
Bab 71
Setelah kepergian Devon dari ruangan Mika. Mika mengirimkan email kepada teman lamanya yaitu Prof. Emin.
Dalam emailnya Mika menanyakan berapa persenkah tingkat kesembuhan dirinya yang dapat diprediksi berdasarkan rekam medis dirinya.
Beberapa menit Mika menunggu balasan dari sahabatnya, tetapi sayang beliau lagi offline.
Mika berharap akan mendapatkan jawaban yang baik. Mika menanyakan kesembuhannya karena merasa putus asa atas hinaan suaminya.
Setelah itu Mika mengirimkan email kepada pengacaranya yang dulu sempat membantu perceraiannya beberapa bulan yang lalu.
Dalam email itu Mika menjelaskan kondisi kesehatannya yang kesulitan berbicara setelah sadar dari koma. Mika juga menjelaskan dirinya koma karena preeklamsi setelah melahirkan anak kembarnya.
Hinaan dan perlakuan kasar suaminya yang menjadi pokok permasalahan dalam rumah tangganya.
Mika meminta pihak pengacara mengurus perceraiannya dengan suami karena sudah tidak tahan atas perbuatan suaminya yang telah mengusir dirinya dari rumah.
Mika pun melampirkan rekam medis dirinya dan bukti foto - foto perselingkuhan suaminya. Mika meminta agar perceraiannya ini cepat beres dan cepat di putuskan.
Setelah selesai mengirim email Mika mendapat kabar dari pak Mamat supirnya yang sudah mendapatkan rumah tinggal yang akan di kontrak Mika.
Mika dan Mamat pergi untuk melihat rumah tersebut. Mika ingin secepatnya pindah dari hotel karena tidak mungkin berlama - lama tinggal di hotel setelah melihat keuangan RS yang terjun bebas itu.
Setelah ada kesepakatan dengan pihak pemilik rumah akhirnya siang itu Mika meminta pak Mamat supir RS. Diamond untuk mengantar ke hotel dan mengantar kembali kepindahan Mika.
Saat di perjalanan Mika berkirim pesan kepada babysister Al dan kedua adiknya untuk berkemas karena mereka akan cek out hari ini.
Setelah sampai di hotel tempat Mika menginap, ternyata Anak - anaknya beserta babysister Al dan adik - adik Mika sudah menunggu di lobby hotel.
Mika pun meminta Mamat mengangkat koper dan tas - tas mereka kedalam mobil dan segera kembali ke rumah kontrakan.
Di tempat yang berbeda Devon sedang melakukan hal kejahatan yang merugikan Mika.
Berbekal surat kuasa yang pernah Mika dan notarisnya buat untuk pengangkatan Devon sebagai Direksi pengganti sementara saat Mika masih dirawat di RS.Diamond disalah gunakan Devon untuk merubahan hak kepemilikan RS.Diamond dari hak Milik Mika menjadi hak miliknya.
Kepercayaan Istrinya menjadi senjata untuk menghancurkan orang yang pernah di cintainya itu.
Satu minggu kemudian Prof. Emin datang ke Indonesia. Prof.Emin yang berdarah blasteran Indonesia turki sengaja membiasakan memakai bahasa Indonesia saat di Indonesia.
Dirinya ingin di kenal sebagai orang Indonesia juga karena memang Prof.Emin ada campuran darah Indonesia dari Ibunya.
Kerabat dari pihak ibunya masih banyak yang tinggal di Indonesia, termasuk kakek dan nenek dari pihak Ibunya yang tinggal di Bandung.
Prof.Emin yang kangen suasana Indonesia membuat dirinya menyempatkan waktu saat memiliki waktu luang untuk berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Bandung.
Prof.Emin menepati janji untuk mengunjungi Mika di RS.Diamond. Dirinya sengaja tidak mengabari Mika akan kedatangannya. Prof.Emin ingin memberi suprise kepada sahabat lamanya.
Krek...Prof.Emin membuka pintu ruangan Mika.
"Selamat pagi sahabatku" ucap Prof.Emin terbata -bata dalam berbahasa Indonesia.
Mika yang melihat sahabat lamanya di hadapannya hanya meneteskan air mata karena terharu.
Prof.Emin melangkah mendekat dan memberikan sapu tangannya kepada Mika.
Mika mengambilnya dan tersenyum tanda ucapan terima kasih.
Mika menunjuk kursi di hadapannya agar Prof.Emin duduk.
__ADS_1
Mengerti maksud dari sahabatnya akhirnya duduk di hadapan sahabatnya.
Prof.Emin memandang wajah cantik Mika tanpa berkedip sedikit pun. Mika adalah satu - satu wanita yang di cintai sekaligus dikaguminya.
Saat Prof.Emin tau kalau Mika mengalami cedera pada otaknya yang berdampak dirinya sulit berbicara hatinya sedih sekali. Baginya kebahagian Mika di atas segalanya.
Prof.Emin meminta Mika melakukan CT scan kepalanya kembali hari itu. Dirinya ini melihat perubahan yang ada pada otak Mika setelah di berikan resep vitamin otak olehnya.
Mika mengikuti kemauan Prof.Emin. Dirinya melakukan CT scan kembali.
Setelah menunggu 30 menit hasil CT scan itu sudah ada.
Sambil melihat hasil CT scan Mika, Prof.Emin menjelaskan cedera yang di alami Mika itu.
Prof.Emin menyarankan untuk melakukan operasi. Prof.Emin menyarankan untuk di lakukan di Jerman alasannya disana peralatannya lebih lengkap dan canggih.
Mika sempat bingung harus bagaimana, sedangkan dirinya memiliki 3 anak yang usianya di bawah 1 tahun. Mika dihadapkan dengan situasi yang sulit dalam mengambil keputusan.
Mika pun menulis permasalah yang sedang di hadapinya termasuk kalau hubunganya yang sedang dalam proses cerai. Mika tidak ingin kepergiannya ke Jerman membuat senjata bagi Devon dan keluarganya untuk memenangkan hak asuh anak - anaknya bila harus ditinggal di Indonesia karena usianya yang masih sangat kecil.
Mika berharap operasi dapat di lakukan di Bandung atau jakarta.
Tetapi Prof.Emin tidak mau mengambil resiko yang besar karena ini operasi besar yang berkaitan dengan organ vital manusia.
Prof.Emin tidak mau hanya karena kesalahan sedikit akan berdampak buruk kepada kelangsungan hidup temannya.
Prof.Emin yang mengerti akan ke galauan Sahabatnya akhir berjanji akan mengatur semua dalam urusan anak - anak Mika.
Prof.Emin menyarankan agar anak - anak Mika di titipkan dulu di rumah kakek dan neneknya di Lembang. Dirinya akan mencarikan 2 babysister untuk menjaga Devin dan Davina. Prof.Emin berjanji memberikan perlindungan kepada anak - anak Mika selama di tinggal ke Jerman.
Prof.Emin akan mengurus semua akomidasi Mika dan semua pengobatan Mika selama di Jerman. Dirinya juga berjanji kalau pengobatan Mika di Jerman hanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan saja untuk kesembuhan Mika.
Mika menganggukan kepalanya tanda menyetujui keinginan rencana sahabatnya.
Prof.Emin meminta paspor Mika dan dokumen lainnya untuk mengurus visa Mika selama tinggal di Jerman, setelah Mika memberikan semua dokumen yang di butuhkan, dirinya pamit pulang.
Mika melanjutkan dengan menulis tiga surat, yaitu untuk adik - adik Mika, babysister Al dan pak Didin supirnya.
Setelah itu Mika yang ingin cepat bermain dengan anak - anaknya akhirnya pulang lebih awal.
Mika ingin menyampaikan keperginya kepada Pak Didin supirnya, namun apa dikata kesulitan Mika dalam berbicara membuatnya berkomunikasi dengan surat.
Dalam surat itu disampaikan kalau Mika minta tolong di tempati dulu rumah kontrak itu. Mika memberitahu kepergiannya untuk berobat ke jerman. Mika juga menjelasakan kalau untuk gaji pak Didin akan ditransfer tiap bulannya dan untuk sementara pak Didin di perbantukan untuk supir RS. Diamond.
Saat Mika sudah sampai di rumah kontrakan, Mika memberikan surat kepada babysister Al agar merapikan kembali pakaiannya dan semua keperlengkapan anak - anak Mika.
Dan Adik mika pun kembali merapikan pakaiannya. Mika pun menyampaikan kalau adiknya boleh kost dekat kampusnya, untuk biayanya nanti Mika yang akan menaggungnya.Mika memberikan uang 10 jt rupiah. untuk biaya kost dan ongkos kuliah beberapa bulan kedepan.
Pagi harinya setelah sarapan pagi Mika dan anggota keluarga lain bersiap menunggu jemputan Prof.Emin, kecuali kedua adik Mika yang pamit untuk pergi mencari tempat kost.
Mika dan ke tiga anaknya beserta babysister Al sedang duduk santai menunggu di teras rumah menyambut kedatangan Emin dan para babysister untuk Devin dan Devina.
Sudah pukul 8 :30 namun Prof.Emin belum juga datang. Mika dan yang lainnya sabar menanti mereka.
Tepat jam 9 pagi Prof.Emin datang bersama 2 orang babysister untuk Devin dan Devina.
"Met Siang semua" ucap Prof.Emin.
"Siang pak" jawab babysister Al.
__ADS_1
Sedangkan Mika hanya tersenyum menjawab salam.
Prof Emin memperkenalkan dua babysister yang akan menjaga anak Mika yang baru berumur 1 tahun itu.
Kedua babysister itu pun saling berkenalan kepada babysister Al juga.
Setelah saling berkenalan babysister Al mengajak Kedua babysister bayi twin ke kamar Devin dan Devina. Mereka menggendong saling satu bayi mungil yang tampan dan cantik itu.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Prof.Emin.
Mika pun menganggukan kepalanya. Selama perjalanan Mika bertanya - tanya bagaimana membalas kebaikan Emin dan apakah ini terlalu berlebihan atau tidak yang dirinya lakukan semua.
Sesampainya di Lembang kakek dan nenek beserta 4 orang ART dan 2 penjaga rumah itu menyambut mereka.
" Pagi kek, nek dan semuanya"ucap Emin dengam ramah kepada semuanya
"Pagi sayang" jawab kakek dan nenek.
Sedangkan yang lain hanya tersenyum saja.
Emin yang sudah menjelaskan masalah rumah tangga dan cedera otak yang Mika sedang hadapi kepada keluarganya.
Nenek Emin yang mengetahui kalau Emin menyimpan rasa yang besar untuk Mika mendukungnya. Asalkan Emin tidak menjadi pebinor.
Setelah itu nenek Emin mengajak mereka masuk kedalam rumah dan menyuruh mereka untuk beristirahat. Dengan di antar ART mereka memasuki kamar mereka masing - masing untuk beristirahat.
Mika sudah memberi kabar kepada sekertarisnya hari ini hingga 3 bln kedepan akan cuti karena 2 hari Mika akan berobat ke Jerman.
Sedangkan dikediaman Bagaskara papa dan mama mertua Mika dilanda rasa kangen kepada menantu dan cucu mereka. Mika dan anak - anaknya, mereka sudah 3 hari terpisahkan dari cucu mereka Al dan bayi twin. Mama hanya bisa menangis bila mengenang mereka semua.
Hari kepergian Mika tiba juga. Hatinya sangat berat bila harus berpisah dari anak - anknya yang masih kecil - kecil. Tetapi kepergiannya ini demi masa depan dirinya dan ketiga anaknya.
Prof.Emin yang mengerti akan kekhawatiran Mika, meminta ketiga babysister anak - anaknya menjaga dengan baik dan tidak lupa sering - sering mengirimkan Video saat sedang melakukan aktifitas.
Prof.Emin berpesan kepada ketiga babysister yang menjaga anak - anak Mika agar keluar rumah. Mereka hanya di perbolehkan membawa main di sekitar rumah saja.
Prof.Emin juga sudah memasang Kamera pengawas CCTV di keliling rumahnya agar semua aktifitas anggota keluarga terpantau.
Sebelum pergi Mika menciumi ketiga anaknya. Perasaannya sedih melihat tiga wajah polos anaknya.
"Tuhan tolong jaga tiga malaikat kecilku, hanya mereka yang aku punya...tolong lindungi mereka,Aamiin" doa Mika saat mengecup kening anaknya.
Kepergian Mika pagi itu sungguh mengharukan, nenek Emin pun ikut bersedih menyaksikan kejadian itu.
"Sudahlah Mika, ayo kita berangkat...semua demi mereka, kamu harus kuat ya" ucap Prof.Emin.
Mika mendengar ucapaan Emin yang benar adanya akhirnya berusaha tegar.
"I love my children" ucap Mika sebelum memasuki mobi.
Kini Mika dan Prof.Emin sudah masuk kedalam mobil Emin yang akan di antar supirnya menujuh bandar udara Internasional Soekarno Hatta.
Mika melambaikan tangannya saat mobil mulai meninggalkan kediaman rumah kakek Emin.
Bersambung...
Terima kasih telah mengikuti karya Author, mohon maaf bila ceritanya tidak sesuai keinginan kalian dan bila ada salah typoππππ
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya authorππππ
__ADS_1
Tinggalkan jejak Like dan komentar nya ππππ