intan : "Halo pa"


Papa : "Halo sayang papa"


Intan : "Ada apa papaku sayang? "


Papa : "Sayang tolong papa, bisakah kembali sebentar ke Indonesia?"


Intan : "Ada apa pa?... Kami memang akan kembali kurang lebih 1 minggu lagi, tadinya mau buat kejutan keluarga, tapi jadi tidak kejutan lagi ini sekarang"


Papa : "Baiklah, kalau bisa dipercepat, percepatlah nak"


Intan : "Siap Komandan"


Pembicaraan antara papa dan anak pun berakhir.


Sang papa berharap kedatangan puteri sulungnya dapat membantu healing trauma pada pada Mika, sang papa tau kalau psikis Mika sedang tidak baik.


Papa tidak ingin tertekannya Mika karena ulah puteranya berdampak buruk pada kesehatan kandungan Mika.


Sang calon kakek tidak ingin calon cucunya menjadi korban kebodohan papanya.


Mika kini sudah diperiksa dokter kandungan.


"Alhamdulillah semua normal dan baik -baik saja" ucap sang dokter


"Terima kasih dok" jawab Devon


"Dr. Devon tolong di jaga Dr. Mika jangan sampai sering pingsan karena berpengaruh pada pasokan oksigen pada calon anak anda" ucap sang dokter


"Iya dok" jawab Devon


"Seperti yang kita tau, bahwa wanita hamil muda, apalagi hamil anak pertama wajar bila tingkat sensitifnya tinggi mohon sabar dalam menghadapinya, dan berikan suasana pada dirinya senyaman mungkin yang berpengaruh pada janinnya" penjelasan sang dokter


"Iya dok" jawab Devon


Setelah sang dokter kandungan meninggalkan ruang Mika, dan sang mama sudah di baringkan papa di sofa, papa Devon kembali menghampiri Devon.


"Dev... Jika kau tidak menginginkan anakmu hanya karena wanita itu, maka jangan kau siksa batin dari mantuku" ucap Papa

__ADS_1


"Pa aku minta maaf, aku senang akhirnya bisa memiliki anak, tapi ada keraguan dalam hatiku" jawab Devon


"Biarkan cucuku berkembang dengan baik di kandungan ibunya, jangan karena ambisimu, kau korbankan anakmu" ucap sang papa


Devon yang tersudutkan dengan semua ucapan ancaman dari papa nya membuat Devon mengiyakan ucapan papa nya


.


"Iya Pa" jawab Devon


Setelah perdebatan itu, mereka berdua lebih memilih saling diam tanpa ada suara lagi.


Selang 10 menit kemudian ,Mika sadar dari pingsannya.


Devon yang duduk disamping Mika segera mendekatkan tubuhnya pada Mika.


Devon meraih tangan Mika tapi Mika melepaskan tangannya.


Devon memeluk tapi Mika menolak dari gerak tubuhnya.


Sang mertua yang melihat segera mengatasinya.


"Menjauhlah Dev" ucap sang papa


Devon yang tidak ingin ada perdebatan segera menjauh dari Mika.


"Apa kau ingin minum nak?" ucap sang papa mertua


Mika merasa haus sekali di tenggorokannya dan tanpa malu mengiyakan ucapan papa mertuanya.


Sang papa mertua memberikan sebotol air mineral pada Mika.


"Ini nak" ucap sang papa mertua yang menyerahkan sebotol air mineral.


Setelah meminum Mika menutup kembali matanya.


Mika males bila harus melihat Devon.


Luka hatinya terlalu sakit ketika dituduh berzina dengan laki - laki lain.


Mika lebih baik memilih tidur dari pada berdebat dengan Devon.


Devon yang ingin memulai pembicaraan lagi, langsung di cegah sang papa.


"Pulanglah, jangan kau siram air garam lagi di luka terdalam istrimu" ucap sang papa


"Tetapi pa, aku ingin meminta maaf pada Mika, tadi aku khilaf" jawab Devon


"Apapun itu alasanmu, tolong jangan ganggu mantuku, biar dirinya tenang" ucap sang papa


"Pa aku mohon beri aku kesempatan" permohonan Devon pada sang papa agar bisa membiarkan Devon memperbaiki semuanya


Sang papa merasa geram dengan ke egoisan anaknya.


"Pulanglah" ucap sang papa dengan nada suara naik 1 oktaf tanda tidak ingin di bantah puteranya


Akhirnya Devon yang melihat kemarahan di mata papa nya, lebih baik menuruti kemauan papa nya dari pada terjadi perdebatan lagi.


Saat Devon baru mulai melangkah menujuh pintu keluar ruangan sang papa kembali mengucapkan nada ancaman.


"Bila kau masih berani menemui wanita itu maka selamanya kau akan kehilangan istrimu dan bila hari ini kau tidak menititipkan baby vonny ke panti maka selamanya kau tidak bisa bertemu anakmu" Ancam papa pada Devon


"Pa jangan sekejam ini jadi manusia, mereka butuh bantuan kita" ucap Devon sambil memohon

__ADS_1


"Aku bantu pengobatannya secara free tapi bukan berarti aku harus menerimanya menjadi anggota baru keluargaku" ucap sang papa


"Baiklah pa, tapi bolehkan pengecualian untuk baby Vonny?" tanya Devon


"Biarlah dia di panti dan di rawat perawatnya, itu lebih baik" jawab sang papa


Devon yang malas berdebat lebih baik mengalah dari pada panjang masalah ini.


Sebelum meninggalkan ruangan Devon sempat menghentikan langkahnya dan menatap pada Mika cukup lama.


"Mika sayang maafkan kebodohanku" ucap Devon dengan pelan tetapi masih dapat didengar semua orang karena sunyinya ruang tersebut.


Mika yang pura -pura tidur dalam hati sebenarnya merindukan suaminya.


Mika ingin sekali di manja -manja dalam kondisi hamil ini.


Tetapi ucapan Devon yang meragukan benih yang di kandung Mika membuatnya menutup rapat - rapat hatinya.


Setelah Devon pergi, kini tinggal Mika dan kedua mertuanya.


Mama mertua juga sudah terbangun dari tidurnya.


Sang mama mertua menghampiri mantunya.


"Maafkan mama ya nak, mama yang gagal mengajarkan Devon dalam menghormati wanita" ucap sang mama mertua dengan air mata menetes menandakan kesedihannya


"Mama tidak salah, jangan salahkan diri mama, ini sudah suratan takdir Tuhan yang harus Mika lalui" jawab Mika sambil meneteskan air matanya


Melihat situasi yang tidak baik bagi kedua wanita berbeda usia itu, sang papa langsung mengalihkan obrolan mereka.


"Sudahlah Ma, kita bicarakan yang happy -happy aja, malu lho masa nenek menangis didepan calon cucu kita" ucap sang papa


Sang mama tersenyum tanda setujuh dengan ucapan suaminya.


Mika senang ternyata kedua mertuanya ini mempercayai bahwa kandungannya anak Devon.


"Mika sayang, apakah ingin makan sesuatu?" tanya sang mama mertua


"Tidak ma, aku hanya mengantuk saja" jawab Mika


"Tidurlah nak, bila menginginkan sesuatu bilanglah pada kami" ucap sang mama


Mika tersenyum dan sambil menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan sang mama mertua.


Ditempat lain Devon kita telah sampai rumah.


Devon sudah segar dengan setelan piyama tidurnya.


Handphone Devon berbunyi, Devon segera mengangkatnya.


Devon : "Halo"


Nita : "Halo sayang"


Devon yang sangat mengenal suara wanita itu segera menutup sambungan telephon itu.


HP Devon berbunyi kembali..


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di bab berikutnya ya😁😁😁


Terima kasih telah mengikuti karya saya, mohon maaf bila ceritanya tidak sesuai keinginan kalian.


Ditunggu komentar - komentar positif kalian semua, yang dapat membangun karya authorπŸ™πŸ˜

__ADS_1


Tinggalkan jejak Like dan vote ya,πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


__ADS_2