Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 81


Tidak terasa sudah satu minggu papa dan mama Devon berada di Jerman.Terapi yang di lakukan Mika banyak membantu pemulihan dirinya.


Mika yang di jadwalkan tiga bulan untuk kesembuhan total dirinya. Melihat progress yang sangat baik dari diri Mika kemungkinan akan lebih cepat dari yang di targetkan.


Mika sekarang sudah bisa berbicara tanpa terbata - bata, tetapi hanya untuk beberapa kata saja. Oleh karena itu Mika masih di terapi pagi dan sore oleh terapis dalam pengawasan Prof.Emin.


Papa dan mama Devon yang menemani Mika selama ini terapi sangat senang melihat perubahan yang membaik untuk Mika. Papa dan mama Devon pun sudah sering berjumpa dengan Prof.Emin.


Kedua orang tua Devon sangat mengagumi sosok Prof. Emin yang sopan dan ramah kepada siapa pun, termasuk kepada mereka berdua.


Hubungan Mika dan Prof. Emin semakin dekat, mereka berdua saling mendukung khususnya untuk kesembuhan Mika.


Mama dan papa Devon yang melihat kedekatan menantunya dengan pria lain setelah anaknya tiada pastinya awalnya sulit menerima. Tetapi karena kebaikan dan sikap Prof.Emin yang ramah akhirnya meluluhkan hati papa dan mama Devon.


Kedua orang tua Devon mendukung apa pun yang menjadi pilihan Mika. Mereka bukan lagi menganggap Mika menantu melainkan anaknya sendiri.


Sore harinya mama dan papa Devon yang akan kembali ke Indonesia berpamitan kepada Mika dan Prof.Emin.


Mereka berdua mengucapkan terima kasih atas kebaikan Prof. Emin dalam merawat Mika dan meminta bila pulang ke Indonesia agar berkunjung ke kediamannya.


Prof. Emin mengajak papa Devon untuk meminum kopi sambil berbincang - bincang di cafe RS.


Kepergian papa Devon dan Prof.Emin memberi kesempatan mama untuk berbicara empat mata kepada Mika.


"Mika sayang, mama sayang Mika seperti mama sayang kepada Intan dan Devon, bagi mama Mika bukan hanya menantu tetapi adalah anak mama" ucap mama sambil meneteskan air matanya.


"Terima kasih ma" jawab Mika.


"Bila Mika ingin memulai kembali berumah tangga silakan, mama dan papa akan selalu mendukung Mika, kami mempercayai Mika untuk memilih pendamping yang baik untuk mu dan untuk ketiga cucu kami" ucap mama.


Mika mendengar ucapan tulus mertuanya menjadi terharu. Air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya.


Mama menghapus air mata Mika dengan tangannya, lalu mama memeluk menantu kesayangannya itu.


"Tidak ada lagi ma" jawab Mika sambil menangis.


"Jangan menangis anakku, kami sangat menyayangimu" ucap mama.


Mereka akhirnya berpelukan cukup lama untuk memberi dukungan dan ketenangan. Obrolan mereka berlanjut, bahkan mama sempat Video call Kak Intan untuk melihat wajah cantik Mika yang selalu di rindukannya.

__ADS_1


Mama Devon pun meminta Mika agar mengijinkan ketiga anaknya tinggal kembali di rumah papa dan mama Devon.


Mika yang dikaruniakan Tuhan berhati baik dan Mika juga melihat ketulusan dari kedua mertuanya dengan senang hati memberikan ijin itu.


Mika pun sudah menuliskan alamat tempat tinggal kakek dan nenek Prof.Emin. Mika juga sudah melakukan video call kepada babysister Al bila kedua mertuanya akan menjemput mereka dan meminta untuk bersiap - siap bila akan di jemput.


Setelah berbincang - bincang cukup lama, papa dan Prof. Emin mendatangi kamar rawat inap Mika.


Mama yang melihat suaminya sudah menjemput tanda mereka akan segera pergi.


Papa Devon berpamitan kepada Mika dan Prof.Emin begitu juga mama Devon. Mama meninggalkan pesan kepada Prof.Emin sebelum pergi.


"Nak, tolong jaga anak kami Mika" ucap Mama.


Prof.Emin tersenyum sambil menganggukan kepalanya tanda mengiyakan ucapan mama Devon.


Mama Devon memanggil Emin karena keinginan Prof.Emin yang hanya di panggil nama saja tanpa embel - embel gelarnya. Emin yang melihat usianya seumur bahkan lebih muda dari anak - anak papa dan mama Devon. Walaupun kadang papa dan mama Devon masih saja memanggil dengan embel - embel Prof.


Emin mengantar kedua orang tua Devon sampai lobby RS. Papa dan mama Devon sudah di jemput oleh supir keluarga pak Edi.


Perpisahan mereka menjadi kenangan yang indah bagi keduanya. Emin yang telah mendapat dukungan dari keluarga mantan suami Mika begitu juga papa dan mama Devon beruntung dapat mengenal Emin yang membantu penyembuhan menantunya.


Sedih dan rindu karena harus berpisah dari menantunya, tetapi senang karena sebentar lagi akan bertemu ketiga cucu mereka yang sudah berbulan - bulan tidak bertemu.


Papa dan Mama Devon kembali dulu kekediaman keluarga pak Edi sebelum berangkat ke Otto Lilienthal Airport.


Sesampainya di rumah pak Edi, bu Edi dan Dinda menyambut mereka. Bu Edi mengajak papa dan mama Devon untuk makan malam bersama sebelum pergi ke Otto Lilienthal Airport.


Mereka makan malam bersama, setelah selesai mereka saling berpamitan.Bu Edi dan Dinda memberikan buah tangan untuk kedua orang tua Devon.


Papa dan mama Devon sungguh merasa berhutang budi sangat banyak atas kebaikan dan jamuan mereka selama seminggu mereka di Jerman.


"Bu Edi dan nak Dinda kami berdua mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan kalian, mampirlah ke rumah kami, bila kalian berkunjung ke Indonesia" ucap papa Devon.


Mama Devon tersenyum tanda sepakat dengan ucapan suaminya.


Setelah itu papa dan mama Devon berpamitan, rupanya bu Edi dan Dinda tidak membiarkan tamunya pergi begitu saja tanpa di antar ke Airport.


"Om..tan ayo, kami ikut mengantar kalian sampai Otto Lilienthal Airport" ajak Dinda.


Papa dan mama Devon sungguh terharu atas kebaikan bu Edi dan Dinda yang mau repot - repot mengantar keberangkatan mereka.

__ADS_1


Mereka berempat menujuh Otto Lilienthal Airport diantar oleh supir keluarg pak Edi.


Sesampai di Aiport mereka berpamitan kembali, tidak lupa papa dan mama Devon menitipkan salam untuk pak Edi atas kebaikan mereka. Bu Edi dan Dinda kembali ke rumah mereka setelah pamit perpisahan itu.


Sedangkan kedua orang tua Devon memasuki gate pemeriksaan emegrasi untuk pengecekan dokumen setelah itu mereka memasuki pesawat yang mengantarkan mereka kembali ke tanah air Indonesia.


Saat berada di pesawat papa Devon mengirimkan pesan kepada no HP Emin.


[Nak Emin, Alhamdulillah kami sudah berada di dalam pesawat dan masih menunggu beberapa menit lagi sebelum pesawat yang kami naiki take off, sekali lagi tolong jaga Mika]


Pesan yang papa Devon kirim kepada Emin.


Tak lama suara HP papa berdering, ternyata Emin melakukan panggilan Video call.


Papa langsung memencet tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


Mereka saling melihatkan wajah mereka di kamera HP, terlihat Mika melambaikan tangannya ke kamera HP.


Mereka berbincang - bincang sebentar sampai akhirnya terdengar suara informasi, bila sebentar lagi pintu pesawat akan di tutup.


Percakapan mereka pun berakhir setelah ada pengumuman itu.


"Terima kasih Tuhan atas kebaikanMu, semoga Mika berbahagia" doa papa Devon.


Begitu juga mama Devon yang berdoa dalam hatinya sebelum pesawat mereka take off.


"Tuhan berilah kebahagian bagi Mika" doa mama Devon.


Beriring dari doa kedua orang tua Devon maka pesawat yang di naiki mereka sudah melayang di udara menujuh tanah air tercinta Indonesia.


Bersambung...


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


Ingin tau kelanjutan yang terjadi, ikut selalu ya Lihatlah Aku.πŸ˜πŸ˜πŸ™


Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoπŸ™πŸ™


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2