
Bab 69
Saat Meeting di RS. Diamond beberapa karyawan RS kasak kusuk membicarakan kesehatan Mika bahkan ada yang mencibir Mika.
"Suami seganteng itu koq tahan ya sama istri yang jelas - jelas jadi cacat begitu" hinaan salah satu karyawan Mika yang sempat terdengar oleh Devon.
Awalnya Devon hanya menganggap angin lalu saja, karena bagi Devon Mika adalah wanita yang kuat dan mandiri. Selain itu kekayaan yang Mika miliki itu menjadi nilai plus untuk menutup kekurangan Mika.
Devon berencana akan mengunjungi apartemen milik Shila. Devon berulang kali menelepon no telepon Shila tetapi tidak aktif juga. Devon semakin khawatir kepada Shila sampai - sampai saat meeting Devon tidak fokus apa yang sedang di persentasikan karyawannya.
Padahal saat itu kepala departemen keuangan RS.Diamond sedang mempersentasikan keuangan RS. Diamond yang terus minus pemasukan RS, bahkan beberapa investor yang baru bergabung di RS.Diamond mengundurkan diri. Keuangan RS sangat buruk sekali.
Devon hanya fokus kepada pikirannya yang terus memikirkan Shila. Setelah meeting selesai Devon langsung menujuh ke apartemen milik Shila.
Sesampainya disana Devon langsung membuka pintu tanpa ijin pemiliknya. Devon yang sudah terbiasa keluar masuk karena mengetahui kode akses membuka pintu.
Devon masuk perlahan untuk membuat suprise Shila. Benar saja Shila yang baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya kaget melihat Devon sedang tidur di tempat tidurnya.
Devon berkali - kali menahan salivanya, menahan hasratnya setelah melihat tubuh mulus dan aroma mawar dari tubuh Shila.Devon menarik tubuh Shila yang begitu menggoda baginya.
Dalam hati Shila tertawa puas, dirinya tidak perlu repot - repot harus menggoda Devon, kini Devon sendiri yang sudah tergila - gila dengan Shila.
Devon menarik Shila ke dalam pelukannya. Devon berniat untuk mencumbu bibir Shila, namun saat bibir itu mulai mendekat wajah Mika terbayang di matanya. Devon yang kaget akan hal itu spontan mendorong Shila dengan keras.
"Auw...." teriak Shila.
Devon kaget melihat shila tergeletak di lantai dengan handuk yang sudah terlepas. Devon tak kuasa menahan godaan itu. Devon mendekat kepada Shila, saat Devon akan memeluk, Shila membalas mendorong Devon.
"Pergi sana, enak saja mendorongku" bentak Shila.
Shila langsung merapikan kembali handuknya yang sempat terbuka dan pergi meninggalkan Devon.
Devon yang sudah merasa panas ini segera pelepasan mengejar Shila. Bukan lagi keramahan yang di dapat tetapi sebuah tamparan yang Shila berikan.
"Pergi sana laki - laki bodoh" bentak Shila.
Shila kesal dengan Devon yang sudah mendorongnya. Akibat ulah Devon yang mendorongnya tulang ekor Shila merasa nyeri sekali. Shila harus merasakan nyeri yang sama seperti saat masih dirutan.
Devon yang tersingung dengan ucapan Shila pergi dari apartemen Shila dalam keadaan marah.
Devon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi kearah rumah orang tuanya.
Selama perjalanan Devon terus saja mengumpat Shila. Devon merasa di rendahkan sebagi laki - laki karena keadaan Mika.
Sesampainya di rumah Devon menujuh kamarnya. Di dalam kamar Devon mencari istrinya, tetapi tidak menemukan. Devon seperti orang kerasukan yang marah, teriak dan membanting barang - barang yang ada di hadapannya.
Devon melampiaskan semua amarahnya ke pada barang - barang yang ada di kamarnya.
Kamar tidur mereka bagai kapal pecah, kemarahan yang salah alamat itu membuat suasana menjadi buruk.
Mama yang kaget karena teriakan Devon mendatangi kamar anaknya itu. Dirinya syok melihat keadan kamar yang kacau.
"Dev...sadar nak" ucap mama.
Mama dengan sengaja berbicara pelan agar Devon tidak semakin emosi.
"Aku cape ma...aku cape hidup dengan si bisu Mika" teriak Devon.
"Sabar nak...Mika tidak bisu...Mika hanya butuh sedikit terapi untuk memulihkan keadaannya" ucap Mama.
"Mama jangan coba bohongi aku, kita sama - sama orang medis dan kita tau kerusakan otak akan membuat si penderita cacat selamanya" jawab Devon.
__ADS_1
Mama hanya mengalah diam, melihat Devon yang sedang di kuasai emosi akan mudah terbakar.
"Ma aku malu ma, aku malu punya istri cacat, aku ingin pisah ma" teriak Devon.
Plak...sebuah tamparan mendarat di pipi Devon yang dilakukan oleh mama.
"Jangan sembarang bicara" bentak mama.
"Aku anak mama, tetapi kenapa mama bela terus si bisu itu" ucap Devon.
"Mika tidak bisu nak, dia adalah ibu hebat yang berjuang hidup demi anak - anakmu" ucap mama sambil menangis.
"Aku gak peduli, aku ingin terbebas dari wanita bisu itu" teriak Devon.
Semuan kejadian di kamar itu di saksikan Mika. Dirinya mendengar semua celaan suaminya yang tidak menginginkan dirinya lagi.
Intan yang melihat Mika mengeluarkan air mata dan berdiri mematung di depan pintu kamarnya merasa ada sesuatu, apa lagi Intan mendengar suara gaduh dari dalam kamar Devon.
Intan menghampiri Mika, sungguh terkejut melihat kamar itu berantakan bagai habis kena serangan bom. Intan mendekati Mika dan mengajak Mika masuk kamar Devon.
"Dek ada apa ini?" tanya Intan.
"Ini adalah salah nya, pergi kau dari hidupku, pergi kau wanita cacat" hina Devon kepada Mika.
Devon terus saja menghina Mika tanpa tau apa yang menyebabkannya marah seperti itu.Devon melemparkan koper dan baju - baju Mika di keluarkan dari lemarinya.
" Dev...plak, sadar kamu" teriak Intan sambil menampar adiknya.
Devon yang merasa tersudutkan semakin mengila, dia berteriak kepada bibi Mimin salah satu ART nya.
Bi Mimin datang tergopoh - gopoh, begitu sampai di kamat dirinya kaget melihat keadaan kamar anak majikannya itu kacau balau.
"Ada apa den?" ucap Bi Mimin.
Mika hanya mengeluarkan air mata tanpa suara, dirinya yang mendengar dan menyaksikan semua hinaan suaminya. Dadanya sesak sekali.
"Pergi kau bisu, hanya merepotkan aku dan keluargaku saja" bentak Devon dihadapan Mika.
Mika yang merasa telah habis kesabaranya akhirnya memilih pergi meninggalkan kamar itu dan masuk kedalam kamar anaknya.
Mika mengambil selembar kertas kecil dan pulpen dari dalam tas yang di pakainya. Mika menuliskan sebuah pesan kepada babysister anaknya.
Pesan yang di tulis Mika : "Sus, tolong cepat bereskan pakaian kaka Al dan baby twin ya"
Babysister Al dengan sigap merapi dengan cepat pakaian kaka Al dan baby twin.
Setelah itu Mika mengirimkan pesan kedua adiknya yang ada di ruang makan.
[Dek cepat datang kekamar kaka Al]
Pesan yang dikirim Mika.
Kedua adik nya datang, "kak ada apa?" tanya salah satu adiknya.
Mika mengambil selembar kertas kecil dan sebuah pulpen.
Pesan yang di tulis Mika: "rapikan baju kalian, kita harus pergi dari sini sekarang"
Kedua adik Mika langsung merapikan baju mereka, tidak sampain10 menit mereka sudah kembali ke kamar Al.
Mika menulis kembali: "Dek tolong bantu kaka gendong bayi twin ya"
__ADS_1
Kedua adik Mika menggendong saling satu bayi mungil itu, sedangkan babysiter Mika menggendong Kaka Al untuk turun ke lantai satu.
Setelah itu adik Mika meminta tolong pak Didin untuk membawakan barang - barang mereka dari kamar kaka Al ke dalam bagasi mobil.
Pak Didin sudah membawa 1 koper besar milik Al dan 3 tas sedang milik babysister Al dan kedua adik Mika ke dalam bagasi mobil.
Tiba - tiba Devon berteriak "Tunggu, bawa juga barang- barangmu ini dan jangan memakai mobilku"
Mika merasa terhina atas perlakuan kasar suaminya. Kemudian Mika mengirimkan pesan kepada karyawan di RS. Diamond untuk datang kerumah mertuanya dengan membawa 1 mobil minibus dan 1 mobil box.
Setelah pesan dikirim Mika dan yang lainnya menunggu diruang tamu karena cuaca diluar ruangan sedang panas - panasnya. Baby twin masih tertidur pulas dalam gendongan adik - adik Mika, sedangkan Al sudah mulai rewel berteriak - teriak.
"Papa...papa..." teriak Al.
Al sudah mulai rungsing karena sudah waktunya tidur di kasur empuknya.
Devon mendengar teriakan anaknya lebih memilih pergi menujuh kekamarnya kembali daripada menggendong anaknya yang meronta - ronta ingin digendong papa nya.
Setelah 30 menit menunggu akhirnya 2 supir RS. Diamond datang dengan 2 kendaran jenis yang berbeda.
"Siang Dok" sapa pak Mamat supir RS.Diamond.
Mika hanya tersenyum menanggapi sapaan karyawannya.
Mereka mulai memasukan semua barang - barang Milik mika kedalam mobil box, kecuali pakaiannya, keperluan anak - anak, babysister dan adiknya yang dimasukan ke dalam mobil minibus yang akan ditumpangi mereka.
Mika menepuk pundak pak Didin sambil menunjuk ke mobil.
Pak Didin paha maksud Mika, lalu pak Didin meminta kunci mobil minibus itu dari pak Mamat.
Mika mengirimkan pesan pada pak Mamat.
[Pak semua barang - barangku tolong simpan saja ke dalam ruangku di RS. Diamond]
Pesan yang Mika kirim.
Setelah itu Mika bersama anak - anaknya dan babysister anaknya beserta adik - adik Mika pergi meninggalkan rumah Devon.
Mama Devon mengejar Mika agar jangan pergi.
"Mika sayang jangan pergi nak, tolong jangan pergi nak" ucap mama sambil menangis.
Mika menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah berlawan dari mama mertuanya, lalu Mika memeluk erat mama mertuanya dan tersenyum sambil menghapus air mata yang mengalir di kedua mata mama mertuanya.
Sedangkan Intan, tidak sadarkan diri karena ulah Devon. Setelah melihat betapa teganya adik laki - lakinya terhadap istrinya.
Bibi Mimin sibuk menyadarkan Intan dengan memberi aroma minyak kayu putih yang dioleskan ke hidung Intan.
Sedangkan Devon duduk dengan santai di balkon kamarnya dengan ditemani rokok di jarinya.
Devon merasa bebas setelah istrinya pergi, Istri hanya cacat yang membuatnya malu. Tetapi ada rasa penyesalan di hatinya. Devon tidak mengapa hatinya terasa hampa setelah Mika dan anak - anaknya pergi.
Minggun depan Devon baru akan mengadakan aqiqah anaknya, namun Mika sudah pergi bersama anak - anaknya.
Bayi mungil yang belum memiliki nama itu kini telah pergi dari kehidupan Devon, sedangkan Al anak sulungnya yang selalu membuatnya kangen kini harus dilupakannya.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
__ADS_1
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author abal - abal ini, agar lebih semangat up nyaππππ
Tolong tinggalkan jejak Like dan komen dibawah iniππππ