
Boby melakukan pengecekan darah, dan alhamdulilah darahnya cocok dan tidak bermasalah. Boby bisa mendonorkan darahnya untuk istrinya.
Boby masuk ke ruangan yang sama dengan Novia. Wajah Novia terlihat sangat pucat. Matanya terpejam. Bulir air mata kembali meleleh di sudut mata Boby. Sungguh menyakitkan melihat semua ini. Dan dia merasa sangat berdosa.
Sambil menunggu perawat mempersiapkan alat-alat yang akan di pakai untuk mentranfusi darahnya untuk Novia, dokter memperbolehkan Boby menemui sang istri yang sedang terbujur lemah.
Boby memegang telapak tangan kiri Novia. Di kecupnya lama punggung tangan itu. ' Maafkan Aku, Cinta...Maaf telah membuat kamu seperti ini. Maafkan aku... hiks...hiks...hiks...' ucap Boby lirih sambil masih menggenggam tangan Novia.
Tak berapa lama, perawat memanggil supaya dia segera tidur di ranjang yang telah tersedia di samping ranjang Novia. Perawat memasang jarum suntik yang akan di gunakan untuk mengambil darah Boby. Kemudian memasang selang ke jarum yang telah menancap di tangan Novia.
' Ya Allah...Ya Rabb...selamatkanlah istri hamba Ya Allah...' doa Boby di sela-sela kegiatannya memberikan darahnya ke Novia.
••••
Setelah tiga jam Novia melahirkan, keluarga masih dengan setia menunggu di depan ruang persalinan. Mereka masih harap-harap cemas. Selama hampir dua jam dari dia diambil darahnya, Boby berjalan mondar mandir di depan pintu ruang persalinan.
Dokter yang menangani novia keluar dari ruangan. Boby langsung mendekat.
" Dokter, bagaimana? "
" Maaf, pak... Istri anda... istri anda koma. "
__ADS_1
" Apa? Dokter tolong jangan bercanda dok..." ucap Boby sambil memegang kedua bahu dokter itu.
" Saya tidak bercanda pak. Sebenarnya kondisi ibu Novia pasca melahirkan, sudah baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun dalam rahimnya. Pendarahan juga sudah kami atasi. Bahkan pasokan darah dalam tubuh ibu Novia juga sudah normal. Hanya saja...ibu Novia masih tetap terlelap. Setelah ini kami akan membawa ibu Novia ke ICU untuk selalu di pantau, dan kami juga akan bekerjasama dengan ahli penyakit dalam juga spesialis syaraf untuk mengobservasi pasien lebih lanjut. "
Boby tidak bisa menjawab aku apapun penjelasan dokter. Dia kembali menangis. Tubuhnya kembali luruh ke lantai.
" Terimakasih dokter. Tolong usahakan yang terbaik untuk anak saya supaya bisa bangun dok. " pinta Bu Vera.
" Iya Bu. Kalau begitu saya permisi. Pasien akan segera kami pindahkan ke ICU. " ucap dokter.
Bu Vera menghampiri Boby. Boby terduduk dengan kepala menunduk sampai kepalanya menempel di kedua lututnya dan kedua tangannya berada di atas kepala. Boby menangis sesenggukan.
Bu Vera berjongkok di hadapan Boby. Dielusnya pundak sang anak.
Boby mengangkat kepalanya dan memeluk mamanya.
" Novia gimana ma? Kenapa dia seperti ini? "
Bu Vera membalas pelukan Boby. " Kamu yang sabar ya nak... yang kuat...kita hanya bisa berpasrah diri kepada Allah. Semoga Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menebus semua kesalahan kita sama Novia. "
" Mama, Boby nggak mau di tinggal sama Novia ma. Boby nggak mau hidup tanpa Novia...hiks..hiks...hiks..."
__ADS_1
" Husss... jangan berpikiran buruk terhadap takdir. Kita tetap harus berpositif thinking. Dokter di sini semua adalah dokter terbaik yang ada di negara kita. Mereka pasti bisa membantu kita membawa istri kamu kembali. "
••••
Kini sudah tiga hari Novia berada di ICU. Belum ada perubahan sama sekali dalam diri Novia. Dia masih terlelap dari tidurnya. Boby masih dengan setia menunggui. Tidak pernah sekalipun dia meninggalkan rumah sakit.
Para dokter yang menangani Novia mengatakan bahwa tidak ada kerusakan apapun dalam tubuh Novia. Bahkan bekas melahirkanpun sudah tidak ada. Tapi dokter mengatakan kalau memang Novia terlalu asyik tertidur. Seperti tidak ada keinginan untuk bangun sama sekali. Hanya saja memang nadi Novia masih sangat lemah.
" Dokter, kalau misalnya istri saya di pindah ke ruang perawatan bagaimana? Kalau memang di tempat perawatan tidak alat-alat yang digunakan untuk Novia, tolong di usahakan dok. "
" Sebenarnya kami punya ruangan VVIP yang memang sudah lengkap dengan berbagai peralatan seperti yang ada di ICU. Tapi biayanya lebih besar daripada di ruang ICU. "
" Tidak masalah bagi saya berapapun biayanya dok. Saya hanya ingin kenyamanan istri saya. Dan saya pun bisa menemaninya 24 jam penuh. Tidak harus menunggu jam bezuk."
" Baiklah pak jika begitu. Saya akan memindahkan istri bapak ke ruang VVIP yang ada di lantai 8. Setelah semua siap, bapak bisa mengikuti kami untuk memindahkan istri bapak. "
Boby meninggalkan ruangan dokter. Dia menunggu dokter dan perawat mempersiapkan pemindahan Novia. Sambil menunggu, Boby menuju kamar bayi untuk melihat kondisi bayinya.
Terlihat bayi laki-laki itu terlihat lebih sehat. Tubuhnya sudah mulai tampak berisi. Dia menggerak-gerakkan kaki mungilnya ke atas. Matanya bulat dan iris matanya berwarna coklat. Sama seperti iris mata Novia. Boby tersenyum melihat bayinya.
" Cepat sehat ya nak. Supaya bisa cepat keluar dari alat ini. " ucap Boby. Si bayi tampak merespon dengan senyuman kecilnya.
__ADS_1
***
bersambung