
Bab 83
Berbeda dengan Devon, kehidupan Mika yang sudah sedikit demi sedikit kebahagian dalam hidupnya kembali menghampirinya.Sedangkan Devon baru saja menjalani fase hidup penuh kesengsaraan karena kesalahannya.
Devon yang mengalami patah tangan dan kaki kirinya membuat dirinya tidak berdaya. Dirinya hanya tergolek lemah dilantai yang hanya beralaskan kasur lantai tipis milik Mae.
Mae adalah gadis belia yang rela mengorbankan apa saja asalkan Devon bahagia. Pertemuan dirinya dengan Devon seminggu yang lalu membuat dirinya bersikap nekat.
Pagi ini saat kondisi rumahnya sepi Mae hampir nekat melakukan pelecean kepada Devon. Mae sudah membuka baju Devon yang menunjukan roti sobek di perutnya. Mae yang tidak tahan atas godaan itu membuat Mae melakukan hal konyolnya.
Awalnya Mae hanya mengelus pipi mulus Devon lama - kelamaan Mae nekat mulai meraba bibir Devon. Kenekatan Mae tidak sampai di situ saja. Dirinya ingin melakukan yang lebih kepada Devon.
Aksi nekat Mae tanpa di sadari sudah terlihat oleh kakanya. Mae sudah mulai mendekati diri Devon yang sedang terbaring dalam tidurnya.
Mae yang akan mencium bibir Devon dan tiba - tiba tubuhnya tersungkur ketanah.
"Auw..."teriak Mae.
"Apa yang kamu lakukan Mae?" ucap kaka Mae.
Mae kaget bukan main saat mengetahui kelakuannya di ketahui kakanya. Mae pun berkelak agar tidak di marahi kakanya.
"Ah ngga, aku hanya ingin membantu Aa ganteng" jawab Mae.
Kaka Mae semakin marah ketika mendengar adiknya berbohong untuk menutupi kesalahannya.
Kaka Mae yang geram dengan kelakuan adiknya lalu menyeret adiknya keluar rumah.
Diluar rumah dirinya menasehati adiknya habis - habisan. Kata - kata kasar pun terucap dari kaka Mae karena selalu mendapat bantahan adiknya, sampai terucap sebuah kalimat yang menghentikan Mae untuk membantah ucapan kakanya.
"Mae, kita bukan orang kaya yang dapat bersedekah kapanpun untuk mengharap ridho Tuhan, kita bukan orang yang sholeh dalam menjalankan perintahNya, kita tidak memiliki apa punyang dapat di banggakan, kita miskin harta, miskin ilmu tetapi kita jangan miskin iman" ucap Kaka Mae.
Mendengar ucapan itu Mae hanya bisa menangisi kebenaran ucapan kakanya.
"Jangan hanya karena nafsu di dirimu membuat niat muliamu menolong menjadi ladang dosa untukmu" nasehat kaka Mae.
Mae hanya bisa menangis atas kelakuannya, tetapi Mae masih angkuh untuk mengakui kesalahannya di depan kakanya bahkan Mae mengucapkan kalimat pembelaan.
"Aku mencintainya kak, nikahkan aku dengannya agar tidak ada dosa lagi yang aku perbuat" ucap Mae.
Plak....sebuah tamparan mengenai pipi kanan Mae.
Rasa sakit yang Mae terima membuatnya tersenyum licik kepada kaka nya.
"Jangan salahkan aku bila aku akan menggunakan caraku untuk mendapatkannya" teriak Mae.
"Jangan keterlaluan kamu Mae, Devon itu suami orang, istri dan anaknya sedang mencarinya bukan kau memaksakan kehendakmu, janganlah kau tutup kebaikan hatimu hanya karena nafsumu" ucap kaka Mae untuk menyadarkan adiknya.
Suara teriakan Mae membangunkan Devon. Dirinya sungguh terkejut saat melihat kancing kemejanya sudah terbuka. Devon pun sayup - sayup mendengar sebuah pertengkaran dengan menyebut - nyebut namanya.
Suara pertengkaran itu akhirnya terdengar jelas antara Mae dan kakanya setelah Devon mendengar seorang perempuan memanggil kata kaka.
Devon mendengarkan semua kalimat yang terucap kedua kaka beradik itu. Devon pun mengetahui permasalahan ketegangan diantara kaka dan adiknya itu adalah dirinya.
"Tuhan tolong aku, maafkan kesalahan hamba kepada istri dan anak - anakku, berilah kesempatan kepada hamba agar dapat berkumpul kembali dengan keluarga hamba" untaian doa yang di ucapkan Devon.
Devon yang terbaring lemah dengan keadaan yang serba kesulitan dalam bergerak. Devon mencoba mengancing kemejanya dengan satu tangannya. Devon belajar duduk dan berdiri.
Sementara itu Mae masih saja mencari pembenaran atas dirinya, walaupun awalnya sudah hampir sadar tetapi tetap saja kekeh meminta Devon menjadi pasangannya.
Sedangkan kaka Mae yang kesal atas kelakuan adiknya tidak bosan - bosan menasehati adiknya. Walaupun tau kalau nasehatnya hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Mae yang merasa terpojokan memeilih pergi dari rumahnya dari pada mendengar ceramah kaka nya yang dianggap penghalang dalam mencapai tujuannya.
Kaka Mae memilih masuk kembali kedalam rumah untuk bertemu Devon dari pada mengejar adiknya yang marah. Kaka Mae menghampiri Devon yang sedang belajar berdiri.
"Bang Devon mengapa berdiri?" tanya kaka Mae.
"Aku ingin mencoba berjalan dek, aku ingin cepat pulang menemui istri dan anak- anakku" jawab Devon.
Devon sengaja mengucap kata istri dan anak agar mereka tidak memaksakan dirinya dengan Mae. Kekhawatir terbesar Devon saat ini ketika keluarga Mae meminta anak gadisnya di nikahkan oleh Devon sebagai imbalan hutang budinya.
Kaka Mae mendekat dan menatih Devon untuk kembali duduk di kasur lantainya. Devon pun mengikuti kemauan laki -laki yang usianya jauh di bawah usianya, mungkin seusia dengan Mika istrinya.
Setelah Devon sudah posisi duduk kaka Mae mulai berbicara untuk permasalahan yang terjadi kepada Devon, walaupun Devon sendiri sudah mengetahui sedikit inti dari permasalahan itu adalah kehadiran dirinya.
"Bang aku akan membantumu, tetapi aku tidak punya cukup uang untuk ongkos kendaraanmu" ucap kaka Mae dengan jujur.
"Terima kasih atas pengertianmu dek, tolong bantu carikan aku sebuah taksi, aku akan membayarnya setelah sampai di rumahku di Bandung" ucap Devon.
"Tetapi bang apa mereka percaya dari ucapanku dengan melihat penampilanku seperti ini?" tanya kaka Mae.
Devon yang menyadari bahwa terkadang manusia lebih melihat penampilan dari pada kenyataan. Devon memikirkan cara agar melancarkan rencananya.
Devon yang melihat cicin pernikahannya dengan Mika yang melingkar di tangan kanannya menjadi jawaban dari rencananya.
"Dek tolong bantu aku melepaskan cincin pernikahanku, tolong jual ke toko emas itu, jangan lupa mencatat alamatnya" ucap Devon.
Kaka Mae membantu melepaskan cincin Devon tetapi masih bingung dengan perintah Devon untuk menjual cincinnya. Kaka Mae pun bertanya kembali kepada Devon.
" Bang bukankah ini cincin pernikahan abang, mengapa ini dijualnya?" tanya kaka Mae dengan polos.
__ADS_1
Devon pun menjelaskan kepada kaka Mae kalau uang penjualan cincin itu untuk ongkos pulangnya ke Bandung dan Devon meminta alamat toko emas itu agar Devon dapat menebus kembali cincin pernikahan itu bila sudah kembali ke Bandung.
Kaka Mae pun sekarang telah paham maksud dari Devon. Dirinya langsung menjalankan perintah Devon untuk pergi ke kota, karena rumah mereka yang jauh dari kota membuat mereka menjadi masyarakat yang tertinggal dengan kemajuan yang ada sepeda ontelnya, satu - satunya kendaraan yang keluarga Mae ini. Kendaraan yang selalu di gunakan untuk kekota.
Kaka Mae ********* sepeda tua nya untuk sampai di kota sekelah mengayuh sepeda berkilo - kilo akhir sampai juga di kota. Kaka Mae mencari toko perhiasan emas yang ada di kota.
Saat dirinya memasuki toko, para pelayan seperti kurang suka dengan kedatangan kaka Mae, mereka berpura - pura tidak melihat karena penampilan kaka Mae yang dekil.
Dirinya beberapa kali memanggil pelayan yang ada di depannya tetapi semua seakan tidak melihat dan mendengar kaka Mae.
Setelah 10 menit menunggu, dengan berat hati kaka Mae ingin pergi dari toko perhiasan itu.
Saat dirinya melangkah tiba - tiba dirinya di tepuk seseorang.
"Kau ingin membeli atau menjual sesuatu?" tanya seorang bapak tua.
Kaka Mae dengan polosnya menjelaskan tujuan untuk mejual sebuah cincin pernikahan dan kaka Mae menjelaskan kejadian yang dialami Devon, dirinya tidak ingin dianggap pencuri.
"Boleh saya lihat cincin itu" ucap bapak tadi.
Kaka Mae memberikan kepada bapak itu.
Setelah melihat cincin itu bapak di hadapan kaka Mae menangis sambil memeluknya.
"Alhamdulillah, terima kasih atas kebaikanMu ya Tuhan" ucap Bapak itu.
Kaka Mae bingung dengan bapak di hadapannya yang menangis dan memeluknya.
"Bapak kenapa?" tanya Kaka Mae.
Bapak itu tak lain adalah Prof.Dimas Dirgantara, papa dari Devon. Dirinya yang sedang memberi penyuluhan kesehatan pada daerah - daerah tertinggal.
Dirinya yang berniat membeli sebuah kalung untuk cucu perempuannya Davina membuat dirinya di pertemukan dengan ke ajaiban Tuhan.
"Antar saya ke Devon" jawab papa Devon.
Kaka Mae bingung kenapa bapak di hadapannya mengenal Devon. Lalu dirinya bertanya kembali untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Bapak mengenal bang Devon?" tanya kaka Mae.
"Ya aku bapaknya Devon" jawab papa Devon.
Mendengar kalimat itu kaka Mae senang sekali dan langsung mengajaknya ke rumahnya. Kaka Mae siap mengendarai sepedanya, tetapi papa Devon melarangnya. Dirinya mengajak kaka Mae masuk mobil bersamanya dan sepedahnya di ikat di atas mobil oleh Udin supir papa Devon.
Perjalanan mereka diisi dengan obrolan antara papa Devon dan kaka Mae. Papa Devon tidak lupa mengucapakan terima kasih atas kebaikan keluarga Mae yang mau menolong Devon hampir dua minggu ini.
Sesampainya dirumah Mae papa Devon langsung mengikuti langkah kaka Mae untuk masuk kerumahnya.
Kaka Mae merasa senang akhirnya orang yang di tolongnya dipertertemukan kembali oleh keluarganya.
"Ada apa dek?" tanya Devon.
Devon yang sedang berusaha bangun dari duduknya dengan bantuan tongkat kayu.
"Stop bang, ini milik bang Devon saya.
Kaka Mae menyerahkan sebuah cincin pernikahan Devon yang di dalam cincin itu terukir nama Devon dan nama Mika.
Tak lama dari kejadian yang mengharukan antara Devon dan kaka Mae terjadi. Devon mendengar namanya di panggil.
"Devon anakku" ucap Papa.
Devon yang mendengar suara papanya langsung melihat kebelakannya. Ternyata papanya benar ada di hadapannya saat ini, air matanya menetesi di sudut matanya.
"Papa" ucap Devon.
Devon bersyukur kepada Tuhan atas semua kebaikannya yang di beri kepadanya. Padahal Devon sadar akan kesalahannya yang luar biasa untuk sulit di maafkan.
Papa Devon yang melihat kondisi anaknya tidak baik akhirnya mendekat dan mendudukan kembali ke kasur lantai.
Setelah itu mereka berbincang - bincang sebentar sebelum Devon dan papanya memutuskan pulang. Papa Devon memberikan selembar cek kosong yang sudah di tanda tangani papa Devon.
"Tolong terima ini dari kami, silakan tulis berapa pun yang kamu mau" ucap papa Devon.
Papa memberika selembar cek kosong tanpa nominal bukan untuk kesombongan dirinya tetapi sebagai rasa terima kasih kepada keluarga Mae yang sudah menyelamatkan Devon dari maut.
Devon yang menyaksikan semuanya hanya terdiam sambil memperhatikan semua sekeliling dirinya.
"Tidak pak, kami sekeluarga menolong bang Devon ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun" jawab kaka Mae.
Devon dan papa nya sungguh terharu dengan ketulusan kaka Mae. Devon dan papa nya merasa beruntung di pertemukan orang sebaik kaka Mae.Sungguh jarang sekali bisa bertemu dengan orang sebaik dan setulus kaka Mae.
"Nak, kamu sekolah lulusan apa?" tanya papa Devon.
"SMP" jawab kaka Mae.
Kaka Mae menjelaskan kalau sekolah sampai SMP karena untuk sekolah SMU atau SMK tidak ada di desanya. Dirinya harus pergi ke kota besar.
Kaka Mae terpaksa mengubur cita - citanya karena selain jarak yang jauh tetapi faktor ekonomi keluarganya juga mempengaruhi terputusnya sekolah kaka Mae.
Devon yang mendengar percakapan papa Devon dengan kaka Mae langsung memberikan saran yang terbaik buat kaka Mae.
__ADS_1
"Dek, mau kah kamu ikut kejar pake C untuk mendapatkan ijazah dan melanjutkan kuliah?" tanya Devon.
"Saya mau bang, memang saya ada rencana ke arah sana, tetapi menunggu uang saya cukup" jawab Kaka Mae.
Papa Devon paham maksud yang Devon tawarkan kepada kaka Mae. Papa Devon dengan sigap menjadi orang tua asuh kepada kaka Mae.
"Uruslah program paket C itu nak, saya yang akan menjadi orang tua asuhmu" ucap papa.
"Benarkah itu pak?" tanya kaka Mae.
Kaka Mae merasa luar biasa senang dapat mewujudkan keinginannya yang sempat tertunda. Kaka Mae beruntung sekali di temukan dengan Devon dan papanya.
Kaka Mae merasa selama ini orang kaya sombong dan angkuh, namun ketika melihat Devon dan papanya dirinya merasa beruntung sekali dapat di pertemukan oleh orang kaya yang baik sekali.
Setelah kaka Mae yang bernama Ahmad itu setujuh mendaftar paket C di kota dan rencananya setelah lulus dirinya akan kulia di Bandung sesuai permintaan Devon kepada Ahmad.
"Peganglah ini" ucap papa Devon.
Papa Devon menyerahkan uang cash sebanyak 3 juta rupiah.
"Nak Ahmad, ketika di kota buatlah rekening dan beli lah HP untuk alat komunikasi kita" ucap papa Devon.
"Iya pak" jawab Ahmad.
Papa Devon menjelaskan juga kepada Ahmad kalau no rekening itu berguna untuk tiap bulan mentransfer untuk biaya sekolah Ahmad. Sedangkan HP untuk komunikasi mereka.
Devon yang mendengar saran papa nya itu sangat setujuh bahkan sangat mendukung. Bahkan Devon memberikan saran agar Ahmad ikut tinggal dengan keluarganya di Bandung.
Ahmad bukan tidak mau atas saran Devon, hanya saja Ahmad merasa takut banyak membebani keluarga Devon selain itu dirinya juga harus menjaga adik dan kedua orang tuanya.
Setelah berbincang - bicang dan Devon beserta papa nya akan kembali ke Bandung, kedua orang tua Ahmad dan Mae datang.
Mereka bertiga kaget melihat mobil mewah yang besar ada di pekarangan rumahnya, mereka bertiga bergegas masuk rumah mereka.
Mae yang sudah bercerita bohong kepada kedua orang tuanya kalau dirinya di lecehkan Devon membuat kedua orang tua Mae menuntut di nikahkan anak mereka.
Saat di dalam rumah melihat ada dua orang asing. Abah Mae langsung bertanya kepada anaknya yang sulung.
"Ahmad ada tamu? Siapa mereka?" tanya Abah Mae.
"Iya bah, ini papa bang Devon dan ini supir keluarga mereka" jawab Ahmad.
Abah Mae salah paham, dirinya pikir kedatangan papa Devon untuk melamar anak perempuannya. Dirinya pun senang bukan kepalang anak permpuannya mendapat suami orang kaya.
"Jadi kapan nikahnya?" tanya Abah Mae.
Abah langsung tutup poin tanpa basa basi, dirinya tau benar kalau anaknya sangat suka dengan Devon. Dirinya tidak ingin terjadi apa pun jadi ingin di SAH kan dalam pernikahan saja.
Ahmad melihat ada ketidak beresan dalam keluarganya langsung mendatangi Abah nya dan menarik kebelakang rumah dan menanyakan maksud dari omongan Abah nya.
Perdebatan terjadi antara Abah dan anak sulungnya. Ahmad tidak ingin keluarganya malu di depan keluarga Devon dengan sabar meminta penjelasan Abahnya.
Penjelasan Abah Mae membuat jelas permasalahan yang terjadi. Ahmad yang tidak ingin orang tuanya salah paham, Ahmad menceritakan kejadian sebenarnya.
Abah emosi setelah mendengar cerita sebenarnya. Dirinya merasa dipermalukan oleh anak perempuannya.
Abah Mae dan Ahmad kembali masuk ke dalam rumah, di dalam rumah suasana menjadi tegang, karena sesaat abah Mae pergi emak Mae meminta pertanggung jawaban Devon atas perbuatan yang dituduhkan Mae.
Abah kembali duduk di hadapan tamu dan keluarganya begitu juga Ahmad. Emak yang melihat
Suaminya sudah duduk di dekatnya langsung membicarakan ke inti permasalahan.
"Bah tadi saya sudah bilang ke calon mantu dan calon besan kita tetapi mereka menolak, terutama calon mantu kita menyangkal perbuatannya kepada anak kita" ucap emak Mae.
"Diam...jgn buat malu lagi mak" bentak Abah.
Semua terdiam termasuk papa Devon dan Devon terkejut dengan bentakan pria tua baya itu.
Lalu Abah meminta maaf kepada Devon dan papa Devon atas kesalah pahaman yang terjadi. Emak pun kaget atas kebohongan anak perempuannya.
Emak meminta maaf kepada Devon dan papanya. Setelah itu Emak yang tidak tahan lagi di kelakuan anak perempuannya langsung mengambil sapu lidi diluar rumah dan langsung memukulkan kepada anak nakalnya itu.
"Ampun mak...ampun...ampun...bang Ahmad..abah...tolong Mae" teriak Mae.
Mae habis - habisan di gebukin emaknya. Suara teriak Mae tidak di dengarkan emak dan anggota keluarga yang lain.
Papa Devon ingin menghentikan tetap di cegah oleh Abah.
"Biar saja pak, jika pukulan itu dibutuhkan untuk menyadarkan keburukan kelakuannya itu lebih baik, dari pada kami harus menerima pertanggung jawaban kami di akhirat atas dosa anak kami" ucap Abah sambil meneteskan air matanya.
Papa Devon yang melihat itu langsung memeluk Abah Mae. Sama - sama sebagai bapak yang pernah di kecewakan sama anaknya pasti mengerti pada situasi itu.
"Sabar lah pak, pasrahkan kepada Tuhan, saya pun pernah merasakan di posisi bapak bahkan kelakuan anak saya lebih buruk dari yang dilakukan anak bapak" ucap papa Devon.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typo dan bila cerita tidak sesuai keinginan kalianππππ
Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah ini, agar author semangat up nya ππππ
__ADS_1