
" Huek....Huek...." suara Novia mengeluarkan isi perutnya.
Bi Susi yang mendengar buru-buru menyusul Novia di kamar mandi dalam kamar Novia. Beliau memijit tengkuk Novia.
Setelah semua sudah keluar, Novia membasuh mukanya dan berkumur. Bi Susi memapah Novia kembali ke ranjang.
Badan Novia terasa sangat lemas sekali. Untung saja hari itu adalah hari Minggu. Jadi Novia bisa tidak bekerja tanpa harus meminta ijin lagi.
" Mbak Novia kenapa begini lagi? Kemarin siang kan udah baikan. "
" Nggak tahu bi. Semalam saya juga nggak merasa gimana-gimana. " jawab Novia dengan suara yang lemas.
" Apa jangan-jangan...." bi Susi tidak melanjutkan kata-katanya.
" Kenapa bi?"
" Mm, nggak pa-pa mbak. Sekarang mbak Novia istirahat dulu, saya mau belanja ke pasar. Mbak Nov ingin makan apa? Biar sekalian bibi belikan. "
Novia menggeleng. " Nov nggak pengen makan apa-apa bi. Bibi belikan aja makanan ringan yang gurih-gurih seperti biasa."
" Ya udah, bibi berangkat dulu, ya." pamit bibi sambil membenahi selimut Novia.
Novia mengangguk kemudian memejamkan matanya.
Bibi segera keluar dari kamar Novia. Sebenarnya dalam pikiran bi Susi ada yang mengganjal. Bi Susi ingin membuktikan asumsinya. Tapi sebelum itu, dia akan menghubungi nyonya besarnya terlebih dulu.
Tut...Tut...Tut... bunyi panggilan tersambung.
" Hallo, bi. "
" Halo, nyonya. Saya ada kabar penting nyah. "
" Apa itu bi?"
" Saya mencurigai sesuatu nyah. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya tentang mbak Novia, nyonya. "
" Ada apa dengan menantuku bi?"
" Saya curiga, mbak Novia sedang berbadan dua sekarang. "
" Apa bi? Beneran itu? Ya Allah...coba ceritakan bi." Bu Vera terdengar sangat antusias mendengar cerita dari bi Susi.
" Jadi gini Bu, selain sikap dan tingkah laku mbak Novia yang tidak seperti biasa, sudah dari kemarin mbak Novia muntah-muntah nyah. Jadi saya pikir mungkin mbak Novia sedang hamil. "
" Ya Allah...amin... semoga benar ya bi. "
" Iya nyah. Ini nanti rencananya saya mau beli tespek buat mbak Novia. Soalnya mbak Nov tidak mau saya ajak ke dokter. "
__ADS_1
" Iya bi. Nanti hasilnya bagaimana, bibi harus secepatnya kasih tahu aku. "
" Iya nyonya. Itu pasti. "
" Boby bagaimana? Dia menjaga istrinya dengan baik kan?"
" Mas Boby sedang ada pekerjaan di luar kota nyonya. "
" Huh. Itu anak. Selalu lebih mementingkan pekerjaan. Ya sudah bi, bibi cepetan beli tespeknya. "
" Baik nyonya."
Panggilan terputus. Bi Susi segera keluar rumah untuk pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa stok makanan yang di inginkan Novia, kemudian pergi ke apotek untuk membeli tespek.
Tidak sampai satu jam, bi Susi sudah kembali ke rumah. Segera dia meletakkan belanjaannya di meja dapur, kemudian dia berjalan menuju ke kamar Novia.
Novia tampak sedang duduk menyender di sandaran ranjang.
" Mbak, bibi tadi beli ini. " ucap bi Susi sambil menunjukkan tespek yang tadi di belinya dari apotek.
" Buat apa bi?" tanya Novia kebingungan kenapa bibi memberikan tespek untuknya.
" Buat ngetes mbak Novia. Jangan-jangan, mbak Novia sedang berbadan dua. Bibi perhatikan mbak Novia belakangan ini sikapnya agak aneh, keinginannya juga agak aneh. Terus sudah dua hari ini mbak Novia muntah-muntah terus."
" Tapi bi..Mana mungkin Novia hamil? Novia..." Novia ragu untuk meneruskan kata-katanya.
" Novia...Novia... hanya baru sekali melakukan itu bi. "
Bibi duduk di sisi Novia.
" Mbak, mau baru sekali, mau beberapa kali, kalau Tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin. Mending sekarang, mbak Novia ke kamar mandi, dan coba pakai ini. " ucap bibi sambil menyodorkan tespek tadi.
Dengan ragu, Novia mengambil tespek dari tangan bi Susi. Kemudian memandang bi Susi meminta pendapat. Bi Susi menjawab dengan anggukan dan senyuman.
Novia turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Selama beberapa menit Novia di kamar mandi. Setelah mengambil urin dan mencelupkan tespek itu, kini Novia berharap-harap cemas. Novia menunggu hasil keluar sambil menggigit kuku-kuku jarinya.
Garis merah di tespek mulai terlihat. Garis dua nampak di sana. Mata Novia menatap tanpa berkedip seakan-akan tak percaya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Buru-buru Novia keluar dari kamar mandi.
" Bi, bibi... Subhanallah bi...bibi lihat ini. " ucap Novia girang memperlihatkan tespek yang di pegangnya sambil mengusap matanya yang basah.
Bibi segera melihat ke arah tespek. Melihat garis dua di sana, bi Susi menutup mulutnya. Matanya berganti menatap Novia. Air mata bi Susi juga mulai menggenang.
Novia memeluk bi Susi erat.
" Alhamdulillah bi...Novia hamil bi. Novia mau punya anak. " ucap Novia bahagia.
" Iya mbak Novia, Alhamdulillah.. Selamat ya mbak. Mas Boby sama nyonya besar pasti bahagia mendengar kabar ini. "
__ADS_1
Novia melepas pelukannya.
" Benarkah bi? Benarkah mas Boby akan bahagia mendengar kabar ini?"
" Pasti itu mbak. Laki-laki mana yang tidak bahagia mendengar istrinya sedang mengandung anaknya. "
Novia tersenyum mendengar perkataan bi Susi.
" Mbak Nov mau menelepon mas Boby sekarang?"
" Tidak bi. Tidak sekarang. Novia ingin memberi kejutan kalau mas Boby sudah pulang. "
" Kalau begitu, mbak Novia harus periksa ke dokter kandungan. Biar mbak Nov dapat vitamin. "
" Iya bi. Nanti sore temani Novia ke dokter ya bi. "
Bi Susi mengangguk sambil mengelus pundak Novia.
" Sekarang mbak Novia harus makan. "
Novia langsung cemberut sambil menggelengkan kepala.
" Mbak Nov harus ingat. Sekarang sudah tidak hidup sendiri. Ada dia di sini. " ucap bi Susi sambil mengelus perut Novia yang masih rata.
Novia melihat perutnya dan mengelusnya. Kemudian mengangguk. Melihat Novia mau makan, bibi tersenyum.
" Mau makan apa mama?"
Novia tersenyum mendengar bi Susi memanggilnya mama.
" Punya ikan apa bi?"
" Ada ikan lele sama nila. "
" Aku mau nila bakar bumbu madu sama sambal bawang bi. "
" Ya sudah. Bibi buatin dulu. " bibi berjalan keluar dari kamar.
Di luar, bi Susi langsung menghubungi Bu Vera untuk memberitahu kalau Novia memang benar hamil. Bu Vera sangat bahagia mendengarnya.
Setelah selesai menelepon, bi Susi bergegas ke dapur dan memasak makanan yang di inginkan Novia.
****
bersambung
jangan lupa like ya kak...🙏🙏
__ADS_1