Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 29


Devon sudah 1 bulan tinggal di jakarta.


Kedatangan Devon untuk melihat keadaan Nita membuat dirinya melupakan tanggung jawab pada pekerjaan dan istrinya.


Pesan yang dikirim sebelum pulang ke Indonesia menjadi pesan terakhir kepada istrinya.


Tidak pernah ada lagi kabar dari Devon kepada istrinya.


Fokus Devon hanya kesembuhan Nita.


Dirinya begitu telaten menyuapi, mengajak ngobrol dan mendorong kursi rodanya Nita untuk berkeliling taman RS pada pagi dan sore hari.


Devon melupakan begitu banyak tanggung jawabnya hanya demi Nita.


Devon yang terdesak akhirnya mengambil keputusan mengundurkan diri.


Surat pengunduran dirinya sudah dikirimkan pada pihak Univesitas Negri Bandung.


Devon juga melupakan tugasnya sebagai dokter di RS orang tuanya.


Telepon dari papa atau mamanya tidak pernah diangkat.


Pesan yang di kirim orang tuanya tidak pernah di lihat atau di balas.


Hidup Devon hanya untuk Nita.


Devon tidak ingin melihat Nita menderita.


Devon berencana akan membawa Nita ke rumah orang tuanya dibandung.


Seperti biasanya, setiap pagi dan sore Nita mendapat visit dari beberapa dokter yang merawatnya.


Mulai dari dokter ortopedi, dokter saraf dokter, penyakit dalam dan dokter psikiater.


Semua dokter telah memeriksa kondisi Nita.


Sejak ada Devon di sisi Nita, kesehatan Nita lebih baik.


Devon sudah menanyakan kondisi Nita kepada ke 4 dokter yang merawat Nita.


Kondisi Nita sudah memungkinkan untuk rawat jalan.


dr.Okan sebagai dokter Ortopedi menyatakan sudah boleh, tetapi Nita harus tetap harus melakukan terapi sehari 2 kali oleh ahli terapis.


Walaupun tidak menjanjikan kaki Nita akan sembuh dari lumpuhnya, tetapi dr. Okan berharap dengan terapi bisa membantu rangsangan pada saraf-saraf Nita.


Begitu juga dengan dokter saraf, dokter penyakit dalam serta dokter psikiater yang merawat Nita, mereka semua melihat perkembangan cukup baik, tetapi Nita harus kontrol sebulan sekali dan obat -obatan yang di resepkan harus di minum teratur.


Devon sudah menelepon supir nya agar besok jam 10 pagi menjemputnya di RS. Jakarta.


Devon juga sudah meminta bi Mimin untuk mempersiapkan kamar tamu satu lagi untuk Nita.


Selain itu Devon juga menghubungi seorang terapis wanita dari RS keluarga nya di Bandung untuk Nita.


Semua sudah di persiapkan sebaik mungkin oleh Devon.


Hari yang ditunggu Nita tiba, hari ini dirinya bersama Devon akan pulang ke rumah orang tua Devon.


Perjalanan yang lumayan macet membuat Nita kelelahan.


Devon memijatkan bahu Nita dengan lembut agar rasa lelah Nita berkurang.


Sedangkan supir pribadi Devon hanya geleng - geleng dengan kelakuan majikannya.


"Melupakan istri yang sempurna hanya demi wanita seperti itu" ucap supir Devon dalam hatinya


Di Bandung


Mereka telah tiba di rumah orang tua Devon.


Devon dengan hati - hati mengendong Nita keluar dari mobil menujuk kursi roda.


Devon mendorong pelan memasuki rumah besar orang tuanya.

__ADS_1


Saat masuki ruang keluarga terlihat papa dan mama Devon duduk berdua dengan sorot mata memerah menahan amarahnya.


"Siang Ma, pa" ucap Devon


"Siang tante, Om" ucap Nita


Papa dan Mama Devon hanya berdiam tanpa menjawab hanya menatap dengan sorot mata yang tajam pada mereka.


Devon yang mengetahui situasi tidak baik, segera meminta tolong bi Mimin agar mengantarkan Nita ke kamar tamu untuk beristirahat.


Kini Devon duduk dihadapan kedua orang tuanya.


"Pa, ma, Devon minta ijin agar Nita bisa tinggal bersama kita" ucap Devon


"Tidak bisa" jawab mama Devon


"Bicarakan di ruang kerja papa" ucap papa Devon


Mereka bertiga kini sudah di ruang kerja sang Papa.


"Dia adalah wanita masa lalu mu, jaga perasaan istrimu, jangan hanya obsesi masa lalumu menghancurkan rumah tanggamu" ucap sang mama sambil bersedih


"Devon tidak akan bodoh menghancurkan rumah tangga Devon, tetapi Nita kasihan ma, dia dalam kondisi tidak sempurna hidup sebatangkara ma" jawab Devon


"Rumah tangga itu banyak godaannya nak, jangan rasa kasihanmu yang salah menjadi luka di hati istrimu" ucap Mama


"Lalu kenapa dirimu ada di dekat Nita?.. Bukannya kamu pergi menyusul istrimu ke Jerman?" tanya mama Devon yang penasaran dengan kelakuan anak bungsunya ini


Devon menceritakan semua dengan detail kejadian awal di jerman hingga kenapa dirinya bersama Nita tanpa di lebihkan atau di kuranginya.


Papa Devon hanya menyimak perbicaran antara istri dan anaknya.


Setelah cukup lama perdebatan mama dan Devon akhirnya mereka berdua tetap pada pandangan masing - masing tidak ada titik temu.


Mama Devon bersikukuh tidak membolehkan Nita tinggal di rumahnya.


Dan Mama Devon menyuruh Nita membawa anaknya ketika pergi dari rumahnya.


Mama Devon tidak ingin pernikahan anaknya hancur karena kebodohan anaknya sendiri.


Devon yang tidak terima dengan ucapan mamanya sampai mengucapkan yang mengejutkan orang tuanya.


"Aku akan menikahi Nita" ucap Devon


Suara tamparan terdengar nyaring, gambar tangan tercetak jelas di pipi Devon, darah segar menetes di ujung bibirnya.


Mama Devon sempat syok atas kelakuan suaminya.


Tetapi mama Devon tidak menyalahkan suaminya.


"Aku orang pertama yang menentangmu" ucap papa Devon


"Pa, tolong jangan atur lagi kehidupanku, aku sudah dewasa, aku akan bertanggung jawab atas diriku" ucap Devon


Papa Devon hanya terdiam sambil menahan amarah pada puteranya itu.


"Bila tau putera kesayanganku seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah mau membantumu untuk melamar Mika, bila hanya membuatnya bersedih karena puteraku sendiri yang memberikan madu pada menantuku" ucap Mama sambil menangis


"Ma... " ucap Devon yang tidak tega melihat tetesan air mata mamanya.


Devon menghampir mamanya ingin mendekap mamanya tetapi mama menjauhi Devon.


"Tidak pernah ada restu dari kami untuk dirimu dan wanita itu" ucap mama dan papa Devon


"Dengan atau tanpa restu kalian aku akan tetap menikahinya" ucap Devon dengan suara pelan sekali tetapi masih dapat didengar kedua orang tuanya


"Besok pagi kalian semua harus pergi dari rumah ini" ucap sang mama


"Aku harus kemana Ma?" ucap Devon


Mama dan Papa Devon hanya diam yang meninggalkan ruang kerja itu.


Di Jerman


Mika sekarang sudah tidak mengajar lagi kampusnya.

__ADS_1


Surat pengajuan resignnya satu bulan yang lalu sudah di setujui.


Mika masih praktek hingga bulan depan.


Surat pengunduran dirinya sudah di ajukan, tinggal menyelesaikan tugasnya sampai bulan ini.


Mika melalui semua dengan penuh ke ikhlasan.


Masalah rumah tangganya yang tidak pernah ada kabar padanya tidak membuatnya membenci Devon.


Mika selalu mendoakan suaminya yang baik - baik.


Komunikasi dirinya yang tidak baik dengan suaminya tetapi tidak dengan kak Intan.


Hampir tiap mereka selalu bertukar kabar melalui Hp nya.


Mika sempat menceritakan masalah Devon pada kak Intan.


Bukan bermaksud mengadu - ngadu, tetapi Mika ingin ada solusi dari masalahnya.


Kak Intan adalah orang yang selalu mempunyai ide bagus dalam mengambil solusi menurut Mika.


1 bulan kemudian


Mika sudah bersiap dengan kepulangannya ke Indonesia.


Semua barang - barang Mika sudah dikirim ke panti Bunda Kasih 2 minggu yang lalu.


Mika juga sudah berpamitan kepada pemilik apartemen yang di sewanya.


Tidak lupa Mika berpamitan keluarga pak Edi termasuk dengan kak Dinda.


Mika diundang acara perpisahan untuk dirinya di 2 tempat dengan waktu yang berbeda.


Pagi hari Mika menghadari acara perpisahan di RS tempat Mika bekerja dan siang harinya di lakukan di kampus tempat Mika mengajar.


Semua yang hadir dalam acara tersebut merasa kehilangan Mika dan menyayangkan atas keputusan Mika, tetapi mereka menghormati keputusan Mika.


Mika telah sampai bandara menunggu kedatangan pesawat yang akan mengantarkan Mika ke Indonesian.


Mika juga telah menyiapkan mental dan fisiknya dalam menghadapi masalahnya.


Tidak ada ada komunikasi selama 2 bulan dengan suaminya, membuat Mika sudah terbiasa tanpa Devon.


Lamanya perjalanan membuat Mika terlelap dalam mimpi tidurnya.


Rasa ngantuknya mengalahkan rasa lapar dalam dirinya.


Setelah melayang kurang lebih 17 jam di udara, akhirnya Mika sampai juga di Indonesia.


Pesawat Mika telah mendarat di Bandara Udara Soekarno - Hatta.


Mika tidak memberitahu kedatangannya pada Devon.


Saat melewati pintu keluarga, ada seseorang memanggil Mika.


"Non Mika" ucap sang supir


Mika merasa ada yang memanggil mencari sumber suara tersebut ternyata supir pribadi Devon yang menjemputnya.


"Lho koq bapak ada disini?" tanya Mika yang heran kenapa ada supir Devon menjemputnya


"Saya di suruh tuan besar non" ucap sang supir


"Oo.... " jawab Mika yang paham maksud sang supir


Ternyata curhatnya kepada kak Intan kalau akan pulang ke Indonesia hari ini di sampaikan pada papa mertuanya Mika.


Kalau papa mertuanya tau, "Apakah Suamiku mengetahui kedatanganku" ucap Mika dalam hati.


Kini Mika sudah dalam mobil milik mertuanya.


Selama perjalanan mereka hanya diam, tidak ada obrolan apa pun. Perjanan yang penuh drama macet ini menghantarkan Mika kerumah orang tua suaminya.


Ingin tau kelanjutan atas keseruhan cerita "Lihatlah Aku" ikuti selalu ya pembaca setiaπŸ˜ƒπŸ™

__ADS_1


Mohon dukungan Like dan vote nya para pembaca setiaku, terima kasih πŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2