
Bab 113
Kini Devon dan Mika sudah berada di ruang praktek ortopedi. Devon akan melakukan pelepasan pen pada kakinya yang patah. Setelah kemarin di rontgen dan hasilnya bagus Devon di sarankan agar melakukan pencopotan pen.
Awalnya Devon ragu akan kesembuhannya, bahkan dirinya sudah pasrah dengan keadaannya yang di anggap sebagai hukuman atas perbuatannya yang menelantarkan dan menyakitkan hati istri dan anaknya serta kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah" ucap Devon.
Dirinya senang sekaligus terharu atas kebaikan istrinya yang dengan sabar merawat dan menerima semua kekurangan dirinya.
"Tuhan Engkau Maha Baik dan Maha Kuasa, diriku yang pendosa masih kau hadiahkan seorang bidadari berhati malaikat menjadi pendampingku" ucap dalam hati Devon.
Devon memandangi wajah cantik istrinya usai pelepasan pen di kakinya. Rasa syukur atas anugerah Tuhan membuat dirinya malu akan kelakuan bejat dirinya.
Usai operasi kecil yang di lakukan untuk pelepasan pen, Devon disarankan untuk istirahat 3 hari untuk pemulihan jahitannya, setelah itu dapat di gunakan dengan normal hanya saja harus berhati - hati ketika berjalan karena tumpuan kaki belum sepenuhnya pulih. Devon membutuhkan waktu 1 sampai 3 tahun baru dapat berfungsi normal.
Setelah itu Devon dan Mika memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang kali ini Mika yang mengemudikan mobil Devon. Selama perjalanan begitu banyak kata terima kasih yang di ucapakan Devon kepada Mika.
Sesampainya di rumah Devon langsung mengistirahatkan dirinya di kamar. Mika mengantarkan Devon hingga kamar, sedangkan Mika langsung mandi membersihkan diri dari kuman - kuman RS. Setelah itu Mika mengunjungi ketiga anak - ankanya.
Perubahan tumbuh kembang anaknya sudah banyak terlihat kaka Al, Devin dan Devina mereka bertiga sudah banyak hal yang bisa di lakukannya.
Mika menghabiskan waktu sorenya bermain dengan anak - anaknya di taman belakang rumah mertuanya.
Babysister yang menjaga ke tiga anakny pun ikut bermain dan menjaga anak - anak Mika. Tak lama kemudian kak Intan dan anak perempuannya yang di beri nama Ayunda datang ikut bermain bersama. Wajah bayi perempuan yang sangat ayu seperti wajah ibunya.
"Halo ponakan cantik ante" ucap Mika.
Mika begitu gemes melihat pipi tembem anak kaka iparnya itu.
Kak Intan hanya tertawa melihat sikap Mika yang konyol dalam perbuatan lucunya agar anak - anak dan keponakannya tersenyum bahkan tertawa melihat dirinya.
Tak lama terdengar suara ribut- ribut di ruang tamu bahkan suara teriak memanggil nama Intan dengan keras sekali.
" Intan...Intan....Intan...." suara teriakan seorang lelaki berbadan tegap.
Lelaki berbadan tegap itu adalah suami kak Intan yang terus berteriak memanggil nama Intan.
Kak Intan yang ingin menghampiri suaminya, sebelumnya kak Intan menyerahkan anaknya kepada Mika. Kak Intan takut kalau suaminya akan berbuat nekat yang berdampak buruk kepada anak mereka.
Mika yang menkhawatirkan keselamatan kaka iparnya meyuruh salah seorang babysisternya menggendong anak kak Intan. Setelah itu Mika menyusul kaka iparnya.
Mika mendapati kak Intan dan suaminya sedang berada di ruang tamu dengan sebuah kertas di tangan suaminya yang memaksa kak Intan untuk tanda tangan. Mika menghampiri kak iparnya.
"Kak" sapa Mika.
__ADS_1
Mika menyapa kak Intan seolah bertanya apa yang terjadi antara kak Intan dengan suaminya.
"Jangan ikut campur urusan kami" bentak suami kak Intan.
Baik Mika maupun kak Intan kaget mendengar bentakan suami kak Intan. Suara ribut - ribut mereka mengundang anggota keluarga lain berdatangan.
Devon, papa dan mamanya melihat perdebatan antara kak Intan dengan suaminya. Papa yang tidak tahan melihat anak perempuannya di perlakukan kasar dengan suaminya segera bertindak.
"Hentikan..." bentak papa.
Akhirnya aksi suami kak Intan pun terhenti setelah mendengar bentakan mertuanya.
"Atau yang kau inginkan?" tanya papa Devon.
"Maafkan aku pa, aku tidak bisa bersama lagi dengan anak papa, aku ingin berpisah dengan Intan, tolong tanda tangani surat cerai ini" ucap suami kak Intan.
Devon yang geram melihat kelakuan kak iparnya melayangkan tinjuan kepada abang iparnya.
"Aku pikir kau suami yang lebih baik dariku, ternyata kau tidak bedanya sama bejat bahkan lebih bejat dariku" ucap Devon dengan sinis.
"Ha...ha...tolak ukur apa yang menilai aku lebih bejat darimu?" jawab suami kak Intan.
"Anak, aku seorang yang bejat, tetapi demi anakku aku dapat berkorban apa pun termasuk nyawaku sekalian" ucap Devon yang cukup menohok kaka iparnya.
"Tidak perlu repot - repot membuat surat, besok aku sendiri yang mendaftarkan gugat cerai, sekarang silakan tinggalkan rumah orang tuaku" ucap Intan.
"Tetapi aku butuh tanda tangan surat ini saja, kau tidak perlu repot" ucap suami kak Intan.
"Pergi dan dapatkan surat pendaftaran gugat cerai dari ku atau aku akan melaporkan perselingkuhanmu kepada pimpinanmu" ancam Intan.
Mendengar ancaman istrinya, nyali suami kak Intan menciut, baginya bila Intan benar - benar nekat melapor kepada pimpinannya, maka tamat pula kariernya sebagai TNI dan niat hati ingin meminang kekasih gelap akan pupus.
Suami kak Intan pergi meninggalkan kediaman mertuanya tanpa pamit dan salam, dirinya pergi sesuka hati seperti tidak beretika.
Setelah kepergian suaminya kak Intan menangis dalam dekapan Mika. Mulutnya hanya mengeluarkan erangan tanda meluapkan kemarahannya dengan keadaan yang terjadi, air matanya mengalir dengan deras memperlihatkan kesedihan di hatinya.
"Sudahlah kak, yang sabar yuk kita ke kamar" ucap Mika.
Mika menuntun kak Intan ke kamar untuk menenangkan kaka iparnya. Mika memberi semangat kepada kaka Iparnya. Semua pengalaman terpuruknya hingga bangkit Mika cerita agar kaka Iparnya dapat bangkit seperti yang Mika lakukan.
"Dek maafkan ...maafkan adikku Devon, mungkin ini balasan Tuhan dari sikap buruk adikku kepadamu" ucap Kak Intan.
Mika merasa tidak nyaman atas ucapan kaka iparnya. Mika merasa salah bicara sehingga membuat kaka iparnya salah paham dan Mika mencoba menjelaskan maksud dari ucapannya.
"Kak Intan maaf kalau kata - kataku menyinggung kaka dan keluarga Bagaskara, tetapi jujur aku tidak ada sedikitpun bermaksud itu yang aku lakukan semata hanya memberi gambaran kak Intan agar dapat bangkit dari keterpurukan ini dan belajar dari pengalaman aku" penjelasanan Mika.
__ADS_1
Mika merasa perlu menjelaskan agar kak Intan tidak berpikir negatif terhadap Mika.
Setelah mendengar penjelasan Mika, kaka Intan lebih tenang dan menceritakan kejadian yang terjadi.
Kak Intan menceritakan masalah rumah tangganya kepada Mika tanpa ada yang di tutupi sedikitpun. Di mulai dari mencerita kalau malam sebelum dirinya akan melahirkan, suaminya meminta ijin untuk menikah kedua kalinya, walaupun hanya nikah siri saja. Alasan suami kak Intan karena wanita itu telah mengandung anaknya. Kak Intan yang tidak ingin di madu menentang keinginan suaminya bahkan sampai mengancam akan mengadukan kepada pimpinan bila berani nikah diam - diam. Setelah itu suami kak Intan pergi tanpa tau kemana hingga dirinya melahirkan puteri pertama mereka.
"Astagfirullahaladzim" istigfar Mika.
Mika beristigfar karna begitu kaget dengan cerita sebenarnya. Mika pun bertanya kembali kepada kaka Ipar.
"Apa papa dan mama mengetahuinya?" tanya Mika.
Kak Intan menggelengkan kepalanya. Mika yang melihat kesedihan mendalam di mata kaka Iparnya kembali memeluknya. Mika tidak ingin kaka iparnya merasa tertekan kembali dengan pertanyaannya.
Setelah kak Intan mulai tenang, Mika menyarankan agar kak Intan istirahat dan untuk si cantik biar Mika yang akan menjaganya.
"Dek besok temani aku untuk ke pengadilan agama Bandung" ucap Kak Intan.
Mika yang mendengar permintaan kak Intan begitu bingung harus berbuat apa. Mika kembali menanyakan kembali keinginan kaka iparnya sekaligus memberikan masukan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Setelah memberikan masukan kepada kak Intan tentang dampak dari sebuah peceraian pada anak dan lainnya, akhirnya kak Intan memberi sebuah keputusan yang terberat dalam hidupnya.
"Aku akan tetapi bercerai, karna hatiku tidak seluas hatimu dek dan cintaku tidak ingin dibagi dengan wanita lain" ucap Kak Intan dengan tegas.
Mika yang mendengar ucapan kaka iparnya membuat hatinya terenyuh hingga meneteskan air mata di hadapan kaka iparnya.
Setelah itu mereka berdua berpelukan untuk saling menguatkan dan dengan berat hati Mika pun mengiyakan keinginan kak Intan.
"Ya kak, besok aku akan menemanimu, aku tidak ingin kakaku menderita dari belenggu cinta yang penuh pengkhianatan" ucap Mika.
"Terima kasih dek" jawab Intan.
Setelah itu Mika pamit untuk melihat anak - anak yang sedang bermain di taman belakang dengan babysister mereka.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Ingin tau kelanjutan yang terjadi dengan Mika dan cerita lainnya, ikut selalu ya Lihatlah Aku.πππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaππππ
Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniππππ
__ADS_1