
Bab 87
Mika sedang menonton TV sambil tiduran di kasur dan melihat berita di TV national Jerman kalau baru saja terjadi hujan lebat disertai angin badai di Berlin.
Mika melihat pada jendela apartemennya ternyata hujan bandai itu masih berlangsung. Mika teringat dengan Dinda dan Emin yang masih dalam perjalanan ke rumah Dinda.
Mika yang khawatir akhirnya menelepon Dinda.
Nut...nut...nut...nada sambung sebelum telepon Mika diangkat Dinda.
Dinda : "Ya halo adikku cantik"
Mika : " Halo kakaku yang cantik"
Dinda : "Ada apa dek?"
Mika : "Apakah kaka masih dalam perjalanan?...hentikan dulu perjalanan kaka, tunggulah hingga hujan badai berhenti"
Dinda : "Iya adikku sayang, aku sekarang sedang menunggu redah hujan badai di aparteman Emin"
Mika : "Iya kak, tunggulah hingga benar - benar redah kak"
Dinda : "Siap adikku"
Setelah mendengar Dinda sedang berada di aparteman Emin menunggu redah hujan badai hati Mika lebih tenang.
Dirinya tidak ingin terjadi apa - apa kepada kedua sahabatnya yang sangat baik kepadanya. Terlebih Mika yang mengundang Dinda ikut dalam dinner mereka.
Mika yang sudah tenang dengan keselamatan Dinda akhirnya melanjutkan tidur karena cuaca cukup dingin membuat Mika mengantuk.
Dalam hitungan menit Mika sudah terlelap dalam tidurnya. Dalam Mimpi itu Mika melihat Devon bersama ketiga anak mereka. Devon tersenyum manis sekali di hadapan Mika dan mereka berlima berpelukan bersama.
Mika begitu menikmati mimpi itu, rasa kangennya kepada ketiga anaknya terobati dalam mimpinya begitu juga rasa rindu yang berkali - kali di bendung untuk Devon tidak dapat di cegah dalam mimpi itu.
Mika semakin pulas dalam tidurnya, mimpi indahnya menjadi pengantar tidurnya semakin lelap.
Sedang di tempat yang berbeda Dinda merasa tubuhnya dingin sekali, bahkan sampai bergetar. Dinda sudah meminjam bedcover kepada Emin dan Emin pun sudah menyalahkan pemanas ruangan tetapi tidak mengurangi rasa dingin yang Dinda rasakan.
Emin yang akan mengambil minum, melihat bedcover yang di pinjam Dinda bergoyang.
Emin mendekati bedcover itu untuk memastikan keadaan Dinda.
"Din, are you ok?" tanya emin.
"No, help" jawab Dinda
Emin yang melihat kalau Dinda tidak baik, langsung membuka bedcover yang di pakai Dinda.
Emin sungguh terkejut melihat Dinda yang sedang meringkuk kedinginan.
Emin mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Dinda dan Emin sungguh terkejut suhu Dinda sudah 35 derajat celcius.
Emin segera mengambil pemanas tambahan untuk Dinda dan membuatkan teh panas untuk Dinda minum.
Tubuh Dinda yang terus bergetar membuat Emin khawatir dengan keadaan Dinda. Dirinya langsung membuka bajunya dan Emin membuka pakaian atas Dinda juga.
Dinda yang dalam kondisi hipotermina tidak menyadari apa yang Emin lakukan. Emin bukan ingin melecehkannya, tetapi hanya untuk menyelamatkan Dinda.
Emin melakukan terapi skin to skin untuk menghangatkan tubuh Dinda. Emin memeluk Dinda dengan bertelanjang dada begitu juga Dinda yang tidak memakai kaosnya lagi.
__ADS_1
Emin memulai memberi ke hangatan kepada tubuh Dinda.
Nafas Dinda mulai tersengau - sengau dengan terpaksa Emin memberikan nafas buatan kepada Dinda.
Emin yang awalnya hanya membantu Dinda tetapi berbeda cerita setelah itu. Emin laki - laki dewasa melihat keindahan tubuh Dinda dan menikmati bibir manis Dinda membuatnya semakin terbuai.
Dinda yang awalnya gemetar karena tidak tahan menahan dingin setelah mendapat kehangatan dari terapi yang di berikan Emin menjadi lebih baik, tetapi tidak dengan nafsunya.
Mereka berdua yang sama - sama terbakar kehangatan akhirnya melanjutkan kenikmatan itu.
Emin mulai melumatkan kembali bibir manis Dinda dan melakukan yang lainnya yang membuat Dinda semakin melayang.
Lalu Emin mulai membuka bagian penutup tubuh bagian bawah Dinda. Begitu pula dengan dirinya.
Selanjutnya silakan lanjutkan sendiri yaππ
Mohon maaf bagian ini author skip, takut gagal fokusππππππ
Pagi harinya hujan badai itu sudah usai tetapi badai sesungguhnya baru saja akan berlangsung.
Dinda meneteskan air matanya sambil merapikan pakaiannya. Terlihat lesuh di wajah Dinda. Tetapi Dinda tidak menyalahkan Emin atas kejadian semalam itu.
Sedangkan Emin yang bergitu menikmati malam panjangnya dengan Dinda merasa bersalah. Dirinya bertekat akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Dinda berusaha berjalan secara perlahan menujuh pintu aparteman. Rasa nyeri yang luar biasa pada bagian intinya membuat dirinya terdiam sesaat.
Emin yang melihat Dinda akan pergi segera bangun dari tempat tidurnya dan memakai celana pendeknya.
"Din please jangan pergi, aku akan bertanggung jawab atas semua ini" ucap Emin.
Dinda hanya menggeleng tanda tidak menyetujui keinginan Emin. Dinda tidak ingin Emin menikahinya hanya karena kesalahan yang di lakukan malam tadi. Dinda ingin menikah karena cinta bukan karena kasihan.
Emin yang menyadari bila Dinda menolaknya, dirinya mencoba meyakinkan Dinda agar mau menerima pinangannya.
Dinda hanya diam tanpa melakukan perlawanan apa pun yang dilakukan Emin. Bahkan Dinda menikmati setiap sentuhan Emin. Dinda merasakan rasa nyerinya sedikit berkurang setelah berendam dalam bathtub.
Emin menelepon salah satu butik ternama untuk meminta kurir mengantar kirim pakaian wanita berikut pakaian dalam untuk Dinda. Emin yang merasakan kehangatan tubuh Dinda semalam pastinya sudah mengetahui ukuran pakaian Dinda.
Setelah melihat Dinda merasa nyaman berendam dengan pakaiannya Emin hendak meninggalkan kamar mandi itu.
"Aku akan menunggumu di luar dan aku sudah memesan pakaian untukmu, ini handuknya" ucap Emin.
Emin sambil memberikan handuk yang ditaruhnyandi pinggir bathtub agar Dinda mudah menjangkaunya.
Emin keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya. Emin menunggu kurir yang akan mengantar pakaian Dinda.
Emin sempat melamun atas kejadian yang terjadi padanya dan Dinda malam itu. Mereka berdua sungguh menikmati malam panjang itu. Emin yang mengetahui jika Dinda masih suci membuatnya tersenyum.
Dirinya merasa beruntung dapat melakukan dengan wanita suci. Emin berjanji dalam hatinya tidak akan meninggalkan Dinda apa pun yang terjadi.
Emin yang awalnya memiliki perasaan kepada Mika tetapi kejadian malam ifu rasa peduli Emin kepada Dinda berubah menjadi cinta.
Tet...tet...tet...Bunyi bel apartemen Emin berbunyi.
Emin membuka pintu apartemen, ternyata kurir pengantar pakaian Dinda.
"Thank you" ucap Emin setelah mengambil pesanannya.
Setelah itu Emin mengetok pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tok...tok...tok...Din ini pakaiannya.
Dinda yang mendapat panggilan Emin membuka pintu sedikit dan mengambil pakaian yang Emin berikan.
Setelah itu Emin duduk kembali di ruang tamunya dan menelepon kedua orang tuanya.
Nut...nut...nut...nada sambung sebelum telepon Mama Emin mengangkat sambungan telepon dari Emin.
Mama : "Ya halo boy"
Emin : "Ma, aku ingin menikah"
Mama : "Apa?... Kapan boy"
Emin : "Seminggu lagi ma"
Mama : "Kenapa tidak hari saja?"
Emin : " Maunya aku begitu ma, tetapi calon papa mertuaku masih di jakarta"
Mama : "Apa boy, calon menantu mama oranh indonesia?"
Emin : " Iya ma"
Setelah Emin menjelaskan kepada mamanya keinginan dirinya yang akan menikah dan meminta memberi kabar kepada papa nya.
Emin juga menjelaskan kepada mama nya kalau dirinya hanya menikah secara sederhana saja dan untuk resepsi pernikahannya akan di laksanakan di kediaman kakek dan nenneknya.
Emin mempunyai alaasan kesehatan kakek dan neneknya bila harus menempuh perjalanan jauh ke Jerman.
Dinda sudah duduk di hadapan Emin. Dinda juga mendengar semua yang Emin ucapkan kepada mamanya.
"Kamu yakin akan menikahiku" tanya Dinda.
"Ya, karena aku mencintaimu" jawab Emin.
Jawaban Emin membuat Dinda menangis haru atas semua perlakuan lembut Emin. Dinda langsung memeluk erat Emin dan memcium bibir Emin.
Emin yang mendapat serangan dari Dinda membuatnya tertantang. Emin membalas ciuman Dinda, serangan panas Emin membuat Dinda kewalahan dalam mengimanginya.
Setelah mereka berdua sama - sama terbuai segera mengakhirnya sebelum terjadi lagi perbuatan terlarang mereka.
Emin mengantar Dinda pulang sekalian ingin meminta restu ibu Dinda.
Selama perjalanan baik Dinda atau pun Emin terlihat sangat bahagia sekali. Terpancar dua orang sejoli yang sedang mabuk cinta terlihat dari tangan mereka yang selalu bertautan.
Emin merasakan jatuh cinta yang kedua kalinya setelah cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan dengan Mika. Kini rasa gelora dalam dirinya tumbuh kembali. Rasa berbunga - bunga dan rasa takut kehilangan, serta selamanya ingin bersama.
Emin yang jatuh cinta di usia matang ingin segera di resmikan dan memiliki keluarga yang bahagia walaupun awal untuk menujuh kesana di mulai dengan kesalahan.
Perjalanan jauh mereka karena di lalui berdua tidak terasa mobil Emin telah sampai di perkarangan rumah Dinda.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Ingin tau kelanjutan yang terjadi, ikut selalu ya Lihatlah Aku.πππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
__ADS_1
Mohon maaf bila cerita yang Author tulis tidak sesuai keinginan kalian dan semoga para pembaca Lihatlah Aku terhibur dengan cerita yang saya tampirkan"ππππ
Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniππππ