Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 148


Prof. Dimas Dirgantara seorang tenaga medis senior yang memiliki sederet prestasi dalam dunia kedokteran bahkan hampir para senior dan junior rekan sejawatnya begitu bangga dengan sosok Prof. Dimas yang sudah banyak membantu dalam perkembangan medis di tanah air.


Sosok panutan bahkan teladan bagi rekan - rekan sejawatnya yang melihat kehebatan keluarga Bagaskara. Kedua orang tua yang merupakan seorang profesor di bidang kedokteran dengan sub yang berbeda dan kedua anaknya memiliki jejak sebagai Dokter hebat bahkan salah satu menantunya juga seorang Doktor hebat bahkan sudah memiliki RS terbesar dan terlengkap di kota Bandung.


Rasa bangga selalu terlihat dari Prof. Dimas dan istrinya akan keberhasilan dalam keluarga mereka. Rasa syukur kepada sang Maha Kuasa tidak pernah henti di ucapkan dalam tiap doa Prof. Dimas. Namun kini semua runtuh rasa bangga, hanya tersisa kesedihan dan ratapan akan kebodohan dalam kesalahan hidup.


Prof. Dimas dan istri hanya mampu mengeluarkan air mata dari kedua mata mereka tanda kelemahan dan kegagalannya dalam menjaga anak - anaknya dalam pernikahan mereka. Kedua anaknya berhasil dalam pendidikan dan karier tetapi hancur dalam pernikahan.


Kehancuran rumah tangga kedua anaknya karena perselingkuhan. Mereka hanya berbeda posisi, kak Intan sebagai korban perselingkuhan sedangkan Devon pelaku perselingkuhan.


Mulut Prof. Dimas masih terkunci rapat, bibir dan lidahnya seakan sulit terbuka dan keluh untuk berucap. Dirinya tidak tau harus menjawab apa dari permintaan putranya.


Sebagai orang tua pastinya tidak tega akan permintaan putranya terlebih setelah mendengar penjelasaan yang detail akan kejadian yang menimpah rumah tangga anaknya. Tetapi dirinya terasa malu bila harus meminta izin keepada Mika.


Prof. Dimas mengetahui benar perjuang mantan menantunya itu dalam mengurus ketiga cucunya. Prof. Dimas yang dalam posisi sulit dalam memberi keputusan membuatnya memilih diam.


Kesedihan pasti ada dalam dirinya tetapi rasa malu akan kelakuan anaknya membuatnya sulit untuk meminta hal yang membuat Mika sedih.


Devon yang melihat papa nya hanya diam dengan air mata yang mengalir di kedua matanya seakan mengerti kesulitan orang tuanya dalam menjawab keinginannya.


"Pa jika ini terlalu sulit, tidak apa pa, jgn siksa diri papa atas dosaku" ucap Devon sambil mengelap kedua mata papanya dengan kedua tangannya.


Setelah itu Devon memeluk erat papanya. Mereka berdua larut dalam perasan sedih dengan arti yang berbeda.


Devon sedih karena tidak dapat bertemu dengan anak - anaknya sedangkan papanya sedih karena tidak ingin menyakitkan kembali hati mantan menantunya yang sudah cukup menderita akibat ulah anak laki - lakinya.


Sang mama dan kak Intan yang melihat papa nya yang merupakan sosok laki - laki kuat dalam keluarga Bagaskara yang berbeda usia itu seakan begitu rapuh dan hancur.


Kak Intan yang mengenal papa nya yang tegas dan pandai dalam menyelesaikan setiap masalah dengan kepala dingin kini seakan sirna, aura khrismatik sang papa yang berwibawa seakan hancur oleh kesedihannya.

__ADS_1


Kak Intan dan keluarga baru pertama kalinya melihat papanya menangis terseduh - seduh tanpa henti dan tanpa mengucapkan sepata katapun dari bibirnya.


Mama yang mengenal suaminya sudah lebih dari 45 tahun dari masa kuliah dulu, dirinya sudah paham benar diamnya seorang Dimas Bagaskara adalah kemarahan yang terbesar dalam dirinya. Sedangkan mama melihat air mata yang mengalir tanpa henti berarti kesedihan suaminya yang membuat hatinya terluka sangat dalam sekali.


Mama mendekati suaminya dan meminta Devon melepaskan pelukan terhadap papanya agar sang mama dapat mendekati suaminya. Setelah itu mama memeluk suaminya dan mengajak suaminya meninggalkan ruang kerjanya. Kedua orang tua itu meninggalkan ruangan itu dengan penuh luka dan kesedihan.


Devon dan kak Intan hanya terdiam mematung menyaksikan kedua orang tuanya pergi dari ruangan tersebut.


Kak Intan yang berlatar belakang Psikiater sangat paham benar sikap papa nya yang menggambarkan ciri orang tertekan dalam waktu cukup lama sehingga tidak dapat lagi mengungkapkan kebeneran cerita kepada orang lain.


Kak Intan lebih banyak diam dari pada memperkeruh keadaan yang ada. Kak Intan pun mengikuti kedua orang tuanya keluar dari ruang kerja papanya dan kembali ke kamarnya untuk melihat anak semata wayangnya.


Devon yang kini tertingal sendiri diruangan kerja papa nya hanya diam tanpa melakukan apa pun. Sejenak dirinya menyadari akan kebodohannya yang menyia-nyiakan keluarganya hanya karena jebakan wanita laknat itu.


Kini kebahagiannya telah hancur tanpa sisa, bahkan melihat senyuman anaknya tidak mungkin dilihatnya lagi. Dosa karena perbuatannya harus ditanggung dalam hidupnya. Kesempatan yang pernah diberikan istrinya tidak di manfaatkan dengan baik. Rapuhnya iman pada dirinya membuat sihir mudah menguasai dirinya.


Devon yang termenung kini menangisi kebodohannya yang sudah bermain api hingga membakar dirinya.


Devon pun segera mengambil HP nya dan menghubungi Ustad yang tinggal di kota P yang selama ini membimbing Devon menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat dalam beribadah.


Devon mulai menceritakan permasalahan yang terjadi sesampainya dirumah orang tuanya. Bahkan penerimaan keluarga intinya yang mudah memaafkan dirinya membuat Devon dan guru spiritual Devon sangat terharu.


Devon pun menceritakan kesedihan soal perpisahannya. Devon yang baru memgetahui bahwa 2 tahun yang lalu pemgadilan agama sudah memutus pernikahan mereka dan untuk hak asuh sepenuhnya jatuh kepada Mika mantan istrinya.


Saran - saran yang positif di berikan sang ustad agar Devon dapat bangkit dari keterpurukan dan dapat menata kembali kehidupan yang selama ini sudah di sia - siakan.


Devon juga menceritakan keinginannya yang inggin menemui anak - anaknya namun keluarganya seperti tidak dapat mendukungan dari keluarga bahkan papa dan mama nya bahkan kaka kandungnya memilih menghindar dari pada memberi jawaban.


Sang Ustad berusaha menenangkan suasana hati Devon yang tidak baik. Bahkan Devon di minta untuk berdzikir untuk menenangkan hati dan pikirannya yang masih kalut akan persoalan rumah tangga.


Setelah mendapat banyak nasehat Devon mempratekkan dengan dzikir agar hatinya lebih tenang.

__ADS_1


"Ya Allah jika semua harus berakhir, jadikan perpisahan ini dengan penuh kebaikan bukan keburukan". Doa Devon penuh harap akan dapat kemudahan dalam hidupnya.


Devon meninggalkan ruang kerja papanya dan kembali keruang keluarga. Disana tidak ada seorang pun yang duduk di sofa keluarganya itu.


Devon yang jenuh akhirnya mengetuk pintu kamar kak Intan.


Tok... tok... tok... Kak... Kak Intan.


Krek... Kak Intan membuka pintu kamarnya setelah mendengar suara rengekan adiknya yang minta di bukakan pintu.


"Ada apa dek?" tanya kak Intan.


"Dapatkah kita bicara sebentar kak? " ucap Devon.


Kak Intan akhirnya mengajak Devon masuk kamarnya dan menyuruh babysister anaknya agar mengajak anaknya bermain di taman belakang rumah.


Kini tinggal Devon dan kak Intan dalam kamar. Devon yang penasan mengapa papanya sampai menangis ketika Devon meminta dipertemukan dengan anaknya.


"Kak ceritakan apa yang terjadi, yang tidak aku ketahui?" tanya Devon.


Kak Intan sempat menarik nafas berkali - kali hingga mengucapkan sesuatu yang membuat Devon penuh tanda tanya.


"Apa kau benar - benar ingin mengetahui kebenaran yang terjadi?" tanya kak Intan.


"Ya kak, tolong ceritakan" ucap Devon.


Intan hanya bisa terdiam dengan pandangan melihat kedua mata Devon sampai akhirnya bibir mungilnya mulai berucap.


Bersambung...


Ingin mengetahui kelanjutannya, ikut terus ya para pembaca setiaku, Terima kasih 🙏🙏😍😍

__ADS_1


Tolong tinggalkan jejak Like, vote dan hadiah kalian pada karyaku, agar author lebih semangat up nya, 🙏🙏🙏


__ADS_2