Maafkan Aku , Cinta

Maafkan Aku , Cinta
98. lahiran


__ADS_3

Jam 3 pagi, Boby terbangun dari tidurnya. Posisi tidur Novia masih sama. Tangannya memeluk erat pinggang Boby. Boby kembali tersenyum. Dia melihat jam tangannya. Sudah jam 3 lebih. Dia harus segera keluar dari kamar itu. Kalau dia tidak segera keluar, maka Novia pasti akan marah-marah karena melihatnya.


Sebelum beranjak dari tidurnya, Boby mengamati setiap lekuk wajah istrinya. Tatapan mata penuh kerinduan. Di rabanya perlahan wajah Novia. Mulai dari dahi, hidung, pipi, dan bibir. Boby mengecup ringan kening Novia.


Kemudian dengan sangat perlahan, dia memindahkan tangan Novia dari tubuhnya. Setelah tangan Novia terlepas, dia menggantikan dirinya dengan guling. Sehingga Novia masih bisa tidur dengan nyaman.


Boby duduk masih di atas ranjang. Sebelum dia benar-benar beranjak dari ranjang itu, dielusnya perut Novia.


" Baik-baik kamu di dalam sana ya nak. Ayah menunggu kelahiranmu. Ayah sayang sama kamu nak. Maafkan ayah yang sudah menelantarkanmu. Jaga mama baik-baik ya nak. " ucap Boby dalam hati.


Kemudian Boby mengecup pelan perut Novia. Setelah itu Boby keluar dari kamar novia dan kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk kembali ke Semarang sebelum fajar menyingsing.


••••


Dua hari berlalu semenjak kedatangan Boby ke rumah besar.


" Halo, Boby....Kamu cepat cari penerbangan ke Jakarta sekarang juga. "


" Kenapa ma? Ada apa? "


" Istrimu mau melahirkan. "


" Kok bisa ma. Bukankah ini belum saatnya? Usia kandungannya belum genap sembilan bulan ma. "


" Mama juga nggak tahu. Tadi pagi dia mulai kesakitan. Mau mama ajak langsung ke rumah sakit, dia nggak mau. Tapi akhirnya mama paksa. Sekarang kita udah di rumah sakit. Udah, kamu cepetan kesini. "


Tut...Tut ..Tut... panggilan di akhiri sepihak dari Bu Vera.


Flash back on


Pagi setelah kepergian Boby, Novia terbangun dari tidurnya dengan linglung. Dia merasa bermimpi indah semalam. Dia bermimpi tertidur dalam pelukan boby. Mimpi yang bahkan terasa seperti nyata.


Bulir air mata terjatuh di pipi Novia. Dia bersedih karena ternyata dia hanya bermimpi. Dia merasa sangat tidak mungkin Boby menemuinya. Suaminya itu pasti sibuk dengan kekasihnya. Dan sama sekali tidak mengingat dirinya maupun anak yang sedang di kandungnya.


Entah karena terlalu tenggelam dalam kesedihan kembali atau apa, yang pasti kondisinya itu sangat mempengaruhi kandungannya. Perutnya sering kram. Tapi dia tidak mengatakan pada siapapun. Dia tidak ingin merepotkan yang lain. Apalagi mama mertuanya.


Dia hanya tiduran sambil mengelus perutnya jika rasa sakit itu menyerang. Bahkan ketika Candra menelepon menanyakan keadaannya, dia juga berbohong kalau dia baik-baik saja. Padahal biasanya dia selalu terbuka terhadap Candra.


Tapi pagi itu, Novia sudah tidak dapat menutupinya lagi. Rasa sakit yang di deranya semakin sering datang dan bahkan rasanya jauh lebih sakit dari sebelumnya.

__ADS_1


Dan kebetulan ketika dia sedang di dera sakit yang sangat, bibi masuk ke kamarnya. Spontan bibi berteriak memanggil nyonya besarnya.


Dan dengan segala bujukan, akhirnya Novia mau di bawa ke rumah sakit. Dan setelah di periksa oleh dokter kandungan, ternyata sudah pembukaan 5. Yang artinya dia akan segera melahirkan.


Flash back off


Bu Vera dan bibi sangat gelisah dan cemas menunggu di depan ruangan bersalin. Karena Bu Vera tidak tega melihat Novia yang begitu kesakitan, beliau yang awalnya menemani Novia di dalam ruangan, kini beliau memutuskan untuk keluar.


" Bu, sepertinya pasien akan segera melahirkan. Apa ibu ingin menemaninya? " tanya suster ke Bu Vera.


Bu Vera memandang bibi meminta saran. Bibi mengangguk.


" Iya sus. " jawab Bu Vera.


" Tapi tolong ya Bu, ketika ibu masuk ke dalam ruangan, ibu jangan panik. Pasien mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tapi kami berusaha untuk tidak memberitahunya. Karena kalau sang ibu panik, itu akan mempersulit proses melahirkan. Ibu harus memberi semangat ke pasien. "


" Iya sus. Bismillahirrahmanirrahim..." Bu Vera berjalan mengikuti suster masuk ke ruangan bersalin.


Bu Vera semakin khawatir ketika melihat kondisi Novia. Wajahnya terlihat pucat dan lemas. Tapi dia tetap masih meringis kesakitan. Bu Vera mendekat.


" Kamu harus kuat sayang. Anak kamu akan segera lahir. " ucap Bu Vera memberi semangat.


Seperempat jam Bu Vera menunggui dan semakin tidak tega dengan keadaan Novia.


" Sus, operasi aja. Saya tidak tega melihat anak saya kesakitan seperti ini."


Novia yang mendengar permintaan mama mertuanya, langsung memegang tangan mertuanya kemudian dia menggeleng.


" Sayang, kamu udah kesakitan gini. Operasi aja ya. Biar cepet keluar bayinya. "


" No...via...ma...sih..ku...at..." jawab Novia lirih sambil menahan perutnya yang seperti di remas-remas.


" Ini pembukaannya sudah lengkap Bu. " ucap dokter di sana. " Bu Novia, ikuti panduan saya ya. Kita keluarkan bayi ibu. "


Novia mengangguk. Suster membantunya untuk telentang.


" Tarik nafas dalam-dalam Bu.." ucap dokter. " Dorong yang kuat sekarang Bu..."


Novia mendorong bayi di perutnya dengan sekuat tenaga. Tangannya mencengkeram sprei ranjang. Tidak ada teriakan ngilu yang keluar dari mulut Novia. Hanya air mata yang tidak berhenti mengalir.

__ADS_1


Bu Vera semakin tidak tega melihatnya. Seolah-olah Novia hanya ingin merasakan sakitnya sendiri. Tanpa mau berbagi dengan yang lain.


" Yang kuat ya sayang...Kamu pasti bisa. Berteriaklah dan pegang tangan mama biar mama bisa merasakan sakitmu nak..." ucap Bu Vera menguatkan.


Dua kali dorongan, bayinya masih belum mau keluar. Tenaga Novia sudah semakin habis. Nafasnya sudah mulai tersengal-sengal.


" Ibu, harus kuat. Ayo sekali lagi... Ambil nafas dalam-dalam.... Dorong Bu...."


Novia mendorong sebanyak tenaga yang masih di milikinya sambil memejamkan mata.


" Sudah terlihat kepalanya Bu. Ayo sekali lagi... Dorong yang kuat ya Bu... Ambil nafas lagi... Dorong Bu...."


" Oek...oek...oek..." suara bayi Novia.


Setelah dorongan terakhir, akhirnya bayi Novia keluar. Novia tersenyum mendengar tangis bayinya. Setelah itu tubuhnya terasa tak bertenaga, matanya mulai gelap, dan akhirnya Novia memejamkan matanya tak sadarkan diri.


Bu Vera yang melihat menantunya tidak bergerak dan matanya terpejam, langsung panik.


" Dokter... dokter...anak saya kenapa ini dok? "


Dokter yang kala itu baru selesai menjahit jalan lahir bayi Novia, tersentak kaget. Dia langsung mendekat ke Novia. Memeriksa nadinya dan memeriksa kesadaran Novia. Kemudian dia memberi isyarat kepada salah satu suster. Suster memahami maksud sang dokter.


" Ibu, silahkan keluar dulu. Biar dokter menangani pasien. Bayinya akan segera di bawa keruang khusus. "


" Kenapa dengan anak saya sus? "


" Kami belum bisa memberitahu sekarang. Nanti kalau kita sudah yakin dengan kondisinya, kita pasti akan memberi kabar ke ibu. "


" Baiklah sus. Dokter tolong selamatkan anak saya. "


Dokter hanya menjawab dengan anggukan. Dia masih sibuk memeriksa Novia.


Bu Vera keluar dari ruang bersalin.


" Mama...."


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2