
Bab 75
Seperti biasanya malam ini mama Devon menyiapakan makan malam untuk keluarganya. Mama Devon memasak semua menu yang akan di hidangkan untuk makan malam. Walaupun dirinya seorang wanita karier tetapi tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang istri.
Nyonya Dimas Bagaskara itu selalu menyempatkan waktu untuk keperluan makan suaminya. Seperti saat ini dirinya menata nasi lauk dan sayur diatas meja makan dengan rapi dan masakan yang di masaknya sangat menggugah serela yang melihatnya.
Mama Devon selalu melayani suaminya dalam mengambil nasi, lauk dan sayur yang menjadi kesukaan suaminya.
Dirinya sempat merasa kesepian karena sudah terbiasa dengan suasana makan bareng dengan anak dan mantu.Tetapi kebiasaan itu tidak ada lagi. Hal itu yang selalu membuat dirinya sedih.
Mama Devon kehilangan sosok mantu perempuan yang selalu membantunya dalam menyiapkan makan pagi dan makan malam mereka. Menantu perempuan yang sangat sempurna bagi mertuanya. Dialah Mika.
Belaian lembut papa Devon menyadarakan mama dari lamunannya dalam mengenang Mika, mantu kesayangannya.
Papa mengajak untuk makan, saat makan malam akan dimulai tiba - tiba terdengar sesuatu barang terjatuh dan pecah.
"Prank...foto keluarga Dimas Bagaskara dengan formasi lengkap dengan anak mantu dan cucu.
"Apa itu ma?" tanya papa.
"Tidak tau pa, seperti kaca yang pecah" jawab mama.
Mama Devon dengan jiwa penasarannya meminta bi Mimin melihatnya.
"Bi...bi.Mimin..." mama memanggil ART nya.
"Iya Nyonya" jawab bi Mimin."
"Tolong lihat di sana baru saja terdengar benda pecah belah jatuh ke lantai." perintah mama.
"Baik nyonya" jawab bi Mimin.
Bi Mimin mulai mencari ke arah ruangan yang ditunjuk majikannya untuk menemukan benda apa yang terjatuh.
Bi Mimim terkaget saat melihat foto keluarga majikannya hancur berantakan. Melihat banyak serpihan beling kaca bertebaran dimana - mana.
Bi Mimin kembali ke dapur untuk mengambil sapu dan serokan sampah untuk merapikan serpihan beling yang berhamburan.
Mama Devon bertanya kepada bi Mimin saat melihat bi Mimin membawa perlatan bersih- bersih.
" Apa yang pecah bi?" tanya mama Devon.
"Anu nyonya, em...foto yang tergantung di ruang keluarga jatuh kelantai" jawab bi Mimin.
Mama yang penasaran meminta ijin papa untuk melihatnya.
Mama mengikuti bi Mimin, saat melihat sebuah bingkai foto yang besar sudah dalam posisi telungkup di lantai.
"Ya Tuhan firasat buruk apa yang akan terjadi" ucap Mama Devon dalam hatinya.
Mama meminta bi Mimin untuk merapikan serpihan kaca bingkai yang pecah.
" Bi tolong bereskan dan hati - hati membereskannya" ucap mama Devon.
Mama Devon kembali ke ruang makan untuk melanjutkan makan malamnya yang tertunda.
__ADS_1
"Apa ma yang pecah?" tanya papa yang ikut penasaran.
" Foto keluarga kita pa"jawab mama.
"Koq bisa ma" tanya papa.
Papa sedikit syok atas jawaban mama yang memberitahu kalau foto keluarganya yang pecah. Setau papa bingkai foto itu terpasang sengat kuat sekali di dinding.
Baik mama atau papa Devon lebih baik menahan diri untuk diam dari pada membicarakan yang tidak masuk akal.
Mereka melanjutkan makan malam yang sempat tertunda. Dalam diam mereka melanjutkan makan mereka hingga habis.
Setelah selesai mereka duduk berdua di ruang keluarga sambil membaca - baca majalah kesehatan yang menjadi hobi papa Devon dan membaca novel yang selalu menjadi agenda rutin mama Devon dalam waktu luangnya.
Namun pikiran mereka berdua melayang - layang dan merasakan ada sesuatu yang tidak biasanya. tetapi mereka tidak mengetahui apa yang di rasakannya itu.
Akhirnya papa mengecek keadaan keluarganya satu persatu. Papa mulai dengan menghubungi anak tertuanya kak Intan. Papa bertanya - tanya keadaan kehamilannya yang sudah masuk bulan ke tujuh selain itu papa menanyakan kesehatan menantunya yang tak lain adalah suami Intan.
Papa yang mendengar kalau anak dan menantunya sehat akhirnya papa mengakhiri percakapan telepon mereka.
Pikirannya sekarang tertujuh dengan Mika. Papa yang mendapat kabar dari sekertaris Mika kalau Mika sedang melakukan operasi otak di Jerman menjadi khawatir
.
"Oh Tuhan berilah kesembuhan menantuku Mika" doa papa dalam hatinya.
Mama Devon yang melihat suaminya terdiam sambil mengurut pangkal tengah hidungnya menjadi bertanya - tanya ada apa.
"Pa, ada pa?" tanya mama.
"Maksudnya pa?" tanya mama.
Mama yang bingung maksud dari ucap suaninya meminta penjelasan yang lebih detail.
Papa akhirnya menceritakan kepergian Mika ke Jerman untuk operasi Otak.
Setelah mendengar penjelasan papa, mama Devon pun merasakan kekhawatirnya yang sama seperti suaminya.
"Lalu kita bisa tanya kabar Mika kepada siapa pa?" tanyanama
"Entahlah, papa juga tidak tau harus bagaimana" ucapa papa.
Lalu kalau Devon sendiri apa sudah ada kabar pa?" tanya mama.
Entah kebetulan atau tidak, Mama Devon teringat dengan anak bungsunya itu.
Mama berinisiatif menghubungi call center RS. Diamond untuk meminta di sambungkan dengan sejertaris Mika. Mama berharap sekertarisnya dapat memiliki informasi keberadaan Devon.
Nut...nut....nut bunyi sambungan telepon menunggu dianggkat.
CS RS. Diamond : "Halo selamat malam dengan saya Keke, maaf saya bicara dengan siapa? dan apa yang bisa saya bantu."
Mama : Selamat malam...bisa tolong sambungkan ke sekertaris Dr.Mika.
CS RS. Diamond : "Mohon maaf bu jam operasinal office sudah berakhir pukul 17:00, apakah ada yang lain yang saya bisa bantu"
__ADS_1
Mama : "Kalau begitu bisa sambungkan ke Dr.Devon, katakan kepadanya saya mama nya"
CS RS. Diamond : "Maaf bu, dokter Devon belum kembali ke RS. Diamond, setelah pergi 1 jam yang lalu."
Mama : "Pergi kemana dan dengan siapa?"
CS RS.Diamond : " Maaf bu, saya tidak mengetahui kemana dan dengan siapa beliau pergi"
Mama : "Baiklah, kalau sudah kembali katakan kepadanya agar segera menghubungi saya"
CS.RS.Diamond : "Baik bu, terimakasih atas kunjungan telepon dari anda, semoga sehat selalu...selamat malam"
Mama merasa ada sesuatu yang tidak baik menimpah Devon. Insting seorang ibu kepada anaknya salahlah tajam. Kontak batin seorang anak dan ibu memang tidak padat diragukan termasuk kontak batin mama Devon dengan Devon.
Waktu sudah pukul 23:00 tetapi kedua orang tua Devon ini masih belum juga bisa tidur. Perasaan tidak enak mengganjal didalam hatinya begitu juga dengan papa Devon, baru kali ini merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya tetapi tidak tau apa itu.
Mereka berdua berusaha untuk memejamkan mata sambil berdoa dalam hati akan ketenang dalam hati dan keselamatan untuk keluarganya.
Papa dan Mama Devon berencana akan ke RS.Diamond untuk menanyakan keberadaan Devon dan Mika.
Saat jam memasuki pukul 03:00 mereka sudah mulai di landa rasa lelah dan mengantuk. Papa dan Mama Devon baru saja memejamkan mata beberapa menit.
Tok...tok...tok..."Nyonya...tuan.."teriak bi Mimin memanggil kedua majikannya.
Mama yang baru saja memejamkan mata, terkaget dengan suara teriakan ART nya.
Mama Devon membangunkan suaminya dengan menepuk - nepuk lengan suaminya.
"Pa...papa...bangun, ada suara ribut - ribut diluar" ucap Mama.
Papa terbangun dari tidurnya dan bersama istrinya dirinya membuka pintu kamar.
"Ada apa bi Mimin?" tanya papa.
"Maaf tuan saya dengan lancang membangunkan jam segini tuan dan nyonya, diluar ada beberapa polisi yang ingin tuan dan nyonya" ucap bi Mimin.
Mendengar alasan bi Mimin, mama merasa ada sesuatu yang tidak enak dalam hatinya.
"Ya Tuhan tolong lindungi kami" ucap mama dalam hatinya.
Pasangan suami istri ini turun ke lantai satu untuk menemui tamu nya.
Melihat kedatangan papa dan mama Devon, kedua polisi itu bangun dan mengucap salam.
"Selamat malam Bapak dan Ibu, kami dari kepolisian ingin memberitahukan perihal kecelakaan yang terjadi pada anak Bapak dan Ibu yaitu Saudara Devon Bagaskara" ucap salah satu polisi yang datang.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author pemula ini, agar lebih semangat up nyaππππ
Tolong tinggalkan jejak Like dan komen dibawah iniππππ
__ADS_1