Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 26


Pesawat Mika telah mengudara melewati samudra dan benua.


Mika termenung dalam kesedihannya.


Kebahagianya kini kembali meredup.


Perhatian Devon dan sikap posesifnya pada Mika hilang tidak tersisa.


Kata - kata cinta yang sering terucap Devon hanya menjadi sampah yang telah dibuang.


Ketegaran diri Mika runtuh atas nama cinta.


kebenciannya gugur dikalahkan cinta.


Walaupun Mika menyadari bahwa Devon yang dahulu sangat mencintai dirinya telah berubah dan kini dingin kepadanya.


Rasa cintanya yang besar pada Devon membuat Mika berdamai dengan situasi pelik itu.


"Apakah Devon tidak bahagia hidup denganku?" pertanyaan yang sama seperti 5 tahun yang lalu, kini hadir kembali di dalam pikiran Mika.


JAKARTA


Sedangkan di Jakarta Devon sedang asik bermain dengan baby mungil usia 2 bulan.


Berat badan baby mungil kini sudah naik menjadi 2.5 kg, kondisi kesehatannya juga stabil, dokter sudah memperbolehkan baby mungil pulang.


Hari ini Devon akan membawa pulang baby ke rumah orang tuanya di Bandung.


Senyum manis terbentuk di bibir sexy Devon.


Sebelum pulang dengan baby, Devon menyampatkan diri mengunjungi Nita.


" Hai Nit, Apa kabar?" ucap Devon dengan senyuman


"Eh kamu Dev, aku semakin baik dengan kehadiranmu" jawab Nita dengan manja pada Devon


Devon menanggapi dengan senyum manisnya.


Perhatian Devon selama ini di artikan kalau Devon masih suka dengan dirinya.


Devon yang tidak memberitahu status pernikahan, membuat Nita yakin bahwa Devon ingin kembali padanya.


Apa lagi Devon semakin perhatian pada Nita, setelah Nita menceritakan peristiwa pemerkosaan yang dialaminya sehingga membuahkan hasil baby yang sekarang dalam gendongan Devon.


"Nit, baby mu hari ini sudah bisa dibawa pulang, aku akan membawanya ke rumah orang tuaku, sampai kamu sembuh aku akan menjaga anakmu" ucap Devon pada Nita


Ucapan Devon sungguh membuat meleleh hati Nita, cintanya pada Devon semakin besar dan semangat sembuhnya lebih tinggi.


"Iya sayang" jawab Nita


Jawaban kata sayang dari Nita membuat jantung Devon sempat terkejut.


Sebelum pulang Devon menanyakan Nita tentang nama anak Nita.


"Nit, Apakah kamu sudah punya nama untuk baby mungil ini?" tanya Devon


"Sudah, yaitu Vonni Dirgantara" ucap Nita


Devon terkejut setelah Nita mengucapkan nama baby mungil yang ada di gendongannya memakai nama keluarganya.


"Bolehkan aku memakai nama keluargamu pada anakku" ucap Nita sambil berurai air mata untuk mengundang simpatik Devon


Devon hanya mengangguk tanda menyetujui permintaan Nita.


"Aku pamit pulang dulu, jaga dirimu baik -baik, cepatlah sehat demi anakmu"ucap Devon


"Iya sayang, Dev bolehkah lebih dekat lagi, aku ingin melihat anakku" ucap Nita


Devon berdiri lebih dekat lagi dengan Nita, tepatnya di samping Nita.


Mendapat situasi yang baik, Nita langsung memeluk erat Devon dan menangis.


Devon yang tidak tega dengan Nita membiarkan dirinya di peluk wanita lain selain istri sah nya.


"Dev aku tidak punya siapa -siapa lagi, kumohon tetap bersamaku, aku sangat mencintaimu" ucap Nita di sela - sela tangisnya


"Sabarlah, jangan pikirkan yang lain dulu tetap fokus dengan kesembuhanmu demi anakmu" jawab Devon untuk mengalihkan ucapan Nita


"Aku pulang ya, bye... " pamit Devon


"Bye sayang" jawab Nita


Devon tidak memperpanjang lagi obrolan mereka, Devon terus melangkahkan kalinya ke arah lobby rumah sakit.


Sepanjang kolidor Rumah Sakit Devon terus tersenyum dengan baby Vonni.


Banyak mata yang memandang keakraban Devon dan baby Vonni.


Sang supir telah menjemput Devon di depan lobby RS.


Devon telah didalam mobilnya bersama baby Vonni dalam pangkuannya.


Devon sengaja memakai supir hari ini, karena jarak tempuhnya yang cukup jauh.


Baby Vonni tertidur dalam pangkuan Devon.


Devon terus saja iseng menciumi baby Vonni yang imut dan menggemaskan itu.


Pikiran Devon melayang mengingat istrinya.


Sudah hampir 1 minggu Mika di jerman, selama itu pula Devon memutus komunikasinya dengan istrinya.


"Mika, aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangi mu, tetapi aku tidak bisa bersamamu lagi, semoga dengan sikapku ini kau akan menyerah dengan keadaan ini" ucap Devon di hatinya.


Perjalanan yang macet membuat Devon bosan.


Devon mengambil HP nya dari saku dan mulai berselancar di medsos, saat sedang asik melihat - lihat postingan di medsos, tiba -tiba masuk notifikasi messenger di WA Dan IG nya.


Saat Devon membukanya ternyata semua dari kiriman orang yang sama, yaitu Mika.


Devon membuka pesan di WA nya ternyata Mika sudah mengirim lebih dari 30 pesan dan 30 x misscall.


Devon membaca semua pesan Mika, tetapi tidak ada niat membalasnya.


Selanjutnya Devon membuka pesan Mika di IG nya, isi pesannya sama.


Mika memberitahu dirinya sudah sampai Berlin, nanyakan kabar Devon sampai aktifitas Mika selama disana.


Devon yang lelah dengan perasaannya terpaksa menghentikan bermain gedget nya.

__ADS_1


Baby Vonni terbangun dan Devon sibuk bermain ciluk ba dengannya.


Devon yang asik becanda dengan baby Vonni membuat perjalanan macetnya tidak terasa.


Bandung


Kini Devon telah sampai di rumah orang tuanya.


Devon membawa baby Vonni ke kamarnya.


Devon sudah menelepon salah satu yayasan penyedia jasa baby sister.


Baby sister Vonni akan datang besok pagi.


Devon juga sudah mempersiapkan kamar baby Vonni di kamar tamu.


Devon mempersiapkan semua kebutuhan baby Vonni seperti seorang papa terhadap anak sendiri.


Devon bahagia sekali, walaupun bukan darah dagingnya tapi berdekatan dengan anak se imut Vonni membuat Devon senang.


JERMAN


Sedangkan di benua yang berbeda, ada seorang wanita yang sudah 1 minggu menahan merasa kangen pada suaminya.


Usahanya menghubungi suaminya tidak ada hasil apa pun.


Puluhan pesan dan telepon yang dilakukan Mika terabaikan oleh yang nerima.


Mika tidak perna ada kabar apapun dari suaminya.


Demi rasa cinta pada suaminya, Mika memberanikan diri untuk menelepon ibu mertuanya.


Tut... Tut... nada telepon sebelum terangkat.


Mika : " Halo Ma"


Mama : " Halo Mika sayang"


Mika : " Apa kabar ma?"


Mama :"Mama baik sayang, gimana kabarmu? "


Mika : " Syukurlah kalau mama sehat, Mika juga sehat ma"


Mama : "Syukurlah nak, kapan pulang ke Indonesia sayang?"


Mika : "Sekitar 2 bulan lagi Ma, maafkan Mika"


Mika yang tak tahan akan kesedihannya berpisah dengan orang - orang di sayanginya, meluapkan dengan tangisannya.


Mama mertuanya yang tidak tega mendengar Mika menangis berusaha menenangkan Mika.


Setelah Mika agak tenang, mika melanjutkan tujuan utama menelepon.


Mika : "Ma, apakah mama di rumah?"


Mama : "Iya sayang, ini juga ada suami manjamu tu"


Mika : " Boleh Mika bicara dengan mas Devon"


Mama : " Siap sayang"


Mama lasung memberikan HP nya pada Devon.


Mika : " Mas, aku kangen"


Mika langsung menangis tidak tahap menahan rasa rindunya pada suaminya.


Mika terus menanyakan kabar suaminya.


Mika juga memberitahu baru bisa kembali 2 bulan lagi karena bulan depan masih ada jadwal sebagai speaker di talkshow TV Jerman.


Devon hanya menjawab iya dan tidak dari semua pertanyaan Mika.


Seperti orang asing yang sedang bertelepon.


Mika yang menyadari itu semua kembali diam.


Mika berharap Devon menceritakan kesibukan dirinya, selama tidak ada Mika di sisinya.


Tetapi Devon hanya diam dan terdengar suara tangis bayi.


Devon : " Sudah dulu ya, baby Vonni menangis"


Belum sempat Mika menjawab sambungan telepon sudah diputus sepihak oleh Devon.


Hati Mika merasa sakit sekali atas perlakuan suaminya.


"Baby Vonni?.. Siapa dia?" ucap Mika dalam hati


Hati Mika terus bertanya siapa baby Vonni, hatinya menjadi tidak tenang.


"Aku harus menjaga rumah tanggaku" ucap Mika


Mika langsung menelepon penanggung jawab program talkshownya.


Mika menanyakan berapa episode lagi acara talkshow kesehatan itu.


Pihak program talkshow bilang tinggal 4 episode lagi.


Mika menego pihak program talkshow untuk mempercepat tanggal syuting.


Mika menginginkan akhir bulan ini selesai semua urusan di Jerman.


Hatinya yang tidak tenang dengan situasi


dingin antara dirinya dan Devon.


Mika ingin menyelesaikan permasalahan rumah tangganya.


Mika tidak ingin rumah tangganya yang baru beberapa bulan ini hancur karena ke egoisan mereka berdua.


"Aku harus berjuang demi keutuhan rumah tanggaku" ucap Mika pada dirinya sendiri


Bandung


Semantara itu Devon menikmati kehidupan barunya.


Kehadiran baby Vonni membuat warna tersendiri dalam hidup Devon.


Saat Devon bekerja, baby sisterlah yang mengurus kebutuhan baby Vonni.

__ADS_1


Mama dan papa Devon juga senang kehadiran baby Vonni di keluarga mereka.


Baby Vonni banyak mendapatkan curahan kasih sayang dari keluarga Devon.


Di waktu liburnya Devon selalu mengajak baby Vonni dan orang tuanya jalan - jalan ketempat wisata.


Devon juga memiliki rutinitas lain yaitu tiap dua minggu sekali dirinya dan baby Vonni selalu menyempatkan diri menjenguk Nita.


Pertemuan mereka bertiga seperti keluarga kecil bahagia yang sedang berkumpul.


Canda tawa Devo dan Nita membuat suasana terlihat sangat harmonis.


Devon merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang.


Rasa kasihan Devon pada Nita menumbuhkan benih - benih cinta lamanya.


Kenyaman Devon bersama Nita membawanya terlalu jauh, tanda - Tanda arah ke pengkhianatan Devon semakin menjadi.


Perubahan sikap Devon tidak luput dari pandangan papanya.


Papa Devon sengaja malam ini menunggu kepulangan anaknya di ruang tamu.


Tepat jam 12 malam suara deruh mobil Devon memasuki garasi mobil.


Krek.... Bunyi pintu di buka Devon.


"Malam nak" ucap papa Devon


Devon kaget mendengar sapaan sang papa.


"Malam pa, papa belum tidur?" tanya Devon


"Belum, papa menunggumu" ucap Papa


"Aku cape pa, aku ngantuk mau tidur" ucap Devon


"Papa tunggu di ruang kerja Papa" ucap Papa yang tidak ingin di bantah atas permintaannya


Devon yang tau sifat keras dan tegas papa nya dengan berat hati mengikuti sang papa ke ruang kerjanya.


Kini papa dan Devon sudah duduk kerhadapan di meja kerja sang Papa.


"Ingin bicara apa Pa?" ucap Devon


"Bagaimana kabar Istrimu?" tanya sang papa


"Baik" jawab Devon


"Hanya kata itu sajakah, tidak adakah kalimat lain lagi?" ucap sang Papa


Devon yang merasa terdesak dengan kalimat tanya papanya.


"Maksud papa apa?...sudahlah pa aku lelah mau istirahat, hubunganku dengan Mika baik - baik saja" ucap Devon


"Kunjungilah istrimu disana, jangan menjadi laki - laki tidak bertanggung jawab" ucap sang papa yang menyadarkan Devon


"Tapi bagaimana dengan baby Vonni, aku tidak bisa meninggalkannya dalam waktu yang lama" sanggah Devon


"Istrimu adalah tanggung jawabmu dan dirimu telah berjanji pada Tuhan, jangan libatkan dirimu lebih dalam pada yang bukan tanggung jawabmu dan jangan menjadi laki - laki pengecut yang lari dari tanggung jawab suami" penjelas sang papa yang begitu dalam makna semua kalimatnya


"Tapi pa" ucap Devon


"Jangan membuat banyak alasan untuk membenarkan kesalahanmu, kembalilah menjadi suami yang bertanggung jawab dari istrimu, jangan sampai kau sesali lagi bila Mika akan pergi kedua kalinya dalam hidupmu" penjelasan papa untuk menyadarkan Devon


"Tapi bagaimana dengan baby Vonni dan Nita Pa?...aku sangat merasa nyaman dan bahagia bersama mereka" jujur Devon pada papanya tentang perasaannya saat ini


"Kau masih bisa merawat baby Vonni layaknya orang tua angkat, tetapi bukan berarti merubah statusmu, sedangkan Nita adalah masa lalu mu, bila kau lebih mencintai masa lalu mu maka tinggalkan masa depanmu" ucap ketus papa


"Tapi aku sangat mencintai Mika dan aku tidak ingin menyakiti hatinya" ucap Devon


"Dengan sikapmu sekarang hati istrimu sudah terluka, bila mencintainya tidak mungkin kamu menyakiti hatinya" jawab papa


"Aku harus apa pa?" tanya Devon


"Kembalilah ke istri sah mu sebelum semua hancur, meminta maaflah pada istrimu dan tinggalkan masa lalu mu" ucap papa dengan tegas


"Aku gak bisa pa, karena aku sudah janji dengan Nita, aku sudah berjanji akan menjaganya dan baby Vonni" ucap Devon


"Bila kau tidak bisa melepas masa lalu mu, maka jangan belenggu kebebasan istrimu dengan ke egoisanmu" ucap papa


"Aku tidak bisa melepas Mika, aku sangat mencintainya pa, baiklah aku akan pergi ke Jerman, aku akan mengunjungi Mika Minggu depan dan aku akan meminta ijin padanya agar membolehkan aku menikahai Nita" penjelasan Devon


"Gila... Jangan gila kamu" ucap papa diiringi tamparan ke pipi kanan Devon


"Bila kau berani sakiti hati menantuku maka aku yang akan menghentikanmu" ancam papa Devon yang kesal dengan pikiran bodoh anaknya


"Papa tidak berhak atas rumah tanggaku, biar aku yang menentukan sendiri" ucap Devon dengam emosi


"Jangan kau sakiti hati seorang wanita nak, karena kamu lahir dari perjuang seorang wanita dan kaka mu adalah seorang wanita" ucap sang papa dengan air mata yang menetes di ujung matanya karena tak tahan dengan sikap anaknya yang jauh berubah


Setelah ucapan terakhirnya, papa Devon pergi meninggalkan Devon sendiri diruang kerjanya.


"Haaaaaaaa...Haaaaaa....., teriak Devon sambil menarik rambutnya sendiri dengan perasaan tertekan oleh masalah yang di hadapinya.


Devon berlalu meninggalkan ruang kerja papanya.


Sebelum melangkahkan kaki ke kamarnya, Devon menyempatkan diri ke kamar baby Vonni.


Devon melihat baby Vonni bobo nyenyak di tempat tidurnya dengan ditemani baby sister yang tidur di sebelahnya.


Devon melanjutkan langkahnya ke kamarnya di lantai 2.


Devon membersihkan tubuhnya sebelum tidur.


Tubuhnya telah segar, Devon menaiki tempat tidurnya.


Kenangan Mika mulai melintas di pikirannya, Devon berniat menghubungi istrinya.


Dilihat jam pada HPnya sekarang jam 2 pagi berarti di Jerman jam 7 pagi.


Devon mulai menekan tombol hijau pada kontak telepon Mika.


Tut... tut...nada menunggu sambungan telepon.


Devon sudah 3 kali mencoba menghubungi Mika, tetapi tidak ada jawaban dari Mika.


Keterangan :


πŸ’Berat badan minimal bayi normal saat lahir 2,5 kg


🌞Waktu di Indonesia lebih cepat 5 jam dari Jerman

__ADS_1


Mohon maaf, apa bila informasi yang saya sampaikan kurang tepatπŸ™


Terima kasih untuk pembaca setiaku yang sudah mengikuti karya author, mohon dukungan Like dan votenyaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ˜


__ADS_2