Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 85


Devon yang sudah lama tidak merasakan kasur empuk sebagai alas tidurnya. Hampir 2 minggu tubuhnya ngilu tidur di kasur tipis milik Mae. Berbeda dengan malam ini Devon dapat merasakan kembali kasur empuk yang biasa dirinya gunakan.


Devon tidur dengan nyenyak dalam alam mimpinya. Terdengar sayup - sayup suara ketukan dan orang memanggil namanya dari balik pintu kamarnya.


Tok...tok...tok...tok..." Devon...bangun cu sudah azan subuh" ucap nini.


Suara panggilan nini yang berulang - ulang di tambah suara ketukan pintu membuat tidur Devon terganggu dan terbangun dari mimpi indahnya.


Dengan mata yang masih mengantuk terpaksa Devon bangun dan membuka pintu kamarnya.


"Eh nini, ada apa ni?" ucap Devon.


"Sudah azan subuh, sholat lah" ucap nini.


Devon mau tidak mau keluar kamar dan pergi ke masjid ponpes di seberang rumah aki dan nini. Setelah selesai sholat Devon di dalam masjid mencari kekanan dan kiri keberadaan papa dan Udin supirnya tetapi tetap saja tidak menemukannya.


Sempat terlintas dalam pikiran Devon kalau papa nya dengan sengaja meninggalkan dirinya di ponpes milik abah Dahlan yang tidak lain adalah adik kakek Devon.


Devon memasuki rumah aki dan nininya. Setelah sudah mencari kesana kemari keberadaan papa nya tetap saja nihil.


Devon tidak tahan dalam situasi yang kurang nyaman pada tangan dan kakinya yang patah.


Aki dan nini melihat kegelisaan pada cucunya. Dengan rasa penasaran Aki lalu bertanya kepada cucunya itu.


"Kenapa Dev?" tanya aki.


Devon yang bingung harus berkata apa karena takut kalau aki dan nininya akan merasa terbebani kalau dia mengatakan sebenarnya.


"Katakanlah cu?" ucap aki.


Dengan takut - takut Devon menceritakan tangan dan kakinya yang patah, memang 2 minggu yang lalu sudah mendapatkan pengobatan dari urut cimande. Tetapi hanya sekali dan tidak ada obat apa pun yang di berikan selain yang ada di dalam perban itu.


Kini Devon merasakan sakit luar biasa di tangan dan kakinya. Awalnya papa Devon ingin membawa ke RS.X untuk memberi perawatan luka Devon, tetapi Devon meminta di antar ke RS.Diamond.


Setelah perdebatan RS yang ingin dikunjungi berubah semua rencana awal. Devon bukan pergi ke RS tetapi diantar ke ponpes.


Abah Dahlan dan istrinya mendengar cerita dengan baik, tidak ada satu kalimat sanggahan apa pun itu.

__ADS_1


Setelah itu abah Dahlan pamit untuk mengajar ngaji ke masjid ponpes.


Setelah selesai saat Devon hendak kekamar nini menghentikannya.


"Cu tetap duduklah di kursi itu karena sebentar lagi mamangmu Zaenal akan mengajarkan dirimu mengaji" ucap nini.


"Apa ngaji ?" jawab Devon.


Dirinya sungguh merasa tertekan bila harus di atur dalam kehidupannya. Tetapi apalah daya Devon dalam situasi yang terjebak dalam ponpes ini.


"Ni apakah papa sudah pulang dengan Udin?" tanya Devon.


Devon merasa tidak tahan dengan aturan ponpes ini sedikit berontak dari aturan aki dan nininya itu.


"Iya Dev, papa mu sudah pulang setelah sholat subuh" jawab nini.


"Oh Tuhan kenapa si tua bangka itu meninggalkan anaknya yang sakit" ucap Devon dengan kurang ajarnya.


Nina yang mendengar kalimat kurang aja itu langsung ber istigfar. Nini membenarkan cerita papa Devon yang sudah tidak sanggup mengurus anaknya yang tidak bisa berbicara halus lagi.


Nini memberikan nasehatnya kepada cucu kurang ajar nya itu. Devon di beritahu adab kepada orang tua dan sedikit ilmu fiqih dalam hidup seharian.


Saat Devon mendapat pelajaran fiqih dari nini datanglah mamang Zaenal, anak nini dan aki. Adik sepupu papanya yang berprofesi sebagai ustad di ponpes milik abahnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu" ucap mamang Zaenal.


"Wa'alaikumsalam waramatullahi wabarakatu" jawab nini dan Devon bersamaan.


Setelah kedatangan Zaenal, nini pamit meninggalkan Devon dengan mamangnya. Karena nini ingin membantu anaknya Aisah untuk mengajar mengaji santriwati.


Mamang Zaenal mulai mengajarkan Devon mengaji setelah itu di saling mengobrol dua lelaki berbeda usia ini.


Devon yang awalnya merasa bete sebelum mengetahui pembahasan apa yang akan di bahas mamangnya itu. Tetapi setelah mulai membahasa fiqih ibadah dalam rumah tangga membuat Devon aktif dalam bertanya.


Rasa kesalnya berubah dalam kesenangan. Devon menceritakan semua permasalahan rumah tangganya dan mamang Zaenal dengan bijak memberikan solusi dalam permasalahan Devon.


Sementara itu di kediaman papa Devon sedang ada tasyakuran aqiqah cucu kembarnya yaitu Devin dan Davina.


Papa Devon sudah mendatangi langsung kediaman pak Edi yang ada di Bandung setelah pulang dari ponpes Abah Dahlan untuk mengundang acara aqiqah cucu kembarnya.

__ADS_1


Bu Leni dan adik - adik panti Mika juga sudah hadir, mama Devon sengaja hanya mengadakan pengajian bapak - bapak saja agar cepat selesai dan di lanjut dengan acara keluarga.


Tidak lupa mama Devon mengundang langsung kakek dan nenek Emin yang turut hadir dalam acara aqiqah baby twin Devin dan Devina.


Semua telah di persiapkan dengan matang oleh mama Devon. Kebahagian mama Devon terlengkapi dengan berita ditemukannya Devon dalam keadaan hidup.


Hanya saja papa dan mama Devon sengaja menutup rapat keberadaan Devon sampai dirinya berubah menjadi Devon yang dulu.


Devon yang bertanggung jawab, penyayang dan memperlakukan keluarganya dengan baik.


Acara pengajian ini cukup meriah dan diramaikan oleh undangan yang datang. Walaupun acara ini sangat telat sekali.


Baby twin Devin dan Devina sangat senang sekali. Bayi usia 3 bulan ini sudah dapat menikmati perayaan pada dirinya.


Papa Devon tidak lupa melakukan panggilan video call kepada Intan yang berada di Bali. Intan tidak dapat hadir karena sedang menunggu hari untuk kelahirnya anak pertama Intan dan suaminya.


Setelah itu papa Devon melanjutkan untuk video call dengan Mika di Jerman melalui HP Emin.


Terlihat sekali Mika merindukan anak-anaknya. Mika yang melihat ketiga anaknya di layar HP sangat mengobati rasa kangennya.


Mika sudah dapat berbicara walaupun masih membutuhkan waktu jedah cukup lama. Keinginan Mika untuk sembuh cukup besar setelah melihat ketiga anaknya.


Papa Devon pun berjanji kepada Mika kalau bulan depan papa dan mama beserta anak - anaknya akan datang menjenguk dirinya ke Jerman.


Mika yang mendapat kabar itu langsung senang sekali. Rona kebahagiannya terlihat jelas dari layar HP papa. Kebahagian Mika juga dapat di rasakan ketiga anaknya juga.Mereka tertawa bersama dalam panggilan Video call itu.


Mika seakan mendapat penyemangan baru dalam hidupnya. Sudah hampir seminggu lebih dirinya tidak berkomunikasi dengan anaknya karena kesibukan Emin yang tidak berada di RS sehingga kesulitan untuk berkomunikasi.


Hp Emin menjadi media komunikasi Mika dengan keluarganya di Indonesia. HP Mika yang hilang saat dirinya baru tiba di Jerman beberapa bulan yang lalu membuat dirinya tergantung dengan Emin.


Bersambung...


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoπŸ™πŸ™


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2