
Bab 43
Akhirnya perjalanan mereka sampai juga ke kediamanan mereka, setelah berputar - putar mencari titik terang kebaradaan keluarga Nita.
Papa dan mama sudah masuk kamar mereka untuk beristirahat.
Sedangkan Intan setelah sampai rumah dirinya langsung menelepon suami tercintanya.
Perbedaan 3 jam lebih cepat waktu Australia di banding Indonesia tidak begitu menjadi kendala bagi mereka untuk berkomunikasi.
Mereka saling terbuka dan selalu menjaga komunikasi mereka.
Intan mencerita semua aktifitas yang lakukan hari ini pada suaminya, begitu juga suaminya.
Sementara di kamar lain, ada sepasang suami istri yang saling manja - manjaan.
Sikap Mika sekarang berbeda sekali dari biasanya, mood Mika mudah berubah - ubah setelah hamil ini.
Mika yang biasanya mandiri dan tegas kini lebih baper .
Devon salah ngomong sedikit saja nangis.
Entah ini karena tertular oleh sikap manja Devon atau memang bawaan hamil.
Mika juga tidak tau kenapa begitu sifatnya.
Waktu sudah pukul 8 malam, Mika tiba - tiba ingin memakan bakso malang.
Devon yang ingin memesan via aplikasi online ditolak Mika.
Mika menginginkan makan di tempat bakso.
Devon yang terpaksa mengikuti kemauan istrinya.
Akhirnya Devon pergi mengantar Mika mencari penjual bakso sesuai keinginan Mika.
"Pejual bakso dimana yang mau kita datangi sayang?" tanya Devon.
"Gak tau, kita jalan saja nanti kalau aku cocok kita berhenti" jawab Mika.
Devon mulai menjalankan mobilnya mencari penjual bakso yang di inginkan.
Setelah berkeliling, Devon melihat penjual bakso di salah satu ruko.
"Itu sayang ada penjual bakso" ucap Devon sambil menepikan mobilnya.
Ketika mobil sudah terparkir, Mika menolaknya.
"Aku tidak mau makan bakso disini" ucap Mika.
"Lalu mau dimana sayang" ucap Devon.
"Kita cari lagi tempat penjual bakso lainnya" jawab Mika.
Akhirnya Devon menyetujui permintaan istrinya.
Sampai akhirnya Mika melihat penjual bakso yang di inginkan.
"Mas kita tukang bakso itu yuk! " ajak Mika.
Devon tersenyum dan mengikuti kemauan istrinya.
Mobil sudah terparkir, lalu Mika dan Devon sudah memesan tempat dan melihat daftar menu yang di bawakan waitress.
"Mba, saya pesan 1 es teler dan 1 orange jus dan 2 bakso beranak" ucap Mika kepada waitress.
" Maaf kak, bakso beranaknya baru saja soul out, yang ready bakso keju, bakso biasa dan bakso telor" jawab waitress.
"Ya...kalau begitu saya tidak jadi pesan ya mba" ucap Mika yang cuek membatalkan pesanannya.
Mika langsung melenggang ke luar dari kios pedagang bakso.
Sedangkan Devon masih terduduk melihat perubahan sikap istrinya.
"Mas, ayo dong" ucap Mika.
Devon akhirnya menuruti kemauan istrinya sambil meminta maaf ke pada waitress nya karena cancel pesanan.
Kini Mika dan Devon sudah di mobil.
Devon membuka pembicaraan dulu pada istrinya.
"Sayang, kenapa tidak pesan bakso yang lain saja?... tidak enak kita batalkan begitu saja makanan yg kita pesan"ucap Devon.
Mendengar ucapan suaminya Mika menangis, tangisnya sedih sekali sampai - sampai Devon menepikan mobilnya untuk menanyakan Mika.
"Kau kenapa sayang?... Apa perutmu keram? Atau anggota badanmu ada yang terluka sayang?" tanya Devon.
Mika hanya menggeleng, sambil menangis.
Devon yang penuh kekhawatiran langsung memeluk Mika untuk memberi rasa nyaman dan menghentikan tangis Mika.
__ADS_1
Namun lagi - lagi Mika menolak devon saat memeluknya.
"Kenapa sayang?" tanya Devon yang kaget atas penolakan Mika.
"Mas jahat sama aku, mas gak sayang, mas lebih membelas waitress itu dan menyalahkan aku karena cancel pesanan" ucap Mika sambil menangis.
"Bukan begitu maksud mas, oke mas minta maaf kalau salah" jawab Devon yang mengalah kepada istrinya.
Tangis Mika mulai meredah setelah mendengar permintaan maaf Devon.
"Sekarang kita cari lagi ya penjual baksonya" ucap Devon.
Setelah berkeliling Mika melihat penjual bakso yang di tempat parkirnya ramai sekali pengunjungnya.
"Pasti bakso disini enak" ucap Mika dalam hati.
"Mas berhenti, kita ke sini ya" ucap Mika sambil menunjuk yang di maksud.
"Itu ramai banget sayang" jawab Devon.
"Tetapi aku mau disini" rengek Mika.
Devon yang tidak ingin ada drama tangis - tangisan lagi, akhirnya menyetujui keinginan Mika.
Devin dan Mika sudah masuk ke warung penjual bakso itu, didalam tidak ada tempat duduk yang kosong karena semua penuh.
"Sayang, kita bungkus saja ya" ucap Devon.
"Tidak mau, aku mau makan di sini" jawab Mika.
Terpaksa Devon meminta tolong kepada waitress untuk mencarikan tempat kosong dengan alasan istrinya lagi hamil muda dan ngidam makan bakso ditempat itu.
Untung sang waitress sangat pengertian sekali, sehingga memprioritaskan wanita hamil, padahal banyak pengunjung yang waiting list menunggu tempat kosong.
Setelah mendapat apa yang di inginkan, Mika memesan 2 porsi bakso dan 1 es teler, tanpa memawarkan menu yang di inginkan suaminya.
Semua porsi makanan dan minuman yang di pesan Mika habis di lahapnya.
Devon sampai geleng - geleng kepala melihat kelakuan istrinya.
Seperti bukan Mika yang dikenalnya.
Mika yang sebelum hamil makannya sangat sedikit sekali tetapi setelah hamil nafsu makannya berubah drastis.
Devon tidak memesan apa pun karena sudah kenyang melihat istrinya makan 2 porsi bakso beranak dan 1 porsi es teler.
Setelah selesai Mika ingin langsung pulang, didalam mobil Mika merasa ngantuk sekali.
Melihat jam pada tape mobil menunjukan pukul 11 malam.
Devon yang melirik istrinya yang terlelap tidur, hanya senyum - senyum sendiri melihat sikap tidak wajar istrinya.
Sepinya jalanan membuat sepasang suami istri itu cepat sampai ke rumah.
Devon telah memarkirkan mobilnya, karena tidak tega membangunkan istrinya, akhirnya Devon menggendong istrinya sampai kamar dan membaringkan di tempat tidur.
Setelah bercuci muka dan mencuci kaki Devon menyusul istrinya ke dua Mimpi.
Pagi harinya setelah semua telah kembali ke aktifitas masing - masing.
Devon kembali praktek di pagi ini, Mika akan meninjau pembangunan RS nya yang akan ditemani kaka iparnya.
Sedangkan papa dan mama praktek di polinya
Sebelum beraktifitas mereka menyempatkan diri sarapan bersama.
Setelah selesai mereka mulai menunaikan aktifitas mereka.
"Sayang nanti kamu jangan bawa mobil ya, biar pakai mobil kak Intan saja, nanti setelah itu kita akan makan siang bersama" ucap Devon.
"Iya mas" jawab Mika.
Mika dan Intan berangkat ke pembangunan RS milik Mika.
Sesampainya di RS itu Mika mulai melihat - lihat gedung bangunan yang belum jadi itu, dan sempat berbincang - bincang dengan manager proyek dari pihak kontraktor yang diminta Mika dalam pembangunan RS baru itu.
Setelah puas dengan peninjauannya Mika meminta kak Intan menemaninya ke panti asuhan bunda kasih yang jaraknya hanya 300 meter dari RS yang sedang di bangun.
Intan menyetujui keinginan adik iparnya.
Mika melepas rindu dan kangen kepada ibu leni, adik - adik asuhnya dan pengurus panti lainnya.
Banyak hadiah yang di bawa Mika, karena Mika sudah mempersiapkannya.
Setelah berbincang - bincang dengan bu Leni mengenai kehamilannya, Mika dan Intan pamit dan kembali ke RS X.
Saat dalam perjalanan Mika bercerita banyak kepada Intan termasuk nafsu makannya yang berubah menjadi banyak.
Begitu juga Intan yang bercerita rasa kangennya kepada suaminya.
Mika menyarankan Intan agar menyusul suaminya.
__ADS_1
Intan sependapat dengan Mika, rencananya Intan akan mengunjungi suaminya setelah visa milik nya sudah selesai.
Obrolan dua sahabat ini harus berakhir karena Intan akan kembali ke poli nya dan Mika akan ke poli tempat suaminya praktek.
"Aku antar ya Mik"ucap Intan.
"Tidak usah kak" tolak Mika.
"Ayo, jangan menolak"paksa Intan kepada Mika.
Kini Intan mengantar sampai di dalam ruangan Devon.
"Adikku sayang, ini aku antarkan istri kesayanganmu" ejek Intan kepada adiknya.
Devon hanya menajamkan tatapan matanya atas ejek kaka nya. Sedangkan Mika hanya senyum - senyum melihat sikap adik kaka itu.
"Bye Mika... " ucap Intan saat meninggalkan ruang praktek Devon.
Intan melanjutkan langkahnya ke ruang praktek papa nya untuk melanjutkan pencarian alamat yang tertunda kemarin.
Kini Papa, mama dan Intan sudah siap melanjutkan pencariannya yang diantar Didin supir papa.
Setelah menyusuri jalan yang sesuai alamat yang ada akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Marco.
Seperti biasa Didin lebih dulu turun untuk menanyakan kebenaran penghuni yang tinggal kepada penjaga rumah.
Setelah Didin turun ternyata memang benar rumah tersebut kediaman keluarga Marco.
Didin pun sudah menjelaskan kepada penjaga rumah maksud mereka datang dan pihak keamanan rumah sudah menanyakan kepada pihak pemilik rumah dan pihak pemilik rumah mengijinkan mereka masuk.
Pak Marco yang di temani istrinya menyambut kedatangan keluarga Prof. Dimas sangat ramah.
Prof Dimas menyampaikan tujuan kedatanganya dan Intan ikut menjelaskan kronologi kejadian 28 tahun yang lalu berdasarkan cerita Nita.
Setelah mendengar maksud tujuan Prof. Dimas, istri pak Marco menjadi sedih.
Pak Marco meceritakan semua agar tidak ada kesalah paham.
...Flasback pak Marco...
Dimulai dari setelah Pak Marco dan istrinya yang mengadopsi bayi dari panti asuhan bunda kasih 28 tahun yang lalu.
Bayi itu berjenis kelamin perempuan dan mereka memberi nama Dea.
Dea kecil sangat menggemaskan dan imut, mereka sekeluarga senang dengan kehadiran Dea.
Saat Dea berusia 1 tahun istri pak Marco hamil anak pertamanya dan saat Dea berusia 2 tahun datanglah sepasang suami istri yang mengaku - ngaku keluarga Dea dengan didampingi 3 pengacara besar yang sering kita wara wiri di Televisi.
Awalnya Pak Marco dan istri tidak percaya dan menempuh jalan hukum karena merasa kuat atas legalitas adopsi Dea.
Setelah beberapa kali sidang dan bukti tes DNA yang mereka ajukan akhirnya pak Marco dan istri harus rela kehilangan Dea.
Berdasarkan cerita mereka Dea adalah korban penculikan dari rekan bisnis ayaknya.
Kini Dea sudah tinggal bersama ayah dan ibu kandungnya.
Pak Marco menunjukan bukti foto saat persidangan dan foto keluarga kandung Dea.
...Back on...
Mendengar cerita pak Marco, Intan menyimpulkan bahwa bayi yang di adopsi pak Marco bukan adik Nita.
Prof.Dimas dan istri serta Intan ijin pamit kepada pak Marco dan istrinya.
Akhirnya mereka melanjutkan pencarian ke alamat selanjutnya yaitu keluarga Sanjaya.
Alamat keluarga Sanjaya agak jauh yaitu di Cimahi.
Didin dengan sabar mengantarkan ketempat tujuan yang diinginkan tuannya.
Sesampainya disana Didin menanyakan kepada penjaga rumah.
Ternyata benar kalau rumah tersebut kediaman keluarga Sanjaya.
Namun sayang pemilik rumah sudah hampir 5 tahun tidak tinggal disana.
Menurut informasi penjaga rumah itu tuannya tinggal di Australia.
Saat ditanya apakah memiliki anak perempuan, security tersebut mengatakan "iya".
Namun security itu tidak tau dimana keberadaan anak tuan nya saat ini.
Pencarian mereka tidak sesuai harapan.
Akhirnya mereka pulang dengan sedikit informasi yang didapat.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
__ADS_1
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaππππ
Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniππππ