
Bab 88
Emin dan Dinda telah sampai di rumah Dinda. Ibu Edi yang sempat cemas dengan anak gadisnya yang tidak pulang semalaman.
Akhirnya yang di tunggu datang juga, bu Edi dapat tersenyum lega. Anak gadisnya yang semalam ijin untuk meneduh ternyata hingga siang hari baru kembali ke rumah.
"Bu, ini Emin teman Mika sekaligus profesor yang membantu operasi Mika" ucap Dinda mengenalkan Emin.
Bu Edi tersenyum dengan kelakukan anak bontotnya yang terlalu kaku dalam memperkenalkan teman laki - lakinya.
"Nak Emin temannya Dinda?" tanya bu Edi dengan sengaja.
Bu Edi dengan sengaja bertanya kepada Emin. Bu Edi ingin mengetahui sejauh mana hubungan anaknya dengan laki - laki di hadapannya.
"Bukan bu, hubungan kami lebih dari itu...saya Emin ingin melamar puteri ibu menjadi istri bagi saya" ucap Emin.
Dinda terkejut dengan keberanian Emin yang langsung melamar dirinya di depan sang ibu.
Bu Edi yang mendengar ucapan Emin dengan tegas meminta anaknya menjadi istrinya sungguh hal luar biasa. Bu Edi mengakui keberanian Emin dalam bersikap dalam mengambil keputusan.
"Saya hanya bisa menyerahkan sepenuhnya kepada Dinda karena bagaimana pun pernikahan ini yang menjalankan adalah kalian, saya dan bapak nya hanya bisa merestukan dan mendoakan saja" penjelasana bu Edi.
Emin yang mendengar jawaban positif, seperti itu dari calon mertuanya menjadi sangat di hargai usahanya dalam merebut hati mertuanya.
Emin menyampaikan bila dua hari lagi keluarganya akan datang untuk melamar Dinda secara resmi.
Selain itu Emin juga menceritakan silsilah keluarga dirinya yang masih memiliki keteturunan darah Indonesia dari Ibunya, sedangkan ayahnya adalah blasteran Turki dengan Jerman.
Bu Edi baru mengetahui jika calon mantunya ini memiliki darah Indonesia. Bu Edi merasa senang karena anak gadisnya yang sudah berusia dewasa akhirnya menemukan pasangan hidupnya.
"Bu bolehkah saya video call dengan bapak?" tanya Emin.
Emin yang sudah mendapat lampu hijau dari ibu mertuannya tinggal satu lagi rintangan yang harus di laluinya.
Emin sudah meminta ijin untuk menelepon bapak Dinda. Tujuannya untuk mengenal dan minta ijin untuk memperistri Dinda.
Bu Edi menyambungkan telepon Emin kepada no suaminya.
Nut...nut...nut...nada bunyi menunggu panggilan di angkat pemiliknya.
Bu Edi : "Halo pak"
Bu Edi : "Halo pak"
Pak Edi : "Ini no siapa bu?"
Bu Edi : "Ini no calon menantu kita pak"
Pak Edi : "Maksudnya apa bu?"
Emin : "Halo, Assalamualikum pak"
Pak Edi : "Wa'alaikumsalam, anda siapa ya?"
Emin : "Nama saya Emin Bintang Turgay, saya ingin melamar anak bapak yang bernama Dianda Amanda untuk menjadi istri saya"
Pak Edi : "Apakah ini sungguh?...bukan prank?"
Emin : "Sungguh pak, dua hari lagi kedua orang tua dan kaka saya, berikut kerabat kami akan datang melamar secara resmi Dinda di kediaman bapak, dapatkah bapak memberi restu kepada kami?"
Pak Edi : "Ya pasti itu nak"
Telah Emin mendengar restu yang di berikan dari calon ayah mertuanya dan di dengarakan Dinda berikut bu Edi, semua menjadi sukacita.
Dan sambungan telepon itu pun berakhir dengan kalimat pak Edi akan terbang ke Jerman hari ini juga.
Pak Edi yang sudah berwarganegara Jerman pasti akan lebih mudah balik ke Jerman tanpa mengurus visa yang memakan waktu lama.
__ADS_1
Disatu sisi Pak Edi sungguh merasa terharu, akhirnya di usia anaknya yang sudah berusia 30 tahun bertemu jodohnya.
Doa yang selalu di panjatkan kepada ilahi agar di dekatkan jodoh anaknya kini di depan mata. Air mata menetes di sudut matanya.
"Tuhan terima kasih atas semua nikmat yang kau berikan kepada kami" ucap pak Edi.
Setelah acara lamaran usai, Emin pamit pulang kepada bu Edi dan Dinda. Tidak lupa Dinda mengantar sampai depan pintu rumahnya.
"Hati - hati di jalan Emin" ucap Dinda.
"Tentu sayang" jawab Emin.
Tidak lupa Emin memberikan kecupan pada kening Dinda.
Setelah itu mereka berpisah sementara sampai waktu yang dijanjikan.
Emin melajukan kendaraannya menujuh kediaman orang tuanya untuk mempersiapkan acara lamarannya.
Sedangkan Dinda masih saja terus menatap Emin sampai mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya Dinda terus menatapnya hingga mobil Emin menjauh dan tidak terlihat lagi.
Dinda yang berbunga - bunga tidak sabar ingin menceritakan kebahagiannya kepada adik angkatnya yaitu Mika.
Tetapi Dinda baru ingat bahwa Mika belum memiliki HP lagi setelah kejadian HPnya rusak.
Dinda pun ijin kepada ibu nya untuk pergi ke mal dan akan mendatangi beberapa outletnya disana.
Bu Edi meminta ikut karena ingin membeli sesuatu untuk persiapan lamaran Dinda.
Mereka berdua berangkat ke Mall dengan diantar supir mereka.
Sesampainya di sana Dinda mulai mendatangi satu per satu ouletnya dan mengecek pengeluaran dan pemasukan shop miliknya. Dinda melakukan hal yang sama kepada tiga shop yang sama pada satu mal itu.
Setelah itu Dinda dan bu Edi pergi ke gerai HP di mal itu, di sana Dinda membeli HP keluaran terbaru berikut no nya untuk Mika. Setelah itu mereka belanja semua kebutuhan untuk acara lamaran Dinda.
Setelah mereka merasa cukup barulah kembali pulang, tetapi di tengah jalan Dinda meminta supirnya agak ke apartemen Mika.
Sedangkan Mika yang sedang santai menonton TV untuk menghilangkan rasa sepinya.
Dinda yang masih takut bila harus berpergian menunggu Emin yang akan membantunya.
HP Mika yang rusak membuatnya sulit berkomunikasi, bahkan acara dinner kemarin pun Mika harus meminjam HP Emin untuk mengundangnya datang.
Mika yang sedang asik meninton di kejutkan dengan bunyi bel pagi hari. Biasanya yang datang hanya Emin dan Dinda.
Mika membuka pintunya, Krek...
"Kak Dinda....ibu...." ucap Mika.
"Iya cantik, kami tidak di suruh masuk nih?" jawa Dinda sambil menggoda Mika.
Mika sungguh dikejutkan dengan kedatangan Dinda dan bu Edi di pagi hari itu.
"Mari masuk" ucap Mika.
Sesampainya di dalam apartemen Mika yang hanya tipe studio yang sangat sempit ukuran kamarnya di banding apartemen milik Emin.
Mika membuatkan minum untuk kedua tamunya berikut cemilan yang dia beli di cafe Helios hospital.
Mereka bertiga berbincang - bincang sambil meminum teh hangat dan cemilan.
"Mik ini untuk mu?" ucap Dinda.
"Kak ini terlalu berlebihan, maaf aku tidak bisa menerimanya kak" ucap Mika dengan halus.
Mika merasa kebaikan keluarga pak Edi sudah sangat luar biasa, diribya tidak mau memanfaatkan kebaikan mereka.
"Terimalah nak Mika, sebagai hadiah dari berita baik yang akan kami sampaikan" ucap bu Edi.
__ADS_1
"Baiklah bu, tapi berita baik apa?" tanya Mika.
Dinda bengan malu - malu memberitahukan bahwa dirinya sudah di lamar Emin di depan orang tuanya dan akan di resmikan 2 hari lagi. Dinda pun mengundang Mika agar hadir di acara specialnya itu.
"Alhamdulillah kak, selamat ya kak...bu..." ucap Mika dengan tulus.
Mika turut bahagia atas berita baik ini. Berita tentang lamaran Dinda menjadi kebahagian tersendiri apa lagi laki - laki itu adalah Emin, laki - laki yang sangat baik dan bertanggung jawab.
Setelah berita bahagia itu di sampaikan, Dinda dan bu Edi pamit pulang kepada Mika.
Lalu Mika mencoba HP barunya untuk menghubungi mama Mertuanya.
Nut...nut...nut...nada bunyi menunggu panggilan di angkat pemiliknya.
Mama Devon : "Halo"
Mika : "Halo, selamat pagi ma"
Mama Devon : "Mika..."
Mika : "Iya ma, ini Mika"
Mama Devon : "Alhamdulillah nak kamu sudah sembuh sayang"
Mika : "Iya ma, mama dapatkan aku melihat anak - anak"
Mama Devon : "Bisa sayang, mama alihkan ke panggilan video call ya nak"
Mika : "Iya ma, terima kasih atas kebaikan mama"
Mama Devon : "Sama - sama sayang"
Mama Devon mendatangi kamar cucu - cucunya, ternyata ketiga cucunya sedang bermain. Mama Devon mengarahkan kamera Hp kepada ke tiga anak Mika.
"Halo mama" ucap mama Devon yang menirukan suara anak kecil.
Mika yang melihat ketiga anak nya dengan haru mengingat mereka kini mereka anak yatim.
Mika meneteskan air mata nya. Perasaan kangen, sedih dan senang bercampur dalam hatinya.
"Jangan menangis nak" ucap mama.
Mama Devon tidak tega melihat menantunya bersedih kembali setelah banyak luka yang di berikan Devon.
Mama Devon ingin memberitahu tentang Devon, tetapi mama tidak ingin Mika terluka kembali, walaupun Mama menginginkan keutuhan rumah tangga anak dan menantunya .
Mika pun mengapus air mata. Mika mulai bercanda denagn ketiga anaknya. Walaupun hanya via Video Call.
Setelah puas bercanda Mika memberikan kabar baik tentang lamaran dan pernikahan Dinda.
Mika memberitahu mama mertuanya bila 2 hari lagi Emin akan melamar Dinda dan seminggu kemudian mereka akan menikah.
"Alhamdulillah mama turut senang atas berita gembira ini, kami akan datang saat akad nikah nanti"
Mama Devon turut bahagia dan berjanji akan datang saat pernikahan mereka dengan membawa ketiga cucu mereka berikut babysister nya.
Setelah itu sambungan telepon mereka terputus. Mika kembali ke rutinitasnya yaitu bersiap akan pergi terapi di Helios.Hospital.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author pemula ini yang masih banyak belajar, agar lebih semangat up nyaππππ
Tolong tinggalkan jejak Like dan komen dibawah iniππππ
__ADS_1