
" Assalamualaikum.." sapa Novia.
" Waalaikum salam. " jawab Candra dan Aisyah bersamaan.
Novia menjabat tangan Aisyah dan Boby menjabat tangan Candra.
" Maaf, nunggunya kelamaan. " ucap Novia.
Boby menarik kursi untuk di duduki Novia.
" Nggak pa-pa. " jawab Candra sambil tersenyum hangat ke Novia.
Aisyah sempat melihat tatapan dan senyuman Candra untuk Novia. Dia jadi tahu kalau Candra memendam rasa untuk Novia terlalu dalam.
" Biasa, ada yang mengajak bermain drama sebelum kesini. " ucap Boby sambil mendudukkan dirinya di kursi sebelah Novia.
Novia melotot ke arah Boby. Membuat Boby mencubit pipinya gemas.
" Iya kan sayang. " goda Boby kembali.
" Mas.." protes Novia sambil merapatkan giginya.
" Bisa nggak sih kalian itu sekali aja nggak bermesraan di depanku. " protes Candra kesal.
Spontan, tiga orang yang ada di sana menoleh ke arah Candra.
Yah, memang Candra masih aja kesal jika melihat kemesraan Boby dan Novia. Meskipun dia telah merelakan Novia bersama dengan Boby, tapi hati kecilnya masih saja sakit jika melihat kebersamaan mereka.
Dan walaupun sekarang di sampingnya sudah ada Aisyah, Candra tetep mempunyai perasaan yang sama jika bertemu Novia dan Boby.
" Apa??" sungut Candra sambil melihat Boby dan Novia bergantian.
" Wah, ini ya mas calonnya? " tanya Novia mengalihkan pembicaraan. Karena dia tahu kalau suasana sudah seperti, maka suaminya dan mantannya ini pasti berdebat. Hal itu akan sangat tidak enak di dengar oleh calon istri Candra.
Aisyah mengangguk menjawab pertanyaan Novia sambil tersenyum.
" Ha?? I...Iya... kenalkan, ini Aisyah. Dan syah, ini Novia, dan ini Boby suaminya. " ucap Candra memperkenalkan.
" Assalamualaikum, mbak Aisyah. " sapa Novia.
" Waalaikum salam mbak Novia, mas Boby. " jawab Aisyah.
Mbak Novia memang sangat cantik. Dia memiliki aura seorang muslimah yang luar biasa. Pantas saja kalau mas Candra sangat mencintainya. Aku harus bisa belajar supaya bisa menjadi seperti mbak Novia. batin Aisyah.
" Jadi, mbak Novia ini mamanya Athar? " tanya Aisyah
__ADS_1
" Iya, mbak. Mbak Aisyah sudah pernah bertemu Athar? "
" Iya sudah. Dia anak yang lucu dan pinter. Athar mewarisi wajah mbak Novia sama suaminya ya. Ganteng. "
" Pasti itu. " jawab Boby dengan pedenya.
" Terus ngomong-ngomong, Athar kok nggak kalian ajak? " tanya Candra.
" Tadi ada bang Andre sama mbak Shinta main ke rumah, eh, si Athar malah nyangkut. Ikut pulang mereka. Katanya sih mau nginep di apartemen mereka. " jawab Novia.
" Yah, padahal aku kangen banget sama dia. Anak kamu memang ngangenin, dik. "
" Anak aku itu. " protes Boby.
" Ck..! "
" Hampir tiap hari mas Candra juga ketemu Athar." jawab Novia.
" Makanya bro, cepetan nikah. Biar bisa bikin anak sendiri. Cepet di halalin. " ucap Boby sambil dagunya menunjuk ke Aisyah.
Aisyah jadi malu di buatnya.
" Ngomong-ngomong, kapan mas di halalinnya? " tanya Novia.
" Insyaallah, dua bulan lagi. " jawab Candra.
Aisyah melirik ke arah pandang Candra. Dia menelan ludah dengan susah payah. Apakah dia akan mampu membalikkan hati Candra setelah mereka menikah kelak?
Boby juga sempat memperhatikan pandangan Candra ke Novia. Dia menjadi kesal. Sejak pertama dia bertemu Candra hingga sekarang, cara pandang Candra terhadap istrinya masih tetap sama. Kenapa Candra bisa sangat mencintai istrinya seperti itu? Dia jadi takut jika mengingatnya. Meskipun saat ini Candra memperkenalkan calon istri kepada mereka, tapi tetap saja dia gelisah melihat tatapan Candra yang masih sama.
Setelah mereka berbincang sebentar, dan telah menghabiskan sedikit makanan, Boby mengajak Novia untuk berpamitan. Sebenarnya Novia agak bingung dengan sikap suaminya.
" Mm, maaf Candra, Aisyah, kami harus undur diri dulu. Karena tiba-tiba saja aku ada urusan penting. " pamit Boby setelah dia berpura-pura melihat ponselnya sebentar. Dia merasa tidak nyaman berada di sini. Tidak nyaman dengan tatapan Candra terhadap istrinya.
" Ada masalah mas? " tanya Novia.
" Sedikit. Dan harus segera kuselesaikan. " Boby bangkit dari duduknya dan menghampiri kursi yang di tempati Novia, kemudian menarik sedikit kursi tersebut untuk memudahkan novia berdiri.
" Maaf, mas Candra, mbak Aisyah, kami permisi dulu. Assalamualaikum. " pamit Novia sambil menjabat tangan Aisyah.
" Iya mbak, waalaikum salam. " jawab Aisyah.
Candra hanya menjawabnya dengan anggukan. Sepertinya dia tahu kenapa Boby ingin segera meninggalkan tempat itu. Karena situasi seperti ini sering terjadi. Dia yang salah. Ya, mata dan hatinya yang salah. Tidak seharusnya dia menatap perempuan yang telah menjadi istri seseorang seperti itu.
Candra menatap kepergian Novia, kemudian menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Kamu kenapa sih mas? Aku yakin, ini bukan karena ada masalah sama pekerjaan kamu. " tanya Novia sesampainya mereka di dalam mobil.
" Aku nggak nyaman sama cara Candra menatap kamu. " jawab Boby.
" Hah.." Novia mengeluarkan nafas kasar. " Kamu selalu aja seperti ini. Mas Candra kan udah mau nikah mas.." tambahnya.
" Iya, tapi tatapan matanya masih sama seperti dulu terhadapmu. Aku nggak nyaman. "
" Mas, kamu percaya kan sama aku? " ucap Novia sambil memegang kedua pipi Boby supaya menghadap kepada dia.
Boby menjawab dengan anggukan.
" Aku mencintaimu. Dan hanya mencintaimu. Tidak ada laki-laki lain dalam hidupku. Meskipun dulu aku pernah mencintai mas Candra, itu hanya bagian dari masa laluku. Di hatiku, untuk hari ini dan yang akan datang, hanya akan ada kamu. Sudah tidak ada lagi mas Candra disini. " ucap Novia sambil menunjuk dadanya.
" Untuk hati mas Candra, aku tidak bisa mengendalikannya. Itu hak dia. Itu urusan dia. Aku tidak bisa melarangnya untuk menyukaiku. Itu bukan kuasaku. Jadi, yang terpenting sekarang adalah hatiku. Hatiku hanya milikmu. Cukup kamu mempercayai itu mas. Hem??" tambah Novia sambil menatap dalam mata Boby.
Boby meraih tubuh Novia dan di dekapnya erat seolah tidak ingin lepas.
" Aku juga sangat mencintaimu. Hanya mencintaimu. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak mau berpisah darimu. Aku takut meski hanya membayangkannya. " ucap Boby lirih dengan suara berat sambil masih memeluk Novia.
Novia menepuk pelan punggung suaminya dan berkata, " Aku tidak akan meninggalkanmu mas. Aku akan selalu di sampingmu. Selamanya. Bahkan sampai di akhirat kelak. "
Kemudian Novia melepaskan diri dari pelukan Boby. Tangannya mengusap lembut pipi suaminya. Kemudian dia mendekatkan bibirnya ke bibir Boby. Dia mencium bibir suaminya penuh cinta.
Setelah ciuman itu terlepas, Boby menatap lekat kedua mata istrinya.
" I love you, honey. " ucap Boby.
" I love you too, sayang. " balas Novia. " Ayo kita jalan. Sebelum satpamnya kesini. Sedari tadi, dia memperhatikan mobil kita terus. Jangan sampai kita di gerebek. " tambahnya.
Kemudian mereka tertawa ringan bersamaan.
" Oke. Kita pulang sekarang, nyonya Permana. Kita lanjutkan di rumah, oke. Seperti janjiku tadi. " goda Boby sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Pipi Novia langsung merona mendengar godaan suaminya.
" Tapi aku masih lapar, sayang. Kita tadi baru makan makanan pembuka. " ucapnya mengalihkan pandangan Boby yang genit.
" Baiklah, nyonya. Nyonya mau makan malam dimana? " tanya Boby sambil menjalankan mobilnya perlahan keluar dari area parkir restoran.
" Mmmmm.... Rumah makan Padang. Nasi Padang, sambal cabe hijau, terus lalap daun singkong, sama rendang. Wuihhh...lezat banget. " ucap Novia sambil matanya menerawang masakan Padang.
" Okelah nyonya. As you wish. " jawab Boby.
****
__ADS_1
bersambung