
Bab 37
Devon sungguh tidak percaya bahwa istrinya mempunyai hati yang sangat luas sekali untuk memaafkan kesalahannya.
Peluk hangat Mika menjadi saksi ketulusan cinta istri terhadap suaminya.
"Sayang terima kasih, aku sungguh beruntung memiliki istri sepertimu" ucap Devon.
Mika yang tersanjung dengan rayuan gombal suaminya hanya tersenyum manis menanggapi hal itu.
Peluk mesra mereka semakin erat sampai mengabaikan orang di sekitar mereka.
Orang yang ada diruangan itu terabaikan oleh sepasang suami istri itu.
Intan yang super duper jahil terhadap adiknya tidak bisa menahan melakukan kejahilannya.
Intan mengambil tutup kaleng biskuit yang ada di meja, lalu dijatuhkan ke lantai.
Ke dum brang...bunyi tutup kaleng dijatuhkan ke lantai oleh Intan.
Sontak dua sejoli yang sedang berpelukan kaget dan melepas peluk mereka.
Pipi Mika telihat merah merona karena malu atas perbuatan mereka, sedangkan Devon menatap penuh kesal kepada kaka jahilnya yang merusak moment romantis mereka.
"He... he... he... Peace Brother" ucap Intan dengan tawa ejeknya.
Devon yang kesal dengan kelakuan kakanya memasang wajah masam pada kakanya.
Mika yang tidak enak hati dengan kaka iparnya memberi pengertian pada suami manjanya.
"Sudahlah mas, kita yang tidak tau tempat" bisik Mika pada telinga suaminya.
Devon tersenyum pada Mika tanda menyetujui permintaan istrinya.
Kedua orang tua Devon sungguh senang kini anaknya kembali mendapatkan maaf dari istrinya.
Mereka berharap puteranya tidak mengecewakan kembali istrinya.
"Jangan diulangi lagi sikap dan perbuatan seperti itu lagi" ucap papa Devon yang gemes sama puteranya.
"Iya pa, maafkan anakmu ini" jawab Devon.
Papa Devon hanya mengangguk tanda menyetujuinya.
"Ma maafkan Devon yang sudah mengecewakan mama" ucap Devon dengan sungguh.
Devon mengetahui selain hati istrinya yang paling terluka, ada mamanya yang kecewa dengan sikapnya.
Mama Devon hanya tersenyum menanggapi ucapan anak bungsunya.
Kini mereka berlima sedang berbincang - bincang layaknya keluarga harmonis.
Semua permasalah yang terjadi mereka anggap masa lalu yang harus dikubur dalam - dalam dan kedepannya dimulai dengan kebaikan.
Tidak ada lagi wajah kesedihan di raut wajah Devon. Begitu juga Mika, kelapangan hatinya dalam menghadapi masalah hidupnya berbuah kebahagian, walaupun Mika menerima semua permasalahan yang datang tetapi sisi tegas Mika tetap ada.
Mika mengucapkan sebuah kalimat yang cukup mengejutkan Devon.
"Semoga ini yang terakhir, karena aku tidak akan mampuh lagi menghadapi bila hal yang sama terjadi lagi" ucap Mika kepada suaminya yang disaksikan keluarga suaminya.
"Pasti sayang, aku berjanji ini yang terakhir kalinya dan aku selalu ingat tujuan hidupku bersamamu" jawab Devon.
Mika hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Sekarang istirahatlah mas biar cepat pulih, lain kali jangan berbuat nekat gitu" ucap Mika.
__ADS_1
"Iya sayang" jawab Devon.
"Cie... cie... Sayang....apa peyang???" ucap kak Intan yang menggoda Devon.
"Diem berisik, ganggu aja" jawab Devon yang jengkel dengan kakanya.
Mama dan papa Devon yang menyaksikan kekonyolan anak -anaknya hanya bisa tersenyum.
Waktu terus berjalan tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.
Rasa lelah dan ngantuk mulai menyerang mereka.
Kak Intan sudah tertidur pulas disofa, sedangkan papa dan mama yang ingin merebahkan tubuhnya akhirnya ijin pulang.
"Mika sayang ingin ikut pulang bersama kami?" tanya mama kepada Mika.
Belum sempat Mika menjawab Devon langsung menyambar pertanyaan mamanya.
"Mika disini aja sama Devon" jawab Devon sambil memeluk pinggang istrinya.
Mika dan papa Devon yang mendengar ucapan Devon hanya geleng - geleng kepala saja.
Tingkah kekanak - kanakan Devon kadang bikin ketawa.
Sepulangnya kedua orang tua Devon kini tinggal mereka bertiga.
Intan yang sudah pulas dalam tidurnya tinggallah sepasang suami istri yang masih terjaga.
Devon yang enggan menutup matanya, walau ngantuk telah melandanya.
Devon takut Mika akan pergi disaat dirinya terlalap tidur.
Sungguh konyol pemikiran Devon diusia dewasanya itu, tetapi untuk semua orang yang sedang falling in love berapa pun usianya pasti tingkahnya akan kekanak - kanakan.
"Maaf sayang.. maafin papa sayang" ucap Devon sambil mencium perut Mika yang masih rata.
Akhirnya Mika membaringkan tubuhnya di satu ranjang RS bersama suaminya.
Devon tertidur sambil memeluk istrinya.
Rasa takut istrinya akan pergi saat dia tidur, membuat Devon melakukan hal kekanak - kanakkan.
Pagi harinya saat cahaya matahari pagi mulai memasuki di cela - cela ventilasi udara.
Mata Intan terbuka lebar menyambutnya.
Intan memang lebih dahulu bangun dari adik dan iparnya.
Menyaksikan sepasang suami istri yang saling berpelukan membuat aksi jahilnya terpancing kembali.
"Dasar Bucin" cibir kak Intan kepada Devon.
Intan menambil segelas air putih dan mulai meneteskan air diwajah Devon sedikit - sedikit seperti hujan rintik - rintik.
Lalu intan berteriak "Hujan.. hujan... hujan... " kepada kuping Devon.
Devon yang merasakan ada tatesan air yang membasahi wajahnya dan teriakan kak Intan membuatnya terkejut dan bangun terpaksa.
"Ha... ha... ha... " tawa ngakak Intan yang melihat tingkah kocak adiknya.
Devon melototkan mata besarnya kepada kaka jahilnya.
"Ih tatut.." ejek Intan pada adiknya.
Devon melihat Mika masih pulas tidur disampingnya lebih memilih diam.
__ADS_1
Devon takut menggaanggu tidur istrinya.
Tak lama datanglah bi Mimin yang membawakan pakaian ganti untuk Devon, Mika dan Intan.
Intan segera mandi untuk menyegarkan badan lengketnya dan mengganti pakaian yang dibawa bi Mimin.
Setelah selesai Intan ijin pada adiknya.
"Dev, kaka keruangan papa dulu ya" ucap Intan pada adiknya.
"Memang mau apa kesana?" jawab Devon.
"Ada perlu" ucap Intan.
"Ada perlu apa?" tanya Devon.
"Haduh adikku sayang banyak sekali mau mu, tadi kaka mu di pelototin sampai matamu hampir mau copot, sekarang ijin pergi banyak tanya?" sindir Intan.
"Tanya aja gak boleh, dasar pelit" gerutuh Devon yang masih dapat di dengar Intan.
Intan hanya bisa geleng - geleng kepala atas kelakuan kekanak - kanakan Devon.
Mika sudah bangun dari tidurnya dan segara pergi kekamar mandi dan mengganti pakaian dengan yang dibawa bi Mimin.
Mika dengan telaten menyuapi makanan suaminya, setelah itu Mika membantu Devon untuk meminum obat yang disiapkan perawat tadi pagi.
Setelah itu, Devon kembali membuka pembicaraan serius dengan Mika.
"Sayang apakah kamu akan meneruskan karier di Indonesia?" tanya Devon.
"Ya" jawab Mika.
"Kalau begitu prakteklah di RS ini" ajak Devon kepada istrinya.
"Boleh juga, selama RS ku belum di jadi" jawab Mika.
"Apa dirimu ada rencana membuat RS?" tanya Devon.
"Iya, aku sudah mediskusikan hal ini beberapa bulan yang lalu dengan papa, saat aku di Jerman" jawab Mika.
"Maafkan aku sayang, aku terlalu egois sehingga mengabaikan istriku" ucap Devon.
"Sudahlah jangan di bahas lagi masalah yang lalu" pinta Mika pada suaminya.
Devon yang merasa tersentil atas perbuatannya lebih memilih diam.
Saat diJerman Mika sempat menelepon mertuanya prihal pembangunan RS baru dekat panti asuhan bu Leni.
"Berapa persen sudah berjalan pengerjaannya sayang?" tanya Devon.
"Baru 40 % " jawab Mika.
Mika menjelaskan pada suaminya, dirinya sudah membeli lahan yang akan dibangun RS tersebut atas bantuan papa mertua nya yang tak lain adalah Prof. Dimas.
Papa mertua Mika berjanji akan membantu pengawasan dalam pembangunan RS selama Mika hamil ini.
Sungguh Mika merasa beruntung seluruh keluarga Devon mendukungnya.
Bersambung...
Ingin tau kelanjutan atas keseruhan cerita "Lihatlah Aku" ikuti selalu ya pembaca setiaku
🙏🙏😍😍
Mohon dukungan Like, vote, hadiah dan komen - komen nya para pembaca setiaku,Terima kasih 🙏🙏😍😍
__ADS_1