
Hari terus berganti. Tak terasa kini usia pernikahan Boby dan Novia sudah menginjak enam bulan lebih. Selama enam bulan ini, banyak hal baru terjadi di antara mereka.
Keduanya menjadi semakin dekat. Boby sudah tidak canggung lagi untuk sekedar mengecup pipi istrinya. Bahkan sudah berkali-kali pula Boby mencium bibir istrinya walaupun tanpa adanya balasan dari sang istri.
Begitu juga dengan Novia. Novia kini sudah semakin terbiasa hidup bersama Boby. Bunga-bunga cinta yang bermekaran di hatinya untuk sang suami semakin lebat. Dia sudah yakin sekarang kalau dia sudah melupakan sosok Candra. Sosok yang selama satu tahun belakangan selalu mengisi hari-harinya.
Novia juga sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Boby yang terkadang tiba-tiba mengecup pipi ataupun bahkan mencium bibirnya. Hari-harinya kini di lalui dengan penuh warna.
Hari itu Boby pulang dari kantor agak malam. Pukul sembilan malam dia baru sampai rumah. Dia sudah berpamitan kepada Novia kalau dia akan lembur.
Sampai di rumah, seperti biasa, Novia mengambil jas yang ada di lengan suaminya, kemudian menyiapkan air hangat di bathtub untuk suaminya mandi. Karena tadi Boby sudah bilang kalau dia makan malam di kantor, maka malam ini Novia tidak menyiapkan makan malam.
Novia menunggu sang suami di ruang keluarga sambil menonton drama Korea kesukaannya. Sedang asyiknya nonton, tiba-tiba Boby sudah duduk di sofa sebelahnya.
Boby menyisihkan tangan Novia yang ada di pangkuannya. Kemudian Boby tidur di pangkuan Novia. Novia agak terkejut. Tidak biasanya Boby seperti ini.
" Mas.." panggil Novia lembut sambil melihat Boby yang kini sudah tiduran di pangkuannya.
" Sebentar saja. " Boby memejamkan matanya. Tangan kanannya mengambil tangan Novia dan di bawanya ke dada.
" Ada masalah di kantor?"
Boby tidak menjawab. Novia memberanikan diri membelai rambut Boby dengan sebelah tangannya. Sedikit senyum terukir di bibir Boby merasakan sentuhan sang istri di kepalanya.
" Kalau ada masalah, terus kita berbagi, insyaallah masalah itu akan lebih ringan."
Boby membuka matanya sebentar dan menatap Novia yang juga sedang menatapnya.
" Ada masalah di proyek pembangunan Rumah Sakit yang ada di Yogyakarta. Proyek dari big tender yang aku dapat beberapa minggu yang lalu."
Boby kembali menutup matanya. Kemudian melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
" Supplier bahan bangunan tiba-tiba berhenti menyuply material. Padahal supplier itu bahan bangunannya harganya paling rendah. Kalau mereka benar-benar menghentikannya, maka perusahaan akan rugi besar kalau harus berganti supplier."
" Kenapa mereka tiba-tiba berhenti memasok?"
" Aku juga belum tahu pastinya. Tapi yang aku dengar, supplier itu adalah teman dari perusahaan konstruksi yang kemarin ikut tender juga. Ada kemungkinan mereka bekerja sama supaya proyek ini gagal di tanganku. "
" Jangan su'udzon dulu. Siapa tahu ada alasan lain."
" Rencananya besok pagi aku sama Andre akan pergi ke Yogyakarta. Kita akan berangkat pagi sekali biar masalahnya cepet selesai. Kemungkinan besar aku akan agak lama di sana. Bisa sampai satu minggu penuh. " Boby bangkit dari tidurannya, tapi masih memegang tangan Novia.
" Kamu nggak pa-pa kan aku tinggal?"
" Nggak pa-pa mas. Lagian ada bi Susi juga di rumah. Kalau aku merasa kesepian, aku bisa ajak Rifa kesini. "
" Atau kamu mau ikut aja? Nemenin aku di sana. "
" Nggak bisa dong mas. Kan aku harus kerja. "
" Kalau cuma satu atau dua hari mungkin bisa. Tapi kalau satu minggu, aku pastikan nggak bisa."
" Ck.. bakalan kangen banget nih. " Boby pura-pura cemberut.
" Hiss...ni bibir ga usah dimancungin kenapa?" ucap Novia sambil menusuk-nusuk bibir Boby dengan jari telunjuknya.
Ups. Boby malah menggigit jari Novia, kemudian di jilatinya.
" Ih, mas Boby jorok..." Novia menarik paksa jarinya dari mulut Boby.
Boby menangkup wajah Novia dengan kedua tangannya. Di dekatkannya wajahnya perlahan sampai tak ada jarak diantara mereka. Boby mengecup bibir Novia. Kecupan itu berubah menjadi luma***.
Boby terus melu*** bibir Novia. Kemudian dia menggigit kecil bibir bawah Novia supaya Novia membuka mulutnya. Dan benar saja, Novia membuka mulutnya karena terkejut. Kesempatan itu tentu saja di manfaatkan dengan baik oleh Boby. Lidahnya masuk ke dalam mulut Novia. Mengeksplor seluruh bagian mulut dan bibir Novia.
__ADS_1
Karena merasa Novia menahan nafasnya, akhirnya Boby menyudahi ciumannya.
" Kenapa setiap kali aku menciummu kamu malah tidak bernafas?" ucap Boby pelan sambil menahan hasratnya.
Novia menggeleng dan tertunduk malu. Boby memainkan kerudung yang Novia pakai.
" Sayang, kapan kamu akan membiarkan aku melihat rambutmu?"
Novia terkejut dan spontan mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk.
" Bukankah kita sudah muhrim? Aku ingin melihatmu tanpa kerudung ini. Apa boleh?" tanya Boby sambil menatap intens ke mata Novia.
Novia mengangguk pelan. Boby tersenyum melihat jawaban dari Novia. Perlahan, dia melepas peniti yang Novia gunakan. Kemudian dia melepas kerudung itu, dan di taruhnya di sandaran sofa.
Boby memandang Novia tanpa henti. Novia merasa malu di pandang seperti itu. Dan malu karena ini kali pertama dia berada di depan Boby tanpa menggunakan kerudungnya. Novia menunduk. Mukanya terasa panas karena malu.
Boby melepas rambut Novia yang terkuncir. Rambut Novia menjadi tergerai. Cantik sekali. Itulah yang ada di pikiran Boby. Hasratnya semakin menjadi-jadi. Keinginan untuk memiliki Novia seutuhnya semakin kuat.
Boby mengangkat dagu Novia dengan jari telunjuknya supaya Novia memandangnya. Dia mendekatkan kembali bibirnya ke bibir Novia.
" Jangan menahan nafasmu. Bernafaslah. Supaya kamu bisa menikmati sensasinya." bisik Boby ketika bibirnya sudah berada di depan bibir Novia.
Kemudian Boby mulai mencium bibir istrinya kembali. Kali ini berbeda dengan ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Novia mulai membalas ciuman Boby untuk pertama kalinya. Walaupun masih agak kaku. Senyum tipis terukir di bibir Boby.
Ciuman itu hanya berlangsung sesaat karena Boby menyudahinya.
" Bolehkah aku meminta hakku sebagai suamimu sekarang?" tanya Boby dengan mata yang sudah penuh dengan nafsu.
Kali ini Boby sudah tidak dapat menahan hasratnya. Adik kecilnya terlalu meronta sehingga dia sudah tidak tahan lagi kalau harus bermain single.
Novia terdiam belum menjawab. Dia masih bimbang harus bagaimana. Di satu sisi dia masih takut. Tapi di sisi lain dia berpikir. Sudah pernah sekali dia menolak suaminya. Sedangkan dalam agama sudah di katakan dengan jelas bahwa menolak keinginan suami adalah dosa besar. Dan dia sudah pernah melakukan dosa besar itu sebelumnya. Apakah kali ini dia harus melakukan dosa besar itu lagi?
__ADS_1
***