
Bab 35
Setelah mendapat pertanyaan Devon, perawat senior yang berlari mengejar Devon dan memberitahu kondisi Nita gawat hanya terdiam.
Mata tajam Prof.Dimas menatap penuh ancaman pada perawat itu.
Dengan merasa bersalah akhirnya perawat tersebut pergi dari hadapan Devon dan kedua orangtua Devon.
"Maaf Dok, bukan apa -apa, saya salah menginformasikan, ucap perawat.
Devon yang merasa ada sesuatu hal yang di tutupi perawat itu.
Ingin memanggil kembali perawat itu tetapi perawat itu berjalan sangat cepat sehingga sudah hilang dari pandangan Devon dan keluarganya.
Devon yang ragu dalam hatinya meminta ijin pada istri dan kedua orang tuanya untuk melihat Nita.
"Mika sayang, pa, ma bolehkah aku melihat Nita dari jauh saja, karena aku merasa ada seauatu yang terjadi dengannya" ucap Devon.
Nyes.... Luka hati Mika yang sudah mulai sembuh kembali tersiram air garam.
Harapan tinggal harapan, kecewa menyelimuti hati Mika.
"Tidak" ucap Mama dengan suara naik 1 oktaf.
Mama Devon langsung mengambil alih kursi roda Mika yang sedang di dorong Devon.
Dengan amarah yang menggebuh mama mendorong Mika untuk menjauh dari Devon.
Sorot tajam papa membuat Devon tertunduk.
"Hanya keledai yang bisa jatuh berkali - kali di lubang yang sama" ucap sang papa.
Dengan penuh kemarahan papa juga pergi meninggalkan Devon dan mengejar mantu dan istrinya.
Devon merasa bersalah menyakitkan kembali istrinya.
Devon berlari menyusul istri dan kedua orang tuanya, tetapi kalah cepat.
Mobil mereka telah melesat sesaat Devon sampai pintu Lobby RS X.
Devon yang tidak ingin terjadi kesalah pahaman lagi segera menelepon istrinya tetapi no HP nya tidak aktif.
Devon menelepon papanya, tetapi tidak di angkat.
Devon segera mengirim pesan pada papanya.
[Pa tolong sampaikan maafku pada Mika, sungguh tidak ada maksud apa - apa, hanya sebatas kemanusian saja, percayalah]
Pesan yang dikirim Devon kepada papanya.
Setelah itu Devon menelepon mamanya.
Tut...tut... nada sambung menunggu panggilan mama tersambung.
Usaha Devon sia - sia, mamanya tidak mengangkat panggilannya.
Devon segera meminta security mencarikan taksi untuknya.
Setelah taksi datang, Devon segera menyusul ke arah rumahnya.
Hati Devon tidak tenang, Devon takut Mika akan salah paham terhadapnya.
Devon mencoba menelepon Mika kembali, tetap tidak bisa dihubungi.
"Tuhan maafkan aku, lembutkan hati istriku" doa Devon dalam hatinya.
Suasana hati Devon yang tidak baik, maka perjalanan dari RS X serasa lama sekali.
"Pak bisa lebih cepat lagi" perintah Devon pada supir taksi.
"Baik pak" jawab supir taksi.
Akhirnya dengan segala drama di perjalanan sampai juga mengantarkan Devon di kediaman orang tuanya.
Saat Devon sampai segera berlari ke rumah.
Namun hatinya agak ragu karena tidak ada mobil papa nya digarasi.
Devon terus berlari memasuki rumah dan menujuh kamarnya.
Saat di buka kamarnya suasana kamar sepi dan masih rapi.
Devon berteriak memanggil nama istrinya dan mengecek semua ruang di kamarnya, termasuk ke kamar mandi.
Tetapi semua nihil, seketika lutut kakinya melemas. Sekuat tenaga Devon berteriak.
"Mikaaaaaa... jangannnnn... tinggalkan akuuuuu..." teriak Devon.
Suara Devon membuat semua orang yang ada di rumahnya terkejut.
Bi Mimin, bi Sani dan 2 security berlari menujuh kamar Devon.
Mereka takut terjadi sesuatu dengan majikannya.
Saat mereka sampai di lantai 2 depan kamar Devon, mereka melihat Devon tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Kedua security itu membantu Devon untuk mapah Devon ke tempat tidur.
Setelah Devon di baringkan ketempat tidurnya.
Bi Sani mengambil minyak kayu putih dan dioleskan pada penciuman Devon agar segera sadar.
Sedangkan yang lain pergi keluar dari kamar Devon untuk melakukan aktifitas lainnya.
Bi Mimin membuatkan teh manis hangat untuk Devon.
Salah seorang security menelepon Prof. Dimas.
Tut... tut... tut... nada tunggu saat menelepon.
Prof. Dimas : "Halo"
Security : "Halo tuan"
Prof. Dimas : " Ya ada apa?"
Security : "Anu tuan, den Devon pingsan"
Prof. Dimas : "Tolong urus dia"
Percakapan telepon mereka pun berakhir.
Jujur papa Devon kasihan dengan puteranya, tetapi apa boleh buat dirinya tidak bisa menentang kemauan istrinya.
Papa Devon setujuh dengan ide istrinya karena tidak ingin Devon mempermainkan hati istrinya.
Kini mobil yang ditumpangi Mika dan ke dua mertuanya menujuh ke bandara.
Tidak ada tanya yang di ucapkan Mika.
Dirinya hanya diam sampai memperhatikan sekitar.
Mika sempat berpikir kalau Papa dan mama mertuanya akan mengantarnya keluar kota atau keluar negeri.
Setelah suara cempreng memanggilnya, terpatahkan pemikirannya.
"Mika.... Adikkuuuu....sayanggg... " teriak kak Intan.
Teriakan Intan yang menyakitkan kuping dan menjadi pusat perhatian orang.
Mika membalikkan badannya untuk melihat pemilik suara cempreng itu.
"Kak Intan.... " teriak Mika.
Mika ini menuruni kursi rodanya tetapi di cegah mama mertuanya.
Intan yang melihat Mika di kursi roda segera menghampiri adik iparnya.
"Tidak apa - apa kak" jawab Mika.
Mendapat jawaban Mika tidak apa - apa, Intan tidak percaya begitu saja.
Intan merasa ada sesuatu yang terjadi.
Intan memilih diam tanpa bertanya lagi.
Mika yang melihat kaka iparnya sendiri memberanikan diri bertanya.
"Kaka koq sendiri?...tidak balik bersama abang? " tanya Mika.
"Iya dek, kaka balik duluan...ceritanya panjang, nanti kaka ceritain di mobil" ucap kak Intan.
"Ayo kita masuk mobil, mama sudah mateng nih kejemur" ajak mama yang kepanasan kejemur.
Kini semua telah masuk mobil.
.
"Devon lagi di kampus atau praktek mik?" tanya kak Intan.
"Tidak dua -duanya" jawab asal Mika.
Intan yang penasaran bertanya lagi.
"Lalu si jelek itu lagi apa?" tanya Intan.
"Tadi sih di RS X, tapi sekarang aku tidak tau" ucap Mika dengan terlihat sedih.
Mika berpikir kalau Devon menjenguk Nita.
.
Jujur hatinya tidak ikhlas kalau suaminya bersama Nita.
Intan yang melihat kesedihan di wajah Mika, Intan mengganti bahan obrolan mereka yang lain.
"Kaka sebenernya mau pulang ke Indonesia berdua abang, tetapi kemarin saat kami masih menunggu pesawat abang ditelepon komandan kalau diminta mewakili komandannya menghadiri pertemuan dengan pimpinan tentara Australia.
Dengan berat hati abang menuruti komandannya dan baru 3 hari lagi abang akan menyusul ke Indonesia.
"Nanti temanin kaka jemput abang di markasnya ya" ucap Intan.
__ADS_1
"Siap bu Perwira" jawab Mika dengan tangan hormat.
Perjalanan mereka menujuh Hotel A.
Intan dan Mika yang menyadari arah mobil bukan menujuh ke rumah.
"Pa, ma kita mau kemana sih? " tanya Intan yang penasaran.
"Ke Hotel A" ucap Papa.
"Asik... " ucap kak Intan.
Pikiran mika yang sedang tidak baik, membuat wajahnya terlihat kusut.
ketiga perempuan berbeda usia itu lebih memilih diam.
Mereka menikmati perjalanannya.
Sejenak Mika melupakan sakit hatinya.
Sesampai di Hotel A mereka lebih dulu makan di resto hotel sebelum pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Mereka ingin membahas masalah pribadi, sehingga mereka berempat memilih tempat private di resto hotel A.
"Pa, yakin kita akan nginap disini? " tanya Intan.
"Ya" jawab papa dengan yakin.
"Tapi kenapa Pa?" tanya Intan yang merasa ada sesuatu.
"Makanlah dulu, nanti kita bahas setelah makan" perintah mama.
"Siap Bu komandan" jawab Intan sambil memberi hormat pada mamanya.
Mika hanya terdiam melihat percakapan anak dan kedua orang tuanya.
Setelah mereka semua telah selesai makan, Mama Devon menceritakan semua perbuatan puteranya dari awal hingga akhir kejadian.
Intan hanya bisa geleng - geleng kepada atas kelakuan bodoh adiknya.
Kini Intan paham kenapa dirinya harus bermalam ke hotel A.
Sedangkan Mika hanya terdiam dan sesekali menangis mengingat kelakuan suaminya.
Intan yang melihat kondisi Mika tertekan segera memeluknya untuk memberi ketenangan pada Mika.
"Selamat ya adikku sayang, sebentar lagi kamu akan jadi seorang mommy" ucap Intan dengan tulus.
Mika tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya.
Selain Mika, mama Devon juga menangis terseduh - seduh karena kecewa dengan puteranya.
Papa Devon berusaha menenangkan istrinya.
Intan melihat kekecewaan yang besar di mata seorang ibu dan istri.
Adiknya berkali - kali membuat luka.
Setelah mama dan Mika tenang, Intan menyarankan mereka semua istirahat ke kamar, karena dirinya juga lelah habis perjalanan jauh.
Kini mereka telah cek in dan masuk kamar masing - masing.
Kamar papa dan mamanya konekting door dengan kamar Mika dan kak Intan.
Sesampai di kamar Kak Intan meminta Mika istirahat.
Intan tidak ingin Mika semakin tertekan dengan masalahnya dan berpangaruh dengan calon ponakannya.
Intan pun segera menyusul mereka mengistirahatkan badannya yang pegal karena lama duduk di pesawat.
Papa Devon yang awalnya terlelap dalam tidur akhirnya terganggu karena Hp nya berdering.
Terlihat di layar HP adalah no telepon RS X,segera diangkatnya.
Prof Dimas : "Ya Halo"
dr.Welly : "Halo prof, saya dr. Welly, ingin menyampaikan kalau keadaan pasien atas nama Nita kembali kami pindahkan ke ICU karena kesadarannya semakin menurun akibat percobaan bunuh diri tadi pagi"
Prof. Dimas : "Ya berikan pernanganan yang tepat dan terbaik untuknya"
dr. Welly : "Itu pasti prof"
Prof.Dimas : "Segera hubungi no tlp keluarganya?"
dr. Welly : "Sudah, tetapi keluarga pasien tidak mau datang dan tidak mau peduli"
Prof. Dimas : "Ya sudah, kabari selalu perkembangannya"
dr. Welly : " Baik Prof"
Selesailah percakapan mereka berdua di telepon.
Bersambung...
Terimakasih para pembaca yang sudah mengikuti novel Lihatlah Aku 🙏🙏😍😍
__ADS_1
**Nantikan kelanjutan ceritanya ..😍😍
Jangan lupa like, vote dan komen dibawah yah😁😁🙏🙏