Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 44


Sesampainya di rumah mereka bertiga kumpul kembali di ruang kerja papa di rumah. Mereka melanjutkan diskusi langkah selanjutnya untuk kasus Nita.


Intan sangat yakin kalau keluarga pak Sanjayalah yang mengadopsi adik Nita, tetapi keberadaan pak Sanjaya di luar negeri menjadi kendala lagi dalam mengungkap keberadaan adik Nita.


"Kak bukannya suamimu juga bertugas di Australia?" tanya Mama.


Intan yang paham maksud mama langsung menjawab dengan sangat.


"Iya betul, rencananya kalau visa kaka sudah keluar langsung kesana mama" jawab Intan.


"Memangnya mudah mencari orang yang alamat pastinya tidak di ketahui" ucap papa.


"Tenang saja pa, kaka akan meminta bantuan Om nya abang yang bertugas di kantor duta besar Indonesia di Australia" jawab Intan.


"Benarkah itu, kenapa tidak bilang dari tadi kak" ucap papa.


Intan hanya tersenyum melihat kepanikan papanya.


"Ya sudah kalau begitu kita semua tinggal tunggu kabar darimu" ucap papa.


"Siap pa, perintah dilaksanakan" jawab Intan ala militer gitu.


" Bagaimana Nita hari ini ?" tanya mama kepada Intan.


" Masih sama ma, saran kaka besok kita pindahkan saja ke RSJ" Jawab Intan.


"Iya, tolong besok kaka buatkan surat rujukan ke RSJ" ucap papa.


Setelah tidak ada lagi yang mereka bahas akhirnya mereka kembali ke kamar masing - masing untuk beristirahat.


Setelah istirahat cukup, malam harinya mereka berkumpul kembali untuk makan malam bersama.


Mika dan Devon ikut makan bersama hanya saja wajah mereka berdua agak tegang.


Tidak ada senyum yang terpancar dari keduanya.


Intan yang melihat wajah adiknya yang kusut itu kembali menggodanya.


"Kenapa dek wajahmu kusut gitu?" tanya Intan.


Devon tidak menjawab hanya diam seribu bahasa.


"Jawab dek, jangan diem saja, apa habis kesambet setan gagu ya?" tanya Intan sambil tertawa cekikikan.


Devon tetap diam tanpa merespon ucapan kakanya.


Berbeda dengan Mika yang menahan ketawa karena ucapan kaka iparnya.


"Uda ketawa saja cantik, geretong koq ketawa tidak bayar, he... he..... " ucap bocor Intan kepada Mika.


Mika yang tidak tahan akhirnya ketawa lepas di depan Devon dan keluarga suaminya.


Devon yang melihat istrinya bahagia banget akhirnya buka suara juga.


"Sayang koq kamu bahagia sekali sih ketawain aku?" ucap Devon.


"Siapa yang ketawain mas, aku ketawa karena ucapan kak Intan" jawab Mika.


"Itu sama saja" jawab Devon dengan nada agak tinggi.


Melihat Devon menaikan suaranya Mika merasa sedih dan disudut matanya mulai berjatuhan tetesan air mata.


Mika yang bersedih lebih memilih diam dan melanjutan makan malamnya.

__ADS_1


Mika hanya mengambil sedikit sayur tanpa nasi dan lauk.


Hatinya merasa sedih atas ucapan suaminya.


Mika yang tidak tahan dengan situasi itu, akhirnya ijin ke toilet.


Mika tidak pergi ke toilet, dirinya pergi ke taman belakang rumah.


Dirinya duduk kursi taman sambil berpikir dengan logikannya letak salahnya.


...Flashback Mika...


Setelah diantar kak Intan ke ruanga Devon, Mika menunggu Devon menyelesaikan menyalin rekam medis pasiennya hingga selesai.


Lalu Devon mengajak Mika ke Mall untuk makan siang disana.


Saat di mall mereka bertemu Dian yang tidak lain adalah salah satu sahabatnya sewaktu SMU.


Dian kini sudah menikah dan memiliki 1 orang anak usia 2 tahun.


Anak Dian mudah sekali akrab dengan orang lain, baru berjumpa sekali dengan Mika, anak Dian dekat sekali dengan Mika.


Akhirnya mereka melanjutkan obrolan mereka di salah satu resto.


Dian banyak bercerita masa SMU mereka, tidak lupa mereka menceritakan Aldo dan Nita


Dian yang tidak tau perkembangan cerita dari Aldo dan Nita saat ini, asik saja membongkar kebucinan Devon kepada Nita saat SMU.


Saat sedang asik - asik mengobrol suami Dian menjemput dan mengajak pulang karena ada urusan penting.


Dian dan suami serta anaknya pun pamit kepada Mika dan Devon.


Seperginya Dian, Mika mulai melanjutkan obrolan yang terputus.


Mika banyak bertanya tentang Nita dan Aldo tetapi Devon malas menjawab bahkan banyak diam dari pada menjawabnya.


Sampai pada Mika mengucapkan semua kalimat yang membuat Devon tersinggung.


"Mengapa diam, kalau itu semua masa lalu kenapa harus di ratapi, apakah nama wanita itu masih terpatri di dalam hatimu?" tanya Mika.


Devon yang mendengar pertanyaan itu terbakar emosi.


Karena tidak ingin salah ucap kembali, Devon lebih memilih diam dengan wajah tertekuk sampai sekarang.


...Back on...


"Dimana letak salahku?" tanya Mika pada dirinya.


Mika merasa kecewa atas sikap suaminya.


Cukup lama Mika berada di taman belakang, udara dingin membuat Mika kedinginan dan bersin - bersin.


Mika yang tidak ingin dirinya sakit segera masuk kedalam rumah dan menujuh kamarnya.


Mika tidak melihat keberadaan Devon dikamar, karena rasa lelah yang dirasakan Mika lebih memilih merebahkan dirinya dan akhirnya tertidur tanpa melanjutkan makan malam.


Pagi harinya Devon melaksanakan aktifitasnya seperti biasa.


Devon bersiap akan pergi ke RS X karena ada praktek pagi hari ini.


Tidak seperti biasanya Mika subuh - subuh sudah terlihat rapi dan cantik dengan polesan tipis diwajahnya.


"Mas nanti jam 11 jadi temani aku untuk interview beberapa kandidat calon karyawan RS ya di Hotel H?" ajak Mika.


Devon tetap diam tidak ada respon, Devon tidak memperdulikan keberadaan Mika.

__ADS_1


Mika yang tidak mau terpancing emosi lebih milih pergi dari kamar.


Mika memilih tidak bersarapan bersama karena sebal dengan sikap suaminya.


Mika dengan menggunakan taksi online lebih memilih pergi ke panti dahulu, sebelum mendatangi sebuah hotel yang dekat RS milik Mika yang menjadi tempat interiew.


Mika sudah sampai di panti asuhan bunda kasih.


" Ibu.... Mika kangen sama ibu" ucap Mika saat melihat bu Leni.


Bu Leni yang melihat kedatangan Mika langsung menyambut dan memeluk anak asuhnya itu.


"Datang dengan siapa Mik?" tanya bu Leni.


"Sendiri bu, tadi aku naik taksi online" jawab Mika.


"Pagi sekali nak, ayo kita sarapan pagi dulu" ajak bu Leni.


"Ayo bu, Mika sudah kangen mau makan makanan ibu" ucap Mika.


Lalu Mika makan bersama dengan adik - adik panti dan pengurus panti lainnya.


Senyum tulus terus mengembang di bibir Mika.


Setelah selesai makan, Mika menjelaskan maksud dirinya datang hari ini agar tidak ada kesalah pahaman.


Sedangkan dirumah mertua Mika, Devon kebakaran jengot mencari keberadaan istrinya.


Devon yang dibayang - bayangi rasa takut kehilangan istrinya menjadi tidak bisa kontrol emosinya.


Intan berusaha menenangkan adik nakalnya itu.


Sedangkan mama Devon sibuk menelepon no HP Mika.


No HP Mika aktif tetapi tidak di angkat.


Devon menangis dan menyesali atas sikap diamnya terhadap Mika.


Devon menceritakan semua cerita yang membuat dirinya sampai diam dan kelakuannya terhadap Mika, sehingga subuh - subuh Mika pergi.


"Kalau begitu kamu susul saja ke hotel tempat interview itu" ucap Intan kepada adiknya.


Devon akhirnya mengikuti saran kakanya untuk pergi ke hotel tersebut.


Papa Devon menyarankan agar Devon diantar supir karena emosinya lagi tinggi.


"Dek tolong kaka ya, aku titip ini untuk anak panti" ucap Intan sambil menyerahkan 2 paper bag besar kepada Devon.


"Nanti saja kak" tolak Devon.


"Itu kue basah kalau nanti - nanti bisa jamuran, lagi pula hotel yang kamu akan kunjungi itu melewati panti asuhan bunda kasih" ucap Intan.


Karena tidak ingin lagi berdebat, Devon menerima 2 paperbag itu.


Kini Devon dalam perjalanan, dirinya menelepon Mika berkali - kali, tetapi tetap saja tidak diangkat.


Beberapa pesan yang dikirim Devon pun tidak ada yang dibaca atau dibalas oleh Mika.


Bersambung...


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoπŸ™πŸ™


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


__ADS_2