Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 62


Setelah perdebatan di ruang kerja papa yang tidak menghasilkan apa pun akhirnya papa memilih meninggalkan ruang kerjanya. Istri dan anaknya masih duduk di dalam sana dengan angkuhnya.


Papa menelepon pengacara keluarganya dan menceritakan bahwa yang selingkuh adalah anaknya sendiri dan memantunya saat ini telah hamil. Papa meminta agar gugatan perceraian anaknya di batalkan.


Setelah itu papa memilih merebahkan tubuh tuanya di tempat tidur. Papa berharap jika setelah bangun tidur, tubuhnya lebih segar dan dapat berpikir lebih bijak memberikan solusi yang terbaik dalam rumah tangga anaknya.


Sedangankan Devon merasa terpojokan oleh sikap papanya. Dia akan membalas semua perbuatan kasar papanya kepada Mika. Rasa marah dan benci Devon semakin menjadi - jadi kepada Mika. Rasa cinta dan sayangnya dulu dikalahkan oleh emosi dan ego dirinya.Devon berencana besok akan membuat perhitungan dengan Mika. Amarah dan nafsu nya menguasai diri Devon.


Pagi harinya semua seperti biasanya, mereka bertemu di meja makan untuk sarapan pagi. Mereka tidak bertegur sapa seperti biasanya. Rasa kesal mama dan Devon tertujuh kepada Mika. Mama lebih memilih diam dari pada merusak suasana sarapan pagi itu.


Setelah sarapan mereka semua melakukan aktifitas masing - masing. Devon telah menjalankan kendaraannya menujuh RS. X.Sehabis praktek dirinya berencana akan membuat perhitungan terhadap Mika.


Sesampainya di RS.X ,Devon mulai menjalankan profesinya sebagai dokter. Suster pembantunya sudah memanggil satu persatu pasien yang akan diperiksa Devon. Namun dari sekian banyak pasien yang di periksanya hari ini ada seorang pasien yang menanyakan Mika. Ibu itu adalah pasien yang kontrol minggu 3 minggu yang lalu.


Devon semakin kesal saat pasien memuji - muji kebaikan Mika. Devon menahan semua rasa kesalnya dibalik senyum palsunya. Dia tidak ingin reputasinya hancur karena emosi yang tidak pada tempatnya.


"Ah... Selesai juga tugasku" ucap Devon seorang diri setelah menyelesaikan periksa pasiennya hari ini.


Tiba - tiba saja pintu praktek terbuka tanpa permisi, krek...


"Hai sayang, kenapa pagi ini tidak ketempatku?" tanya Shila dengan manja.


Shila dengan sengaja datang dengan pakaian yang sangat minim, potongan leher pada bajunya yang rendah membuat belahan dada Shila terlihat menggoda begitu juga dengan panjang bajunya yang hanya setengah pahanya saja membuat kaki mulusnya terlihat.


Shila yang tidak tau malu datang mendekati Devon dan memeluknya erat Devon. Lalu Shila duduk di pangkuan Devon dan mengecup mesra kedua pipi Devon dan saat Shila akan mendekatkan bibirnya kepada bibir Devon tiba - tiba pintu praktek Devon terbuka.


Krek... "Devon" teriakan suara bariton memekakan telinga terdengar.


Shila yang duduk di pangkuan Devon kaget dan sampai terjungkal ke lantai.


Devon terdiam melihat sosok papa yang berdiri di depan pintu dengan sambil berteriak.


"La tolong tinggalkan ruangan ini" ucap Devon kepada Shila.


"Tapi sayang, kamu kan sudah janji anter aku shopping" jawab Shila dengan manja.


"Ya nanti tidak sekarang, pergilah" ucap Devon penuh penekanan.


Shila menuruti kemauan Devon untuk pergi dari ruangan Devon. Namun saat ingin keluar, terhalang Prof. Dimas yang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Permisi Prof" ucap Shila dengan suara lembut.


Papa Devon tidak menjawab tetapi menatap tajam kepada Shila seperti elang yang akan memburuh mangsanya.


Shila yang mendapat tatapan itu, menundukan kepalanya.


"Ini yang terakhir kalinya kamu bertemu anakku Devon, jangan pernah coba - coba mendatanginya lagi" bentak papa kepada Shila.


Shila kaget dengan suara bagai petir itu menggelegar penuh intimidasi kepada Shila.


"Iya" ucap Shila sambil menunduk.


Shila tidak ingin memperpanjang urusannya dengan orang tua Devon.


"Pergilah, ingat ucapanmu kalau tidak kau akan menyesal" ucap papa Devon.


Shila menunduk dan segera pergi dari ruangan yang sudah mempermalukan dirinya.


Setalah Shila pergi, Devon berusaha mengambil hati papa nya.


"Pa... duduklah" ucap Devon yang melihat papa nya masih tetap berdiri di depan pintu.


Papa mendekati Devon dan plak... Plak... ,dua tamparan mendarat mulus di pipinya hingga mengeluarkan tetesan darah segar di ujung bibir Devon.


"Cepat tinggalkan wanita ****** itu, kalau tidak akan papa coret namamu dari kartu keluarga Bagaskara" ucap papa.


"Coret saja, aku tidak takut" tantang Devon.


"Baiklah, silakan angkat kaki dari RS.X dan letakan kunci mobil dan semua isi dompetmu, mulai hari ini serahkan semua fasilitas yang papa berikan" ucap papa dengan sengit karena kesal dengan ucapan anak kurang ajarnya.


"Tapi pa?" ucap Devon yang menggantung.


Papa hanya memelototkan matanya kepada anaknya.


"Baiklah, besok pagi papa akan melakukan konferensi pers di RS. X untuk pemberitahuan bahwa Devon Bagaskara bukan lagi bagian dari keluarga Bagaskara" ucap papa.


"Pa, please jangan lakukan itu, aku hanya becanda tidak serius pa" ucap Devon yang memohon sama papa nya.


"Tinggalkan wanita itu dan perbaiki hubunganmu dengan istri dan anakmu atau besok tinggalkan semua fasilitasmu" perintah papa.


Setelah itu papa pergi meninggalkan ruangan Devon. Saat di nurses station Prof. Dimas kembali memberi peringatan kepada para karyawannya.

__ADS_1


"Silakan anda usir dan jangan biarkan wanita itu masuk ke dalam ruang praktek Dr. Devon bila datang kembali, apa bila ada yang melanggar yang saya perintahkan maka akan mendapat sanksi dari management RS. X berupa skorsing" peringatan Prof Dimas kepada pada perawat.


Setelah itu papa pergi mendatangi ruang praktek istrinya. Melihat situasi sepi dan tidak ada pasien papa langsung membuka pintu ruangan.


Krek... Prof. Dimas membuka pintu ruangan istrinya.


"Papa" ucap mama yang kaget kedatangan suaminya.


Papa langsung duduk di hadapan mama.


"Ada apa pa?" tanya mama yang melihat kemarahan di mata suaminya.


"Persiapkan bila besok kita akan kehilangan salah satu anak kita selamanya" ucap papa.


"Maksudnya apa pa?" tanya mama.


Papa mulai menceritakan kejadian di ruang praktek Devon, semua di ceritakan tanpa ada yang dikurangkan atau di lebihkan sampai tahap ancaman papa terhadap Devon.


Mama terperangah atas sikap papa yang sampai akan mencoret Devon dari anggota keluarga Bagaskara.


"Papa becanda kan kalau akan mencoret Devon dalam kartu keluarga Bagaskara" ucap mama.


"Tidak, aku serius akan ini...Sikap Devon sungguh memalukan...Jangan kita berbuat dzolim kepada orang lain ma...Hanya karena yang berbuat salah itu adalah anak kandung kita" penjelasan papa agar istrinya sadar dari kesalahan dalam berpihak.


"Apa benar Mika hamil cucu kita pa?" tanya Mama.


"Iya dan kembar, bila mama tidak percaya maka kita akan tes DNA saat cucu kita lahir” ucap papa penuh ketegasan.


Mama menunduk malu mendengar ucapan suaminya.


"Mama minta maaf pa, bukan meragukan cucu mama, tetapi Devon yang bilang kepada mama kalau Mika itu selingkuh " ucap mama.


"Lihatlah semua persoalan dari dua sisi maka kita akan tau akan kebenarannya" sindir papa kepada istrinya.


"Maafkan mama pa"jawab mama.


Bersambung...


Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoπŸ™πŸ™

__ADS_1


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaπŸ™πŸ˜


Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


__ADS_2