Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
73. Berubah


__ADS_3

Sudah tiga hari semenjak pertengkarannya dengan Novia. Dia menginap di kantornya. Sebenarnya dia ingin sekali pulang ke rumah. Entah kenapa perasaannya tidak enak selama dua hari belakangan ini. Ada rasa cemas dan khawatir.


Tidurpun tidak nyenyak. Dia kepikiran dengan istrinya. Tapi setelah dia menyadari, dia cepat-cepat menepis pemikiran itu.


Sebenarnya jika sedang tidak bersama Karell, Boby selalu kepikiran istrinya. Bukannya dia tidak peduli. Dia juga selalu merasa bersalah ketika bertemu dengan Novia. Itulah sebabnya akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor untuk menghindari istrinya.


Setiap bertemu dengan Novia, perasaan bersalah selalu menghantui. Tapi dia juga tidak bisa menolak kehadiran Karell. Sudah sejak dari dulu, dia tidak pernah bisa menolak apapun yang di katakan Karell.


Hampir tiap malam ketika dia tertidur, dia bermimpi hal yang sama. Bermimpi ada seorang anak laki-laki yang selalu menangis memanggilnya 'ayah'.


Setiap mimpi itu hadir, perasaan bersalahnya terhadap istrinya semakin membesar. Tapi lagi-lagi setelah dia bertemu Karell, perasaan itu meluap begitu saja.


••••


Di rumah sakit.


Candra membantu Novia bersiap-siap untuk pulang. Selama dua hari dua malam Novia menginap di rumah sakit. Dan selama itu pula, Candra selalu menemaninya.


Kondisi Novia sudah lebih baik dari ketika dia di bawa Candra ke rumah sakit. Selama di rumah sakit, dia bisa makan nasi dengan baik. Dia juga tidak selalu ingin muntah jika merasakan nasi di mulutnya.


Candra menjaganya dengan baik. Memenuhi semua yang diinginkannya. Novia jadi tidak enak hati karena selalu merepotkan Candra dengan segala keinginannya.


Setelah kemarin pagi dia meminta di masakkan cumi segar asam pedas, kemudian meminta mangga yang pastinya susah untuk di dapat.


Kemarin Candra bela-belain memanjat pohon mangga di kebun temannya. Karena dia mencari mangga seperti yang di mau Novia di pasar tidak ada, maka dia pergi ke rumah temannya yang mempunyai pohon mangga.


Bahkan dia sendiri yang membuat sambal rujaknya.


Pada malamnya, Novia membangunkannya karena dia ingin sekali makan pempek Palembang. Candrapun dengan sabar mencari apa yang di inginkan Novia. Walaupun dia yakin di tengah malam begitu, akan sangat susah mencari penjual pempek. Tapi dengan kesabarannya, dia mendapatkan keinginan Novia.


Candra sudah seperti seorang suami yang siap siaga. Mengingat hal itu, Candra senyum-senyum sendiri. Dia bahagia bisa memenuhi semua keinginan Novia. Walaupun Novia bukanlah siapa-siapanya. Dan anak yang di kandung Novia juga bukan anaknya.


Melihat Novia yang tersenyum lepas setelah Candra memenuhi keinginannya, itu sudah sangat membuat Candra bahagia. Kalau dia bisa meminta, maka dia akan meminta, hari ini tidak akan pernah berganti. Jadi dia akan selalu berada di samping Novia terus.


Setelah semuanya siap, mereka bergegas pulang.


" Oh iya mas, kok Nov langsung pulang aja. Administrasinya tadi gimana?" tanya Novia ketika mereka sampai di depan pintu keluar.


" Sudah beres semua. Kita tinggal pulang saja. "


kemudian mereka berjalan kembali.


" Mas, nanti kalau ada ATM, kita berhenti dulu ya. Nov mau ambil uang dulu buat ganti biaya rumah sakit tadi. "

__ADS_1


Candra menghentikan langkah Novia. " Tidak usah di pikirkan masalah pembayaran rumah sakit. Semua sudah lunas. "


" Iya kan pakai uang mas. Nov harus ganti lah. " Novia kembali berjalan.


Candra hanya diam tanpa harus menjawab omongan Novia. Karena dia tahu sifat Novia yang keras kepala.


Mereka menaiki mobil Candra. Novia diantar pulang oleh Candra. Sebelum pulang tadi, Novia sempat menghubungi Bi Susi, menanyakan apakah suaminya di rumah atau tidak. Dan ternyata suaminya tidak di rumah. Makanya dia mengijinkan Candra mengantarnya pulang.


Mobil Candra terus berjalan mengikuti alamat yang di sebutkan Novia. Beberapa kali lewat ATM, Candra masih tidak menghentikan mobilnya.


" Mas, tadi itu ATM terakhir sebelum sampai rumah Nov lho. Kok masih nggak berhenti juga. "


" Mas tadi udah bilang, uangnya nggak usah di ganti. Mas nggak mau. Buat mas, yang terpenting adalah kesehatan kamu juga bayimu. "


" Nov jadi nggak enak. Nov ngerepotin mas terus. " Novia menunduk.


" Sudah. Tidak usah di pikirkan. Pikirkan saja bayi yang ada di kandunganmu. "


" Iya mas. "


Tak lama kemudian sampailah mereka di depan gerbang rumah.


" Betul ini rumahnya dik? "


Melihat Novia keluar dari dalam mobil, bi Susi segera menghampiri. Candra juga ikut turun dengan membawa paper bag baju kotor Novia.


" Mas, sekali lagi, Nov ucapin makasih banyak ya. Nov beberapa hari ini ngerepotin mas terus. "


" Nggak pa-pa dik. Lagian mas juga senang di repotin sama kamu. Kamu jangan lupa, makan yang banyak, tidak usah memikirkan hal-hal yang berat. Pikirkan saja bayi kamu. "


" Iya mas. " ucap Novia mengangguk.


" Ya udah, kamu sebaiknya masuk. Istirahat. "


" Mas Candra nggak masuk dulu?"


" Tidak usah. Terimakasih. Nggak enak juga di lihat orang. Mas cuma mau bicara sebentar sama bi Susi. Mas mau menyampaikan pesan dari dokter Dea. Supaya memperhatikan makanmu. "


" Iya. Kalau begitu, Novia masuk dulu ya mas. "


Candra mengangguk sambil tersenyum. Setelah Novia masuk, dia dan bi Susi berbicara. Candra menceritakan apa saja yang di katakan oleh dokter kandungan Novia. Dia juga bercerita tentang kondisi Novia saat dia menemukannya.


" Bibi pasti tahu, sebenarnya apa yang terjadi antara Novia dan suaminya? "

__ADS_1


Karena bibi melihat Candra adalah orang baik, dan juga begitu peduli dengan Novia, akhirnya bi Susi bercerita.


" Awalnya, mas Boby selalu bersikap baik sama mbak Novia. Dia kelihatan begitu sayang. Dengan kesabaran, dia berusaha mengambil hati mbak Novia walaupun berkali-kali di tolak. Tapi mungkin karena perhatian dan rasa sayang mas Boby sama mbak Novia, akhirnya mbak Novia luluh juga. Sampai akhirnya, mbak Novia hamil. Tapi setelah kepulangan mas Boby dari Yogya yang terakhir kali itu, ya kurang lebih satu bulan yang lalu, sikap mas Boby berubah. "


Bibi menghentikan ceritanya sesaat. Candra menyimak cerita bibi dengan serius.


" Mas Boby berubah menjadi dingin. Apalagi setelah mbak Novia memberi tahu soal kehamilannya. Mas Boby jadi jarang pulang, kalaupun pulang pasti bertengkar dengan mbak Novia. Sepertinya mas Boby belum bisa menerima kehamilan mbak Nov. Bibi kasihan sama mbak Nov. Segala sesuatu di simpan sendiri. Kalau bibi ini tidak memancing cerita, maka mbak Nov pasti diam saja. "


" Memang begitu bi Novia itu. Dia selalu menyimpan semua masalahnya sendiri. Dia khawatir menjadi beban buat orang lain. "


Bibi manggut-manggut.


" Bi, boleh saya minta tolong? "


" Iya mas."


" Kalau bibi tahu kenapa kok suami Novia berubah, atau mungkin bibi bisa bertanya sama Novia kenapa kemarin dia sampai melamun dan hampir tertabrak mobil, tolong kasih tau saya ya bi. Siapa tahu saya bisa membantu. Jadi kondisi psikologis Novia juga bayinya bisa lebih baik. "


" Oh, gitu ya mas. Baik, baik. Oh iya mas. Mas ini namanya siapa? "


" Saya Candra bi. Saya akan kasih tahu bibi siapa saya, tapi bibi jangan kaget dan jangan berpikir yang tidak-tidak ya bi. "


Bibi langsung mengangguk.


" Saya ini mantannya Novia. "


Bibi melongo karena terkejut.


" Tapi bibi jangan khawatir. Saya tidak ada maksud buruk terhadap rumah tangga Novia. Saya memang masih sangat mencintai Novia bi. Tapi saya akan melakukan apapun asal Novia bahagia. Walaupun tidak bersama saya. "


" Iya mas. Bibi mengerti. "


Candra mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.


" Bi, ini kartu nama saya. Di situ ada nomer telepon saya. Kalau ada apa-apa, tolong kabari saya ya bi. "


Bibi menerima kartu nama yang di berikan Candra.


" Baiklah bi, saya mohon pamit dulu. Tidak enak kalau tiba-tiba suaminya Novia pulang dan melihat saya di sini. Nanti jadi salah paham. "


Bibi mengangguk. Kemudian Candra masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Boby.


****

__ADS_1


bersambung


__ADS_2