
Hari berikutnya, orang tua Novia datang ke Jakarta bersama. Mereka langsung ke rumah sakit, karena cucu mereka juga berada di rumah sakit.
Siang itu, suasana di kamar rumah sakit begitu ramai. Ada Bu Vera, si kecil, Boby tentu saja, dan kedua orang tua Novia. Dan kebetulan, Andre dan Shinta juga datang berkunjung setelah mendengar kabar kalau Novia telah sadar.
Kondisi Novia sudah lebih baik. Dia sudah bisa duduk meski harus bersandar pada ranjang. Tapi tangan dan kakinya masih belum begitu kuat. Untuk makan saja dia masih harus di suapi karena tangannya belum kuat untuk membawa sendok.
Ketika si kecil datang, Novia sangat ingin menggendongnya. Tapi apalah daya, tangannya masih belum kuat untuk menggendong si kecil. Akhirnya, Bu Vera menidurkan si kecil di samping Novia dan memakai tangan Novia sebagai bantal si kecil. Paling tidak, Novia bisa memeluk si kecil.
Inilah kali pertama Novia melihat si kecil. Novia begitu terharu melihat si kecil. Dia meneteskan air mata sambil terus memeluk si kecil. Ada rasa sedih juga yang bersemayam di hatinya karena semenjak si kecil lahir, dia tidak bisa memeluk dan merawatnya.
" Maafkan mama ya sayang...Mama jahat ya nak...Mama ...mama tidak merawat kamu dengan baik. Mama malah terlalu asyik tidur. Sampai-sampai mama tidak memikirkan kamu. " ucap Novia sambil terus mengecup kening si kecil.
Semua yang ada di sana merasa terharu dan sekaligus sedih melihat pertemuan seorang ibu dan anaknya untuk pertama kalinya. Bahkan Boby, Bu Vera dan Bu Arum ikut meneteskan air mata.
" Nak, si kecil juga belum punya nama lho sampai sekarang. " ucap Bu Vera.
" Lho??" Novia kaget.
" Iya, nak. Belum ada yang memberinya nama. Papanya bilang nunggu mamanya bangun, biar mamanya aja yang kasih nama. Sekarang karena kamu sudah bangun, kamu kasih nama anak kamu. "
" Mmmmm....." Novia tampak berpikir. Suasana jadi hening. Mereka semua menunggu Novia berbicara.
" Atharauf Elvano... yang artinya anak laki-laki kuat yang di berikan oleh Yang Maha Pemberi. "
" Namanya bagus. " ucap Shinta.
" Mamanya udah kasih nama. Papanya juga harus menyumbang dong. " ucap Bu Arum.
" Boby suka dengan nama yang di berikan Novia. Itu aja cukup Bu. "
" Ehhh... tidak-tidak ..Nama seorang anak itu harus di berikan oleh kedua orang tua. Tidak boleh hanya satu. Ayo...kamu mau menambahi apa. " tambah Bu Arum.
" Mmm..." Boby tampak berpikir. " Kalau diijinkan sama Novia, saya mau kasih nama belakang keluarga saya. Permana. " ucap Boby dengan nada rendah. Khawatir Novia tidak menyukainya.
__ADS_1
" Gimana nduk? " tanya Bu Arum ke Novia
Novia hanya mengangguk tanpa melihat Boby.
" Berarti nama cucu kita Atharauf Elvano Permana ini oma. "
" Iya nek. Tinggal menentukan kita mau panggil siapa ini? " tanya Bu Vera.
" Kalau Athar gimana?" usul Bu Arum.
Dan semua menyetujuinya. Tampak si kecil tersenyum dalam tidurnya. Mungkin dia senang karena telah mempunyai nama.
Kemudian semua yang ada di ruangan kembali berbincang-bincang. Sesekali Boby memandang Novia. Dia sedang mengobrol dengan Andre tapi pikirannya tetap tertuju sama sang istri. Semenjak sadar kemarin, Novia tidak berbicara apapun dengannya. Novia hanya membalas pertanyaan Boby seadanya. Bahkan melihat wajahnya saja Novia tidak mau.
Ketika semua sedang asyik berbincang, tiba-tiba Athar menangis. Rupanya dia terbangun.
" Kenapa dia ma? " tanya Novia yang masih belum mengerti kebiasaan si kecil.
" Kok nggak ada ma. " jawab Boby setelah dia mencari di tas.
" Waduh, bibi lupa bawain tadi. "
" Di kantin rumah sakit pasti ada tante. Biar coba saya carikan. " ucap Shinta sambil bangkit dari duduknya.
" Nggak usah mbak. Lagian kalau beli botol baru, di sini nggak ada alat steamernya. Pasti kurang higienis. Biar Athar, Novia susui aja. "
" Kamu bisa nak?" tanya Bu Vera memastikan.
" Insyaallah bisa ma. " jawab Novia sambil berusaha bangun dari tidurnya.
Boby segera memencet tombol naik untuk menaikkan ranjang bagian atas supaya Novia bisa bersandar di sana. Karena Novia hendak menyusui anaknya, Andre, Shinta, dan pak Samsul keluar dari ruangan. Setelah menaikkan ranjang, Boby juga menyusul mereka keluar. Karena sudah bisa di pastikan, kehadirannya di sana sangat tidak di inginkan istrinya.
Bu Arum meletakkan bantal di pangkuan Novia, kemudian membantu Novia membuka kancing kemejanya, karena tangan Novia masih belum kuat melakukan sesuatu.
__ADS_1
Bu Vera meletakkan Athar di atas bantal di pangkuan Novia. Karena tangan Novia masih lemah, alhasil mereka kesusahan membantu si kecil menyusu. Sedangkan si kecil sudah semakin keras tangisannya.
" Oma, panggil saja Boby. Biar di bantu dia. " ucap Bu Arum.
Novia melihat ke ibunya sambil menggelengkan kepalanya.
" Nduk, kasihan anakmu. Dia sudah kelaparan. Ibu sama mama kamu nggak bisa bantu ini. Lagian kenapa mesti malu sama suami kamu sendiri. Sudah terbukti mbrojol si gembul gini kok. " ledek Bu Arum.
Akhirnya Novia mengalah, tapi dia tidak berucap apapun. Bu Arum sendiri yang memanggil Boby untuk masuk.
" Ada apa Bu? " tanya Boby ketika sudah masuk ke ruangan.
" Ini, Athar nggak bisa nyusu. Tangan Novia belum kuat mengangkat kepala Athar. "
" Kamu bantu seperti yang kemarin kita lakukan sama suster. " tambah Bu Vera.
Boby mendekat ke Novia. Tapi dia masih terdiam di tepi ranjang. Boby menunggu ijin dari Novia.
Sedangkan Novia masih bergulat dengan pikirannya. Apa yang kemarin di lakukan Boby dan suster terhadapnya.
" Ayo cepetan. Nunggu apalagi? Kasihan si orok. " ucap Bu Arum membuyarkan lamunan Novia.
Novia mengangguk untuk menjawab tanpa melihat ke arah Boby. Boby menurunkan ranjang sedikit, kemudian dia naik ke atas ranjang di belakang tubuh Novia persis. Membuka kakinya dan menaruhnya di kanan dan kiri kaki Novia. Kemudian menyusupkan tangan kanannya ke bawah tangan kanan Novia dan menyusupkan tangan kirinya ke bawah tangan kiri Novia sambil mengangkatnya. Sehingga mulut si kecil berada pas di depan p****** Novia.
What? Kok seperti ini? Jadi kemarin mereka juga melakukan ini? tanya Novia dalam hati.
Malu, grogi, deg-degan ... itulah yang Novia rasakan saat ini. Jantungnya berdetak begitu kencang. Bagaimana tidak malu, kalau dia harus bertelanjang dada seperti ini di hadapan seorang laki-laki. Meskipun itu adalah suaminya. Bagaimanapun juga, suaminya itu baru sekali saja melihatnya bertelan**** dada seperti ini. Itupun sudah hampir satu tahun yang lalu.
Novia belum tahu saja kalau selama dia tidak sadarkan diri, suaminya lah yang selalu membersihkan tubuhnya dari atas sampai bawah. Sampai kadang-kadang suaminya itu harus menahan hasratnya ketika sedang membersihkan tubuhnya. Tentu saja sang suami hampir tiap hari melihat dan memandang seluruh bagian tubuh Novia. Tanpa terkecuali.
****
bersambung
__ADS_1