
Bab 80
Setelah pencarian Devon dihentikan dan pihak kepolisian menyatakan Devon sudah meninggal dalam peristiwa kecelakan tunggal itu, maka tidak ada lagi pihak keluarga yang mencari keberadaan Devon.
Walaupun semua pihak tidak menemukan jasad Devon. Di tengah keputus asaan semua pihak dalam pencarian Devon. Pihak keluarga mengikhlaskan kepergian Devon.
Devon kala itu berjuang untuk hidup, dirinya hanya bertahan diri dengan bertumpuh pada ranting pohon agar tubuhnya tidak terbawa arus sungai yang deras itu.
Ditengah antara hidup dan matinya Devon berkali - kali mulutnya mengucap kata maaf kepada istri dan anak - anaknya. Devon menyadari kesalahannya kepada Mika.
Devon berharap Tuhan masih memberikan kesempatan hidup untuknya. Devon ingin menebus semua kesalahan yang dibuat kepada Istri dan anak - anaknya.
Walaupun Devon mengetahui kalau luka yang di torehkan dalam hati istrinya sulit untuk dimaafkan.
Devon ikhlas bila Mika akan meninggalkannya asalkan Tuhan memberi kesempatan hidup bagi dirinya. Devon hanya ingin mengucapkan kata maaf secara langsung kepada istri dan anak - anaknya.
Devon yang lelah dalam bertahan akhirnya tangan Devon terlepas dari pegangannya. Devon dalam keadaan tidak sadarkan diri terbawa arus sungai hingga jauh.
Di saat diri nya tersadar sudah terbaring di sebuah kasur lantai dengan memakai pakaian yang bukan miliknya.
Devon yang melihat ada seseorang dihadapannya, dirinya menanyakan keberadaannya saat ini.
"Dimana aku" ucap Devon.
"Tenanglah, Aa ada di pondok kami" ucap gadis belia cantik di hadapan Devon.
"Siapa kamu?" tanya Devon.
"Nama saya Maesaroh, biasa saya di panggil Mae" jawab gadis itu.
Mae menjelaskan kenapa Devon bisa ada di rumahnya. Mae bercerita saat Mae dan emaknya sedang menyuci di sungai dirinya melihat Devon mengapung dan tersangkut batu besar.
Kondisi Devon saat itu bertelanjang dada dengan banyak luka di punggung dan perutnya.
Mae memanggil Abah dan kaka laki - lakinya di rumah agar menolong Devon dan membawa Devon kerumah mereka untuk mengobati luka - lukanya.
Setelah mendengar penjelasan Mae, Devon mengucapkan terima kasih kepada Mae.
Devon hendak bangun dan pergi dari rumah Mae. Tetapi Devon merasa kaki kirinya dan tangan kirinya tidak dapat di gunakan dengan baik, Devon merasa kalau kaki dan tangannya patah.
Setelah terdengar suara obrolan Devon dan Mae, Emak dan Abah Mae datang.
"Si kasep udah bangun?" tanya emak mae.
"Terima kasih atas bantuan ibu dan bapak" ucap Devon.
__ADS_1
Devon merasa berhutang budi kepada mereka. Devon berjanji akan membalas kebaikan mereka setelah dirinya pulih.
"Dimana saya saat ini?" tanya Devon kepada bapak dan ibu Mae.
Mereka menjelaskan kalau Devon saat ini berada di Karawang. Mereka pun bertanya kepada Devon mengapa bisa sampai ada di sungai.
Devon menjelaskan kalau dirinya sehabis pulang mencari istrinya di rumah mertuanya.
Untuk menghindari macet dirinya melintasi jalan di pinggir jurang, karena hujan lebat membuat jarak pandangnya tidak terlihat.
Setelah itu mobil yang di kemudikannya terserosok ke dalam jurang, beruntung dirinya dapat keluar dari mobil dan bepegangan pada ranting pohon agar tidak terbawa arus sungai.
Setelah itu dirinya tidak sadarkan diri dan saat bangun sudah di dalam rumah bapak dan ibu.
"Kamu sudah 2 hari tidak sadarkan diri nak" ucap bapak Mae.
"Apa?" teriak Devon.
Jujur saja Devon kaget saat di bilang tidak sadarkan diri sudah 2 hari, tetapi Devon dibiarkan sadar sendiri tanpa diberi perawatan medis apa pun.
"Ya Tuhan, terima kasih sudah memberi kesempatan akau hidup" doa Devon dalam hatinya.
"Memang Aa ini dari mana?" tanya Abah Mae.
Saya dari bandung Pak. "Saya ingin pulang dapatkah membantu saya?" ucap Devon.
Devon juga menangkap sinyal kalau Maesaroh menyukainya, sebab dari tadi Mae selalu menatap Devon tanpa kedip.
" Oh si kasep ini sudah menikah?" ucap emak mae.
"Saya Devon bu, iya Alhamdulillah saya sudah menikah dan memiliki 3 orang anak" ucap Devon dengan bangga.
Setelah itu Devon meminta tolong dipinjam kan telepon untuk menghubungi keluarganya. Tetapi sayang keluarga ini tidak ada yang memiliki Hand phone. Kemiskinan yang mereka derita membuat keluarga ini hidup dalam ke prihatinan.
Devon yang mendengar hal ini hanya terdiam lemas, dirinya tidak tau lagi bagaimana bisa keluar dari rumah mereka ini.
"Auw.." teriak Devon.
Dirinya merasakan nyeri yang luar biasa pada tangan dan kakinya yang patah, tidak ada obat minum yang Devon minum hanya balutan rempah - rempah yang terikat kain putih pada tangan dan kakinya.
"Abah...emak... " ucap Devon.
Dapatkah saya meminta tolong untuk membawa saya ke dokter?" ucap Devon.
"Nak, kami tidak mempunyai kendaraan apa pun" ucap Abah Mae.
__ADS_1
Kami selalu berjalan kaki, dan kami tidak mungkin menggendong kamu karena jaraknya sangat jauh sekali" jawab si Bapak.
"Ya Tuhan aku ada di bumiMu yang mana, sampai - sampai semua seperti zaman belum ada peradaban saja" ucap dalam hatinya.
Devon sebenarnya kesal sekali.dengan kondisinya yang tidak berdaya ini. Devon juga ragu apa obat rempah - rempah ini bisa menyambungkan kembali tulangnga yang patah.
Devon akhirnya bertanya kembali ke sepasang orang tua di hadapannya ini.
"Pak apa obat traditiobal ini dapat menyembuhkan tangan dan kakiku yang patah?" tanya Devon.
"Tentu saja nak" jawab Abah Mae.
Setelah itu mereka meninggalkan Devon seorang diri di kasurnya, kedua orang tua itu pergi kembali ke ladang yang menjadi mata pencarian mereka sehari - hari. Emak dan Abah Mae adalah buruh harian di ladang milik orang terkaya di kampung itu.
Devon yang hendak menidurkan dirinya melihat Mae masih saja berdiri manatap Devon tanpa kedip.
Devon yang risih atas tatapan itu membuat Devon bersikap ketus kepada Mae.
"Kenapa masih di sini?" tanya Devon.
Mae tidak menjawabnya tetapi semakin menatap Devon lebih dekat.
Devon merasa kesal dengan sikap Mae memilih memejamkan matanya.
Devon menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Mae yang kesal atas sikap acuh nya itu membuat Mae mengucapakan kata - kata yang sangat menohok Devon.
"Kau harus menikahi aku sebagai balas budi kepada kami" ucap Mae.
Devon sempat kaget atas ucapan Mae, tetapi bukan Devon namanya kalau tidak bisa membalas lebih menohok lagi.
"Berapa pun yang kau minta atas biayaku selama disini akan aku ganti setelah aku kembali kerumahku, tetapi ingat kalian akan masuk penjara akibat pengancamanmu" ancam Devon.
Mendengara ancaman Devon membuat Mae menjadi takut dan tidak berani lagi membuat masalah dengan Devon.
Gadis belia yang coba - coba ingin menjadi pelakor akhirnya menyerah sebelum.ketahuan.
Mae memutar otaknya agar dapat meluluhkan hati Devon. Pesona Devon yang teramat sempurna tidak memungkin di lewatkan bahkan di abaikannya.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typo dan bila cerita tidak sesuai keinginan kalianππππ
__ADS_1
Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah ini ππππ