
Bab 36
Devon masih berbaring di tempat tidur, walaupun kesadarannya telah kembali tetapi dirinya enggan membuka matanya.
Berharap semua hanya mimpi, Devon takut menghadapi kalau yang terjadi adalah nyata.
"Tuhan kenapa secepat ini semua berubah, maafkan hambaMu ini" doa Devon.
Devon yang masih tetap menutup matanya membuat para asisten rumah tangganya khawatir.
Sang surya sudah tenggelam dan langit sudah mulai gelap, tetapi Devon masih belum keluar dari kamarnya.
Bi Mimin yang khawatir memberanikan diri mengetuk pintu kamar Devon berkali - kali, tetapi tetap sunyi dan tidak ada jawaban apa pun dari dalam kamar.
Saat bi Mimin ingin membuka pintu, ternyata pintu sudah terkunci dari dalam.
Bi Mimin yang takut anak majikannya kenapa - kenapa akhirnya menelepon mama Devon.
Tut... tut... nada telepon menunggu panggilan di angkat.
Papa Devon : " Halo"
Bi Mimin : "Halo, selamat malam Tuan"
Papa Devon : " Iya, ada apa bi?"
Bi Mimin : "Maaf tuan, saya lancang menelepon nomor Nyonya, den Devon"
Papa Devon : "Ya, ada apa dengan Devon?"
Bi Mimin : "Den Devon sejak sadar dari pingsannya tidak mau keluar kamar dan tidak makan... saya sudah mengetuk pintu kamarnya berkali - kali, tetapi tidak ada jawaban... saat saya ingin membuka pintu kamar den Devon ternyata dikunci...saya takut den Devon kenapa - kenapa di dalam kamarnya"
Papa Devon : "Panggilkan tukang kunci, saya memberi ijin untuk membuka paksa kamar Devon"
Bi Mimin : " Baik tuan, selamat malam"
Berakhirlah percakapan telepon bi Mimin dan papa Devon.
"Ya Tuhan, apa lagi yang lakukan anak itu" ucap papa Devon yang merasa lelah dengan sikap puteranya.
Dalam hatinya papa Devon tidak tenang dengan puteranya. Dirinya takut puteranya melakukan hal - hal konyol.
Dengan berat hati, akhirnya papa Devon membangunkan istrinya untuk ijin kembali ke rumah.
"Ma... ma... mama... " ucap papa saat membangunkan istrinya.
Suara panggilan papa membuat tidur mama Devon terusik. Perlahan mama Devon membuka matanya dan melirik ke arah kiri, ternyata suaminya sudah rapi.
"Papa mau kemana malam - malam begini?" tanya mama Devon
"Papa ingin pulang ke rumah sebentar, mau melihat putera nakalmu" jawab sang papa.
Mama Devin tidak menjawab ucapan suaminya.
"Tunggu, mama ikut" ucap mama Devon.
Akhirnya mereka berdua pulang bersama kerumah diantar supir pribadinya.
Saat diperjalanan ke arah rumah, papa Devon mendapatkan telepon dari no telepon rumahnya.
Papa Devon : " Ya Bi ada apa?"
Bi Mimin : " Anu tuan, den Devon saat ini dibawa ambulans ke RS X"
Papa Devon : "Memang kenapa?"
Bi Mimin : "Den Devon kembali pingsan dan dari mulutnya keluar busa.
Papa Devon : "Saya akan kirim ambulans untuk mengantar Devon ke RS...tolong siapakan beberapa helai pakaian Devon"
Bi Mimin : "Baik tuan"
Setelah percakapan di telepon berakhir, Bi Mimin membereskan beberapa helai pakaian den.
Papa Devon segara menghubungi RS X untuk mengirim ambulans ke rumahnya.
__ADS_1
Papa Devon tetap tenang dihadapan istrinya sengaja tidak terlihat panik atas informasi dari asisten rumah tangganya.
Dirinya tidak ingin istrinya ikut cemas.
"Soleh, kita putar arah menujuh RS X" ucap papa Devon pada supir pribadinya.
Sang supir menganggukan kepalanya dan melaksanakan perintah tuannya.
"Papa ada pasien urgent?" tanya mama Devon.
"Iya" jawab papa Devon
Papa Devon sengaja tidak menjelaskan siapa pasien urgent yang di maksud.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
Tidak ada lagi obrolan yang dibahas papa dan mama Devon.
Tiba - tiba papa memerintah supirnya.
"Lebih cepat lagi sol"ucap papa.
"Baik tuan" jawab soleh, supir pribadi papa.
Akhirnya mereka tiba lebih cepat di RS X,
Papa dan mama Devon segera masuk ke UGD.
Papa Devon mencari Devon, disana terlihat Devon sedang mendapatkan pertolongan dari rekan - rekan dokternya.
Mama Devon melihat pasien urgent yang di maksud suaminya itu adalah anaknya sedikit syok, dirinya berusaha menahan emosinya. Mama Devon tidak ingin mengacaukan situasi yang sedang memberi pertolongan kepada anaknya.
Papa Devon berbincang dengan dokter yang memberikan pertolongan pertama pada anaknya.
Setelah itu, papa Devon bersiap mengambil alih dalam penanganan anaknya.
Papa Devon sudah masuk dalam ruang tindakan pada puteranya.
Mama Devon memilih menunggu di ruang tunggu depan UGD.
Mama Devon juga menelepon Intan anaknya.
Meminta Intan membawa Mika ke RS X.
Berharap dengan hadirnya Mika semangat sembuh Devon kembali.
Dirinya sempat merasa bersalah karena menyebunyikan istri Devon.
Mama Devon berharap semua akan baik kembali. Dirinya kesal dengan anaknya yang tidak bisa menjaga hati istrinya.
Walaupun mama Devon tau bahwa cinta Devon sangat besar kepada Mika.
Setelah lebih dari 1 jam menunggu, akhirnya papa Devon keluar dari UGD.
"Bagaimana pa anak kita?" tanya mama Devon.
"Racun dalam tubuhnya sudah dikeluarkan, sekarang Devon akan dipindahkan ke rawat inap" jawab papa Devon.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya mama Devon.
Papa Devon yang melihat kondisi mama Devon tenang tanpa kecemasan apa pun akhirnya menceritakan semua perbuatan Devon hingga berakhir tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, anak itu" ucap Mama yang kesel dengan sikap bodoh puteranya.
"Ayo kita keruangan papa dulu" ajak papa Devon.
Akhirnya mama dan papa Devon menunggu di ruang praktek papa Devon.
Tidak lupa mama Devon memberitahu keberadaan mereka pada Intan melalui WA.
Mereka mengistirahatkan diri, yang terlalu lelah dengan sikap anaknya.
Masalah datang terus menerus akibat ulah puteranya.
Ditempat yang lain Intan dan Mika bersiap ke RS X.
__ADS_1
Sebelumnya Intan mencoba memberi sugesti yang membuat Mika lebih tenang.
Melihat mood Mika sudah bagus dan tingkat ketenangannya stabil.
Intan menceritakan apa yang terjadi pada Devon.
Walaupun dalam hati ada rasa kesal dan marah pada suaminya tetapi Mika tetap peduli pada papa dari anak yang dikandungnya.
Intan dan Mika kini sedang dalam perjalanan ke Rs X dengan taksi.
Di dalam taksi, Intan memberikan dukungan yang membuat Mika lebih nyaman dan berkurang dari cemas Mika.
Akhirnya mereka berdua telah sampai di RS X.
Saat Intan menyuruh Mika duduk dikursi roda, Mika menolaknya.
"Tidak usah kak, aku baik - baik saja koq" ucap Mika.
Intan menuruti permintaan Mika.
Mereka berdua menaiki Lift menujuh ruang praktek sekaligus ruang istirahat papanya.
Suara dentingan Lift menandakan mereka berdua telah sampai di lantai 3, Intan dan Mika terus melangkah menujuh ruang praktek papa nya.
Tok... tok... Bunyi ketukan pintu yang dilakukan intan.
"Ya Masuk" sahutan suara dari dalam ruangan.
Krek...Pintu ruangan papa terbuka.
Intan dan Mika memasuki ruang praktek sekaligus ruang pribadi papa nya saat di RS.
Kini mereka berempat telah duduk bersantai.
Papa menceritakan semua yang terjadi pada Devon.
Mika hanya menyimak semua ucapan papa mertuanya.
Besar cintanya Mika kepada Devon berkali - kali meruntuhkan tembok yang di bangun dalam hatinya.
Mika berharap dengan kejadian ini Devon bisa lebih tegas dalam bersikap.
Dalam hati Mika tidak bosan - bosan mendoakan kesembuhan suaminya.
Mika berharap suaminya lebih bijak dan menjadi suami dan papa yang baik kedepannya.
Papa Devon menelepon asistennya dan menanyakan apakah Devon sudah dipindahkan ke rawat inap, ternyata Devon sudah ada dirawat inap setengah jam yang lalu.
"Ayo kita ke ruang inap Devon" ucap papa Devon.
Ketiga perempuan berbeda usia itu pun mengikuti papa Devon.
Krek... suara pintu rawat inap Devon dibuka papanya dari luar.
Dilihat Devon sedang memejamkan matanya.
Wajahnya pucat dan tangan kirinya terpasang infus.
Mika yang tidak tega melihat keadaan suaminya segera mendekat ke Devon.
Mika mengelus dan mencium tangan suaminya.
Perlahan Devon membuka matanya.
"Benarkah ini kamu sayang" ucap Devon sambil meneteskan air mata nya.
Mika yang terharu melihat keadaan suaminya segera memeluknya.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaππ
__ADS_1
Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniππππ