
Bab 41
Intan menjelaskan bahwa Nita mengalami depresi berat karena mengalami kekerasan fisik dan psikis nya.
"Kenapa kita tidak laporkan saja permasalah ini kepada pihak berwajib?" tanya mama.
"Kita akan melaporkan, tetapi saran kaka lebih baik tidak sekarang" jawab Intan.
"Apakah Nita belum dapat di ajak berkomunikasi dengan baik?" tanya mama.
"Iya ma, saat ini emosinya belum stabil" jawab Intan.
Papa hanya diam sambil berpikir langkah apa yang tepat untuk penanganan Nita ini.
"Pa, apakah ada masukan dalam kasus Nita ini?" tanya Intan.
"Lebih baik kita fokus kesembuhan kepada patah tulang dan retak kakinya, setelah membaik kita akan mencarikan rumah sewaan untuk dirinya tinggal sementara sampai dirinya bertemu dengan keluarganya" ucap papa.
"Kenapa tidak di villa kita yang di Lembang saja?..biar kita tidak repot - repot mencari pembantu untuk Nita" ucap mama.
Akhirnya mereka bertiga sepakat setelah patah kakinya Nita sembuh, sementara dirinya akan di tampung di villa mereka di lembang sampai menemukan keluarga Nita.
"Kaka fokus saja untuk terapi Nita, nanti untuk alamat panti asuhan biar kita bersama - sama yang akan mencari tau informasi keberadaan adiknya Nita" ucap mama.
"Siap Ma, terima kasih mama dan papa" ucap Intan.
Setelah sepakat mereka bertiga membubarkan diri dan kembali ke aktifitas masing - masing.
Kini Intan sedang dalam perjalanan menujuh RS dengan mengemudi sendiri.
Intan memang sangat mandiri karena jam prakteknya yang tidak sampai larut malam, membuat Intan menolak disediakan supir pribadi dari suaminya.
Intan tidak nyaman bila harus berduaan dengan supir laki - laki dalam mobil.
Selain itu Intan juga pemegang sabuk hitam dalam bela diri taekwondo, jadi tidak diragukan lagi kemampuannya dalam melumpuhkan lawan.
Atas dasar itu suami Intan menyetujui permintaan istrinya.
Selama perjalanan Intan memikirkan suaminya, rasa rindu kepada suaminya akan masih lama lagi terobati.
Rencana besok suaminya akan menyusul dirinya ke Indonesia gagal.
Masa tugas di Australia suaminya di perpanjang 6 bulan lagi.
Rasa rindu dan sedih pasti dirasakan Intan saat ini, tetapi Intan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam membantu pemulihan pasien - pasiennya, termasuk Nita.
Lamunan Intan mengantarkannya sampai di parkiran RS X.
Intan memulai melangkahkan kakinya ke poli psikiater tempat Intan praktek.
Satu persatu pasien yang sudah mendaftar di panggil oleh perawat yang membantu Intan saat praktek.
Hari ini hanya 5 pasien yang datang berkonsul kepada Intan.
Setelah selesai praktek, Intan melanjutkan aktifitas lainnya yaitu visit kepada pasien rawat inap termasuk visit kepada Nita.
Setelah mengunjungi satu persatu pasiennya di ruang inap yang berbeda - beda sampailah Intan di ruang ICU.
Nita adalah pasien terakhir yang Intan visit.
"Selamat siang Nita" ucap Intan.
Tidak ada jawaban apa pun dari Nita.
__ADS_1
Nita hanya diam dengan pandangan kosong.
Intan mendekati Nita dan memulai terapi yang sama seperti kemarin.
Intan menanyakan kabar Nita, mulai memancing Nita dengan mengajak cerita - cerita hal yang ringan, sampai mengajak mendengarkan musik dan menonton video lucu pada Ipad, tetapi Nita tetap saja diam mematung tanpa ada respon.
Hampir 1 jam lebih Intan mencoba berbagai metode untuk mengajak Nita komunikasi, tetapi tidak berhasil.
Nita jauh lebih pasif dibanding kemarin.
Intan menghentikan terapi Nita hari ini dan akan melanjutkan terapinya pada esok hari.
"Nita cantik, dokter pamit dulu ya, besok kita ketemu lagi" ucap Intan kepada Nita.
Mendengar kalimat pamit Intan, Nita menangis.
Intan mendekati Nita, dan mulai memeluknya untuk meredahkan tangis Nita.
Para perawat yang ada di ruang ICU itu mendatangi bed Nita.
"Ada yang bisa saya bantu dok?" ucap salah satu dari perawat yang menghampiri Intan.
"Tidak sus" jawab Intan.
Intan menenangkan Nita, sampai Nita tertidur dalam pelukannya.
Intan membaringkan Nita dan menyelimutkan Nita sampai dada.
Merasa Nita sudah tertidur pulas, Intan ingin meninggalkan ruang ICU.
Saat di nurse station ICU Intan meminta Nita di pindah keruang lain.
"Sus baiknya panggilkan perawat laki - laki agar memindahkan Nita ke ruang isolasi saja, karena kalau tetap di ICU akan mengganggu pasien yang gawat lainnya" ucap Intan dengan pelan kepada para perawat yang berjaga.
Dua perawat laki - laki datang dan bersiap memindahkan Nita ke ruang isolasi.
Nita yang melihat dua perawat laki - laki itu menjadi takut dan panik.
Nita merasa dua laki - laki itu adalah anggota gangster yang menyekapnya saat itu.
Nita berteriak dan melempar bantal dengan tangannya.
"Tidak... tidak... tidak...pergi... pergi...pergi... jangan dekat... jangan dekat... tolong..
tolong... "teriak Nita sambil melempar apa saja yang ada didekatnya.
Intan yang melihat situasi Nita yang tidak kondusif mengambil tindakan menyuntikkan obat penenang pada Nita.
Berangsur - angsur Nita terlihat lemas dan tertidur.
Melihat Nita sudah tertidur, Intan memerintahkan Nita dipindah ruangan.
Suasana ICU sempat menjadi kacau, beberapa pasien mengalami lonjakan detak jantung karena suara gaduh dari amukan Nita.
Walaupun kedua kaki nya sedang di gips, tetapi suara lengkingan Nita sangat mengganggu istirahat pasien lain.
Nita yang terbaring di bed nya segera di pindahkan.
Kondisi tidak sadarkan diri Nita memudahkan untuk evakuasi dan Nita di tempatkan diruang isolasi.
Intan memerintahkan 2 perawat yang menjaga Nita secara bergantian didalam ruangannya, karena takut Nita melakukan hal nekat yang dapat mengancam keselamatan dirinya.
Setelah selesai mengurus perpindahan ruangan Nita, Intan berniat memgunjungi ruang papa nya.
__ADS_1
Intan melangkahkan kakinya menujuh ruang papanya.
Sesampainya depan ruangan papanya Intan menanyakan keberadaan papanya kepada perawat yang ada di nurse station didepan ruang papanya.
"Prof ada sus?" tanya Intan dengan formal kepada perawat yang berjaga.
"Ada dok,silakan" jawab perawat.
Intan mengetuk pintu ruang praktek papanya, tok... tok... tok...
"masuk" suara perintah dari dalam ruangan.
Krek... pintuk di buka Intan.
Intan melangkahkan kakinya menujuh kursi yang ada di hadapan papa nya.
"Ada apa kak?" tanya papa.
Intan menduduki kursi di hadapan papa nya.
"Nita mengamuk" ucap Intan.
"Apa penyebabnya?" tanya papa.
Intan menceritakan semuanya kepada papanya.
"Apa solusi papa untuk kedepannya mengenai Nita?" tanya Intan.
"Kita akan cari keluarganya, kita akan serahkan Nita kepada keluarganya" jawab papa.
"Apakah hari ini papa dan mama jadi ke panti asuhan bunda kasih?" tanya Intan.
"Iya kak, Papa koq merasa nama panti asuhan itu sama ya seperti nama panti asuhan Mika tinggal" ucap papa.
"Masa sih pa, jangan - jangan namanya saja yang sama" jawab Intan.
"Kaka ikut ya!"perintah papa.
"Siap pa" jawab Intan.
"Kita berangkat sekarang saja pa, biar tidak kemalaman pulangnya" usul Intan.
"Ayo" jawab papa.
Akhirnya mereka berdua menujuh ruang praktek mama nya untuk mengajak pergi ke panti asuhan bunda kasih.
Kini mereka bertiga sudah siap berangkat ke alamat panti asuhan bunda kasih berdasarkan cerita Nita kepada Intan dan mereka pergi diantar oleh supir papa.
Selama perjalanan mereka semua yang ada di mobil hanya saling diam saja.
Sedangkan Papa sangat menikmati mendengarkan lagu broeri yang diputar pada tape mobil.
Perjalanan yang macet membuat papa sesekali mengikuti sendung lagu yang diputar untuk mengusir rasa bosannya.
Suara merdu papa membuat semua orang yang mendengarnya kagum, termasuk mama dan Intan.
Sedangkan Didin sang supir hanya tersenyum saja.
Bersambung...
Maaf ya para pembaca setiaku semua, author lanjut di episode berikutnya yaππππ
Terima kasih telah mengikuti karya author, mohon maaf bila masih banyak salah typoππ
__ADS_1
Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya author agar lebih semangat up nyaππ
Tolong tinggalkan jejak Like, vote, hadiah dan komen dibawah iniππππ