
Bab 25
Akhirnya mereka semua menujuh ke ruang ICU.
Sesampainya didepan ruang ICU, dr.Okan ijin masuk, meninggalkan mereka diluar.
Devon, Mika dan mama Devon hanya menunggu di ruang tunggu keluarga pasien ICU.
Hampir 2 jam lebih dr.Okan dan tim nya berada di dalam ICU.
Belum ada tanda - tanda kabar baik untuk keselamatan Nita.
Devon sendiri sudah berusaha menelepon rumah orang tua Nita, namun sudah berkali - kali tidak ada jawaban.
Devon akhirnya menelepon pihak ke polisian yang menangani kasus kecelakaan Nita.
Devon mencari no HP kepolisian di kontak HP miliknya.
Setelah menemukan Devon mulai menekan tombol hijau di HP nya.
Tut... Tut... tanda nada tunggu panggilan sebelum tersambung.
Polisi : "Halo"
Devon : "Halo, selamat siang pak"
Polisi : "Selamat siang pak Devon"
Devon : "Siang pak, saya ingin menanyakan tentang keluarga Nita"
Polisi : "Kami sudah mendatangi rumah orang tua korban, kami hanya bisa bertemu dengan adik dari ibu korban, ternyata mereka baru saja mendapatkan musibah"
Devon : " Maksudnya, musibah apa Pak?"
Polisi : "Kedua orang tua dari korban baru saja meninggal, akibat kecelakaan lalu lintas"
Devon : "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Kapan dan dimana kejadiannya pak?"
Polisi : " Hari yang sama saat kejadian kecelakaan korban, menurut dari keluarga kedua orang tua korban hendak datang kejakarta untuk menemui korban, mereka kecelakan di tol cipularang KM 72, kasusnya telah di tangani pihak Polres Bandung"
Devon : "Baik pak terima kasih atas informasinya, selamat siang"
Devon terdiam, bingung harus menyampaikan bagaimana dengan keluarganya.
Masalah yang ingin di tuntaskan hari ini, ternyata semakin menyeretnya dalam masalah Nita.
"Mas, ada apa? " tanya Mika yang menyadarkan Devon dari lamunannya
Lalu Devon menceritakan semua informasi yang baru didapatnya dari pihak polisi kepada Mika dan mama nya.
"Ya Tuhan, apa lagi yang harus ku lalui, semoga aku mampuh melaluinya" ucap Mika dalam hati setelah mendengar cerita Devon tentang Nita dan keluarganya.
"Kalau begitu habis ini kita langsung ke rumah orang tua Nita saja Dev!!" perintah mama
"Iya ma" jawab Devon
"Maaf Mika sayang, kita jalan - jalan nya di cancel dulu ya! " ucap mama yang merasa tidak enak dengan Mika
"Iya mama, tidak apa -apa" jawab Mika
Setelah menunggu lama, akhirnya dr. Okan dan beberapa dokter lainnya keluar dari ruang ICU tempat Nita di rawat.
Devon yang tidak sabar ingin mengetahui kabar Nita segera mendatangi dr. Okan.
"Bagaimana kondisi Nita, dok?" tanya Devon
"Pasien sudah mulai stabil, tapi masih dalam pengawasan" jawab dr. Okan
"Apa saya boleh melihatnya?" tanya Devon
"Ya, tapi dari jauh dan jangan terlalu lama" ucap dr. Okan
"Baiklah" jawab Devon
Devon memakai pakaian steril yang di sediakan pihak RS sebelum masuk ruang ICU.
Devon masuk seorang diri, melihat Nita dari kejauhan, air matanya menetes melihat wanita yang perna ada dalam hatinya.
Setelah itu Devon keluar ruang dengan mata masih memerah dan tetesan air mata masih terlihat di ujung matanya.
Mika yang melihat kondisi suaminya, membuat suasana hatinya tidak baik.
Devon menangisi wanita masa lalu nya di depan istrinya sungguh membuat sakit hati Mika.
Mika terdiam, tidak merespon dengan semuanya.
"Ayo Mika sayang kita pulang" suara mama mertuanya yang menghentikan lamunan Mika
Kini mereka bertiga sedang melakukan perjalanan kembali ke Bandung, supir mereka akan mengantarkan mereka ke rumah Nita lebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah orang tua Nita.
Devon berkali - kali memencet bel rumah tetapi tidak ada yang keluar.
Pagar rumah yang tergembok dan suasana rumah seperti tidak terurus, banyak sampah daun kering di teras seperti rumah tak berpenghuni.
"Sepertinya rumah ini kosong Dev" ucap Mama
"Iya ma" jawab Devon
Saat mereka berdua sedang berbincang, ada satpam yang melintas, sontak Devon memanggilnya.
"Pak tunggu" ucap Devon pada satpam perumahan
"Ya Pak, ada yang saya bisa bantu" ucap sang satpam
Devon lalu menanyakan keluarga Nita yang tinggal di rumah orang tua Nita.
Saptam menjelaskan bahwa rumah ini sudah tidak di huni sejak 2 minggu yang lalu.
__ADS_1
Adik yang punya rumah sudah kembali ke Samarinda dan rumah ini ingin dijual bagi ada yang minat.
"Apakah bapak minat dengan rumah ini?" tanya satpam pada Devon
" Oh tidak pak, saya kerabat dari yang punya rumah" jawab Devon
"Apakah saya boleh meminta no telepon adik yang punya rumah?" tanya Devon
"O iya pak, tunggu ya" ucap Satpam, Lalu satpam tersebut mengeluarkan HP nya dan mencari kontak HP yang di maksud
"Ini pak No HP nya" ucap satpam
"O iya pak, terima Kasih ya pak" jawab Devon
Devon, Mika dan mama Devon kembali ke mobil.
Mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dalam diam tanpa obrolan apa pun.
Sesampainya di rumah, Devon menelepon kerabat Nita.
Terlihat obrolan yang serius antar Devon dengan adik ibunya Nita.
Mika hanya mengamati ekspresi suaminya dari pojok kamar.
Mika hanya banyak terdiam semenjak kejadian di RS jakarta.
Mika menunggu sampai Devon yang mau berbagi ceritanya sendiri.
Mereka yang merasa lelah karena seharian pergi, akhirnya membaringkan badannya di tempat tidur mereka.
Saat jam makan malam, bi Mimin memanggil mereka.
Kini semua anggotabkeluarga telah berkumpul untuk makan malam bersama.
Setelah selesai kak Intan memulai obrolan.
"Mika, maaf kami tidak bisa mengantar kamu, Mika ke bandara, karena nanti jam 10 malam ini kaka dan abang akan pergi" ucap Kak Intan dengan sedih
"Iya tidak apa - apa, memang kaka dan abang akan pergi kemana?" tanya Mika
"Abang di tugaskan ke Australia sama komandannya, jadi ikut temani abang" jawab Intan
"Ooo... Safe flight kaka dan abang" ucap Mika
Setelah Intan berpamitan dan keluarganya, dirinya dan suami bersiap - siap untuk berangkat.
Kini tinggal mereka berempat yaitu Papa, mama, Devon dan Mika yang sedang berada di ruang keluarga.
Mereka sedang menonton sebuah film komedi, tetapi pikiran Devon dan Mika jauh mengembara kemana - mana.
Sampai suara sang papa menyadarkan lamunan mereka berdua.
"Dev, Mika, besok papa dan mama akan berangkat ke surabaya, Papa di undang sebagai pembicara di acara seminar PIT INTERNA" ucap sang papa
"Iya pa, hati - hati di jalan pa, ma" ucap Mika dan Devon
Mika sudah terlelap dalam tidur tapi tidak dengan Devon.
Hingga pagi hari saat Mika terbangun dari tidurnya dirinya tidak menemukan Devon di sampingnya.
"Kemana mas Devon sepagi ini?" tanya Mika dalam hatinya, karena khawatir pada Devon yang tidak ada di tempat tidur, padahal jam baru mununjukkan pukul 4 pagi.
Mika bangun dan mencari suaminya keluar kamar, dirinya mengitari rumah, sampai Mika melihat Devon sedang duduk sendiri di taman belakang rumah dengan rokok di tangan.
Sungguh pemandangam yang tidak biasa, Mika tidak mengetahui sejak kapan Devon mulai merokok.
Mika seperti melihat bukan sosok Devon yang di kenalnya.
Mika datang mendekati suaminya.
"Mas.. Lagi apa?" tanya Mika dengan lembut pada Devon
Devon hanya menoleh ke arah Mika tanpa menjawab pertanyaan Mika.
Mika duduk di samping suaminya dan mengajak Devon tidur.
Tetapi Devon menolaknya dengan alasan ingin sendiri.
Mika hanya bisa diam sambil duduk menemani suaminya.
Sudah hampir 3 hari ini Devon selalu sama dengan kelakuannya.
Kini Devon lebih murung, selain itu karena masa cutinya telah usai dan sudah kembali ke rutinitasnya.
Mika sering mencoba mengajar ngobrol Devon, tetapi Devon seperti dingin sekali.
Devon selalu pulang larut malam tanpa memberi kabar.
Mika sering WA dan menelepon Devon, tetapi tidak ada jawaban apa pun dari Devon.
Malam ini Mika melihat suaminya sedang packing baju dan celananya di koper kecil.
Mika akhirnya menanyakan pada suaminya.
"Mas mau pergi kemana?" tanya Mika
"Aku ada urusan di luar kota beberapa hari" jawab Devon
"Urusan apa mas?... Kekota mana?...bolehkah aku menemani mas?" tanya Mika
"Aku hanya 2 hari, tunggu saja dirumah" jawab Devon yang tidak menjawab pertanyaan Mika dengan semestinya
Akhirnya Mika mengalah dan tidak membahasnya.
Pagi hari tiba, Devon sudah siap berangkat dengan kopernya.
Devon tidak memakai supir, dia mengemudikan mobil nya sendiri.
Mika tak tau suaminya pergi kemana dan apa yang dilakulannya.
__ADS_1
Hatinya sakit sekali dengan perlakuan dingin suaminya.
Dua hari Devon pergi, tidak ada yang tau kemana perginya.
Malam harinya Devon pulang dengan wajah yang terlihat sedih dan tubuh yang lelah.
Mika tidak banyak bertanya, dia hanya mempersiapkan kebutuhan mandi suaminya, pakaian ganti dan makan malam suaminya, Karena Devon sampai rumah jam 11 malam, jadi Mika membawakan makan malam Devon kekamar.
Devon sudah segar dan rapi duduk di atas tempat tidur.
Mika melihat suaminya sudah lebih segar akhirnya Mika memberanikan diri untuk bertanya kepada suaminya.
"Mas dari mana?.. Kenapa dalam 2 hari kemarin aku tidak bisa di hubungi?... Mas ada masalah apa?" rentetan pertanyaan Mika kepada Devon
"Aku cape, aku mau tidur" jawab Devon
Mika yang melihat suasana hati Devon tidak baik, akhirnya mengalah dan tidak meneruskan obrolan.
Pagi hari tiba, hari ini Mika ingin mengambil visa miliknya yang Mika urus 2 minggu lalu.
Rencananya besok malam Mika akan kembali ke Jerman untuk mengurus semua pekerjaannya disana dan kembali ke Indonesia.
Mika melihat Devon hendak bersiap untuk berangkat ke kampus tempat Devon mengajar.
"Mas, hari ini aku mau ke kedubes Jerman di jakarta, aku mau mengambil Visa ku" ucap Mika
"Ok" jawab Devon
Sunggu jawaban singkat yang membuat Mika berpikir, kenapa suaminya.
Mika dan Devon telah melakukan aktifitas masing -masing.
Malam harinya ketika mereka hendak tidur Mika memberanikan diri untuk bertanya pada Devon.
"Mas, apa yang membuatmu berubah?" tanya Mika
Devon yang tak kuasa lagi menyimpan masalah pelik itu akhirnya menceritakan pada Mika.
Devon menceritakan bila Nita hanya anak angkat orang tuanya, adik ibu angkatnya tidak mau mengurus Nita, rumah orang tua Nita juga sudah di jual adik ibunya dan Nita sudah keluar dari ICU kini kondisi Nita sudah di rawat inap biasa, kondisi anaknya sudah mulai membaik, kemungkinan beberapa hari lagi bila berat badan baby nya naik terus, sudah bisa dibawa pulang.
Tetapi aku bingung harus membawa pulang kemana bayi itu, sedangkan mereka tidak punya lagi tempat berteduh.
Devon menititihkan air mata saat menceritakan pada Mika.
"Titiplah di panti asuhan Bunda kasih" ucap Mika
"Tapi aku tidak tega, aku menyayangi anak itu, selama 2 hari bersamanya di RS, aku sungguh tidak ingin lepas darinya" ucap Devon sambil meneteskam air mata
"Lalu apa yang akan mas lakukan?" tanya Mika
"Aku akan menbawanya ke rumah ini, ijinkan aku merawatnya sampai Nita pulih" ucap Devon
Mika terdiam sambil berpikir apa yang harus di ucapkan pada suaminya agar Devon tidak tersinggung dan rumah tangganya tenang.
Akhirnya Mika tinggal tidur Devon tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
Pagi hari semua aktifitas berjalan seperti biasanya.
Mika pun sudah berkunjung ke panti menemui bu Leni dan memberitahu ke pergiannya ke jerman dalam waktu dekat ini.
Sampai tibalah hari dimana Mika akan kembali ke Jerman.
Tidak ada perbaikan komunikasi Devon dan Mika.
Devon seakan bulan Devon yang di kenal Mika.
Padahal rumah tangga mereka baru berjalan 2 bulan.
"Mas aku berangkat dulu ya, mungkin sekitar 1 sampai 2 bulan aku di jerman untuk menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum resign dan aku akan kembali ke Indoneaia secepatnya" penjelasan Mika Pada suaminya
"Iya" jawaban singkat Devon
"Jaga kesehatan mas, aku akan sering hubungi mas" ucap Mika
Mika langsung memeluk erat suaminya dan mengecup seluruh wajah suaminya.
Devon hanya terdiam dan tidak merespon seperti biasanya.
Mika merasa tidak ada respon apa pun segera mengakhiri kelakuannya.
"Jaga hatimu untuk ku mas, jangan kamu bohongi aku" ucap Mika sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka.
"Aku tidak bisa mengantarmu, aku lelah sekali, nanti Dudi yang akan mengantarmu ke bandara" ucap Devon
Mika hanya mengangguk, rasanya sesak sekali diacuhkan suami.
Mika sudah dalam mobil menujuh bandara diantar supir mereka.
"Tuhan ada apa dengan perasaanku ini" ucap Mika dalam hati
Mika telah sampai di bandara, segera cek in dan masuk gate imigrasi untuk cek dokumen.
Kini Mika sudah di atas pesawat, di cek kembali HP nya sebelum dimatikan sebelum penerbangan di mulai.
Tidak ada pesan atau telepon dari suaminya.
Mika mencoba menelepon Devon, namun HP nya sedang sibuk dengan panggilan lain.
Akhirnya Mika mengirimkan pesan di WA untuk Devon.
[Mas, aku sudah dipesawat, sebentar lagi pesawatku take off, jaga kesehatan mas, nanti akan ku kabari bila sudah sampai Berlin, emuachπππ]
Pesan yang Mika kirim pada Devon
Mika menunggu balasan dari suaminya, sudah 10 menit dan pesan sudah tercentang biru tanda pesan telah dibaca, namun tidak ada balasan pesan.
Pesawat yang Mika naiki akan segera tak off, sehingga Mika mematikan HP nya selama penerbangan.
Hatinya galau, "Tuhan tolong jaga suamiku" ucap Mika dalam hatinya, sebelum pesawatnya take off dengan sempurna meninggalkan Indonesia.
__ADS_1