
Tak terasa sudah satu bulan lebih Novia dan Boby menikah. Selama itu pula mereka saling menghargai dan terbuka satu sama lain. Tidak ada satu rahasiapun diantara mereka. Karena itulah komitmen mereka di awal mereka menikah.
Proyek pembangunan sekolah masih terus berjalan. Sesekali Novia juga meninjau lokasi dan tentu saja Boby memperbolehkan hanya jika dia yang menemani. Bangunan sudah terlihat berdiri tinggi.
" Mas, tadi orang tua Dennis ke sekolah. " tutur Novia ketika mereka dalam perjalanan pulang dari proyek.
" Oh ya? ngapain mereka?" tanya Boby masih sambil menyetir dan terus menatap jalan yang ada di depannya
" Mereka meminta surat pindah buat Boby. "
" Bukankah dia saat ini sudah kelas XII? Sebentar lagi kan ujian. Kenapa harus pindah?"
" Tadi papanya sempat menemuiku. Beliau meminta maaf atas sikap Dennis dan mamanya. Saat aku bertanya kenapa Dennis harus pindah sekolah jika sebentar lagi dia akan ujian, Papanya bilang, Dennis tidak siap untuk bertemu denganku. Aku nggak habis pikir bisa-bisanya muridku menyukaiku."
" Ya bisa lah. Kamu cantik. Punya senyum yang manis. Dulu masih single lagi. Aku yakin, tidak hanya muridmu yang jatuh cinta sama kamu. Tapi temen kerja kamu juga pasti ada."
" Sok tahu kamu mas."
" Lho beneran. Aku aja sudah jatuh hati sama kamu. "
Deg... bunyi jantung Novia. Apa maksud ucapan Boby? Apa benar Boby sudah mulai mencintai Novia?
" Hey, jangan melamun aja. Nggak turun? Kita udah sampai rumah ini." Boby melepas seatbelt, membuka pintu mobil, dan turun.
Sadar dari lamunannya, Novia juga segera melepas seatbelt, membuka pintu dan turun, berjalan di belakang Boby.
Baru beberapa langkah berjalan, Novia menghentikan langkahnya.
" Mas, ada tamu kayaknya."
" Hah?" Boby mengikuti arah pandang Novia.
Oh, sudah sampai ternyata. batin Boby.
" Siapa ya mas? Kamu ada janji sama temen?"
Boby masih diam tak menjawab.
" Wah, kasian mas. Pasti lama nunggunya. Ayo buruan temuin. Biar aku bikinkan minum buat kalian." Novia melangkahkan kakinya agak cepat. Baru dua langkah dia melangkah, Boby menghentikannya.
" Tidak ada tamu. Sini." Boby menarik tangan Novia untuk mendekat ke mobil berwarna kuning ke hijau-hijauan yang terparkir di sana.
" Happy birthday, istriku." ucap Boby sambil menyodorkan kunci mobil dari tangannya.
Novia masih tampak bingung menerima kunci yang di berikan oleh Boby.
" Maksudnya apa ini?"
" Ini gift buat kamu. "
" Tapi aku nggak butuh ini mas. Aku kan nggak bisa nyetir. "
" I know. But don't worry. Aku yang akan mengajari kamu buat stir mobil. "
" Aku kan udah punya motor mas. Selama ini aku naik motor oke oke aja. "
" Sekarang beda. Kamu istri aku. Aku nggak tenang kalau kamu kerja bawa motor. Jarak rumah kita sama sekolah kamu lumayan jauh. Belum lagi bentar lagi musim penghujan."
__ADS_1
" Tapi ini berlebihan mas. Terus, motorku buat apa?"
" Di jual aja. "
" Eh,eh,eh....no..no... nggak boleh di jual. Itu motor aku beli pakai uangku sendiri. Hasil kerja kerasku."
Novia langsung cemberut.
" Tadi tanya, motornya buat apa. Ya kalau nggak ke pakai ya di jual aja. "
" Ngggakkk!"
" Iya..iya.. becanda. Kamu kan bisa pakai motor untuk pergi yang deket-deket. Ke supermarket misalnya. "
" Hiss. Iya deh.." Novia nyelonong masuk ke rumah. Sampai di depan pintu masuk, dia berbalik. " Makasih ya mas. Buat hadiahnya."
Boby tersenyum sambil mengusap ujung kepala Novia. Kemudian dengan spontan, mengecup keningnya.
Seketika tubuh Novia membeku. Kaget. Boby tersenyum kecil melihat ekspresi kaget Novia.
" Nggak jadi masuk? Kok malah bengong." goda Boby.
" Ehm.." Novia berdehem sambil menetralkan detak jantungnya. Kemudian dia berbalik, berjalan mengekori suaminya masuk ke rumah.
" Mas, beneran mau ngajarin nyetir? Emang ada waktu?"
" Aku usahain."
" Aku kursus aja deh mas. Kamu kan juga sibuk."
" Nggak. Bahaya. "
" Kok bahaya? Banyak yang ikut kursus, baik-baik aja. Ya udah, sama bang Remon aja. Dia kan orang kepercayaan kamu. "
" Tambah nggak. Lebih bahaya."
" Bahayanya dimana mas?"
" Bahaya. Karena mereka cowok. Pokoknya aku yang ajari kamu. Titik." Boby melangkah menuju ke kamarnya meninggalkan Novia yang masih butuh penjelasan.
Boby sendiri sebenarnya bingung dengan hati dan sikapnya. Kenapa semakin hari, dia semakin over protective sama istrinya. Semakin hari dia semakin tidak nyaman jika berjauhan dengan istrinya. Ingin rasanya membawa sang istri ke kantor tiap harinya. Tapi itu tidak mungkin. Sang istri punya pekerjaan sendiri.
Makanya sekarang dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk berduaan dengan istrinya. Walaupun dia sibuk, tapi tetap akan dia sisihkan waktu untuk mengajari sang istri menyetir.
" Mas, tapi kalau ngajari jangan marah-marah kalau akunya nggak bisa-bisa ya." teriak Novia dari luar kamar Boby.
" Hem" jawab Boby dari dalam.
Huh. Capek banget aku hari ini. gumam Novia.
Diletakkannya kunci mobil yang di berikan Boby tadi di meja rias, dan tas di ranjang. Di bukanya kerudung yang sudah seharian menempel di kepalanya. Sejenak dia mengelus kening yang tadi di kecup oleh Boby. Novia tersenyum kecil mengingatnya.
Ah, kenapa Novia jadi baper hanya karena kecupan sang suami. Kenapa hanya dengan mengingatnya saja, jantungnya berdetak kencang. Ada apa dengan Novia sebenarnya.
Dia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari bayangan kecupan Boby. Ternyata ada beberapa pesan masuk. Dari teman-teman di kampungnya, dari ibunya, dan dari seseorang yang tak terduga.
Mas Candra. batin Novia. Kemudian di bukanya pesan dari Candra.
__ADS_1
** Selamat ulang tahun ya dik. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan semoga kamu bahagia dengan suamimu.
Mas Candra, kamu tahu aku udah nikah mas? Sejak kapan? Kira-kira bagaimana perasaanmu setelah tahu aku sudah bersuami sekarang? Apa kamu menyesal menolakku waktu itu? Atau kamu biasa aja mas? Gumam Novia sambil menatap foto Candra yang ada di profil WA nya.
Novia tidak berani membalas pesan dari Candra. Dia takut perasaan yang selama sebulan ini berusaha ia lupakan, akan kembali lagi.
Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memejamkan matanya. Pikirannya agak kalut.
Ah, aku sudah berniat untuk melupakannya. Aku tidak boleh baper hanya karena pesannya. Tidak.. tidak... Lupakan dia Novia. Lebih baik kamu pikirkan suamimu. seru hati kecil Novia.
Novia beranjak dari rebahannya. Dia memutuskan untuk memasak makan malam saja daripada mengingat hal-hal yang seharusnya sudah dia lupakan.
Setelah berganti baju dengan baju santai dan jilbab serut, Novia keluar dari kamar menuju ke dapur. Dalam perjalanan ke dapur, dia bertemu sang suami yang sepertinya habis berolahraga.
Keringat yang mengucur di dahi dan pelipisnya, dan kaos sport tanpa lengan yang memperlihatkan tubuh atletisnya, membuat Novia menelan salivanya. Di mata Novia, saat ini Boby terlihat sangat sexy.
" Mau masak?"
" Iy-iya." jawab Novia gelagapan dan kemudian mengalihkan pandangannya.
" Nggak usah masak. Mending kamu mandi sekarang. Habis magrib nanti, kita keluar. Jalan-jalan, dinner di luar. Kita rayakan ulang tahunmu."
" Harus ya di rayain? Kayak anak TK aja. "
" Harus. Karena ini adalah ulang tahun pertamamu semenjak kenal aku, dan semenjak kamu jadi istriku."
Novia nampak manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya.
" Ya udah deh nggak jadi masak. Aku mandi aja sekarang. Terus mau dandan yang cantik. Hari spesial harus berpenampilan spesial juga. Benar begitu kan suamiku?" Novia mengerlingkan kedua matanya manja ke suaminya.
" Kayak bukan kamu aja. Kamu ini. Geli tahu lihatnya." seru sang suami. Disambut tawa kencang oleh Novia.
" Dasar." Boby mengusap-usap ujung kepala Novia agak keras sambil merangkul leher Novia. Membuat jilbab Novia berantakan dan Novia menjadi tidak bisa bergerak.
" Mas, hentikan! Bau tahu ketek kamu." teriak Novia.
" Masak? Nggak deh. Wangi gini. " jawab Boby tetap merangkul Novia. Malah semakin erat.
" Ma.....asss, udah." Novia berusaha melepas tangan Boby dari lehernya. Kemudian Boby melepas tangannya.
" Tuh kan bau banget. Huekk..." Novia mencium kerudungnya dan berlalu dari Boby sambil tertawa mengejek.
" Awas kamu ya." Boby mengejar Novia. Dan Novia berusaha menghindar. Terjadilah kejar-kejaran di dalam dapur.
" Mas, stop. Jangan kejar lagi." Novia memegang kedua lututnya dengan nafas ngos-ngosan.
" Baru segitu udah capek. " giliran Boby yang mengejeknya.
" Stop mas. Kapan aku mandinya? Buru magrib. "
Boby tersenyum, berjalan mendekat ke Novia.
" Ya udah sana mandi." ucap Boby sambil membelai ujung kepala Novia.
***
bersambung
__ADS_1