Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 72


Mika dan Prof. Emin sedang dalam perjalanan menujuh bandar udara Internasional Soekarno - Hatta. Untuk mengobati rasa rindunya Mika melihat galeri foto di HP nya, di pandangi terus foto ketiga malaikat kecil itu, hingga air mata menetes di sudut matanya.


Prof. Emin yang melihat kejadian itu berinisiatif memberikan sapu tangannya kepada Mika. Dirinya melihat kesedihan mendalam di mata sahabat yang dicintainya.


Mika mengambil sapu tangan itu dan menghapus air matanya. Mika tersenyum kepada Prof. Emin tanda berterima kasih atas sapu tangan yang dipinjamkan.


Prof. Emin hatinya selalu meleleh tiap kali melihat senyum manis sahabatnya ini.


Selama perjalanan Prof. Emin selalu mencuri - curi pandang kepada Mika.Tetapi yang dilakukan hanya sebatas itu saja, dirinya tidak ingin melampaui yang tidak pantas di lakukan. Walaupun Mika sedang dalam proses cerai tetapi Prof. Emin bukan laki - laki yang suka menikung istri orang.


Perjalanan hari ini cukup lancar dilalui, antar bandung ke tanggerang hanya membutuhkan waktu 2,5 jam saja. Padahal biasanya butuh waktu hingga 4 jam karena macet di mana - mana.


Sesampainya di bandar udara Soekarno - Hatta Prof. Emin membantu membawakan koper Mika, mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam bandara dan cek dokumen di imigrasi bandara.


Setelah melewati semua prosesnya kini Mika dan Prof. Emin sudah berada di dalam pesawat yang sesaat lagi akan membawanya pergi ke negara tujuannya.


Sebelum pesawat take off Mika memeriksa pesan di Hp nya. Baby sister Al mengirimkan foto dan video kaka Al, Devin dan Devina. Mereka sedang berjemur bersama nenek dan kakek Emin di taman bunga yang berada di belakang rumah. Mika yang melihat kiriman itu senyum - senyum sendiri.


Setelah itu Mika mengecek email di HP nya. Di inbox email terdapat sebuah email dari sekertaris Mika. Sekertaris Mika mengirimkan sebuah surat undangan konfrensi pers yang tertera nama Devon Bagaskara sebagai pemilik hajat dan foto - foto Devon beserta pihak pengacaranya saat konfrensi pers.


Sekertaris Mika juga memberi penjelasan kepada Mika kalau suami Mika yaitu Devon Bagaskara melakukan konfrensi pers untuk pemberitahuan kepada masyarakat semua tentang kepemilikan RS.Diamond adalah milik Devon Bagaskara.


Selain itu Devon memaksa karyawan untuk menandatangani ulang kontrak kerja RS.Diamond dengan posisi direksi tertera nama Devon Bagaskara.


Mika syok dengan yang email yang di dapatnya. Mika hanya bisa menangis, RS.Diamond adalah impiannya sejak dulu.


Mika berjuang dalam pembangunan RS itu. Hasil kerjanya selama bertahun - tahun di jerman adalah dana pembangunan RS.Diamond. Mika tidak pernah meminta bantuan sokongan dana dari pihak Devon ataupun keluarga suaminya.


Mika yang tidak tahan bila harus pergi dalam situasi sulit ini. Mika pun membuka seatbelt dan bangun dari tempat duduknya. Mika ingin membatalkan kepergiannya untuk menyelesaikan urusan RS. Diamond.


Prof. Emin yang melihat Mika akan pergi langsung menghentikan langkahnya dengan memegang pundak Mika.


"Mau kemana Mika?" tanya Prof. Emin.


Mika menatap Prof. Emin dengan tatapan sedih, air matanya mengalir deras.


Prof.Emin yang melihat situasi yang tidak baik langsung bertanya kepada Mika.


"Katakanlah ada apa?...aku akan membantumu " ucap Prof.Emin.


Mika menyerahkan HP nya yang masih membuka pesan email dari sekertaris Mika.


Prof. Emin mengambil HP di tangan Mika dan melihat pesan email itu. Prof. Emin geram dengan kelakuan jahat suami Mika. Prof.Emin mengepalkan tangannya tanda


kemarahannya kepada suami tidak tau malu itu.


"Duduklah Mika dan tenangkan dirimu, percayakan kepadaku..aku akan menyuruh teman lama ku yang berprofesi sebagai pengacara hebat yang akan mengatasi masalah ini semua" ucap Prof. Emin.


Mika kembali duduk dan memandang mata Prof. Emin untuk melihat apakah yang di ucapkan prof.Emin dapat dipercaya atau tidak.


"Percayalah kepada sahabatmu ini" ucap Prof.Emin.


Mika menganggukan kepalanya setelah melihat kesungguhan Prof.Emin yang tak lain adalah sahabatnya.


Setelah itu Prof. Emin menelpon temannya yang seorang pengacara terkenal di jakarta.


Dirinya menceritakan permasalah yang terjadi antara Mika dengan suaminya sampai permasalahan pengambil alihan RS.Diamond oleh pihak Devon Bagaskara.


Prof. Emin meminta temannya untuk membantu kasus Mika. Prof. Emin juga berjanji akan mengirimkan email secara resmi dan melampirkan semua bukti dan permohonan tertulis untuk menunjuk temannya itu sebagai pengacara Mika putri.


Setelah email itu dikirim, pihak pengacara Mika melaksana tugasnya sebagai kuasa hukum Mika untuk membuat tuntutan kepada pihak Devon.


Walaupun masalah ini sudah ada solusinya tetapi Mika sendiri merasa tertekan dengan keadaannya.


Mika berinisiatif mengirim pesan kepada papa mertuanya agar menghentikan aksi gila anak laki - lakinya itu yang tak lain adalah Devon.


[Selamat siang papa...apa kabar pa?... Pa tolong Mika, Devon mengambil alih kepemilikan RS.Diamond milik Mika...Tolong pa cegah Devon, RS itu impian Mika dan papa tau benar bukan kalau dana pembangunan RS.Diamond berasal dari dana pribadiku... Tolong pa, berilah keadilan untukku]


Pesan yang Mika kirim kepada papa mertuanya.


Mika sengaja mengirim pesan kepada papa mertuanya karena Mika melihat sosok yang adil dalam menyelesaikan sebuah masalah.


Mika ingin bercerita kepada kakak iparnya tetapi kondisi kaka iparnya yang sedang hamil, Mika tidak ingin terjadi sesuatu hal kepada keponakannya.


Sedangkan kalau bercerita dengan mama, pastinya mama akan memakai kekerasn kepada Devon. Mika ingin semua terselesaikan dengan damai tanpa ada kekerasan fisik.

__ADS_1


Setelah selesai sibuk dengan situasi perebut kepemilikkan RS. Diamond. Mika kembali duduk terdiam.


Pintu pesawat telah ditutup dan pramugari sudah memberikan intruksi pemakaian seatbelt dan memberi peragaan keadaan darurat kepada penumpangnya.


Sungguh terlihat sekali kalau Mika sedang banyak pikiran. Sudut matanya basah tanda kelemahannya.


Mika terus berpikir dosa apa yang sudah di perbuatnya mengapa hidupnya penuh dengan air mata. Bahkan seorang Devon yang selama ini yang menjadi perisai Mika dalam situasi sulitnya berubah menjadi orang yang kejam menghancurkan dirinya.


Lamunan Mika ikut terbang bersama pesawat Mika yang sebentar lagi sudah mau take off.


" Tuhan semoga operasiku berhasil" doa Mika sebelum pesawat mengudara.


Di RS.X papa dan mama Devon sedang menyaksikan konfrensi pers pergantian kepemilikan RS. Diamond oleh anaknya.


Mama Devon menangis melihat kekejaman anaknya. Mama Devon tidak menyangka kalau anak laki - lakinya berbuat curang seperti itu, padahal dirinya dan suami tidak pernah sedikitpun mendidik kecurang di diri Devon.


"Pa, Apa yang harus kita perbuat?...kenapa anak kita seperti itu pa?" tanya mama kepada suaminya.


"Tunggu laporan Mika, kita akan jadi saksi pihak Mika... Devon kurang bersyukur" jawab papa.


Tiba - tiba HP papa berbunyi.


Kring...kring... bunyi telepon papa.


Papa melihat HP nya, ternyata Intan yang menelepon papanya. Papa pun menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


Papa : "Halo"


Intan : "Halo, siang pa"


Papa : "Siang kak, apa apa kak?"


Intan : " Pa, apa berita Devon benar?"


Papa : "Apa kaka melihatnya?"


Intan : "Iya pa, apa itu benar?"


Papa : "Iya nak"


Intan : "Ada apa dengan adikku, apakah aku harus datang kembali ke bandung pa?"


Intan : "Iya pa, tolong bantu adikku Mika...kasihan pa, berilah keadilan untuknya"


Papa : "Pasti kak"


Setelah terucap janji papa yang akan memberikan keadilan untuk Mika maka percakapan telepon Intan dan papa berakhir.


Papa membuka kiriman pesan Mika, lalu papa menjawab pesan Mika tetapi tidak terkirim.


Papa dan mama yang khawatir terhadap Mika, akhirnya berinisitif mendatangi RS.Diamond.


Perjalanan yang tidak terlalu jauh antara RS X ke RS Diamond membuat papa dan mama cepat sampai atas bantuan supir untuk mengemudikan mobil.


Saat sampai disana papa mendatangi resepsionis untuk bertemu Mika.


Resepsionis mengatakan kalau DR. Mika sedang cuti hingga 3 bulan kedepan.


Prof.Dimas menanyakan cuti kemana. Resepsionis memberi jawaban kalau tidak ada pemberitahuan, untuk lebih jelasnya nanti sekertaris DR. Mika akan datang menemui Prof. Dimas.


Sekitar 5 menit menunggu sekertaris mika datang menemui kedua mertua Mika.


"Selamat sore Prof. Dimas dan Prof.Iren" ucap sekertaris Mika.


"Sore mba" jawab kedua mertua Mika bersamaan.


Tanpa basa basi papa menanyakan keberadaan Mika.


Sekertaris Mika memberitahukan kalau Mika mulai hari ini hingga tiga bulan kedepan cuti untuk berobat.


Papa yang penasaran menanyakan lebih detail kepada Sekertaris Mika.


"DR. Mika berobat kemana?.. dan dengan siapa DR. Mika pergi?" tanya papa.


"DR Mika hanya bilang cuti ke jerman untuk pengobatan sakitnya, tetapi tidak tau berangkat dengan siapa" jawab sekertaris Mika.


Setelah mendapat penjelasan itu prof.Dimas dan istrinya pamit pulang. Padahal kedatangannya untuk memberi dukungan kepada Mika tapi apa mau di kata orang yang mau di dukung tidak ada di tempat.

__ADS_1


"Semoga Mika sembuh dari sakitnya, Aamiiin" doa mama dalam hatinya.


Hatinya sangat menyayangi menantukan, walaupun pernah ada kesalah pahaman. Mama sangat marah sekali atas perbuatan anaknya.


Selama perjalanan pulang prof. Dimas berusaha melihat kembali email dan HP nya apakah Mika ada panggilan telepon atau berkirim pesan ternyata no HP Mika tidak aktif.


Berbeda dengan Devon saat ini sedang merayakan kemenangannya dengan makan siang bersama semua kuasa hukumnya yang berjumlah 10 orang.


Devon berpikir kalau dengan mengambil alih RS.Diamond pasti Mika akan menuruti semua kemauannya dan dalam genggaman dirinya.


Devon sudah senang untuk menunggu waktu dimana Mika akan menangis kepadanya.


Hari ini semua media meliput pemberitaan Devon Bagaskara baik di media elektronik maupun media cetak tentang statusnya sekarang yang sudah menjadi direktur utama RS. Diamond.


Shila yang mendengar berita bagus ini tidak melewatkan peluang emasnya. Bukan saja Shila yang mengetahuinya tetapi pihak pengacara Mika yang menangani kasus perceraian Mika juga mengetahuinya.


Pihak pengacara Mika yang awalnya ingin medaftarkan alamat orang tua Devon sebagai alamat tempat tinggalnya untuk alamat surat menyurat, akhirnya mengganti dengan alamat RS.Diamond sebagai alamat surat menyurat Devon.


Keesok harinya saat Devon yang baru saja sampai ke RS. Diamond dan baru saja duduk dikejutkan dengan sebuah surat panggilan sidang dari pengadilan agama di meja kerjanya.


Awalnya Devon ingin Mika menangis di hadapannya dan menuruti semua kemauannya ternyata Mika menggugat cerainya.


"Ah...sial, wanita bisu itu lebih licik dari yang aku duga" ucap Devon.


Baru saja dipusingkan dengan masalah gugatan cerai Mika, sudah ada lagi masalah baru.


Krek... Suara pintu ruang Devon terbuka.


Shila datang dengan baju yang tak layak. Kemeja yang dipakai terlalu kecil sehingga belahan dada milik Shila terlihat jelas bahkan hampir mau keluar buah dadanya dan rok mini yang dipakai sangat minim membuat orang yang melihatnya terlalu risih, kecuali laki - laki mata keranjang.


"Hai sayang" ucap Shila dengan manja.


Devon terkejut dengan kedatangan Shila. Sebenarnya Devon merindukan Shila, tetapi setelah melihat surat gugatan cerai moodnya sedang tidak baik.


Devon yang tidak ingin di ganggu hari ini dengan siapa pun meminta Shila pulang.


"Pulanglah La, aku lagi banyak kerjaan" ucap Devon.


"Tapi sayang aku kangen" jawab Shila dengan genit.


Bukan Shila namanya kalau tidak bisa membuat laki - laki lepas dari jerat rayunya. Shila yang piawai dalam menggoda mulai mengeluarkan jurus murahannya itu.


Shila berjalan mendekati Devon dan bwrhenti dalam pangkuan Devon. Jari - jari nakalnya mulai bergerilya di area sensitif Devon.


Awalnya Devon dapat menahan hasratnya, Devon tidak melakukan hal memalukan hal itu di ruangan itu, kecuali bersama Mika istrinya.


Shila terus saja melakukan gerakan - gerakan yang meningkatkan hasrat Devon. Shila mulai mengecup bibir Devon. Awalnya hanya kecupan tetapi Shila yang sudah lihai memberi sengatan yang lain. Membuat Devon ketagihan dengan permainan Shila walaupun bibir Mika lebih manis dirasakannya. Devon memperdalam ciuman mereka Shila dengan senang hati melakukan kelihaiannya. Devon menjadi kewalahan dalam mengikuti aksi ciuman Shila.


Shila tertawa dalam hatinya kalau Devon sudah dapat dikuasai olehnya.


Setelah dari ciuman itu, Shila memancing Devon dengan hal yang lainnya. Shila yang berpengalaman sudah mengetahui bagaimana cara mengatasi Devon. Shila memancing dengan membuka kancing kemejanya.


Devon yang sudah terbakar hawa nafsunya menjadi kehilangan logikanya. Devon menginginkan hal yang lebih dari itu. Sebagai lelaki normal Devon sudah tidak tahan ingin di tuntaskan.


Shila sudah membuka seluruh kancing kemejanya hingga kacamata merah yang menutupi bagian sensitifnya terlihat jelas.


Saat Shila ingin membuka kemeja Devon dan mendekati wajahnya, Devon mendorong Shila hingga terjatuh.


"Auw ada apa sih?... Kebiasaan banget" teriak Shila.


Devon terdiam, harapan hasratnya yang ingin di tuntaskna dengan Shila pupus. Keinginan itu hilang setelah melihat wajah Mika di hadapannya. Mood Devon kembali memburuk.


Shila yang kesal akahirnya merapikan kembali kemejanya. Punggungnya sakit terbentur lantai saat di dorong Devon tadi.


Devon yang tidak ini suasana tambah burik lagi dirinya menyuruh Shila pergi.


"Pergilah, besok aku datang ke tempatmu" ucap Devon.


"Aku gak mau" jawab Shila.


Dengan terpaksa Devon menarik tangan Shila untuk keluar dari ruanganya, setelah Shila di luar ruangan Devon menutup keras ruanganya. Suasana hatinya tiba - tiba merindukan Mika dan anak - anaknya.


Bersambung...


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoπŸ™πŸ™

__ADS_1


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author abal - abal ini, agar lebih semangat up nyaπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


Tolong tinggalkan jejak Like dan komen dibawah iniπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


__ADS_2