Lihatlah Aku

Lihatlah Aku
Lihatlah Aku, season 2


__ADS_3

Bab 70


Mika meminta di antar kepada pak Mamat untuk mencari hotel yang dekat RS. Diamond. Mika pesan kamar deluxe 3 kamar, 2 kamar dengan conecting door dan twin bed, serta 1 single bed untuk pak Didin. Mika meminta mereka semua untuk beristirahat.


Rencananya besok Mika akan mencari rumah kontrakan dekat dengan RS. Diamond agar mudah ke RS tanpa bermacet - macet ria.


Mika memilih sekamar dengan salah satu adiknya beserta bayi twin nya dan adiknya yang lain sekamar dengan babysister Al dan Al.


"Dek tolong rahasiakan kejadian yang kau lihat di rumah Bagaskara tadi" ucap Mika.


"Iya kaka"Jawab adik Mika.


Mika sengaja memesan antara kamar dirinya dengan kamar babysister Mika conecting door. Mika berharap akan memudahkan untuk berkomunikasi.


Mika memikirkan nama - nama anaknya yang kembar. Bayi 1 bulan ini belum di berikan nama oleh orang tuanya, Mika merasa bersalah kepada anak - anaknya.


Mika berencana memberi nama Devin Bagaskara dan Devina Bagaskara. Mika juga akan menggelar aqiqah 2 hari lagi di panti asuhan Bunda Kasih.


Sedangkan di kediaman Bagaskara sedang terjadi peperangan antara Devon dengan keluarganya.


Intan yang telah sadar dari pingsan segera menelepon papanya. Intan meminta papa pulang secepatnya.


Selain itu Intan berusaha menghubungi telepon Mika tetapi sedang tidak aktif no HP Mika.


Intan pun berinisiatif menelepon no telepon pak Didin, tetapi pak Didin tidak mau menjawab alamat Mika sekarang tinggal. Pak Didin beralasan kalau sudah berjanji dengan majikannya untuk tidak memberitahu alamat mereka menginap karena Mika ingin mencari ketenang dulu.


Papa telah sampai rumah, melihat mama menangis di ruang tamu membuat hati bertanya - tanya.


"Mama kenapa?" tanya papa.


"Mika pa...Mika ..." jawab mama yang sulit menjelaskan.


Mama terus menangis di pelukan suaminya. Kesedihannya semakin mendalam setelah mantu dan cucunya pergi. Kebahagian yang baru di raihnya kembali hancur oleh sikap anaknya. Kemarahan yang tidak jelas akar permasalahannya membuat mama kecewa dengan anaknya.


"Ma tolong jelaskan, ada apa ini?" tanya papa sekali lagi.


Mama tidak sanggup menjelaskan, mama terus menangis.


Hingga Intan datang bersama suaminya ke hadapan papa.


"Devon pa, dia mengusir istrinya" ucap Intan sambil menangis.


Dalam isak tangisnya Intan menjelaskan kejadian siang tadi. Dimana Devon tanpa rasa bersalah dan menyesal telah mengusir istrinya yang baru pulang terapi yang diantar olehnya. Selain itu Intan juga memperlihatkan foto - foto saat Devon mendatangi apartemen Shila.


"Apa?" jawab papa yang terkejut.


Papa yang mendengar berita itu dan melihat foto - foto Devon di apartemen menjadi marah terhadap anak laki - lakinya itu.


"Dimana anak itu?" tanya papa.


"Dikamarnya" jawab Intan.


Papa dengan perasaan kesal dan marah mendatangi kamar Devon dilantai dua.


Sesampainya di depan pintu papa langsung membuka pintu kamar itu. Papa begitu terkejut melihat keadaan kamar Devon yang kacau balau seperti habis di bom.


Papa memanggil ART nya untuk merapihkan kamar Devon. Setelah itu papa melangkah mendekati ke arah balkon dimana Devon duduk dengan rokok di tangannya.


"Apa maksudmu ini semua Dev?" tanya papa.


Devon tidak mengambil pusing ucapan papanya. Dirinya asik merokok tanpa peduli orang lain.


"Jawab papa Dev" bentak papa.


Devon yang merasa di atur - atur dengan berat hati menjawabnya.


"Aku mencintai wanita lain, aku ingin berpisah dari wanita bisu itu" ucap Devon.


*Pl**ak*...tamparan papa yang begitu keras mendarat di pipi Devon.


"Jangan mengatur lagi hidupku, aku bukan boneka papa yang diatur - atur" teriak Devon.


"Bukankah kau yang dulu meminta kami untuk melamar Mika?...kenapa kini kau yang menyalahkan kami?" tanya papa.

__ADS_1


"Itu dulu saat aku tersihir dari wajah polosnya terapi kini aku sudah tau kalau wajah polosnya hanya topeng saja" teriak Devon.


"Berhentilah berteriak, aku adalah papa mu" ucap papa dengan nada yang cukup keras.


"Aku ingin pisah pa, aku tersiksa dalam batin ini" ucap Devon sambil menangis.


"Baiklah, selesaikan semua dengan cara yang baik...kau meminangnya dengan cara baik maka akhirilah semua dengan baik...tetaplah bertangung jawab kepada anakmu" ucap papa.


"Terima kasih pa sudah mengerti aku" jawab Devon.


Devon datang mendekati papanya sambil memeluk papanya.


"Mulai hari ini kau bukan lagi bagian dari Bagaskara, pergilah cari kebebasaan yang kau inginkan" ucap papa.


Devon syok mendengar ucapan papanya yang sangat mengejutkan itu.


"Tinggalkan rumah ini dan jangan kau bawa barang - barang yang ada di kamar ini" ucap papa.


Setelah itu papa pergi meninggalkan kamar anaknya.


Devon terperangah atas ucapan papanya. Dia tau benar kalau semua perintah papanya tidak bisa di bantah oleh siapapun.


Devon melangkahkan kelemarinya untuk mengambil tas dan beberapa dokumen penting. Setelah itu Devon pergi meninggalkan rumahnya.


Devon harus rela pergi meninggalkan Rumah yang sudah ditempatinya dari bayi, bahkan sudah hampir lebih dari 35 tahun tinggal dirumah itu bersama papa, mama dan kakanya.


Mama dan Intan serta suaminya hanya terdiam melihat kepergian Devon.


Devon berjalan menujuh garasi mobil, saat akan mendekati mobilnya, pundaknya mendapat tepukan.


"Pok...ingat tidak ada lagi fasilitas yang aku berikan" ucap papa dengan sinis.


"Tetapi pa aku harus pakai apa untuk pergi dari sini?" tanya Devon.


"Bukan urusanku" jawab Papa.


Akhirnya Dengan berat hati Devon pergi dari rumah itu dengan taksi online menujuh apartemen Shila.


Devon berkali - kali menekan tombol akses di pintu Shila tetapi tidak juga bisa terbuka. Devon berkali menelepon Shila tetapi tidak di angkat, lalu devon mengirimkan pesan kepada Shila.


Dengan berat hati Devon pergi meninggalkan apartemen Shila dan mencari kost yang terjangkau dengan keuangan Devon saat ini.


Setelah berjalan kaki berputar - putar akhirnya Devon mendapatkan tempat kost yang sangat bersih dengan harga murah.


Devon pun merebahkan tubuhnya yang lelah setelah berputar - putar mencari kost di malam hari dengan perut kosongnya. Devon memilih tidur dari pada mengisi perutnya yang lapar.


Pagi harinya setelah mandi, Devon berangkat ke apartemen Shila. Berharap Shila sudah ada.


Devon menekan Bel pintu apartemn Shila, setelah beberapa kali dipencet akhirnya pintu itu terbuka juga.


Shila yang berpakaian minim membuka pintunya.


Devon yang melihat pemandangan indah itu tidak melewatkan momen itu. Devon memeluk Shila dan membawa masuk kedalam dan menutup pintu.


Devon yang sudah tergoda dengan tubuh Shila tidak dapat menahan diri lagi. Devon terus meraba disetiap lekuk tubuh Shila yang terlihat sempurna di matanya.


Shila pun seperti seperti cacing kepanasan yang sudah tersengat oleh rangsangan Devon.


Devon langsung mencumbu Bibir Shila yang beberapa kali gagal di lakukannya. Bibir yang begitu menggoda tetapi saat tercicipi Devon merasa tidak semanis bibir istrinya. Devon melanjutkan untuk mengabsen seluruh yang ada di rongga mulut Shila.


Shila yang sudah terbakar oleh sentuhan Devon mengharapkan perlakuan yang lebih.


Devon sudah membuka kaos dan celana yang tersisa hanya celana boxernya saja.


Saat Devon akan melepaskan pakaian Shila tiba - tiba ada suara berteriak dari dalam kamar Shila.


"Sayang kemana kamu.. lama banget sih... cepatlah, kita lanjutkan yang tertunda sayang...sudah tidak tahan nih sayang" ucap suara laki - laki.


Shila kaget mendengar suara teman kencannya. Shila pun mendorong Devon dengan kuat.


"Auw" teriak Devon yang kesakitan karena jatuh setelah di dorong Shila.


"Cepat pakai pakaianmu dan cepat pergi" ucap Shila dengan suara di pelankan agar tidak terdengar teman kencannya.

__ADS_1


Devon memakai dan merapikan pakaiannya.Devon menanyakan sesuatu hal sebelum keluar dari apartemen Shila.


"Kau berhutang penjelasan untuk laki - laki di kamar mu" ucap Devon.


Devon pun pergi dengan perasaan kesal.Hasratnya tidak terpenuhi dan bayangan bibir manis Shila ternyata tidak sesuatu kenyataan.


Devon yang terbakar keinginan untuk pelepasanpun akhirnya terpikir satu nama yaitu istrinya.


Devon mendatangi RS. Diamond. Devon sangat hafal sekali jadwal istrinya datang ke RS. Devon dengan menaiki taksi online ke RS.Diamond.


Sesampainya di RS. Diamond, Devon langsung menaiki lantai 7 dengan menggunkan Lift.


Ting...bunyi dentingan pintu lift yang menunjukan telah sampai di lantai 7 dan membuka pintu secara otomatis.


Devon keluar dan langsung menujuh ruangan Shila.


Krek...pintu ruang di buka oleh Devon.


Mika yang sedang melihat laporan dilaptopnya terkejut. Mika hanya mematung memandang suaminya yang acak - acakan itu.


Devon mendekati Mika dan langsung memeluk istri. Devon mendekap erat tubuh ramping istrinya dan mencium bibir manis itu.


Devon seakan ketagihan dengan rasa manis yang dirasakannya. Devon dengan brutal memperdalam ciumannya. Devon yang sudah tidak bisa menahan keinginannya ingin segera menuntaskannya.


Devon membuka pakaian Mika dengan paksa dan dirinya pun melepaskan pakaian ditubuhnya.


Selanjutnya author skip ya say.. πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Silakan bayangkan masing - masing πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ


Devon begitu lega setelah pelepasan dengan istrinya. Dirinya sudah lama menahan beberapa kali setelah pemanasan tetapi tak kunjung penyelesaian.


Sedangkan Mika hanya mampu mengeluarkan air mata tanpa suara. Dirinya merasa di lecehkan oleh suaminya sendiri. Kesedihan dan rasa sakit hatinya bercampur.


"Tuhan mengapa suamiku sekejam ini kepadaku" ucap Mika dalam diamnya.


Mika terus saja menangis sambil memakai kembali pakaiannya.


Devon sudah merasa tenang dan bahagia karena sudah terlampiaskan keinginannya kepada istrinya.


Devon dengan santai memakai pakaiannya di depan istrinya sambil tersenyum menggoda istrinya.


"Ternyata servismu masih sama, enak sih tetapi membosankan" hina Devon.


Mika yang mendengar hinaan itu sakit sekali hatinya. Mika merasa di perlakukan seperti wanita penghibur saja oleh suaminya.


Devon yang sudah rapi mengambil tas Mika dan mencari dompet mika. Setelah menemukan Devon menguras seluruh uang cash yang ada di dompet Mika dan melempar tas dan dompet Mika ke lantai.


"Ini adalah bayaranku yang telah memuaskanmu" Ucap Devon sambil tertawa kecil.


Devon pun pergi meninggalkan ruangan Mika tanpa rasa bersalah sedikitpun dan membawa uang milik Mika.


Sungguh hati Mika sakit sekali, mengapa suaminya yang berkali - kali di beri kesempatan itu tega dengan ibu dari ketiga anaknya.


Mika bertekat akan menggugat cerai suaminya. Rasa kecewa yang di berikan suaminya sudah cukup, Mika tidak ingin lebih lama lagi menderita.


Penyesalan dalam hidupnya adalah mencintai orang yang salah. Mika berharap pernikahan dengan Devon menjadi hidupnya lebih terlindungi.


Hinaan dan cacian yang didapat Mika pada masa lalunya kini terulang lagi. Yang lebih menyedihkan Hinaan dan cacian itu terucap dari orang yang begitu mengetahui bahkan membantu Mika saat mentalnya tidak dapat menahan iti semua.


Air mata Mika mengalir deras meratapi semua kejadian dalam hidupnya.


Mika bukan saja memikirkan nasibnya seorang tetapi nasib ke tiga buah hatinya. Kaka Al yang belum genap 1 tahun dan anak kembarnya Devin dan Devina yang baru berusia 1 bulan.


Mika terus berpikir apakah ini keputusan yang tepat, apakah dirinya tidak egois yang memisahkan anak dengan papanya.


Mika tidak ingin masa lalu kecilnya terulang kembali, lahir tanpa mengenal dan pendampingan seorang papa menjadi Mika hilang sosok pelindung dalam dirinya.


Pikirannya kacau dalam mengambil sikap, pikirannya yang kacau membuatnya berubah - ubah dalam mengambil keputusan.


Bersambung...


Terima kasih telah mengikuti karya Author, mohon maaf bila ceritanya tidak sesuai keinginan kalian dan bila ada salah typoπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


Ditunggu kritik dan saran kalian semua, yang dapat membangun karya authorπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


Tinggalkan jejak Like dan komentar nya πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


__ADS_2