Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
82. Ingat Anakmu


__ADS_3

Hari yang sama di tempat yang berbeda. Novia sudah bangun dari tidurnya yang lumayan lama. Orang pertama yang di lihatnya, sama dengan orang yang pertama di lihatnya ketika dia di rawat di rumah sakit dulu, yaitu Candra.


" Mas..." panggil Novia dengan suara parau.


Candra segera bangun ketika mendengar sebuah suara memanggilnya.


" Dik... udah bangun? " tanya Candra sambil mengusap wajahnya dan meregangkan otot-otot kepalanya.


" Aku kenapa mas? "


" Kamu kemarin pingsan di rumah. Terus bibi menghubungi mas. Mas bawa kamu kesini deh. "


" Makasih banyak ya mas. Novia ngerepotin mas terus. "


" Kamu sama sekali nggak pernah ngerepotin mas. Yang penting, kamu pikirkan kesehatanmu juga bayimu. "


Novia berusaha bangkit dari tidurnya. Tapi badannya masih sangat lemas. Sehingga tangannya tidak kuat menopang tubuhnya. Candra segera membantunya.


" Kamu ngapain? "


" Nov mau ke kamar mandi mas. Nov pengen pipis. Sekalian mau ambil wudhu. "


" Ya udah, ayo mas bantuin. "


Kali ini Novia tidak menolak ketika Candra menggendong tubuhnya. Karena dia sudah sangat kebelet dan badannya tidak kuat untuk berjalan.


Sampai di kamar mandi, Candra menurunkan Novia di atas toilet duduk. Kemudian menaruh selang infus di tempat yang sudah di sediakan.


" Kalau sudah selesai, panggil mas ya. " ucap Candra lembut.


Novia menjawab dengan anggukan. Candra kemudian keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya.


Beberapa menit kemudian, Novia memanggil Candra karena dia telah selesai menyelesaikan hajatnya.

__ADS_1


" Mas..."


" Iya dik. "


" Nov udah selesai. "


" Iya, bentar. " Candra membuka pintu kamar mandi. Kemudian tersenyum memandang Novia.


" Nov nggak bisa wudhu pakai air. " ucap Novia sambil memandang ke arah infus.


" Nanti tayamum aja. " jawab Candra yang kemudian mengangkat tubuh Novia kembali dan di bawa ke ranjang.


" Makasih ya mas. " ucap Novia ketika dia telah sampai di ranjang kembali.


" Iya sama-sama. Kamu kalau sholat, nungguin mas dulu ya. Mas mau ambil wudhu. Kita sholat jamaah. "


Novia mengangguk sambil tersenyum. Candra segera mengambil wudhu ke kamar mandi.


Candra yang melihatnya, langsung menghampiri.


" Dik Nov, kamu tidak boleh terus-terusan menangis seperti ini. Kamu harus kuat demi anak kamu. Toh, laki-laki itu tidak pantas untuk kau tangisi. "


Tangis Novia masih belum berhenti. Dia masih terus terisak.


" Dia selingkuh mas. Mantan kekasihnya kembali dan dia ninggalin Nov. Dia nggak mikirin anaknya mas. Novia nggak tahu harus bagaimana sekarang. " tangis Novia semakin menjadi.


Dia menggenggam erat kaos candra. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di perut Candra sambil terus menangis.


" Menangislah sekarang sepuasmu dik. Setelah ini, jangan pernah menangis lagi. Habiskan tangismu hanya untuk saat ini. " ucap Candra sambil mengelus pucuk kepala Novia.


Novia terus menangis dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya dia berhenti menangis. Novia mengusap pipinya yang basah. Candra masih setia berada di sampingnya.


" Aku tidak boleh seperti ini terus. Aku harus bangkit. " ucap Novia sambil mengusap bekas air matanya hingga kering.

__ADS_1


" Iya dik. Kamu harus bangkit. Kamu tidak sendiri. Mas akan selalu ada di sampingmu. " ucap Candra menguatkan.


" Mas, apa dokter Dea mengatakan sesuatu sama mas tentang keadaan Novia? "


Candra mengangguk sambil menghela nafas berat.


" Katakan sama Nov mas, sebenarnya Novia kenapa. Kenapa Novia mudah pingsan dan perut Novia juga sering sakit. Ada apa dengan kandungan Novia? "


" Mas akan jelaskan, tapi kamu harus kuat ya. Kita akan berjuang bersama-sama. Memang ada masalah sama kandungan kamu. Karena kamu sudah mengalami keadaan kritis dua kali. Kalau sampai terjadi yang ketiga kalinya, maka dokter tidak bisa menjamin keselamatan anak kamu. "


Novia mulai menitikkan air mata kembali. " Lalu, apa yang dokter katakan lagi mas? "


" Dokter bilang, kita harus mencegah hal itu terjadi lagi. Dokter menyarankan supaya kamu menjauh dari hal yang membuatmu seperti ini. " Candra menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasannya ke Novia.


" Karena yang membuat keadaan kamu seperti ini adalah suamimu, maka kamu harus bisa meninggalkan suamimu. Demi anakmu juga demi dirimu. "


" Maksudnya mas? "


" Kamu tidak boleh melihat suamimu lagi. Bahkan kamu tidak boleh berhubungan dengan segala hal yang berhubungan dengan suamimu. " Candra menatap mata Novia lekat. Novia masih tampak bingung dengan penjelasan Candra.


" Kamu tidak boleh lagi tinggal di rumah itu. " lanjutnya.


Novia terisak. " Lalu aku harus kemana mas? Aku harus bagaimana? Novia nggak mungkin pulang ke rumah bapak. Bagaimana dengan anak ini kalau Nov harus meninggalkan ayahnya. Dia akan tidak punya sosok ayah. "


" Mungkin ini terdengar tidak enak. Karena mas mengatakannya di saat keadaanmu seperti ini. Mungkin terkesan mas memanfaatkan keadaan."


Candra menarik nafas kemudian menghembuskannya.


" Mas siap menjadi ayah anak kamu. Mas akan menyayanginya seperti anak mas sendiri. Kamu tidak perlu khawatir kalau dia tidak akan mendapatkan sosok seorang ayah. Mas yang akan bertanggung jawab terhadap hidupmu dan anak kamu. Mas akan membawa kamu pergi jauh dari sini. Kita akan tinggal bertiga. Kamu, mas, dan anak kamu yang akan menjadi anak kita. "


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2