Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 57


Sesampainya di hotel A, Mika memesan satu kamar dengan twin bed. Setelah cek in Mika dan baby Al beserta babysister menujuh kamar, sedangkan pak Didin hanya mengantarkan barang - barang bawaan Mika dan akan kembali ke rumah orang tua Devon.


Saat di kamar hotel Mika meminta tolong kepada babysister Al agar tidak memberitahukan tempat dirinya menginap dari anggota Bagaskara bila menghubunginya.


Babysister Al sudah mengerti dan paham apa yang harus dilakukan bila salah satu keluarga bagaskara meneleponnya.


Mika ingin sekali mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, tetapi matanya terus saja terjaga, berkali - kali Mika menutup matanya, namun rasa ngantuk itu tak kunjung datang. Mika akhirnya memilih duduk di balkon kamar hotel.


Mika sejenak menikmati keindahan malam kota Bandung dari balkon kamar hotelnya. Mika melihat baby Al sudah tertidur pulas di atas kasur dengan pengawasan babysisternya sambil menonton TV.


Perasaan Mika galau memikirkan masa depan anaknya.


Mika baru teringat kalau saat pergi dari rumah Bagaskara, Mika tidak membawa sepotong pakaian pun, dirinya hanya membawa tas kerja yang berisikan laptop dan dokumen - dokumen pentingnya saja.


Situasi di rumah orang tua Devon.


Mereka bertiga menanti Mika di ruang kerja papa, tetapi sudah lebih dari 2 jam Mika tidak kunjung datang. Mama menjadi marah karena merasa di sepelehkan oleh Mika.


Mama dan Devon keluar dari ruang kerja papa, tatapan mama penuh kemarahan. Devon melihat kemarahan di mata mama nya hanya bisa terdiam.


Devon memilih menujuh ke kamarnya dari pada berlama - lama dengan mamanya akan menjadi masalah baru untuknya.


Mama duduk di teras samping rumahnya dengan penuh emosi yang berusaha di redamnya. Mata elang mama melihat Didin sedang duduk santai ditemani sebatang rokok ditangannya, mama yang penasaran kemana perginya Mika, membuat mama bertanya pada supirnya.


"Din... Didin sini din"panggil mama.


Didin yang mendengar namanya di panggil segera menghampiri majikannya.


" Iya Nyonya" jawab supir.


" Sore tadi apakah kamu ada mengantar Mika?" tanya mama


" Ada Nyonya" jawab Didin.


"Kemana?" tanya mama.


"Maaf Nyonya, saya sudah berjanji kepada non Mika kalau tidak akan memberitau keberadaannya" ucap supir.


"Berani kamu membantah kemauan saya, sudah bosan kerja dengan saya, ha???" bentak mama.


Didin menunduk dalam kebingungan. Dirinya sudah berjanji, tetapi dirinya tidak ingin kehilangan pekerjaan, keluarganya di kampung sangat berharap dari penghasilan dirinya sebagai supir di keluarga Bagaskara.


"Kenapa diam saja, kalau begitu angkat kaki dari rumah Bagaskara dan upah kerjamu akan kami transfer" ucap mama dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Maafkan saya nyonya, terima kasih atas kebaikan Nyonya sekeluarga, saya pamit" ucap Didin.


Didin pergi kekamarnya dan merapikan semua pakaiannya dan tidak lupa berpamitan kepada teman - teman kerja di keluarga Bagaskara sebelum pergi meninggalkan rumah itu.


Saat Didin akan pergi tiba - tiba HP nya berdering, Didin langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


Didin : "Halo, selamat malam non"


Mika : "Malam pak Didin, pak lagi dirumahkan, saya minta tolong besok pagi bawakan koper besar yang ada di kamar saya"


Didin : "Maaf non bukan saya tidak mau, tetapi saya sudah di pecat Nyonya besar, saya sudah tidak di ijinkan masuk ke rumah Bagaskara lagi"


Mika : "Astagfirullah, sekarang pak Didin dimana?"


Didin : "Sedang di ujung gang komplek menunggu abang ojek online datang"


Mika : "Apa pak Didin mau bekerja sebagai supir saya? "


Didin : "Mau non, saya mau sekali, saya butuh kerja untuk istri dan anak saya"


Mika : " Sekarang datanglah ke hotel tempat saya tinggal, kalau sudah sampai Lobby hotel pak Didin telepon saya"


Didin : " Baik non, terima kasih"


Setelah itu sambungan telepon mereka terputus.


"Alhamdulillah"ucap Didin setelah sambungan telepon ditutup.


Didin mendatangi hotel A, tempat Mika tinggal dengan ojek yang dipesan hanya saja merubah rutenya saja.


Mika yang berada di balkon hotel terus berpikir kenapa ketenangannya selalu bersifat sementara. Kebahagiannya selalu saja mendapat rintangan, haruskah Mika melepas Devon untuk kebahagian suaminya. Lalu bagaimana dengan baby Al.


Mika tidak ingin hanya karena ke egoisannya baby Al harus kehilangan figur papa dalam hidupnya. Sungguh menyakitkan bila tidak mengenal orang tua, Mika tidak ingin anaknya bernasib sama seperti dirinya.


"Mas kenapa kau yang membangun pondasi cinta kita, tetapi berkali - kali pula kamu yang merubuhkannya?" ucap Mika dalam hati dengan air mata yang berurai.


Babybsister Al mendekati Mika dan memberikan Mika selembar tisu.


"Bu maaf bila saya lancang, jika ibu ingin bercerita saya siap mendengarkan" ucap babysister Al yang merasa kasihan dengan Mika.


"Terima kasih sus, tolong tetaplah membantuku menjaga baby Al" jawab Mika sambil tersenyum.


Satu jam kemudian Mika mendapat panggilan telepon dari Didin.


"Sus, tolong jaga baby Al sebentar, saya akan turun ke lobby karena pak Didin ada disana"ucap Mika.

__ADS_1


Mika turun ke lantai satu menujuh lobby, disana sudah ada Didin. Mika mengajak Didin duduk di sofa ujung lobby untuk tempat berbincang.


Setelah duduk Didin menceritakan semua kejadian di rumah Bagaskara, termasuk sikap nyonya Bagaskara.


Mika meminta Didin menjadi supirnya. Besok siang Didin di minta datang ke RS Diamond. Sementara Mika akan memakai mobil RS Diamond sebagai kendaraan operasionalnya.


Karena sudah malam dan Didin juga tidak ada tumpangan bermalam maka Mika meminta Didin malam ini menginap di hotel A, besok pagi Didin disuruh mencari kontrakan untuk tinggal dirinya, semua biaya kontrakan akan di tanggung Mika.


Setelah mereka selesai berbincang, Mika memesankan 1 kamar hotel untuk Didin.Setelah itu Mika menyerahkan kunci kamar Didin dan Mika pamit meninggalkan Didin untuk kembali ke kamarnya.


Mika ingin merebahkan tubuhnya, beban pikirannya membuat dirinya lelah dalam menghadapi.


Sedangkan di rumah Bagaskara, Papa dan mama Devon sedang membicarakan Mika.


Mama memaksa papa Devon untuk menghubungi pengacara keluarga.


Mama yang di kuasai amarah meminta Devon berpisah dari Mika. Mama merasa diremehkan saat Mika menyepelehkan perintah papa Devon. Namun papa Devon masih bersikap netral.


"Semua keputusan ada di tangan putera kita karena dia adalah imam untuk Mika" ucap papa.


Mama memanggil Devon ke ruang kerja papa melalui sambungan telepon. Saat Devon sudah di ruang kerja papa, Mama menjelaskan keinginannya.


Devon yang sudah di butakan oleh cinta Shila menyambut keinginan mama dengan senang, karena memang itu yang di harapakan Devon.


Devon memang ragu melepas Mika karena sudah ada baby Al buah cinta mereka, selain itu banyak kenangan suka duka bersama Mika. Kesabaran Mika yang luar biasa dalam menghadapi Devon menjadi bukti ketulusan cinta Mika. Tetapi Devon yang sedang ke pincut dengan Shila, semua pertimbangan itu hilang, bahkan baby Al saja di lupakan.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya papa.


"Ya, aku yakin pa" jawab Devon.


Mendengar ucapan puteranya dengan penuh keyakinan papa menghubungi pengacara keluarga untuk mengurus perceraian Devon dan Mika.


Mendengar ucapan papa nya Devon senang, dirinya tidak perlu lagi umpat - umpatan bila ingin pergi kencan. Devon juga berpikir bahwa tidak ada lagi penghalang yang membuatnya pusing untuk memikirkan alasan bila sedang pergi bersama Lala alias Shila.


Bersambung...


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


Ingin tau kelanjutan yang terjadi dengan Mika dan cerita lainnya, ikut selalu ya Lihatlah Aku.πŸ˜πŸ˜πŸ™


Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoπŸ™πŸ™


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


Tolong tinggalkan jejak Like dan komen dibawah iniπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2