Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 86


Sore harinya setelah acara sudah mulai usai dan parah tamu pun sudah pulang dari rumah mertua Mika ke kediaman mereka masing - masing. Tiba - tiba HP papa terdengar suara telepon masuk.


Kring...kring...kring...suara HP papa Devon.


Papa melihat no tidak dikenal memanggilnya, papa menekan timbol hijau untuk menerima panggilan itu.


Papa : " Halo"


Ahmad : "Halo, selamat siang pak"


Papa : "Siapa ini?"


Ahmad : "Saya Ahmad pak, kaka nya Mae"


Papa : "Oiya Mad, ini nomor HP mu"


Ahmad : "Iya pak, ini no saya baru beli tadi pagi berikut HP nya pak"


Papa : "Iya Mad, kamu sudah daftar kejar paket C?"


Ahmad : "Sudah pak, saya sudah daftar dan sudah mendapat buku panduannya yang harus saya pelajari, Insya Allah 3 bulan lagi saya ikut ujian UAN "


Papa : "Alhamdulillah Mad, kalau Mae gimana apakah jadi meneruskan SMA nya tahun ini atau mau ikut kejar paket C sama dengan mu?"


Ahmad : " Insya Allah tahun depan akan melanjutkan SMU pak"


Papa : "Mengapa harus tahun depan Mad?"


Ahmad : "Menunggu saya dapat kerja dulu pak buat biaya sekolah Mae"


Papa : "Jangan tunggu tahun besok, daftarlah tahun ini, kamu carilah sekolah yang Mae mau dan beritahu kepada Bapak berapa biayanya"


Ahmad : " Tetapi pak, saya dan keluarga malu terlalu banyak menyusahkan keluarga Bapak dan bang Devon"


Papa : "Tidak apa Mad, kami sekeluarga berhutang nyawa dengan keluargamu...o ya Mad apakah sudah membuka rekening di bank?"


Ahmad : "Tidak apa pak itu pertolongan Tuhan melalui kami...oiya pak saya sudah membuatnya"


Setelah itu Ahmad memberitahu no rekening kepada papa Devon. Papa Devon berjanji tiap bulan akan mentransfer untuk biaya sekolah Ahmad dan Mae.


Setalah mengobrol hampir 30 menit akhirnya terputuslah telepon itu dengan pesan kirim salam untuk seluruh keluarga papa Devon.


Mama yang melihat papa sedang asik bertelepon di ruang kerjanya menjadi ingin bertanya.


"Telepon dari siapa pa?" tanya mama Devon.


"Dari Ahmad ma" jawab papa Devon.


Papa yang tidak ingin ada ke salah pahaman segera menjelaskan kepada istrinya siapa Ahmad dan apa yang mereka bahas tadi di telepon semua di jelaskan papa kepada istrinya.


Papa selalu saja terbuka kepada istrinya hal itu pula rumah tangga mereka awet hampir 43 tahun usia pernikahan mereka.


Setelah itu pasangan opa dan oma ini pergi ke kamar cucu mereka untuk bermain bersama mereka.


Kepolosan dan kegembiraan cucu mereka menjadi penghibur bagi papa dan mama Devon.

__ADS_1


"Pa apa sudah mengurus semua dokumen cucu - cucu kita dan babysisternya untuk kepergian kita ke Jerman?" tanya mama.


"Untuk cucu kita sudah. Hanya tinggal 3 babysister saja ma" jawab papa.


Lalu mama meminta ketiga babysister cucu mereka untuk kelengkapan dokumen mereka untuk pembuatan paspor dan visa mereka.


Ketiga babysister itu memberikan dokumen yang dibutuhkan untuk kelengkapan yang di minta majikannya.


"Ini nyonya" ucap salah satu babysister mereka.


Babysister itu sudah memberikan dokumen yang di minta nyonya besar.


Sementara di belahan benua eropa tepatnya di negara Jerman Mika sedang melakukan aktifitasnya yaitu terapi.


Mika dengan sabar dan bersemangat melakukan terapi itu. Dirinya ingin bulan depan saat anak dan mertuanya datang dja sudah dapat berbicara normal.


Emin selalu sabar menunggu Mika, walaupun tidak setiap hari menemani terapi.


Malam ini Emin mengajak Mika dinner di cafe langganan mereka saat dulu ketika mereka masih kulia.


Mika sudah menyetujui karena Mika kangen dengan ice cream favoritnya di cafe itu.


Emin berjanji akan menjemput pukul 7 malam di apartemen Mika. Mereka akan melaksanakan pertama kalinya dinner setelah Mika tidak lagi di rawat di Helios Hospital.


Seminggu yang lalu Mika sudah tidak dirawat di Helios Hospital, dirinya memilih menyewa apartemen tempat dirinya tinggal dulu saat di Jerman.


Mika yang sudah bisa berbicara perlahan pastinya dirinya lebih nyaman bila di apartemen di banding di Hospital.


Berbeda sebulan yang lalu dirinya harus di Helios Hospital karena Mika masih belum bisa berbicara.


Malam itu rupanya Mika tidak berdua saja, dirinya mengajak Dinda anak pak Edi untuk ikut dinner bersama.


Saat mereka sudah sampai di cafe itu Mika memilih tempat duduk di outdoor, Mika ingin merasakan suasana di luar ruangan untuk makan malam itu. Tak lama datanglah Dinda sambil melambaikan tangannya.


"Hai adikku cantik" ucap Dinda.


"Ha...kak Dinda" jawab Mika.


Mereka berdua saling berpelukan melepas kangen, mereka sudah seminggu tidak bertemu karena Dinda ada kerjaan di Inggris dan Spanyol yang membuat mereka tidak ada waktu bertemu.


"Hai Emin" sapa Dinda saat melihat Emin duduk di hadapan Mika.


Dinda memang memiliki rasa kepada Emin, seringnya berjumpa dan berkomunikasi mengenai Mika menumbuhkan benih cinta pada hati Dinda.


Emin hanya tersenyum menanggapi sapaan Dinda dan menyarankan Dinda agar segera pesan makan.


Setelah beberapa menit akhirnya pesanan mereka sudah datang termasuk pesanan Dinda. Merela makan salam diam. Makanan mereka bervariasi tetapi yang paling mencolok makanan Dinda dan Emin sama hanya saja minuman mereka yang berbeda.


Mika yang sudah mengetahui kalau Dinda memang menyukai Emin sengaja mendekatkan mereka. Mika memang dulu sebelum bertemu kembali Devon dirinya sempat tertarik dengan kebaikan Emin tetapi cintanya kepada Devon mengalahkan perasaan sesaatnya itu.


Setelah makan malam itu Mika mengajak untuk berjalan - jalan sebentar di taman kota setelah itu mereka baru memutuskan pulang.


"Kak Dinda naik apa kemari?" tanya Mika.


Mika yang sudah melarang Dinda membawa kendaraan berpura - pura bertanya.


"Taksi Mika" jawab Dinda.

__ADS_1


Mereka berdua memang sengaja membuat kesepakatan agar Dinda naik taksi, walaupun Dinda tidak mengetahui tujuan Mika apa.


"Sudah malam Din, biar aku yang mengantarmu" ucap Emin.


Emin memang laki - laki yang baik, tanpa di minta pun dirinya selalu peka terhadap situasi itu.


"Tetapi rumahku lebih jauh dari apartemen Mika" ucap Dinda.


Jujur Dinda tidak ada pemikiran sejauh ini, semua ini rencana Mika untuk menjodohkan Dinda dengan Emin.


"Tidak jadi masalah, kita antar Mika dulu setelah itu aku akan mengantarmu" ucap Emin.


"Baiklah, terima kasih Emin" ucap Dinda yang di selangi senyum manisnya.


Emin menganggukan kepalanya dan Emin sempat terpesona dengan senyuman Dinda. Bahkan dirinya cukup mengagumi ke mandirian Dinda dan ketegasan Dinda dalam bersikap.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang, Emin sengaja memarkirkan mobilnya dan mengantar Mika sampai depan pintu apartemennya.


Mereka bertiga menaiki lift untuk sampai lantai 8 tempat Mika tinggal.


Ting...suara lift berbunyi di iringi pintu lift terbuka.


Mereka jalan beriringan dan sampailah Mika di depan pintu apartemennya. Lalu Dinda dan Emin pamit pulang.


Selama perjalanan pulang mereka berdua saling curi - curi pandang hanya saja mereka berdua masih ragu dengan perasaan mereka. Tiba - tiba hujan lebat turun disertai angin kencang.


"Din, kita berhenti sejenak ya di apartemenku, hujannya deras sekali..jarak pandangku tidak bisa melihat depan" ucap Emin.


"Iya" jawab Dinda.


Hujan lebat yang tiba - tiba turun itu sangat menyulitkan siapa pun yang mengemudi. Jarak pandang yang sulit akibat angin yang besar menerpa.


Emin dengan cepat membelokan mobilnya ke apartemennya yang kebetulan di seberang jalan yang sedang mereka lalui.


Emin memarkirkan mobilnya dan mengajak Dinda untuk menunggu hujan redah di apartemennya.


Dinda hanya mengikuti tanpa banyak bertanya dan Dinda tidak lupa menelepon mama nya untuk memberitahu kalau sedang ada hujan lebat di sertai angin badai dan kini dirinya sedang menunggu hujan itu redah di apartemen milik temannya.


Mama Dinda mempercayai Dinda karena cuaca ektrim itu disiarkan langsung di Tv national Jerman.


Kini Dinda sudah sampai di apartemen milik Emin. Dinda di persilakan masuk dan di beri teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Emin juga sudah menyalahkan penghangat ruangan di apatemennya.


Sambil menunggu hujan Dinda membuka beberapa laporan di HP nya, dirinya mengecek beberapa laporan dari beberapa outletnya yang ada di beberapa negara di eropa.


Emin yang melihat Dinda dengan sibuk dan trampil dalam bekerja mengingatkan pada dirinya yang senang bekerja tanpa menyia - nyiakan waktunya.


Bersambung...


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


Ingin tau kelanjutan ceritanya ikut selalu ya Lihatlah Aku.πŸ˜πŸ˜πŸ™


Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoπŸ™πŸ™


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


Tolong tinggalkan jejak Like dan komen dibawah iniπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2