
" Kemana mas? tanya Novia.
Boby mengambil nafas panjang. Kemudian menghembuskannya.
" Ke Surabaya. Besok Andre menikah. "
" Kamu mengajaknya? "
" Kamu sedang hamil. Tidak mungkin aku mengajakmu. " jawab Boby tanpa melihat ke Novia.
Berat bagi Boby menjawab pertanyaan Novia. Dia tidak berani melihat ke Novia karena dia yakin Novia pasti menangis. Dia tidak sanggup melihat air mata Novia. Apalagi dialah penyebab air mata itu menetes.
Novia menarik nafas sambil memejamkan matanya. Menetralkan detak jantungnya. Menghilangkan kegugupannya. Menahan air matanya.
" Apa tidak bisa pergi sendiri? " tanya Novia kembali.
" Maaf. " hanya itu kata yang bisa diucapkan Boby.
" Apa memang kamu sudah tidak menganggap aku sebagai istrimu mas? Aku ini masih sah sebagai istrimu mas. Apa tidak bisa... tidak bisa menunggu sampai aku bukan lagi menjadi istrimu? Bersabarlah sampai anak ini lahir mas. Baru kamu ceraikan aku. " ucap Novia terbata-bata dan sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
" Bicara apa kamu? "
" Bukankah itu yang kamu mau mas? Kalau kamu mau memperistri mantan kekasihmu, tunggu sampai kita bercerai. Karena aku tidak sudi di madu. "
Boby mulai terbawa emosi. Dia teringat kata-kata Candra ketika datang ke kantornya.
" Apa kamu yang sudah tidak sabar untuk berpisah dariku karena kamu ingin kembali ke mantan kekasihmu? " Ucap Boby sambil menatap tajam ke arah Novia.
" Apa?" tanya Novia terkejut kenapa suaminya justru membalikkan keadaan.
" Bukankah kamu sudah berencana untuk kembali bersamanya? Bukankah kamu masih sangat mencintainya dan ingin pergi dariku dan hidup bersamanya? "
" Apa-apaan kamu mas. Bagaimana bisa kamu membalikkan keadaan seperti ini? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Maaf...Aku bukan perempuan murahan. Yang bisa menyerahkan diri ke lelaki manapun. Aku hanya bisa menyerahkan diriku seutuhnya kepada laki-laki yang ku cintai. Laki-laki yang mengajakku berkomitmen. Laki-laki yang telah menikahiku. Dan kamu tahu pasti siapa laki-laki itu mas. " ucap Novia panjang lebar.
" Apa pernah kamu mencintaiku? Aku hanyalah pelarianmu, Novia !" ucap Boby tajam.
" Apa kurang bukti untuk menyatakan cintaku mas? Lihat ini..." Novia menunjuk ke perutnya. " Lihat ini !" teriak Novia sambil menangis. " Dia tidak akan ada di sini kalau aku tidak mencintaimu. Aku tidak akan memberikan keperawananku kepadamu kalau aku tidak mencintaimu. " teriak Novia makin keras.
Jleb. Bagaikan sebuah belati menancap di hati Boby. Sekali lagi dia menyakiti istrinya dengan kata-katanya. Karena memang benar. Dia adalah yang pertama untuk Novia. Dia sangat tahu itu.
__ADS_1
Karena tidak tahan melihat kesedihan istrinya, Boby melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
" Mas...mas... jangan pergi.." panggil Novia pilu. Boby sengaja menulikan telinganya.
Bukannya tidak ingin menghiraukan Novia. Tapi sudah kepalang tanggung. Karell juga sedang menunggunya. Pesawatnya juga akan segera berangkat.
" Mas....... jangan pergi....Aku mohon mas....." panggil Novia di sela-sela isakan.
Novia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. " Mas.... jangan tinggalin aku mas.....hu...hu...hu..." Novia menangis sejadi-jadinya.
Dan tiba-tiba perut Novia kram. Perutnya terasa sangat sakit. Novia mengerang menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Sebelah tangannya memegang sofa yang ada di dekatnya dan tangan sebelahnya lagi memegangi perutnya yang sakit.
Novia ingin meminta tolong tapi dia sudah tidak kuat untuk mengeluarkan suara. Tenaganya telah habis untuk menahan sakit di hatinya. Dan sekarang dia juga harus menahan sakit di perutnya.
Tak lama kemudian Novia jatuh pingsan. Bi Susi yang tadi mendengar sedikit pertengkaran Boby dan Novia, juga sempat melihat Karell yang datang ke rumah itu, mendengar lambat-lambat suara tangis Novia. Bibi mencoba keluar lagi ke rumah utama.
Setelah mendengar pertengkaran majikannya tadi, bi Susi kembali ke rumah belakang karena merasa tidak enak jika tiba-tiba majikannya mendapatinya sedang menguping.
Bibi masuk ke ruang tengah.
" Astaghfirullah...Mbak Novia. ...." teriak bi Susi ketika melihat Novia sudah tak sadarkan diri di lantai.
" Mbak....mbak Novia...mbak.... bangun mbak...." bi Susi berusaha menyadarkan Novia.
Tapi usahanya sia-sia. Bi Susi bingung harus minta tolong kepada siapa. Bi Susi tidak bisa membawa Novia ke rumah sakit sendiri. Bahkan untuk mengangkat tubuh Novia dari lantai untuk di bawa ke sofa saja dia tidak bisa.
Bi Susi mau menghubungi Remon. Tapi dia ingat, Remon pergi mengantar Boby ke bandara. Bi Susi kembali berpikir. Dan dia menemukan jawaban siapa yang harus dia mintai tolong.
Bi Susi menghubungi seseorang.
Tut...Tut...Tut ..nada panggilan terhubung.
" Halo Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam. Mas Candra, cepat tolongin bibi mas. " pinta bi Susi dengan suara paniknya di sela-sela tangisnya.
" Bibi tenang dulu, dan katakan sama Candra ada masalah apa bi. "
"Mbak Novia mas...mbak Novia pingsan. Di rumah tidak ada orang. Tolong mas. Kesini secepatnya. "
__ADS_1
" Baiklah bi. Candra segera kesana. " panggilan di akhiri.
Candra segera mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya. Setelah mendengar kata-kata bi Susi, kepanikan melanda hatinya. Candra melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Untung saja jalanan tidak macet.
Seperempat jam kemudian, Candra sampai di rumah Boby. Candra segera masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang tengah, dia melihat Novia yang berada di lantai tak sadarkan diri dengan kepala berada di pangkuan bi Susi. Dan terlihat juga bi Susi yang menangisi majikannya.
" Ya Tuhan. Novia...." ucapnya sambil berlari mendekati Novia.
Candra segera mengangkat tubuh Novia dan bergegas membawanya ke mobil. Bi Susi mengunci pintu rumah dan mengikuti Candra.
Novia di tidurkan di pangkuan bi Susi, kemudian Candra duduk ke jok belakang stir. Candra kembali melajukan mobilnya dengan cepat.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Candra kembali menggendong Novia dan di bawa ke UGD. Perawat yang melihatnya segera membawakan ranjang untuk Novia.
" Apa yang terjadi Bu? " tanya perawat.
" Saya juga tidak tahu sus. Tiba-tiba dia pingsan. " jawab bi Susi.
" Bapak sama ibu tunggu di sini dulu. Biar kami memberikan pertolongan kepada pasien. "
Candra dan bi Susi mengangguk bersamaan.
" Sus. " panggil Candra. Perawat itu berbalik.
" Dia sedang hamil. Kalau ada permasalahan dengan kandungannya, saya minta dokter Dea yang menangani. " pinta Candra.
" Baik pak. " perawat mendorong ranjang Novia dan masuk ke UGD.
" Bi, sebenarnya apa yang terjadi sampai Novia pingsan seperti ini? "
" Bibi juga kurang tahu mas. Tapi tadi bibi sempat mendengar mas Boby dan mbak Novia bertengkar lumayan hebat. Dan tadi, bibi juga lihat ada mantannya mas Boby di sana. "
" Apa yang membuat Novia dan suaminya bertengkar bi? Dan kenapa mantan pacar suami Novia ada di sana? "
Bibi mulai bercerita tentang apa yang terjadi di rumah itu tadi sore. Dia menceritakan semua yang dia tahu ke Candra.
****
bersambung
__ADS_1
Like nya ya kak.....🙏🙏